BAB 7 : SALAH SANGKA

1553 Words
“Astagaaa..jadi Mbak Jelita beneran udah nikahh?” tanya teman Jelita. ■■■ Kejadian menegangkan dan berubah menjadi suasana canggung yang menyergap membuat para teman-teman bekerja Jelita merasa tak menyangka bahwa selama ini status yang Jelita ampu tak di beritahu kepada mereka, Jelita ingin sekali menjelaskan hubungannya dengan laki-laki yang sedang duduk disampingnya bahwa mereka sama sekali tak memiliki hubungan apapun entah itu hubungan sodara, hubungan pacar-pacaran, atau hubungan suami-istri, tapi naasnya saat Jelita ingin menjelaskan semuanya laki-laki asing itu menahan lengannya. Hari-hari Jelita bukan lagi hari yang membuatnya senang meski pekerjaanya berat ia tetap membawa harinya ringan namun semenjak laki-laki asing ini selalu berada di sekitarnya membuat harinya rumit seperti benang wool yang di acak-acak. “Mas ini sebenernya siapa sih? Dari kemarin ngintilin saya mulu!” sembur Jelita yang sudah gemas dengan laki-laki di dekatnya itu. “Sayakan orang mana mungkin kalo saya setan bisa nginjak lantai,” jawab santai Abi “Ya saya tahu, Mas ini sebenernya siapa? Intel? Atau siapa? Kalo Mas beneran Intel kenapa mesti saya targetnya sayakan enggak korupsi uang tapi saya kalo urusan korupsi waktu sering Mas.” balas Jelita sudah gemas. Suara tawa menggelagar kencang menghiasi telinga Jelita, Jelita segera mengarahkan matanya pada laki-laki di sampingnya itu. ‘Tadi diam aja, sekarang ketawa kaya orang gila—jangan-jangan dia emang orang gila yang melarikan diri—eh tapi dia kemarin emang kaya orang normal.’ Abi melihat Jelita setelah menyelesaikan ketawanya karena Jelita mengiranya sebagai Intel yang benar ia seorang pilot, namun begitu Abi tak menceritakan apa pekerjaanya. Abi menyadarkan Jelita dengan menggoyangkan tangannya di depan wajah Jelita. “Halloooo—“ “Ehh—udah ah sana Masnya pulang aja kenapa sih?! Saya masih mau tutup caffenya nih.” usir jelita dengan menaikkan kursi-kursi tempat tadi untuk duduk. “Saya temenin kamu wanita kalo ada apa-apa gimana.” “Saya udah biasa sih Mas, mending Mas pulang daripada ganggu saya.” sarkas Jelita. “Lah gimana saya ganggu kamu? Saya malah bantuin kamu.” “Terserah deh—tapi enggak ada ongkos bantu-membantu.” Abi tersenyum dengan jawaban Jelita yang kadang konyol. Akhirnya Jelita menyelesaikan pekerjaannya, jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam semua sisi sudah Jelita teliti dan ia kunci, setelah itu Jelita mematikan lampu caffe menggubah papan menjadi close hingga waktu itu menunjukkan bila waktu bekerja Jelita sudah selesai dan waktunya kembali ke rumah. Setelah mengunci pintu utama caffe itu Jelita niatnya segera pulang tapi tidak sayangnya, Abi masih menunggu Jelita hingga saat itu laki-laki tampan itu menunggu di belakang badan Jelita saat mengunci dan saat Jelita membalikkan badannya ia bertabrakan dengan badan kekar. “Ayo, saya antar pulang.” “Nggak, terima kasih.” “sudah larut, bahkan malam segini jarang ada angkutan umum.” “Saya udah biasa jalan Mas, jadi terima kasih tumpangannya.” tolak Jelita dengan santun. Kesal dengan penolakan Jelita akhirnya Abi memilih tindakan yang memang dikatakan tak sopan, Abi meraih tubuh Jelita dan ia panggul dibahunya setelah itu ia bawa masuk ke dalam mobilnya. “Mas lepasin! Kamu mau culik saya!!” “Diam!” “Apa-apaan ini—lepassss!!” teriak Jelita kesal. “Diam atau saya cium!” kesabaran Abi sungguh di uji. Perjalanan menjadi sunyi