Beberapa saat setelah semua keramaian itu menghilang, Xen dan Rose kembali ke rumah pohon. Ketika Xen dan Rose membuka pintu, Lily masih berbaring tanpa bergerak sedikitpun, hanya matanya yang bergerak kemana-mana. Rasanya jantungnya hampir copot ketika Lily mendengar suara pintu yang dibuka, tapi ia merasa sangat lega ketika melihat wajah kedua orang tuanya.
"Kamu benar-benar tidak bergerak bahkan satu centi pun," ucap Rose melihat anaknya yang sama persis seperti saat ia meninggalkan rumah pohon. Lily hanya tersenyum kecil menanggapi orang tuanya, ia sangat ketakutan sampai tidak berani bergerak, sedangkan kedua orang tuanya masuk ke rumah dengan santai, seolah-olah kejadian barusan bukanlah hal yang menakutkan.
"Kamu sudah boleh bergerak Lily," ucap Xen yang hampir tertawa karena Lily masih tidak bergerak sama sekali bahkan ketika mereka sudah sampai rumah. "Melelahkan dan menakutkan di saat bersamaan. Dua jam aku harus diam seperti patung dengan jantung yang berdegup begitu kencang," ucap Lily disertai dengan sebuah hembusan napas yang sangat nyaring.
Lily duduk sebentar lalu berbaring dengan posisi terlentang. Setelah itu dia berguling-guling tak karuan. "Enaknya bergerak dengan bebas."
Setelah selesai berguling-guling, Lily melihat ke arah kedua orang tuanya yang daritadi memperhatikannya lalu langsung mengubah posisinya menjadi duduk. "Lalu, sebenarnya ada apa?" tanya Lily penasaran. Selama orang-orang tadi melewati rumah pohon, tidak ada yang mengobrol satu sama lain sehingga Lily tidak bisa membaca situasinya.
"Sepertinya Music Kingdom akan diserang beberapa jam lagi, mereka membuat kemah-kemah di sekitar Music Kingdom. Selain itu, mereka juga sengaja mengambil tempat yang tertutup banyak pohon tinggi sehingga tempat mereka berkemah akan susah dilihat dari benteng pertahanan. Tadi kami sempat mendengar pembicaraan para ketua pasukan dan petinggi dari kerajaan-kerajaan yang akan menyerang," jelas Xen menyampaikan apa yang didapatnya tadi, ia rasa tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dalam keadaan seperti ini.
"Bukankah kedatangan mereka menimbulkan suara yang cukup nyaring, apalagi mereka membawa naga dan hewan besar lainnya. Masa tidak ada orang dari Music Kingdom yang sadar? Bahkan di benteng pertahanan sekalipun?" tanya Lily yang memiliki sedikit kebingungan karena perang yang disebutkan berlangsung beberapa jam lagi.
"Awalnya kami juga bingung, tapi setelah kami cek, ternyata kerajaan sedang ramai melakukan festival tahunan. Para penjaga benteng memang bertugas secara bergantian seperti biasanya saat festival, tapi tidak ada petugas yang benar-benar fokus menjalankan tugas. Fokus mereka terbagi untuk melihat festival, setidaknya dari kejauhan. Ada banyak orang di benteng bagian atas, tapi semuanya melihat ke dalam kerajaan, tidak ada yang melihat ke bagian luar sehingga kerajaan lain dapat dengan leluasa bergerak. Apalagi suara musik saat festival tahunan sangatlah nyaring, mungkin kamu tidak mendengar suaranya karena jaraknya cukup jauh dan sudah terlalu ramai disini tadi," jelas Rose menanggapi pertanyaan Lily.
Lily mengangguk mengerti, ia memang tidak tahu hari ini sudah tanggal berapa karena disini setiap harinya terasa sama dan tidak ada penanda hari. "Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Lily lagi. Lily memang sangat pintar di sekolahnya, tapi ia tetaplah anak sepuluh tahun dengan pengetahuan dan pengalaman yang masih terbatas sehingga ia menanyakan semuanya dengan hati-hati karena ia benci melakukan kesalahan.
