TUJUH - BERHARAP

1012 Words
Lily terbangun dari tidurnya dan mendapati kedua orang tuanya sudah tidak ada di sebelahnya. Ia memang terbangun lebih siang dari biasanya karena kemarin malam Lily, Rose dan Xen bercerita cukup lama sambil memasang sebuah api unggun kecil. Lily segera merapikan kain-kain dan bantal kecil yang digunakannya untuk tidur selama beberapa bulan ini. Ia langsung melipatnya dan menaruhnya di sebelah tas. Setelah itu, Lily mengambil pakaian dan handuk lalu pergi ke sungai yang tak jauh dari rumah pohon yang ditempatinya sekarang. Lily sangat hafal jalan menuju sungai karena mereka sudah menetap di daerah itu selama 2 minggu. Menurut Rose dan Xen, daerah mereka sekarang bisa dibilang cukup aman karena mereka masih bisa melihat benteng pertahanan Music Kingdom dari sini. Yang artinya, jika ada sesuatu, akan lebih mudah bagi mereka untuk meminta pertolongan. Selain itu, terdapat sungai yang bisa digunakan untuk mandi maupun minum karena airnya masih sangat bersih. Tenang saja, mereka tidak menggunakan sungai untuk mandi dan minum secara bersamaan. Biasanya di hari-hari tertentu, arus sungai cukup deras sehingga air kotornya terbawa ke aliran yang lebih rendah. Pada saat itulah mereka mengumpulkan air untuk diminum. Tinggal di luar area kerajaan bukanlah hal yang buruk bagi Lily. Walaupun ia harus meninggalkan kehidupannya yang bisa dibilang normal dan cukup nyaman, tapi Lily tetap bahagia. Tempat tidurnya yang hanya beralaskan kayu dan kain, rumah yang tidak bisa menahan dinginnya malam, cara mandi yang terkadang berbahaya, dan banyak hal lainnya yang berubah di hidup Lily. Tapi baginya semua hal itu tidak masalah karena ia bisa hidup dengan bahagia dan mengerti siapa dirinya sebenarnya. Disini tidak ada yang membicarakan hal buruk tentang Lily, tidak ada juga mimpi aneh yang membuatnya bingung dan stress, bahkan tidak ada tradisi ataupun adat yang harus diikuti Lily. Yang ada disini hanyalah ia dan kedua orang tuanya, kebahagiaan mereka dan waktu yang mereka habiskan bersama. Lebih baik ada yang menggandengnya walaupun di tempat yang kurang nyaman sekalipun, daripada harus bertahan seorang diri di lingkungan yang bahkan menjatuhkannya sebelum benar-benar mengenalnya. *** Biasanya pada sore hari, mereka bertiga duduk di atas rumah pohon sambil melihat matahari terbenam. Karena tidak banyak bangunan tinggi di sekitar mereka, matahari terbenam bisa terlihat dengan jelas. Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini pun mereka memutuskan untuk melihat matahari terbenam karena latihan juga sudah selesai. Mereka duduk bertiga di atas rumah pohon sambil memandangi matahari yang mulai menghilang dari pandangan mereka dan menyisakan kegelapan malam dengan suara-suaranya yang terkadang terdengar mengerikan. Mereka tidak beranjak walaupun hari sudah gelap. Malahan mereka lanjut melihat keindahan bintang-bintang dan bulan yang mulai bermunculan di langit. Samar-samar Rose dan Xen mendengar suara derap kaki, makin lama suaranya makin nyaring dan tidak hanya satu atau dua orang melainkan ada segerombolan orang dan binatang yang datang mendekat. "Angkat kakimu Lily, jangan sampai terlihat dari bawah. Berbaringlah seperti biasanya dan jangan pernah duduk sampai kami kembali. Diam di tempat, jangan bersuara dan jangan tertidur!" perintah Xen pada Lily. Lily segera mengangkat kakinya yang sedari tadi menjulur di pinggiran rumah pohon, ia segera melakukan perintah ayahnya. Lily berbaring