"Perhatian untuk semua murid kelas empat! Dua minggu lagi tepatnya pada awal tahun baru, semua anak diwajibkan untuk berkumpul di sekolah. Tidak ada yang diperbolehkan untuk ijin." Bu Fwey membuat pengumuman singkat sebelum libur akhir tahun dimulai. Sebagian anak tersenyum dan membalas ucapan Bu Fwey dengan gembira, sedangkan anak-anak lainnya tampak tidak terlalu gembira.
Sedangkan Lily hanya memasang wajah datar. Ia tidak tahu apakah harus senang atau sedih menyambut tahun penentuan ini. Rasanya Lily ingin sekali menghindarinya atau bahkan melenyapkannya, tapi itu tidak mungkin terjadi.
Sepulangnya dari sekolah, Lily langsung masuk ke kamar dan menghempaskan badannya di atas tempat tidur. Rasanya beban yang ditanggungnya selama ini bertambah berat berkali-kali lipat. Apapun yang dilakukannya tidak akan menghilangkan atau mengurangi perasaan tertekan yang ia miliki. Fisiknya baik-baik saja, tapi batinnya tersiksa. Rasanya ia dipukul dan ditikam setiap harinya.
Otaknya terus bekerja, saat Lily beraktivitas maupun saat ia tidur. Sebentar saja Lily terdiam tanpa memikirkan apapun, ucapan orang-orangnya di sekitarnya terdengar dengan jelas bahkan kadang ia berhalusinasi sendiri. Lily sudah berusaha mengacuhkannya seperti yang diajarkan orangtuanya, tapi hal itu tidak memiliki efek lagi karena semua hal yang diucapkan orang-orang sudah tertanam di dalam otaknya.
Lily hanya bisa menyibukkan dirinya sendiri dengan belajar apapun yang bisa dipelajari dan membaca apapun yang bisa dibacanya. Berjalan dari kamar ke kamar mandi saja Lily harus membaca sesuatu, entah itu buku atau kertas yang di tempelnya. Lebih tepatnya, kemanapun dan apapun yang Lily lakukan, ia harus membaca atau memikirkan sesuatu yang berat. Dengan begitu aktivitasnya bisa menekan hal-hal yang tidak seharusnya ia pikirkan.
Pola hidup Lily cukup kacau. Bahkan ia bukan berencana untuk tidur, tapi selalu tertidur saat sedang mengerjakan atau memikirkan sesuatu. Lily tidak bisa bersosialisasi dengan anak lainnya, karena pemikiran anak lain tidak secepat dirinya dan tentu saja itu membuat pengucapann mereka jauh lebih lambat dibanding Lily. Ia pernah mencoba untuk berbicara dengan teman-temannya, tapi sebelum Lily mendapatkan respons, otak Lily sudah merespons terlebih dahulu.
Yang ada di kepala Lily hanyalah kemungkinan buruk yang akan terjadi dan prasangka-prasangka buruk dari anak lainnya walaupun belum tentu anak-anak itu memikirkan hal buruk terhadap Lily. Apalagi orangtuanya ditugaskan untuk tugas tahunan dan jarang pulang. Jadi, tidak ada tempat untuk Lily berkeluh kesah. Terlebih hanya kedua orangtuanya yang bisa menyamai kecepatan berpikir Lily.
Hidup Lily hancur oleh orang-orang sekitarnya bahkan dengan hal sepele.
***
Waktu berjalan dengan cepat bagi sebagian orang, tapi ada juga yang merasa bahwa waktu berlalu dengan lambat. Apapun yang mereka rasakan, yang jelas tahun baru sudah datang.
Sebagian anak sengaja tidak tidur untuk menunggu pergatian tahun yang spesial ini, ada juga yang tidak peduli sama sekali, dan ada yang merasa takut. Anak-anak yang sangat menanti pergantian tahun adalah anak-anak yang merupakan keturunan dari para penyihir. Sedangkan anak-anak yang takut dan tidak peduli biasanya adalah anak-anak dari keturunan biasa.
Setelah ulang tahun kesepuluh, penindasan orang-orang dengan keturunan biasa akan sangat menjadi-jadi. Biasanya penindasan itu dilakukan oleh teman seangkatan mereka yang merupakan keturunan khusus Parahnya hal ini sudah menjadi tradisi dan sulit untuk dihilangkan. Yang bisa dilanjutkan para anak keturunan biasa hanyalah menunggu sampai usia mereka 15 tahun, karena para keturunan khusus harus mempersiapkan diri untuk memasuki kemah pelatihan para calon prajurit.
Meskipun begitu, tidak sedikit anak yang bunuh diri karena tidak tahan akan penindasan yang didapatkannya. Tidak ada orang yang protes atau merasa terganggu dengan hal itu, bagi mereka kejadian itu adalah hal yang lazim terjadi.
Dengan semua tradisi itu, para anak kelas empat sudah berkumpul di aula sekolah dengan berbagai pikiran yang memenuhi kepala mereka. Lily juga berada di antara mereka, dengan memegang sebuah buku. Anak-anak lain yang melihat Lily akan menganggap bahwa Lily menanggapi tahun ini dengan dewasa karena ekspresi wajahnya tidak menunjukkan kebahagian ataupun kesedihan, hanya datar atau lebih tepatnya tanpa emosi.
Sebenarnya Lily sedang membaca buku dan mendengarkan ucapan orang-orang di sekitarnya. Baginya, percakapan mereka kali ini terdengar menarik karena tidak ada satupun anak yang membicarakanya. Semua anak membicarakan orang yang akan menjadi bintang hari ini, yaitu Wreyn. Hanya ada satu alasan mengapa dia menjadi bintang hari ini, yaitu karena dia berulang tahun hari ini. Lebih tepatnya lagi ia merupakan anak pertama di sekolah ini yang akan mengetahui jati dirinya.
***
07.30
Kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan para guru mulai memberikan nasihat-nasihat di jam ini. Sebenarnya bukan hal yang penting bagi Lily, karena nasihat-nasihat yang disampaikan adalah hal-hal dasar yang sudah sering didengarnya.
09.00
Jam sembilan adalah waktunya istirahat. Ketika anak-anak lainnya sibuk bertukar pikiran, Lily sibuk mengganti buku bacaannya yang sudah selesai dibacanya dari tadi. Sedangkan Wreyn masih gemetaran di kursinya. Entah apa yang dipikirkan anak itu, tapi terlihat dengan jelas bahwa ia terlalu khawatir.
Ada atau tidaknya kekuatan sihir seseorang baru bisa di cek tepat pada jam dua belas siang di hari ulang tahunnya. Biasanya hal itu diarahkan oleh para guru dan anak angkatannya dikumpulkan untuk menyaksikan. Hal itu bisa menjadi sebuah kebanggaan tersendiri atau malah menjadi sangat memalukan.