Semenjak perlakuan laki-laki aing yang datang ke rumahnya pagi-pagi kala itu, Jelita tak hentihentinya mendapat kalimat cuitan dari Papanya maupun Arwan, mereka berdua tak henti-hentinya menggoda Jelita bahwa seleranya bukan lagi laki-laki biasa.
Namun begitu, Sadana masih ragu dengan kedatangan laki-laki dua hari yang lalu datang ke rumahnya dan bertemu dengan putrinya, rasanya akan tidak mungkin dengan mereka yang kondisi kehidupan begitu putrinya bersanding dengan laki-laki dengan pekerjaan yang mentereng seperti laki-laki asing itu yang memperkenalakan namanya sebagai Abimanyu.
Sadana dan Jelita tak tahu bahwa laki-laki yang datang kerumahnya kala itu adalah cucu dari orang mereka anggap hormat di kota ini, dasarnya saja Abi yang memang merahasiakan statusnya, Abi memang beda—beda versinya.
“Je, bisa kenal dimana si laki-laki kemarin?” tanya Sadana pada Jelita yang sedang menyiapkan nasi sarapan pagi mereka.
“Itu—Pa.. ceritanya sebenernya enggak sengaja, Jelita nolongin Masnya nyelamatin tas Ibunya, kebetulan yang copet tuh lewat pas di depan Jelita langsung tuh Pa, aku jegal kaki pencopetnya yaudah Jeje amanin tasnya terus Masnya ini nyusul Pa, dari itu katanya dia jatuh hati sama Jeje sampe dia datangin tempat kerja Jeje Pa, kan aku enggak ambil apa-apa isi tasnya Mamanya tapi ya gitu Pa dia masih aja ngejar aku sampai sekaran gitu.” Jelita menjelaskan tentang kedatangan laki-laki itu.
“Jadi dia ngejar-ngejar kamu?” Sadana bertanya.
“Iyalah Pa, jadi Papa sama Arwan jangan salah sangka aku pacaran sama si dia ini!”
“Namanya tuh Mas Abi, Mbak—Abimanyu yakan Pa?” Arwan mencari kebenaran.
“Iyaa.”
“Ih—bodo amat mau namaya Abi, Api kek yang jelas dia tuh enggak jelas banget tahu!” kesal Jelita.
“Hati-hati Mbak, jangan benci ntar cinta—jangan gengsi nanti rindu,” ujar Arwan.
“Tahu apa kamu tentang cinta? Sekolah aja yang bener.” sewot Jelita.
“Idih marah—udah ah Arwan mau berangkat sekolah dulu ada jadwal piket.” pamit Arwan. “Pa, Arwan pamit, dadaa Mbak selamat jatuh cinta ya—hahahahaha—“ goda Arwan pada Jelita.
Makan pagi terlewat dengan suasana baik, inilah yang di inginkan Jleita semenjak dulu cukup Jelita dan Papa serta Adik tirinya untuk hidup ringan jauh dari nenek lampir yang tiap kali membuat masalah kala pagi menjelang sebenarnya hanya masalah kecil namun mulut besar Ibu tirinya itu membuat Jelita semakin jengah hidup bersama.
Tamparan Rasmi kala itu membuat jalan Jelita untuk pergi dari rumah itu dan benar saja, Sadana langsung membawa Jelita dan Arwan itu mengemasi barang-barangnya.
“Jadi gimana?” Sadana masih menanyakan Abi pada Jelita.
“Gimana apanya Pa?”
“Si Abi?”
“Biasa aja—ya enggak gimana-gimana, enggak tahu ah Pa.”
“Papa kasih semuanya keputusan sama Jeje, kalo Jeje suka sama Abi ya maju terus kalo enggak yakin jangan di lanjutin. Kamu tahu sendiri pekerjaan dia sama kita gimana, Papa cuman takut Jelita kamu di rendahin sama keluarga dia yang tinggi kita yang biasa ini.”
“Jelita paham, Pa. Jelita enggak mungkin sama dia—kaya enggak tahu aja laki-laki jaman sekarang cuman penasaran aja kalo udah ya di tinggalin.”
“Udah yang lalu enggak usah di inget-inget, biarin yang lalu jadi pelajaran Jeje buat hati-hati memilih dan memilah laki-laki—udah Papa mau berangkat dulu, kamu nanti berangkat pake motor Papa aja, Papa mau jalan kaki.” pamit Sadana yang sembari memakai jaketnya.
“Iya—hati-hati ya Pa.”
‘Iya Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
■■■
Terakhir Jelita lihat Abi pagi itu saat laki-laki itu ijin padanya untuk berangkat kerja namun entah kenapa sudah tiga hari ini Jelita seperti sedang menunggu kedatangan seseorang namun selalu ia tepis, tidak mungkin kedatangan Abi pada harinya menganggu konsentrasinya.
Jelita harus paham ia dan Abi bukanlah siapa-siapa maka haram bagi Jelita untuk mengharapkan laki-laki itu, berulang kali Jelita menepis rasa itu rasa dimana laki-laki itu akan ada dimana-mana.
Perempuan dengan lesung pipi itu kembali melanjutkan pekerjaannya, mengambil shfit kerja banyak-banyak agar fokusnya tak selalu tertuu pada laki-laki yang suka menganggunya itu.
Pagi itu Jelita mendapat job dengan mengantar catering ke rumah salah satu rumah klean rumah cateringnya, disana Jelita harus mengawasi jalanya pekerja sepertinya bedanya kali ini Jelita hanya mengatur tempat dimana harus di letakkan makanan untuk sajian selain itu Jelita juga mengawasi pekerja yang baru saja masuk dalam perusahan catering itu.
“Je, pokoknya nanti kamu atur sama kaya biasanya ya, kalo bisa kamu siapin dulu buat yang punya rumah jangan sampai enggak, ini Ibu udah lebihin juga semuanya.”
“Siap, Bu..nanti Jeje atur kaya biasanya—sekarang Jeje mau berangkat dulu doain lancar ya.” Jelita pamit pada Melinda si pemilik rumah catering itu.
“Amin—semangat ya semua!”
Kesibukan Jelita hingga tak sadar bahwa di rumah itu adalah rumah pribadi milik orang tua Abi tapi sayang manusia yang sering mengikuti Jelita kerja kesana-kesini sedang terbang keatas awan mengatar para penumpangnya ke tempat tujuan.
Setelah wadah-wadah besar di turunkan dari mobil, Jelita segera meminta para juniornya untuk mengatur makanannya sedang Jelita menyiapkan untuk sajian tuan rumahnya.
“Mbak tahu enggak ini rumahnya siapa?” Dito bertanya pada Jelita saat menyiapkan makanan.
‘Enggak tahu, gue tahunya rumah orang gede aja.'
“Yeee—Mbak Jelita Mah—ini tuh rumah Raden Ajeng Harina Kamika—putri Raja.” Dito berbisik pelan.
“Oh—ya udah, yang sopan nanti kamu sama beliau kerja yang bagus pokoknya jangan asal.” Jelita acuh tak acuh membuat Dito mengerti kesal.
■■■
Selesai dengan pekerjaan cateringnya, semuanya sesuai keinginan yang memiliki hajat sekarang Jelita sedang siap-siap untuk berangkat ke pekerjaan yang selanjutnya di roti bakry meski terbilang baru Jeita tak ingin menjadi karyawan yang lelet sebagaimanapun ia merasa lelah ia harus tetap bisa konsisten inilah jalan yang sudah Jelita pilih membanting tulang daripada egois melanjutkan sekolah kuliahnya, toh kuliah bisa kapan saja tidak harus sekarang.
Bahkan sekarang sepertinya Jelita lebih memilih untuk bekerja daripada harus kembali mengulas mata pelajaran, mengumpulkan uang lebih mengasikkan meski rasa lelah dan capek merajai tubuhnya namun begitu Jelita tetap melakukan dengan ikhlas hati.
Ayahnya saja bisa melakukan pekerjaan apa saja setelah kebangkrutan perusahaannya kenapa Jelita tak bisa, ia masih berjiwa muda ia harus bisa juga mengimbangi semangat sang Papa yang umurnya berbeda dengan Jelita.
Kali ini Jelita memakai motor pribadinya sembari menikmati udara Jogja yang jarang ia rasakan karena lebih sering mengunakan angkutan umum, hingga saat ini Jelita masih tidak terganggu dengan ketiadaan laki-laki yang tadi pagi baru Jelita tahu namanya.
Harinya seakan kembali tenang setelah laki-laki itu tak lagi menguntit Jelita kemana-mana, ia yakin perasaan yang tadi pagi ia rasakan itu hanya perasaan tak sengaja menyelinap buktinya sekarang Jelita tak lagi mengingat kehadiran Abi.