hanya di isi suara radio dan suara jelita sesekali Jelita memberi arahan kemana mobil yang mereka tumpangi berbelok. Keadaan masih sunyi bahkan saat Jelitab memberi arahan pada Abi, Jelita sengaja menatap jalanan yang lenggang. Jogja dan jalan yang lenggang memang hal yang menarik, meskipun suasana Jogja tak ada sepinya melihat Jogja tak terlihat hiruk pikuk seperti biasa. Abi melirik ke arah Jelita, wanita yang membuatnya jungkir balik itu masih tetap diam hanya arahan-arahan yang Abi dengar selebihnya hanya keterdiamannya wanita itu. Abi masih tak habis pikir, tidak ada waktu dua puluh empat jam saat pertemuan pertama mereka Abi sudah jatuh cinta dengan perempuan di sampingnya ini. ■■■ Abi menatap rumah type minimalis ini, rumah yang di tunjuk Jelita menjadi tujuan Abi mengatar jelita pulang, ia tak menyangka Jelita akan tinggal di rumah kecil begini. Lingkungannya memang kawasan perumahan yang aman hanya saja rumah jelita berbeda dari yang lain lebih mengarah ke—prihatin. Abi tersadar dari lamunannya ketika suara gemrisik di sampingnya, lantas Abi mengedarkan pandangannya pada perempuan cantik yang kini tampilannya sudah acak-acakan itu. “Pelan-pelan kalo mau buka kunci seltbeltnya agak macet.” Abi memberitahu Jelita. “Ya makanya Masnya tolongin dong, malah diam aja!” “Ini mau saya bantuin, jangan ngomel mulu dong pengang ini kuping saya.” protes Abi. “Ck, buruan saya udah capek dan ngantuk Mas.” “Udah tuh, silahkan turun.” Perintah Abi. “eh—tunggu!” “Apalagi sih Mas?” kesal Jelita yang sedari tadi ia ditahan dengan laki-laki asing itu. “Nama kamu siapa?” “Hah?” “Nama kamuu?!” “Jelita—sudah ya Mas saya harus masuk sudah malam—dan terima kasih untuk hari ini, selamat malam.” pamit Jelita dengan suara yang terpaksa ia buat lembut agar laki-laki di hadapannya ini segera berlalu. “Yeah..good night.” setelahnya Abi benar-benar berlalu dari rumah Jelita ■■■ Jelita menatap pipinya yang memerah bekas tamparan adik tirinya yang benar-benar keteraluan itu, setelah berganti pakaian niatnya untuk menyeka badannya agar nyaman untuk ia bawa tidur hari yang hampir pagi ini, sembari mengompres pipinya yang terasa sakit itu. Hari ini Jelita lewati dengan hari yang berat, dari ia bertemu dengan laki-laki asing, tamparan keras dari adik tirinya, hingga pertanyaan konyol dari laki-laki yang tadi mengatarkannya pulang. “Aku yakin, abis ini hidupku enggak lagi tentram, antara Rasmi yang enggak akan mau kalah, laki-laki asing itu, dan juga si nenek lampir, lihat aja besok.” gumam Jelita sembari menyeka tubuhnya dengan air hangat. Selesai membersihkan diri Jelita lantas mengompres pipinya agar besok tidak terlalu bengkak, harusnya tadi Jelita bisa membalas perlakuan Rasmi padanya namun ia masih ingat pertengkaran mereka berada di tempat yang tidak tepat. Kesal menjalari hati Jelita, sampai kapan hidupnya di jajah oleh mak lampir dan juga si parasit Rasmi itu, Jelita ingin membuat hidupnya bisa bahagia tanpa ada yang mengusik entah hal apapun itu. Hidupnya semakin rumit, Ibu tiri yang dulu Jelita puji-puji menjadi wanita paling bengis, wanita yang menyimpan beribu-beribu belati padanya, ia jadikan ATM berjalan, apapun kemauan Lalita dan juga Rasmi harus selalu Jelita penuhi, hingga akhirnya kesabaran mereka benar-benar sudah di batas akhir. Sadana ayah dari Jelita sepertinya semakin merasakan keanehan antara istri dan juga anak kandungnya hingga akhirnya ayah kandung dari jelita membawa Jelita dan Arwan untuk angkat kaki dari rumah yang Sadana beli hasil keringatnya. Dari tindakan Sadana, Jelita sedikit merasa lega, uang yang ia hasilkan akan ia gunakan untuk kehidupannya dan membantu biaya sekolah Arwan dan juga membantu membayar kontrakan yang mereka sewa. Tapi untuk besok Jelita tak ingin memikirkan, ia masa bodoh kalo-kalo mak lampir dan si parasit akan melakukan aksi protes karena Jelita sudah mengatakan bahwa Rasmi adalah simpanan om-om. ‘simpanan om-om kok seneng,sekalian tuh jadi istri keduanya biar makin mantep.’ cerocos Jelita hingga akhirnya ia memilih untuk memejamkan matanya. ■■■ Suara gedoran menganggu acara tidur Jelita yang memang sedang nyenyak-nyenyaknya itu, mengetahui bahwa hari ini ia sedang mendapat giliran libur bekerja, maka dari itu Jelita menggunakan hari liburnya ini untuk ia pakai tidur seharian. Namun suara gedoran pintu kamarnya itu tak henti menggedor membuat Jelita mau tak mau memang harus bangkit dari tidurnya, menedang selimut tebalnya dengan perasaan kesal, seharusnya kemarin Jelita memberikan tanda di depan pintu kamarnya bahwa hari ini ia tak ingin di ganggu. Dengan membuka pintu secara kasar Jelita berhadapan dengan wajah adiknya—Arwan, Jelita memasang wajah kesal pada Arwan siap meluncurkan amarahnya karena sudah berani-berani menganggu tidur nyenyaknya. “Eitttsss—jangan marah dulu Mbak—di depan tuh ada pacar Mbak,” tembak Arwan cepat sebelum mendapat semprotan Jelita. “Siapa?? Aku enggak ada pacar, jangan aneh-aneh deh kamu, Wan. Kamu sengajakan mau usilin Mbak biar bangun?!” sembur Jelita yang tak terima yang dibangun dengan hal yang tidak bermutu. “Siapa yang aneh-aneh, itu beneran ada cowok Mbak, pake seragam pilot, Mbak diam-diam ada pacar yaaaa—“ goda Arwan. “Cowok? Pake seragam Pilot? Siapa sih?” “Nah—dari pada Mbak nanya siapa sih, siapa sih mending temuin dianya, lagi ngomong sama Papa tuh.” unjuk Arwan pada Jelita. Jelita dengan cepat keluar rumah tanpa memperhatikan penampilannya karena rasa penasaran yang mengebu-gebu Jelita menghampiri tamu dipagi harinya itu. “Nah itu Jeje.” tunjuk Sadana. “Je, nih ada pacarmu mau pamitan—kamu ini ada pacar kok enggak bilang-bilang sama Papa?” Sadana meminta penjelasan. Jelita terperangah dengan apa yang dikatakan Papanya, pacar? Kenal saja juga baru kemarin itupun tanpa tahu namanya malah sekarang laki-laki itu memperkenalkan dirinya sebagai pacarnya—benar-benar sudah gila. “Kok malah bengong sih Mbak itu pacarmu mau pamitan.” “Hah?!” Abi mendekati Jelita yang masih bingung dengan kehadirannya, karena ia akan kembali bertugas membawa para penumpangnya untuk ia antarkan di temnpat tujuan, sebelum ia kembali bekerja Abi ingin bertemu dengan Jelita terlebih dahulu. Sembari membenahi letak rambut Jelita yang tampak awutan-awutan itu, setelahnya Abi membawa dagu Jelita untuk berhadapan dengannya. “Aku pergi dulu, doakan aku untuk selamat sampai pulang nanti—maaf aku menganggu pagi-pagimu.” ujar Abi dan tak lupa menyisipkan ciuman di kening Jelita. “Kalo kamu kangen aku, cukup panggil aku Abimanyu Hardinata.” bisik Abi lagi. Setelah sadar dengan suara ciutan berasal dari adiknya lekas Jelita sadar dengan apa yang dilakukan laki-laki didepannya itu. “Kurang ajar—berani-beraninya kamu cium akuuuu!!!” marah Jelita. “Aku pamit, jangan rindu.” “Cieeee—Mbak jelitaaaaa—“ goda Arwan “Pergiiii—dasar mesummmm!!” ■■■
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD