Perbedaan waktu lima jam, membuat Zahra belum bisa menyesuaikan diri. Disaat dirinya terbangun dari tidur, hari disini masih petang, dan mungkin di Indonesia sudah memasuki pukul 7 pagi. Suaminya saja, masih asik bergelung dalam selimut. Seakan dia tak kenal waktu untuk istirahat, terlalu over sekali istirahatnya. Seperti sekarang, sewaktu Zahra kembali memejamkan mata, dia kembali bangun dan jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. “Kok kamu dari kemarin tidur terus sih, emang sebegitu capeknya ya mas?” tanya Zahra lirih, meskipun dirinya tahu itu sia-sia saja, karena Zen tidak dapat menjawabnya. Tangannya terulur merapikan poni rambut suaminya, memperhatikan wajah damai yang ada dihadapannya. Zen Mardentan benar-benar terlihat polos saat tidur. Dia seperti tidak mempunyai beban, dan sat

