Tubuh lelah, tenaga yang terkuras, terasa remuk itulah yang Abi rasakan setelah hampir seminggu ini ia meyelesaikan penerbangannya yang bolak-balik antar kota, bisa pulang sebentar seperti ini adalah anugrah terbesar yang di miliki Abi. Kebetulan penerbangannya ini berada di kota Jogja daripada ia tidur di hotel lebih baik ia pulang meski hanya sebentar setidaknya ia bisa mengistirahatkan badannya yang sudah lunglai remuk itu.
Mengenai Jelita, Abi memang sengaja tak menceritakan pada gadis itu tentang jadwal pekerjaannya, Abi memang miliki trik jitu dengan pekerjaannya ini membuatnya bisa memiliki alasan untuk tak menemui Jelita dan nantinya Jelita akan memikirkan Abi kapanpun di pekerjaannya ini ada hikmahnya juga.
Abi bukanlah laki-laki polos, Abi tahu tentang trik kaumnya, Abi hanya melakukan apa yang laki-laki harus lakukan menarik ulur wanitanya. Menaklukan wanita seperti Jelita sepertinya menjadi tugas Abimanyu, niatnya sudah setinggi gunung everst apapun itu nanti resikonya Abimanyu tetap akan maju terus pantang mundur.
“Gila—belum juga satu bulan udah kangen aja sama si Jelita,” gumam Abi.
“Tahan Bi, tahan, lo aja sebulan enggak main cewek tahan masak nahan rindu aja nggak bisa.” gumam Abi lagi.
Akhirnya laki-laki tampan itu melanjutkan kegiatannya bersih-bersih, berharap rasa lelah di badannya ikut larut dengan buaian air hangat di showernya.
Ada sedikit penyesalan yang di rasakan Abimanyu, menyesal karena tak memiliki nomer ponsel Jelita namun ada sisi lain yang Abi syukuri meski tak memiliki nomer ponsel Jelita ia tak akan susah-susah memberikan kabar pada wanita yang sedang Abi usahakan untuk menjadi miliknya itu, gadis sederhana yang entah kenapa menjadi sosok istimewa di mata Abi.
■■■
Berbeda dengan Jelita yang menjalankan kehidupannya dengan gembira, perasaan yang beberapa hari menganggunya kini tak lagi menghantui Jelita perempuan itu sudah menanamkan perasaan tenangnya bahkan rasa mencari Abi adalah perasaan sesaat.
Kehidupan Jelita memang sedang baik tak ada lagi gangguan-gangguan dari ibu tirinya serta adik tirinya, semuanya berjalan sesuai dengan apa yang selama ini Jelita ingini, hidup tentram.
Dan untungnya Papanya dan juga Arwan tak lagi menanyakan Abi lagi, setelah kejadian pagi kala itu Sadana dan Arwan menjadi sering menggodanya namun karena Jelita menampakkan raut wajah yang biasa saja akhirnya mereka memilih untuk berhenti tak lagi menggoda Jelita.
Bahkan Jelita berharap agar laki-laki yang menganggunya kala itu tak lagi menunjukkan batang hidungnya lagi padanya semoga sampai seterusnya, baru juga Jelita merasakan kehidupan normalnya malah sudah di ganggu dengan kedatangan manusia asing.
Jelita baru saja menyelesaikan acara masakannya untuk sarapan pagi itu, baru saja suasana hati Jelita membaik dan bagus tapi Ibu tirinya datang dengan suara lantang membuat pagi Jelita yang indah menjadi buram.
“Jeje, belagu banget lo ya mentang-mentang udah mau dipinang seenak aja kamu sama Rasmi.” Lalita tak terima.
“Apa sih Ma, pagi-pagi teriak-teriak,” Arwan menengahi.
“Diam kamu, nggak ngerti apa-apa, Mama ada perlu sama kakak tercintamu itu.” Lalita tak juga maun mengalah.
“Iya ada apa makanya Ma, ini rumah kami ya jadi Mama enggak berghak marah-marah.” tegur Arwan.
“Ada apa ini?” Jelita datang dari arah dapur.
“Nah ini nih biang keroknya, gara-gara pacar jejadianmu itu sampai sekarang Rasmi enggak bisa makan gara-gara kelakuan pacarmu!” marah Lalita.
“Kak Rasmi kenapa, Ma?”
“Rahangnya bengkak gara-gara pacarnya Mbakmu itu.”
“Astagfirullah—Mama nih yang ngaco.”
“Kalo Mama bohong ngapain Mama pergi kesini.”
“Padahal kejadian itu udah lama belum ada sebulan lagian dagu Rasmi cuman diremas sama temenku.” jalas Jelita.
