Seperti rencana awal yang sudah dibuat oleh Zen. Pria itu membulatkan tekadnya untuk datang berkunjung di kediaman orang tua Zahra. Sekaligus memperkenalkan diri sebagai suami dari putri mereka. Entah apa respon yang akan dirinya dapatkan nanti, intinya Zen sudah berniat baik ingin bersilaturahmi dengan Abi dan Umi Zahra. Seperti sekarang, mobil yang ditumpangi Zen dan Zahra berhenti tepat di depan bangunan kosong, berjarak dua rumah dari rumah orang tau Zahra. Zen masih diam menunggu, sampai istrinya yakin dan tidak ragu lagi untuk turun dan menemui orang tuanya. “Mas, kok masih takut gini sih?” rengek Zahra. Wanita itu meremas ujung bajunya, karena merasa khawatir. “Apa yang kamu takutin?” “Takut aja, soalnya aku datang tiba-tiba, dengan seorang pria dan dalam keadaan perut besar k

