PROLOG
Di kerajaan musik, harga diri seseorang tidak hanya dinilai dari kepintarannya dalam pelajaran atau pengetahuan luasnya dalam berbagai hal. Yang menjadi patokan harga diri seseorang adalah kehebatannya dalam bidang musik.
Selain itu, kerajaan ini juga mempunyai dua kasta. Keturunan khusus dan keturunan biasa. Keturunan khusus adalah orang-orang yang memiliki kekuatan sihir, sedangkan keturunan biasa adalah orang-orang yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Keturunan khusus dipandang sangat tinggi dan biasanya mendapat perlakuan spesial. Keturunan khusus hanya perlu mengembangkan sihirnya dan akan selalu dipandang baik, sedangkan keturunan biasa harus belajar mati-matian agar dipandang. Walaupun sudah belajar mati-matian bahkan menguasai semua alat musik, dapat mengaransemen lagu, membuat lagu, dan hal lainnya, keturunan biasa tidak akan pernah lebih tinggi daripada keturunan khusus. Mereka hanya akan menjadi lebih baik dari keturunan biasa lainnya.
Lily, dia merupakan harapan banyak orang, ia adalah seorang anak tunggal dari pasangan suami-istri ternama di kerajaan. Kedua orangtuanya banyak menyelesaikan tugas-tugas penting kerajaan sebagai pasukan khusus. Sihir mereka tidak perlu diragukan lagi, bahkan mereka sudah pernah mendapatkan penghargaan langsung dari kerajaan.
Dengan latar belakang itu, tentu saja sudah banyak asumsi orang-orang mengenai sehebat apa Lily saat sudah besar nanti. Lily kecil tumbuh dengan perhatian dari banyak orang. Secara tidak sadar orang-orang membuat Lily tertekan dengan tanggung jawab yang bahkan belum tentu harus diemban Lily. Kedua orangtuanya kadang marah dengan apa yang dikatakan orang-orang, bagi mereka hal itu masih terlalu dini untuk dibahas.
Sedangkan Lily sendiri merasa tidak pede karena pujian terhadap penghargaan yang didapat kedua orangtuanya dan tekanan yang ia dapat tidak pernah berhenti. Pada usianya yang ke-8, Lily merasa depresi dan ia merasa ada yang aneh pada dirinya. Mulai saat itu, Lily belajar lebih giat dari sebelunya. Karena tiba-tiba ada rasa takut yang menghampirinya.
"Lily, kamu tidak usah belajar berlebihan seperti itu. Abaikan ucapan orang-orang, apapun yang terjadi di ulang tahunmu yang ke sepuluh, kami akan tetap bersamamu Lily. Kamu adalah darah daging kami, tradisi itu tidak akan membuat kami membuangmu," ucap Ibu Lily di depan kamar Lily yang masih terkunci. Lily tidak menjawab ibunya dan hanya lanjut belajar.
Lily selalu mengurung dirinya di kamar dan belajar selama seharian penuh. Rankingnya memang naik drastis, tapi kedua orangtuanya merasa bahwa ini bukan hal yang benar. Seharusnya sebelum usia sepuluh tahun, anak-anak kerajaan musik hanya bermain dengan sebaya dan belajar tentang etika. Pelajaran yang diberikan di sekolah pun hanya pelajaran dasar dan peringkat bukan menjadi masalah.
Anak-anak baru akan didorong untuk belajar dan berlatih dengan giat ketika sudah menginjak usia sepuluh tahun. Tapi Lily belajar sangat banyak bahkan sebelum waktunya. Kedua orangtua Lily bahkan sempat protes ke tetangga-tetangga di sekitar lingkungan mereka mengenai perilaku dan ucapan mereka ke Lily. Sayangnya hal itu tidak ada gunanya. Akhirnya Lily tumbuh bersama dengan buku-buku. Ia memiliki etika yang baik, tapi tidak dengan kemampuan bersosialisasinya.
"Lily, silahkan maju ke depan dan jawab soal terakhir," ucap Bu Fwey sambil mengarahkan kapur yang dipegangnya ke arah Lily. Lily menengadahkan kepalanya yang sedari tadi melihat konsep-konsep materi di buku dan langsung beranjak dari tempat duduknya tanpa membaca soal yang harus dikerjakannya.
Lily tahu bahwa soal terakhir selalu menjadi soal tersulit dan hampir setiap materi, ia selalu diminta mengerjakan soal terakhir. Baginya itu bukanlah masalah besar, tapi selalu ada yang iri dengan anak pintar. Padahal anak yang iri itu belum tentu bisa mengerjakan soal di papan, bahkan yang termudah sekalipun.
Tidak sampai dua menit, Lily menyelesaikan soal matematika itu dan segera kembali ke tempat duduknya. Ketik Bu Fwey membahas soal yang dikerjakan Lily tadi dan disoraki anak sekelas karena jawabannya benar, Lily hanya diam dan tidak memberikan reaksi.
Bisa dibilang, Lily berubah menjadi gadis kecil yang dingin. Kedua orangtuanya memutuskan untuk mengajarkan Lily untuk bersikap acuh terhadap apapun yang dikatakan orang, entah itu baik ataupun buruk. Mereka tidak mau Lily kecil menjadi stress dan gila hanya karena omongan tidak beradab dari orang-orang.
Lily memang sudah tidak terlalu memikirkan apa yang dikatakan orang-orang tentang dirinya, tapi kebiasaannya untuk belajar secara berlebihan tetap melekat pada dirinya. Kedua orangtuanya tidak memaksa Lily untuk menjadi panutan semua orang, mereka hanya ingin Lily menjadi dirinya sendiri. Walaupun jati diri Lily sudah lama hilang, yaitu semenjak ia terus mendapat tuntutan dari sekitarnya.
***
Di tempat lain.
"Bukankah anak itu akan menjadi ancaman?" tanya seorang wanita dengan nada khawatir.
"Sepertinya tidak, sebagian rumor yang beredar merupakan tanggapan negatif," balas seorang pria berdasarkan hal yang didengarnya selama menjalankan tugas.
"Bagaimana menurutmu dan pangeran?" tanya wanita tadi sambil melihat seorang pria yang memakai baju zirah berwarna emas.
"Biarkanlah semuanya mengalir sampai waktunya tiba. Anak itu bukan anak biasa, pangeran bahkan belum menemukan celah dalam dirinya dan tidak mudah untuk menebak pergerakannya. Karena cara pikir anak itu, berbeda."