di tempatnya biasa tertidur, bukan di bagian tengah dan tidak terlalu pinggir. Setelah Lily berbaring dan diam, Xen dan Rose langsung melompat ke pohon lain sambil membawa beberapa senjata di tangan. Setelah Xen dan Rose pergi, Lily baru menangkap suara derap kaki yang sudah didengar lebih dulu oleh Xen dan Rose. Sebenarnya tanpa perlu disuruh oleh Xen, tubuh Lily sudah membeku karena ketakutan, ia bahkan tidak berani bergerak sedikit pun. Suara derap kaki itu semakin nyaring, bahkan Lily bisa merasakan bahwa ada banyak orang dan binatang yang melewati bagian atas dan bawah rumah pohon. Dua hari yang lalu, sebagian rumah pohon ini memang dipasang atap karena sudah mulai memasuki musim hujan. Meskipun begitu, Lily bisa melihat ratusan naga dan hewan lainnya terbang di atasnya melalui beberapa celah ditambah suara derap langkah yang bukannya semakin berkurang malah semakin bertambah nyaring dan tidak ada hentinya. Dor! Sebuah peluru tiba-tiba saja menembus bagian tengah rumah pohon. Lily pasrah, tubuhnya benar-benar membeku karena ketakutan. Ia tidak berani bergerak, tapi tidak mau tertembak juga. Rasanya jantung Lily berdetak berkali-kali lipat lebih cepat dari biasanya. "Hei Charles! Untuk apa kau menembak ke atas? Nagaku hampir saja terkena tembakanmu," teriak seorang pria dari atas. "Aku hanya memastikan tidak ada penghuni di rumah pohon ini, bisa tolong minggir sebentar dari area ini?" tanya pria yang bernama Charles itu sambil menunjuk rumah pohon yang ditemukannya Tidak ada jawaban dari atas, hanya saja sudah tidak ada yang terbang di atas rumah pohon itu lagi. Mereka memang tidak menjawab secara verbal, tetapi langsung melakukan permintaannya. Lily menutup matanya karena takut, jantungnya berdegup lebih kencang, bersiap menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Sembilan peluru menembus rumah pohon dalam sekejap. Tubuh Lily benar-benar membeku karena takut, apalagi ada sebuah peluru yang ditembakkan tepat di sebelah kepala Lily. Walaupun Lily menutup matanya, ia bisa merasakan peluru itu menembus melewati kayu di sebelahnya karena suaranya sangat nyaring. Di tengah-tengah ketakutan Lily mendengar suara peluru yang ditembakkan satu per satu, ia kagum akan pemilihan tempat yang dilakukan orang tuanya. Bahkan sesimpel tempat untuk mengistirahatkan diri saja sudah dipikirkan baik-baik oleh kedua orang tuanya. Sepertinya setelah sepuluh peluru yang ditembakkan itu, Charles yakin bahwa tidak ada orang di dalam rumah pohon. Karena ia menembakkannya secara acak ke seluruh bagian rumah pohon dan tetap tidak ada tanda kehidupan di sana. Sehingga setelah itu tidak ada lagi yang menembak ke arah rumah pohon. Hanya saja Lily masih tidak bergerak dari tempatnya, ia bahkan bisa melihat dengan lebih jelas apa saja yang sedang terbang di atasnya berkat bolongan-bolongan yang dibuat Charles tadi. Semakin melihat pergerakan makhluk-makhluk yang terbang di atasnya, semakin Lily ketakutan. Bentuk makhluk aneh yang biasanya hanya dilihatnya di buku, kini berada tepat di atasnya langsung. Rasanya Lily seperti tertimpa oleh ribuan makhluk aneh. Saking ketakutannya, Lily sama sekali tidak kedinginan walaupun ia tidak memakai selimut. Yang ada di pikirannya sekarang adalah harapan semoga orang tuanya baik-baik saja. Meskipun Lily tahu bahwa orang tuanya sudah terbiasa dengan hal ini, tapi ia tetap berharap dan akan selalu berharap orang tuanya baik-baik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD