“Jelita—dosa kamu tidak menghiraukan suami kamu!” gemas Abi akhirnya melakukan hal konyol.
Orang-orang yang berada di toko bakery itu seketika melihat ke arah Abi dan juga Jelita apalagi teman-teman kerja Jelita seperti di hentikan waktu semuanya tertuju pada dua sosok yang baru saja melakukan drama ala-ala romantis.
“Nggak! Nggak jangan percaya—saya aja baru kenal sama Mas-Mas ini.” Jelita menolak apa yang baru saja Abi katakan.
“Kamu ngigo?”
“Mana bukti kalo kita terikat pernikahan!” tantang Jelita dan membuat Abi gelagapan.
Abi menatap sekelilingnya seperti menunggu bukti dari si pelaku, Abi mengangkat tangan kanannya yang kebetulan di jari manis Abi melingkar cincin bening tersemat disana yang kenyataannya itu adalah cincin untuk menjaga dari hal-hal buruk dari leluhurnya.
‘hemmm—ada untungnya juga ini cincin ya.’ licik Abi dengan menatap Jelita dengan tatapan mengejek.
“Beneran sumpah demi Allah, dia yang ngigo.” Jelita masih mengelak dan memang akan mengelak mengingat ia tak mengenali laki-laki di depannya ini.
“Li, mending lo selesaiin dulu deh masalah perrumah tangganmu, jangan bikin ribut disini nanti tahu bu bos makin rumit,” bisik rekan Jelita yang mendekati Jelita saat itu.
“Ya Allah, ada-ada aja hidupku ini.” lirih Jelita yang masih bisa di dengar oleh Abi.
“Ya udah ayo, kita selesaikan masalah aneh ini.”
Dan dari jawaban Jelita, Abi menjadi manusia paling besar kepala bahwa ia berhasil membawa gadis yang diam-diam sudah membuatnya jatuh cinta layaknya orang mendapatkan lotre. Abi mengikuti langkah Jelita keluar dari toko roti tersebut, entah Jelita akan membawa Abi kemana ia hanya menurut hingga mereka sampai pada samping toko yang terlihat sepi itu.
“Jadi, Mas ini mau ada perlu apa sama saya? Saya liat dari kemarin Masnya ini caper sekali sama saya?” tembak Jelita melihat tingkah Abi yang tak biasa itu.
“Bukan caper Mbak, saya cuman mau memperjuangin 00,01% saya, siapa tahu bisa jadi kesempatan 100% dari mbaknya,” balas Abi dengan jawaban ngaco.
“MasyaAllah, Mas sayakan udah balikin tasnya Ibunya Mas kan, Mas juga udah lihat saya balikin tasnya dengan keadaan utuh tanpa lecet juga jadi Mas ini mau ada perlu apalagi sama saya?” gemas Jelita.
“Emang bener kamu balikin tas Ibu saya dengan keadaan utuh tapi ada yang lain yang enggak lagi utuh Mbak!” tegas Abi tak mau kalah.
“Apaan!”
“Hati saya, udah Mbak ambil sekarang kembaliin.”
“Nggak waras ini orang,” kesal Jelita mendengar jawaban ngaco Abi.
“Apa Mbak? Saya enggak waras? Memang kewarasan saya udah hilang semenjak saya tahu dan lihat Mbaknya waktu nyelematin tas Ibu saya.”
“Masnya udah makan belum sih? Kok kayaknya otaknya agak geser gini?”
“Ampunn..mbak saya serius.”
“Saya lebih serius Mas—btw ini udahkan saya mau balik kerja Mas, karena saya butuh uang untuk tambahan hidup nih kalo saya tetap disini bukan dapet uang malah saya yang dipecat!” sembur Jelita lagi.
“Nanti saya nafkahi Mbak!”
“Makasih, saya pamit dulu, Assalamu’alakum.” Pamit Jelita yang kemudian meninggalkan Abi yang masih terdiam di tempatnya.
Abi menatap diam langkah terburu-buru perempuan yang pintar mendepatnya tadi, Abi yakin ia bisa mendapatkan wanita yang pintar mendebatnya tadi.
“Mendebat gue aja pintar apalagi dia debat sama anak-anakku dan dia nanti.” pikir Abi yang sudah melalang buana.
■■■
Pekerjaan Jelita sudah selesai, sore yang mendung itu mengiringi jalan Jelita yang menuju ke pekerjaan Jelita selanjutnya, hingga malam nanti pekerjaan ini yang bisa mencukupi kebutuhan sandang dan pangan Papa dan juga adiknya, meskipun gaji yang dimiliki Jelita tak banyak seperti pekerjaan umum yang menhasilkan jutaan gaji ia sudah merasa cukup dan bersyukur bahwa ia masih diberi kesehatan yang lebih untuk mengais rejeki.
