ENAM - BERPINDAH-PINDAH

1015 Words
Memang sekolah-sekolah di Music Kingdom tidak ditutup, tapi Lily tetap dirumahkan oleh orang tuanya. Lily sama sekali tidak tahu apa alasan kedua orang tuanya sampai pihak sekolah menyetujui hal ini. Ia hanya menerima info dari orang tuanya dan menuruti tanpa bertanya-tanya. Sebenarnya ini adalah rahasia orang tua Lily dan pihak sekolah, sedangkan anak-anak lain dan para tetangga Lily hanya mengetahui bahwa Lily dan keluarganya pindah rumah ke tempat lain. Kenyataannya, mereka tidak pindah rumah. Lily dan kedua orang tuanya bahkan tidak menetap di satu rumah atau tempat, mereka berpindah-pindah setiap harinya. Bagi orang banyak mungkin hal itu terdengar mustahil dan sangat ribet, tapi bagi Rose dan Xen hal itu adalah hal biasa. Mereka sudah dilatih sebagai tentara sejak kecil dan selalu berpindah-pindah tempat karena tidak ada tempat yang benar-benar aman untuk mereka. Semua tugas yang mereka dapat adalah tugas yang mempertaruhkan nyawa mereka, sehingga mau tidak mau mereka harus terus bergerak sampai tugas itu selesai. Bagi Xen dan Rose, keadaan bahaya dan mengancam nyawa bukanlah hal yang harus mereka takutkan karena hampir setiap saat mereka berada di dalam posisi itu. Lalu, di sisi lain mereka yakin bahwa Lily pasti akan berada di posisi yang sama. Memang Xen dan Rose tidak tahu pasti kapan hal itu akan terjadi, tapi itulah nasib Lily. Lebih tepatnya nasib anak tunggal dari pasangan prajurit yang paling dihomati di Music Kingdom, prajurit yang membawa kemerdekaan untuk kerajaan. Bukan tanpa alasan hanya mereka yang mendapatkan julukan itu. Sebenarnya hanya Xen dan Rose yang selamat ketika pertarungan 22 tahun lalu, bukan karena mereka lebih hebat dari yang lainnya. Bukan juga karena anak lainnya gugur saat berperang. Alasan sesungguhnya adalah karena Xen dan Rose merupakan anak termuda dari 20 anak yang dibeli Robertz, menurut Robertz mereka berdua lebih penurut dari yang lainnya dan dilatih dari umur yang lebih mudah dari anak lainnya. Sehingga 18 anak yang bersama-sama dengan Xen dan Rose dibunuh di depan mata mereka dengan kejam. Hal itu juga untuk memberi Xen dan Rose peringatan besar bahwa jangan coba-coba kabur atau membangkang jika ingin tetap hidup. Untungnya Xen dan Rose tidak mendapat trauma besar ketika menyaksikan semua kejadian itu tepat di depan mata mereka. "Perhatikan baik-baik apa yang terjadi di depan mata kalian, entah itu hal yang bisa dilihat atau terlalu menyeramkan untuk dilihat, karena apa yang kalian lihat secara langsung, dapat menjadi pembelajaran yang paling berarti bagi kalian." Buka tanpa sebab, kata-kata itu menandakan banyak hal bagi Xen dan Rose. Mereka ditunjukkan cara pembunuhan dari yang paling mudah hingga yang paling keji. Semuanya benar-benar dipraktekkan di depan mata mereka secara perlahan. Teriakan demi teriakan terdengar di setiap jamnya, yang bisa dilakukan Xen dan Rose hanyalah diam dan melihat semua proses itu tanpa berpaling sedikit pun. Sebenarnya, selain alasan di atas ada beberapa alasan lainnya yang membuat anak-anak itu harus dibunuh. Ada beberapa rahasia yang diketahui mereka, serta beberapa kutukan yang harus dihapus sebelum Music Kingdom merdeka. Dengan kata lain harus ada korban jiwa dalam jumlah yang sudah ditentukan. Terkait kutukan yang harus dihapuskan, sebenarnya hanya berupa pendapat dan kesimpulan dari beberapa orang penting pada masa itu, tapi efeknya cukup