“Cuman di remas? Enak banget ya kamu ngomong! nggak mau tahu ya, pokoknya kalian harus tanggung jawab soal Rasmi!” marah Lalita.
“Uang Rasmi aja banyak ngapain kami juga mesti tanggung jawab?!” sarkas Jelita.
“Apa kamu bilang!”
“Nggak ada—acara tanggung jawab, manja aja gitu aja minta tangung jawab asal Mama tahu ya pipi aku juga bengkak tapi aku nggak minta ganti rugi kan sama anak kesayangan Mama itu.”
“Mana buktinya kali kamu juga bengkak?”
“Udah lama ya hilang sendirilah Ma,”
“Kamu bohongkan, enggak mau tahu pokoknya kamu mesti tanggung jawab!” kekeh Lalita pada Jelita agarv Jelita mau bertanggung jawab.
“Ada apa ini? Pagi-pagi sudah ribut?” tanya Sadana yang menimbrung.
“Didik anakmu ini Mas, kasih tahu sama anakmu ini kalo milih temen tuh yang baik jangan suka bertindak kasar sama anakku!” adu Lalita yang tak mau berhenti.
“Maksud kamu apa nuduh Jelita begitu? Selama ini Jelita udah selalu diam ya.”
“Tanya aja sama anak emasmu itu, abis ngelakuin apa ke Rasmi!”
Sadana menatap ke arah Jelita dengan tatapan meminta penjelasan, Jelita yang paham dengan tatapan Papanya menghela nafas dan memilih menjelaskan.
“Kejadinya tuh udah semingguan ini, Pa. Rasmi ada pergi di kafeku malam minggu, Rasmi ada hina aku karena pekerjaan Jeje yang merangkap pelayan pungut sampah padahal itu emang sudah tugas kami semua Rasmi hina aku enggak mau dia hina terus aku balas kalo dia simpanan Om-om emang kenyataannya gitu, terus di—“
“Bohong! Rasmi enggak simpanan om-om kamu makin ngarang ya!”
“Dengarkan dulu penjelasan Jeje, Lita.” Sadana membentak Lalita untuk tetap tenang. “lanjutkan, Je.”
“Ya terus gitu Pa, Rasmi nampar Jeje—Jeje enggak niat bales tapi emm—Abi datang dan—meremas dagu Rasmi.” Jelita menyelesaikan penjelasannya.
“Astagaa—lalu kamu dari mana kalo Rasmi jalan sama Om-Om? Jeje ada bukti?” tanya Sadana tenang.
“Jeje emang enggak ada bukti Pa, cuman Jeje dua kali kepergok Rasmi jalan sama om-om yang sama, Jeje menutupi aib Rasmi tap—“
“Pa, Arwan ad—aada buktinya.” Arwan menimbrung dengan menunjukkan ponselnya pada Sadana.
Sadana dan Lalita sukses terkejut, di dalam foto tersebut Rasmi terlihat bergelenyut manja di lengan laki-laki yang memang bisa di bilang lebih cocok menjadi ayahnya daripada pacarnya, disini Rasmi sungguh sangat keteralaluan. Lalita merasa di lempari kotoran ke arah wajahnya, putrinya sungguh membuatnya kecewa.
“Jadi disini kita bisa tahukan Lit, siapa yang salah mendidik anak-anak?” ujar Sadana tak maksud mengejek Lalita, Sadana hanya memperingatkan Lalita bahwa apa yang ia manjakan melemparinya bom atom.
“Ini pasti bohongkan?! Aku enggak percaya ini!” marah Lalita yang kemudian beranjak dari dudunya dan pergi dari rumah kontrakan Sadana dengan perasan kesal dan malu.
Sadana hanya menggelengkan kepalanya, meski Rasmi hanyalah anak tirinya tapi Sadana tak pernah membeda-bedakan dengan anak kandungnya. Setelah melihat foto tadi membuat Sadana tahu bahwa meski putrinya seringkali melawan lelah tapi Jelita lebih baik versinya.
“Cuman pesan Papa, sesulit apa keadaan kita Papa mohon jangan pernah memilih jalan yang salah, Papa percaya kalian karena kalian bisa memilih mana yang baik dan buruk.” pesan Sadana dengan bijak.
“Siap komandan, laksanakan!” sorak Arwan dan juga Jelita bersama.
■■■
Tepat hampir dua minggu, Abimanyu menjalankan tugasnya dengan baik dan sekarang ia memilih untuk segera pulang mengingat hari menunjukkan dini hari.
Keinginnya untuk segera pulang ia urungkan, sangking ia sibuk dan fokusnya pada pekerjannya hingga ia lupa dengan wanita yang selama ini masih ia simpan dengan baik di otak serta hatinya, namun karena pekerjaannya yang menyita tenaga dan perhatian.
Akhirnya Abimanyu mengarahkan mobilnya ke rumah wanita idamannya, ternyata rasa rindunya sudah meluap itu mulai Abi rasakan. Bukannya untuk lekas pulang dan mengistirahatkan badannya namun namanya yang sudah bucin apapun tetap akan ia lakukan meski hari sudah mulai pagi.
Hal paling konyol yang pernah di lakukan Abimanyu adalah menunggu seseorang untuk bisa temui padahal menemui saja bisa besok tapi dasarnya orang sudah bucin t***l seperti Abi menunggu besokpun tak bisa membuatnya tenang, meski hanya diam di dalam mobilnya dan menatap halaman rumah mungil milik Jelita.
“Demi mengejar masa depan nih aku rela tidur di mobil Jel, mesi badanku remuk redam apapun untuk bisa ketemu sama kamu, bakal aku jabanin.” Gumam Abi sembari menata kursi duduknya menjadi sandaran rendah agar ia bisa tidur barang sejenak.
Baru saja Abi memejamkan matanya namun sorot matahari membuat tidurnya terganggu bahkan Abi seakan lupa bahwa ia sedang tidur di mobilnya bukan tidur di kasur empuknya. Karena teranjur bangun akhirnya Abi benar-benar bangun tak lagi mencoba memejamkan mata, tenaganya juga sudah lumayan terobati dan Abi tak lupa untuk merenggangkan otot-otot kakunya.
Dengan tekad kuat, Abi mengetuk pintu rumah Jelita yang sudah terbuka lebar itu, ia demi wanita yang Abi inginkan tidur di dalam mobilnya pun tak apa agar paginya ia langsung bisa menemui pujaan hatinya.
“Assalamu’alaikum..” salam Abi yang belum di jawab.
Sabar, Abi membatin dalam benaknya mungkin orang yang memiliki rumah ini sedang sibuk mengingat ini bukanlah hari libur. Meski tak mendapat sahutan Abi tak mudah pantang menyerah ia tetap mengucapkan salam.
“Assalamu’alaiku..” salam Abi untuk kedua kalinya. “Permisii..”
“Iyaaa—wa’alaikumsalammmm—“ teriak sesorang dari dalam “Siap—Abi?!” teriak Jelita terkejut dengan keberadaan Abi pagi itu.
“Hai Jell—apa kabar?” sapa Abi dengan wajah yang kembali berbinar senang.
“Ka-kamu kapan ada disini?” tanya Jelita dengan pandangan celingak-celinguk.
“Dari semalam.” balas enteng Abi.
“Dari semalam?” ulang Jelita.
“Iyaaa—semalam aku tidur di mobil—ralat bukan semalam tapi dini hari tadi aku udah disini.”
“Ke—kenapa enggak pulang dulu,” tanya Jelita.
“Soalnya enggak sabar pengen ketemu kamu.” ujar Abi dengan tenang.
Jelita tergagap dengan jawaban Abi yang terdengar frontal itu dan sebenatnya Jelita yang mendengar terasa malu. “Apaan sih! Pagi-pagi udah gombal.”
“Aku serius.’
“Siapa Je? Kok ada tamu enggak diajak masuk?” teriak Sadana dari dalam rumah.
“Oh—anu Pa—Iya tamu—ada Abi disini.” balas Jelita pada Ayahnya.
Terdengar langkah dari arah dalam rumah Jelita yakin itu pasti sadana Papanya, karena pertemuan pertama Abi dan uga Sadana membuat Sadana bisa akrab dengan laki-laki jangkung di depannya ini.
“Wahh—ada tamu—ayo masuk-masuk.” ajak Sadana dan jelas Jelita menyingkir dan memberikan jalan untuk Abi.
“Terima kasih, Om.”
“Ini mau berangkat kerja lagi, Nak Abi?”
“Kebetulan memang sudah selesai penerbangan Om makanya saya mampir dulu kesini takut enggak ketemu sama Jelita.” Abi menjelaskan kedatangannya.
“Ada apa dengan Jelita, Nak Abi?”
“Jelita—jalan pulang saya Om—tempat untuk saya pulang dan tempat saya mengingat bahwa saya memang harus pulang.” jelas Abi dengan mantap sedangkan Jelita sudah memerah menahan malu.
“Kalo begitu Om tunggu lamaran untuk anak Om, karena Anak Om ini langka makanya Om amat sangat menjaga hingga nanti dia menemukan suami yang mencintainya sepenuh hati melebihi rasa cinta kasih saya pada Jelita.”
“Papa!”
“Kenapa? Memang benar Je—jadi gimana Nak Abi kapan akan membawa keluarganya ke rumah.”
“Secepatnya Om.” Mantap Abi dengan percaya diri sedangkan Sadana tersenyum puas.
■■■