“Kehidupan tenangku akhirnya kembali, kerja dengan tenang, nafas yang lega.” lirih Jelita dengan menarik nafas leganya.
■■■
Maghrib itu Jelita sudah menyudahi shift siangnya, ia juga sudah berganti baju dan siap untuk melaju ke pekerjaan Jelita yang terakhir yaitu ke Caffe yang yang harus segera ia buka. Rasa resah yang melekat seringkali Jelita tepis ada perasaan aneh yang mengganjal di benak Jelita, entah apa tapi yang pasti Jelita menepisnya menjadikan perasaan yang akan baik-baik saja.
Jelita masuk dari pintu belakang, menyalakan lampu-lampu sebelum ia melangkah ke loker miliknya memakai celemek dengan tulisan caffe tempat kerja Jelita, sembari menunggu teman-temannya Jelita membuka pintu depan menyalakan lampu, setelahnya ia mulai menyusun kursi-kursi untuk ia letakkan di depan bagian caffe, tak lama juga para teman-teman jelita mulai berdatangan menyusul juga bos Jelita pemilik Caffe ini.
“Je, lo di office aja deh biar ntar Dino yang antar-antar.” pinta Rahmad pemilik caffe.
“Ih—kenapa gitu Mas, gapapa kok aku ikut antar-antar kaya biasa.” Tolak Jelita.
“Lo pucet gitu, udah di office aja biar Dino lo sama Diana di offiece yang di belakang Seno sama Arto.”
“Ya udah, Din kamu siapin minumnya ya gue set kasir dulu.”
“Oke Mbak!”
Waktu semakin larut dan berlalu, caffe malam ini tak terlalu rame seperti hari weekand namun begitu Jelita dan teman-temannya bisa istirahat sekejap, bekerja dengan Rahmad adalah bekerja paling menyenangkan saat sudah selesai tugas par karyawan bisa bersanda gurau kadang Rahmad juga ikut melayani pembeli atau bahkan bergabung dnegan karyawannya saat caffe sedang tak begitu ramai dengan pengujung.
“Eh—Mbak Jeje suaminya kemana?” celetuk Diana.
“Nggak mampir Je tumben?” Rahmad juga ikut-ikutan.
“Tauk! Kelaut kali dia.” ujar Jelita sekenanya.
"Ehh ciieee—lagi ngambekan yang Mbak, masa pengantin baru musuhan gitu,” ledek Dino.
“Suerrr yaa—gue sama dia tuh enggak ada hubungan apa-apa, kenal juga waktu itu doang tiba-tiba dia ngintilin gue kemana-mana ngaku suami gue kesiapapun.” Jelita menjelaskan.
“Mbak Jeje parah—suami sendiri di katain kualat nanti kamu Mbak,” ujar Diana mengingatkan.
“Diana, sumpah demi itu lakik bukan lakik gue, jangan percaya kalian sama dia, jatuhnya sesat ntar.” Jelita semakin sewot.
“Tapi ya—aku kaya enggak asing sama muka cowokmu itu Je,” Arto menimbrung setelah dari tadi terdiam.
“Yakan kemarin Mas Arto lihat gimana sih,” cibir Diana.
“Eh enggakk—suer gue pernah liat dia kalo enggak salah ke pasar deh sama ibu-ibu gitu kondenya gede tinggi.” Arto menceritakan tentang ia pernah melihat laki-laki yang kemarin menguntit Jelita
“Udah ah—ngapain jadi bahas itu cowok sih!”
“Dihh—dia yang sewot.”
Jelita meninggalkan teman-temannya menuju ke arah toilet, menghindari pembahasan laki-laki yang seharian ini menjadi resahnya, Jelita kesal dengan perasananya seharusnya rasa ini salah, bukan rasa jatuh cinta hanya saja rasa kehilangan sesuatu yang tak bisa Jelita jelaskan dengan gamblang.
Ingin menangis tapi apa yang harus ia tangisi, mengingat Abi bukanlah keinginannya tapi entah kenapa bayang-bayang Abi terus saja macet di otaknya serta hatinya seperti ada yang mengganjal tapi entah apa itu jelita tak paham.
“Efek Abi gini amat ya—kenal juga baru,”
“Eh—hati jangan ngelunjak ya—jangan caper gini dong biasanya juga baik-baik aja lo—ah nyusahin gue aja lo pada otak gue juga nih kenapa sih Abi-Abi mulu.” kesal Jelita.
“Kayaknya gue butuh istirahat deh, lama-lama gue bisa gila nih.”
■■■