besar. Banyak orang yang percaya dan mewajibkan adanya korban jiwa sehingga hampir terjadi pertumpahan darah secara acak. Untungnya hal itu tidak benar-benar terjadi dan semuanya itu dikendalikan oleh Robertz. Xen dan Rose sudah memutuskan untuk melatih Lily tepat saat mereka pensiun menjadi tentara utama di kerajaan. Mereka sudah mengajukan pensiun sejak Rose hamil, tapi ada banyak prosedur yang harus mereka lewati sehingga hal itu baru bisa tercapai tahun ini. Lily tidak merasa keberatan karena ia gampang beradaptasi dengan hal baru. Apalagi dengan pengalaman kedua orang tuanya, ia hanya perlu mengikuti alur dan mempelajari semua hal yang disampaikan orang tuanya. Kehidupannya terjamin, hanya kegiatannya saja yang berbeda. Jika biasanya Lily menghabiskan waktunya dengan belajar secara materi, kalau sekarang ia mempelajari semuanya secara langsung. Sudah dua bulan mereka berpindah-pindah tempat dan Lily juga sempat beberapa kali bertanya alasan jelas mengapa mereka melakukan ini bahkan sebelum Lily mengetahui apakah ia mempunyai kekuatan sihir atau tidak. Kedua orang tuanya hanya menjawab sekadarnya, pertanyaan Lily bagaikan angin lalu yang tak perlu ditanggapi secara serius. Setiap kali Rose dan Xen menjawab singkat, Lily hanya mengangguk. Ia yakin bahwa jika sudah waktunya, maka kedua orang tuanya akan menjelaskan semuanya ke Lily tanpa perlu ia bertanya-tanya sendiri. Sayangnya, kadang Lily masih tidak sabar untuk mengetahuinya sehingga pertanyaan itu terlontar dari mulutnya tanpa disadarinya. Untuk mimpi yang aneh itu, Lily sudah tidak memimpikannya lagi. Lebih tepatnya karena Rose dan Xen membawa Lily ke area luar kerajaan. Memang tidak terlalu jauh dari area kerajaan agar tidak terlalu berbahaya, tapi tetap saja berefek pada mimpi aneh itu. Rose dan Xen juga tidak mendapat mimpi itu sama sekali. Saat siang hari biasanya mereka akan menjauh dari area Music Kingdom, lalu saat malam harinya mereka akan tidur di tempat yang bisa melihat dengan jelas nyala lampu dari benteng pertahanan kerajaan. Kadang mereka tidur di sebuah tenda, di lain hari mereka tidur di dalam hammock, dan jika mereka memutuskan untuk tinggal selama beberapa hari di suatu tempat, mereka akan membuah rumah pohon dengan bahan seadanya. "Apa yang akan kita pelajari besok?" tanya Lily sambil melihat langit malam yang dipenuhi bintang. "Sepertinya kepekaan dan kecepatan," jawab Rose yang sedang berbaring di sebelah Lily sambil melihat ke arah langit juga. "Lalu besoknya lagi?" Lily bertanya lagi. "Strategi, mungkin," jawab Rose sambil berpikir. "Kalau besoknya lagi? Terus besoknya lagi? Lalu besoknya?" tanya Lily iseng. Rose tidak menjawab Lily lagi, sampai Lily melihat ke arah Rose berbaring. Lily memasang wajah datar ketika melihat Rose sudah tidak ada di sebelahnya lagi. Lily menjulurkan kepalanya untuk melihat keadaan di bawah rumah pohon dan benar saja, Lily mendapati kedua orang tuanya malah duduk berdua di atas sebuah batu besar. Lily langsung melompat turun, lalu duduk di antara Rose dan Xen. Ia menghabiskan waktu sebelum tidurnya dengan mendengarkan kedua orang tuanya bercerita. Hari semakin larut dan kesadaran Lily mulai hilang, ia mulai tertidur sambil bersender di pundak Xen. Xen yang menyadari Lily sudah mengantuk berat, langsung mengangkatnya ke tempat tidur yang sudah disiapkan. Tak berselang lama, Xen dan Rose juga tidur di dekat Lily.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD