12.00
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Wreyn menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Semua orang memperhatikannya dengan seksama. Para guru sudah memberitahu Wreyn apa yang harus dilakukannya.
Suasana di lapangan menjadi sangat hening. Wreyn berusaha untuk fokus dan mengingat semua hal yang dikatakan para guru kepadanya. Ia mulai melipat kedua tangannya dengan erat di depan d**a, lalu membawanya ke depan sampai kedua lengannya lurus. Lalu, langkah selanjutnya adalah menunggu selama 10 detik dan membuka lipatan tangannya secara perlahan.
Jika ada percikan sihir yang keluar dari telapak tangannya, itu artinya ia adalah seorang keturunan khusus. Jika tidak ada yang terjadi, maka ia adalah seorang keturunan biasa.
Wreyn berusaha menghitung di dalam hati dengan tenang agar tidak melakukan kesalahan. Sepuluh, sembilan, ..., satu, nol. Wreyn membuka lipatan tangannya perlahan. Muncul sebuah percikan sihir berwarna ungu dari kedua telapak tangannya. Sebagian besar orang bersorak ketika melihat percikan itu, sedangkan Wreyn tersenyum lega.
Lily terdiam memandang Wreyn. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, pikiran Lily kosong. Benar-benar kosong, sampai ia hanya bisa mendengarkan sorakan yang ada di sekitarnya dan suara napasnya yang berat. Lily hanya berdiri dan memandang lurus ke depan selama beberapa menit sampai ada salah satu anak yang tidak sengaja menyenggolnya. Lily langsung sadar akan apa yang sedang terjadi.
Ada sedikit rasa lega yang dirasakan Lily, lalu entah kenapa ada sesuatu yang menghilang darinya. Ia merasa kehilangan akan sesuatu yang besar, tapi ia tidak bisa menemukan apa yang menghilang meskipun Lily berusaha mengingat semua hal yang diketahuinya. Rasanya hampa. Pikirannya tiba-tiba kosong tanpa sebab.
Tidak lama setelah itu, para guru tiba-tiba memulangkan semua anak yang berada di sekolah. Lily merasa bahwa hal itu sangat aneh, di jadwal yang diberikan dituliskan bahwa masih ada beberapa kegiatan lagi, tapi tiba-tiba dibatalkan tanpa alasan yang jelas. Hal ini membuat Lily merasa aneh, karena sekolah tidak pernah membatalkan acara dengan sangat mendadak apalagi dengan alasan yang tidak disebutkan.
Biasanya Lily bisa menemukan alasan untuk semua hal yang terjadi dengan mudah, tapi entah kenapa kali ini pikiran Lily benar-benar kosong. Ia bahkan mencoba untuk memikirkan cacian yang diberikan tetangga-tetangganya, anehnya hal itu tidak mengubah perasaan Lily sama sekali. Lebih tepatnya, ia tidak bisa merasakan apapun lagi.
Lily masuk ke rumah dengan keadaan setengah sadar. Ia sangat bingung. Tidak ada tempatnya untuk bertanya, kedua orang tuanya masih dalam tugas. Tidak mungkin ia merengek seperti anak kecil agar kedua orang tuanya pulang hanya untuk membantunya menjawab kebingungan yang dialaminya. Anehnya lagi, Lily tidak merasa pernah membaca fenomena seperti ini di buku mana pun.
Akhirnya Lily memutuskan untuk mandi. Mungkin saja ia akan mengingat sesuatu atau menemukan jalan keluar setelah mandi, begitu pikirnya. Sayangnya tidak ada yang berubah, perasaan dan pikirannya tetap sama. Lily sama sekali tidak terbiasa dengan pikiran dan perasaan yang kosong, walaupun pikiran penuh dan perasaan tertekan juga bukanlah hal yang baik.
Lily pasrah dan berjalan ke arah ruang makan. Ia memasak makanan dengan ketenangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Selesai masak dan makan, Lily langsung berganti pakaian karena ia mau menghirup udara segar di luar rumah. Saat berjalan ke pintu depan, tiba-tiba ada sebuah surat yang masuk dari celah di bawah pintu.
Lily mengambil surat itu dan membaca bagian depannya, Music Kingdom. Oh mungkin dari kedua orang tuaku, pikir Lily. Ia berjalan ke sofa yang berada di ruang tamu dan membuka surat itu.
Dear, Amelia Roviuz Xen.
Lily membuka lipatan pertama dari surat yang didapatnya itu dan nama panjangnya tertulis dengan rapi di sana. Lily semakin yakin bahwa yang mengirimkan surat ini adalah kedua orang tuanya, karena hanya sedikit orang yang mengetahui nama lengkapnya itu. Lily membuka ssisa lipatan dari surat itu dan hanya bisa terdiam saat membacanya. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Dengan sampainya surat ini, kami ingin menyampaikan bahwa ... telah gugur dalam tugas dan kedua badan mayat tidak dapat ditemukan karena .... Seluruh anggota kerajaan, pasukan, dan rakyat turut bersedih atas kejadian yang telah terjadi ini. Semoga ....
Ttd, Music Kingdom.
***
Beberapa hari kemudian, kerajaan tiba-tiba menjadi kacau, semua sekolah meliburkan murid-muridnya dan para anak kelas empat yang sedang berulang tahun akan diarahkan oleh orang tua masing-masing. Orang-orang yang seharusnya bekerja juga dilarang untuk pergi ke tempatnya bekerja. Semua orang tidak diperbolehkan untuk keluar rumah dan hampir semua kegiatan antar manusia terhenti.
Awalnya tidak semua orang patuh pada peringatan yang dikeluarkan kerajaan. Sampai akhirnya sebagian besar hewan pendamping para tentara dibiarkan berkeliaran secara bebas, sudah ada beberapa kasus dimana orang-orang yang tidak mengindahkan peringatan yang diberikan langsung dibunuh oleh para hewan itu.
Lily tidak memiliki kepentingan di luar rumah sehingga ia hanya mengamati semuanya dari jendela kamarnya. Ia hanya turun saat petugas kerajaan mengantar makanan setiap minggu. Selebihnya Lily hanya berusaha mencari benang merah antara kejadian-kejadian yang terjadi secara mendadak ini. Terkadang Lily juga masuk ke kamar kedua orang tuanya yang dulu tidak boleh dimasukinya. Entah kenapa Lily merasa ada yang harus dicarinya di sana.
Sebenarnya, Lily hanya menemukan catatan-catatan kecil orang tuanya dan juga berkas-berkas penting yang memang disimpan di kamar kedua orang tuanya agar tidak hilang. Saat Lily sudah hampir berhenti membongkar kamar kedua orang tuanya, tepatnya beberapa jam yang lalu ia malah menemukan buku catatan lainnya di laci kamar orang tuanya, tapi buku catatan ini berbeda. Susunan huruf yang digunakan sangat acak dan terdapat banyak simbol di dalamnya.
Selama beberapa jam ini Lily berusaha menyambungkan huruf-huruf yang ada di buku itu dengan huruf-huruf yang digunakannya. Ia seperti membuat kamus bahasa khusus untuk membaca tulisan orang tuanya. Sebenarnya Lily sempat mencari catatan atau buku lain yang juga menggunakan bahasa yang sama untuk mendapatkan petunjuk, tapi ia tidak menemukan apapun.
Lily tidak sadar berapa lama waktu yang dihabiskannya untuk mencari kebenaran dari buku catatan itu, ia tertidur di meja belajar dan saat bangun langsung melanjutkan pekerjaannya. Ia hanya meninggalkan meja belajar saat ia kelaparan dan kebelet. Lily belum bisa memecahkan bahasa yang digunakan di buku catatan itu bahkan setelah dua minggu lamanya.
Teng tong tereret tet!
Bel rumah Lily berbunyi, yang artinya stok makanan minggu ini sudah datang. Lily segera berdiri dari kursinya, tapi ia tidak sengaja menyenggol salah satu buku yang ada di atas meja dan beberapa lembar kertas juga ikut terjatuh. Lily tidak langsung mengambil buku dan kertas-kertas itu, tapi ia beranjak pergi untuk mengambil stok makanan di depan rumah sebelum salah satu hewan pendamping memakannya.
Saat Lily kembali ke kamarnya, ia langsung membereskan kertas dan buku yang terjatuh tadi. Saat mengangkat buku yang jatuh tadi, Lily tidak sengaja melihat bagian bawah buku. Ada tulisan 1.A di sana. Lily segera membongkar kumpulan buku yang ia temukan di kamar orang tuanya, ternyata beberapa buku lainnya juga memiliki tulisan di bawahnya dan jika disambung menjadi ARX1505.
Lily kaget akan apa yang ditemukannya, ia langsung mencari apakah ada tulisan seperti itu di tempat lain atau mungkin ada arti khusus. Selama empat jam Lily mencoba mencari, tapi ia tidak menemukan apapun. Saat sudah lelah berpikir tanpa menemukan apapun, Lily bersender di kursinya dan melihat ke dinding kamar. Tanpa sengaja ia membaca tulisan namanya di dinding. Amelia Roviuz Xen, jika huruf awal di setiap namanya digabung maka akan menjadi ARX.
Lily terdiam sebentar, karena ia merasa terlalu jauh berpikir padahal jawabannya sangat simpel. Lalu apa arti dari 1505? tanya Lily dalam hatinya. "Pikirkan hal yang simpel dan sering dipakai, ayo Lily!" Lily mencoba mengarahkan dirinya sendiri dan mencari jawabannya.
Ia melihat ke sekeliling dan mencari angka-angka yang terdapat di kamarnya. Lily menelusuri kamarnya secara perlahan lalu matanya berhenti di kalender yang tergantung di sebelah lemarinya. Ia langsung mengecek tanggal hari ini. 2 Mei, atau katakanlah 0205. Berarti 1505 mungkin berarti tanggal 15 Mei, pikir Lily. Berarti dua minggu lagi, tapi memangnya ada apa dengan ....
Lily membalik kalendernya dan melihat tanda di tanggal 15 April dengan tulisan alone. Lily ingat bahwa ia menulis itu tepat setelah ia menerima surat tentang kedua orang tuanya. Lily terdiam, berusaha memahami lagi situasi yang sedang terjadi.