Malam itu kafe tempat Jelita bekerja terlihat rame dengan pengujung, sangking sibuknya ia bekerja ia sampai lupa bahwa malam itu adalah hari dimana menjadi hari paling di favoritkan oleh para semua pemuda-pemudi yang suka nongkrong hingga pagi menjelang, ya—malam minggu, tapi untuk Jelita hari malam minggu atau tidak harinya terasa sama saja.
Jelita kembali turun membantu ke tiga temannya yang juga melayani pengujung, saat ia melihat meja yang sudah kosong Jelita membantu membersihkan meja yang di tinggal si pengunjung yang sudah pergi tadi, saat ia akan membawa sampah-sampah tadi tubuhnya tak sengaja tabrakan dengan pengujung yang baru saja datang.
“Aduhh—Mbak kalo jalan hati-hati do—Mbak Jeli.” panggil Rasmi selaku adik tiri Jelita.
“Apa?”
“Selain jadi karyawan Mbak juga jadi tukang pungut sampah ya—“ ejek Rasmi.
“Ya ampun Ras, Mbakmu ternyata tukang pungut sampah ya kasihan banget deh,” ejek teman Rasmi yang ikut-ikutan.
“Lebih baik saya kerja jadi pungut sampah, daripada kalian kerja tapi sambil jual badan, lebih malu siapa?” balas Jelita tepat sasaran.
“Jaga mulut Mbak Jeli, minta banget ya dikasih pelajaran!” geram Rasmi yang sudah tak memeperdulikan keadaan sekitar.
Jelita menatap nanar adik tirinya yang berani menampar pipinya, ia masih melihat keberanian apalagi yang akan Rasmi tunjukkan pada kalayak umum, tubuh keduannya sudah di tahan oleh teman-teman mereka.
“Asal lo tahu Mbak, gue cari uang buat gue hidup gantungin lo mulu gue enggak bisa kaya sekarang,”
“Gue udah enak hidupnya enggak kaya lo yang MISKIN!”
Jelita ingin membalas perkatakan Rasmi namun lebih dulu di dahului seseorang yang sudah meremas dagu Rasmi dengan sorot mata emosi, Jelita menyadari bahwa laki-laki yang meremas dagu adik tirinya itu adalah laki-laki tadi siang yang menghampirinya.
“Sa—sakitt—“
“Lo sekali lagi ngerendahin istri gue lagi, gue denger lo bikin sakit dan sulitnya istri gue, gue remukin ini muka lo!!” ancam Abi dengan wajah amarah.
Teman-teman kerja Jelita menatapnya tak percaya bahwa Jelita yang mereka lihat saat ini adalah wanita yang single tapi dengan ucapan laki-laki tadi menegaskan bahwa status Jelita tak lagi single. Jelita yang menyadari di tatap para temannya ia menggeleng tidak mungkin dan jangan dipercaya.
“L-lee—pass..”
“Minta maaf sama isri gue! Se-ka-ra-ng!”
“Gue enggak sudi!”
“Sialan!” Abi semakin mengeratkan remasan di dagu Rasmi membuat Jelita semakin tak tega dan menarik lengan kekar Abi itu.
“Diam, tenang—Rasmi pergi, tolong.” mohon Jelita dan akhirnya Rasmi dan teman-temannya memilih untuk pergi.
Setelah itu, keadaan berangsur-angsur kembali tenang sedangkan Jelita membawa Abi ke pantry dapur untuk ia berikan air minum agar jiwa dan pikiran laki-laki tampan itu kembali membaik.
■■■
“Minum dulu, biar hatinya baikan.” Jelita menguluran gelas minum yang di terima oleh Abi.
Beberapa menit berlalu setelah kejadian, jelita melihat sepertinya laki-laki asing itu sudah lebih baik dari sebelumnya, wajah yang memerah juga sudah kembali menjadi cahaya yang normal.
“Sudah berapa kali dia seenaknya sama kamu?” tanya Abi tanpa basa-basi.
“Kamu enggak perlu tahu, aku nggak bisa cerita sama orang asing.”
“Aku bukan orang asing, bahkan aku udah ikut campur kedalam hidupmu.”
“Iya dengan mengatakan kalo saya istri dari Masnya.” sarkas Jelita dengan tajam.
“Karena saya yakin suatu saat nanti kita bukan hanya sekedar bertegur sapa tapi nanti akan saling hidup dalam berumah tangga.”
“Ya ampunnn...sebenarnya Masnya ini siapa sih? Punya sikap kok PD banget.”
“Kalo mau dapetin cinta harus PD memang.”
‘ya karena gue udah pawangnya soal cinta-cintaan.’
Jelita mendengus kesal, kemudian ia beranjak dari duduknya ia harus kembali melanjutkan pekerjaannya, mengurusi orang asing ini tak akan selesai urusannya, Abi melihat Jelita meraih handel pintu ia juga cepat-cepat menahan pergelangan tangan Jelita bahkan saat itu Jelita tak siap dan pintu terdorong dari arah luar membuatnya limbung dan ia jatuh dalam rengkuhan Abi.
“Astagaaa..jadi Mbak Jelita beneran udah nikahh?” tanya teman Jelita.
■■■