"Kita hanya bisa diam disini, untuk sekarang inilah tempat paling aman. Jika hari ini adalah hari festival, maka besok adalah ulang tahunmu, Lily. Kita tidak bisa bergerak sampai kamu mendapatkan kekuatan sihir besok. Kami bisa bertarung kapanpun, tapi tidak selalu bisa melindungimu di medan pertempuran, setidaknya saat kamu mendapatkan kekuatan sihir, kamu bisa melindungi dirimu sendiri. Berharap saja tidak ada yang mengecek atau iseng ke sini. Walaupun kemungkinannya kecil untuk mereka mengecek ke sini, tapi tetap berharap saja karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi," jelas Xen lagi.
Lily mengangguk mengerti, ia sepenuhnya setuju dan paham dengan apa yang dikatakan Xen. Memang tidak ada tempat yang benar-benar aman untuk mereka sekarang, semuanya sangat berbahaya, tapi area kerajaan adalah tempat yang paling berbahaya. Jika mereka ada di rumah pohon, ada kemungkinan posisi mereka tidak diketahui, tapi jika mereka kembali ke area kerajaan, sudah jelas mereka akan diserang.
Lily tiba-tiba teringat akan sesuatu yang pernah disampaikan kedua orang tuanya. "Bukankah semua alat musik yang ada di kamar Ayah dan Ibu memiliki memorinya masing-masing? Apakah tidak masalah membiarkannya disana?"
"Tidak apa-apa, dari awal rumah kita sudah disegel dengan sihir khusus sehingga tidak semua orang bisa masuk dan melihat rumah itu. Beberapa minggu semenjak kepindahan kita, sebagian besar orang sudah tidak bisa melihat rumah itu. Ayah dan Ibu selalu memperbaharui sihir yang menyegelnya sehingga semuanya akan aman. Sekarang, yang bisa melihat rumah kita hanyalah orang yang memiliki darah keturunan yang sama. Kami tidak mengetahui keberadaan orang tua kami, tapi semua orang selalu mengatakan bahwa mereka sudah meninggal walaupun kami tidak percaya. Kita lihat saja nanti, Ly," jelas Rose dengan sedikit cerita masa lalu di dalamnya.
Lily mengangguk lagi dan beranjak dari tempatnya. Ia mengintip dari bolongan yang ada di rumah pohon dan melihat ke arah area kerajaan. Rumah pohon yang mereka bangun memang tidak memiliki jendela dengan alasan keamanan, tapi ada beberapa bagian yang sedikit bolong karena potongan kayu yang kurang rapi. Mereka membangun rumah pohon dengan alat seadanya sehingga tidak bisa membuatnya terlalu rapi.
Lily bisa melihat dengan jelas ada naga, harpy, pegasus, chimaera, ogre, cyclops, minotaur dan banyak makhluk lainnya yang tersebar di sekitar area kerajaan. Ia bahkan melihat banyak makhluk yang sebelumnya hanya bisa dilihatnya di buku.
"Sebanyak itu kah kerajaan yang beraliansi untuk menyerang?" tanya Lily yang masih sangat kaget dengan apa yang dilihatnya. Ia bahkan iseng mulai menghitung jumlah makhluk-makhluk yang dilihatnya, tapi gagal karena mereka terus menerus berpindah posisi.
"Sangat banyak, karena sihir di Music Kingdom berbeda dengan kerajaan lainnya. Sekuat itulah kerajaan yang kita tempati sampai lawan yang ingin menyerangnya pun perlu membuat pasukan sebesar itu," jawab Xen yang sekarang sudah berdiri di sebelah Lily dan mengintip lewat lubang lainnya.
"Dulu kami harus melawan berbagai makhluk seperti itu dan menurut kami yang terpenting adalah mengalahkan mereka semua. Tapi sekarang, kami sudah memilikimu, Lily. Bagi kami yang terpenting adalah kamu, darah daging kami. Apalagi kami sudah pensiun, kami tidak memiliki keinginan untuk masuk ke dalam peperangan lagi, kecuali ada kondisi dimana kami tidak mempunyai pilihan lain kecuali berperang." Rose ikut mengintip lewat lubang lainnya lalu memberikan sebuah senyuman pada Lily.