BAB 4 : KEBETULAN APA JODOH

1127 Words
“Semoga Tuhan kasih kesempatan saya buat nikung kamu ya, Cinderella.” gumam ia lagi si laki-laki tampan. Abi sudah berada bersama sang kanjeng Maminya, Abi kembali melanjutkan kembali perjalanan pulangnya setelah mengalami insiden pencopetan. Sebenarnya Abi sudah mewanti-wanti sang Kanjeng Mami untuk lebih baik berbelanja saja di supermarket namun namanya Ibu-Ibu kuno bila tak berbelanja di pasar belum afdol. Berulang kali Abi memperingati sang Ibu, namun nyatanya masih tetap ngeyel, kalo sudah keluar ngeyelnya Kanjeng Roro Harina Karnika sebagai anak yang baik dan tak durhaka Abi bisa apa? Bisa pasrah. Ibunya itu selalu meminta Abi untuk mengatarkannya ke pasar tiap kali ia pulang sehabis terbang, kata Harina waktu kepasar itu adalah we time mereka yang jarang ketemu. Lagi-lagi Abi mana bisa menolak keingnan sang Ibu dengan sanggul tinggi itu. “Kamu ini dari tadi hela nafas sama cengar-cengir mulu kenapa? Obatmu habis?” celetuk Kanjeng Roro Harina. Kan, Abi sedang cengar-cengirpun tak luput dari pandangan sang Mami, sepertinya bila Abi kentut tanpa suarapun sang Kanjeng Roro Harina akan tetap tahu kelakuan akhlakless putranya itu. “Apa sih Mi, nggak semua cengar-cengir Abi menunjukkan aku lagi nggak waras.” “Perasaan tadi berangkat muka males mu itu mendominasi kok, abis ketemu cewek senyam-senyum kaya orang kenthir.” ledek Kanjeng Roro Harina. “Ya udah to Mi, Abi kan lagi sumeh—senyumkan juga ibadah.” “Ya memang namanya Ibadah cuman cara guya-guyu mu itu loh yang mencurigakan.” Kanjeng Roro Harina masih tetap kekeuh. “Ini Mami jadi mampir ke toko O ndak? Mumpung kita lewatin ini.” tanya Abi mengalihkan pembicaraan. “Ya jadi to, inikan kesenangannya ponakaanmu masa Mami mau mampir nggak bawa buah tangan.” “Ya sudah tak mampir’in.” Akhirnya suasana yang tadi riuh dengan suara Kanjeng Roro Harini mulai meredam, sepertinya beliau sedang menikmati yang namanya pemandangan meski hanya lalu lalang kendaraan. Siang itu Jogja terasa padat merayap, inilah yang membuat Abi selalu rindu dengan suasana Jogja saat seperti ini entah pagi, siang, sore, atau malam suasana Jogja terlalu kental di hatinya. Namun sayang Abi tak selalu bisa menikmati hiruk pikuk kota Jogja sebagai kota kelahirannya ini, karena ia harus menjalankan tugasnya mengemudi kendaran yang bisa terbang membawa banyak nyawa dan harapan, ya saat ini Abimanyu tercatat sebagai pilot dosmetik, keinginan cita-cita untuk menjadi pilot internasional memang menjadi ambisinya tapi untuk sekarang Abi mensyukuri nikmatnya sebagai pilot dosmetik. Waktu liburnya juga tak banyak, namun selowong apapun dia bila pulang ia akan memanjakan sang Ibu terlebih dahulu, lahir dengan dua budaya tak lantas membuat Abi membenci salah satu budaya dari kedua orangtuanya. Abi yang memiliki keturunan jepang itu tetap wasih dengan empat bahasa yang ia ampu, ia manusia multitasking—china jawa bila saudara-sauadaranya menyembutnya, tapi begitu Abi senang. Abi membelokkan mobil Pajeronya ke halaman roti O yang tak terlalu besar itu, toko roti itu sangat terkenal di area Jogja, roti dengan bentuk O dan atasnya di taburi oleh gula membuatnya selalu rindu dengan makanan manis ini. “Mau beli berapa Mi?” “Ya kaya biasanya lah—kamu juga mau?” “Ya mau Mi, sama Blackforestnya Abi mau.” pesan Abi. “Ya bentar Mami pesan dulu, kamu nunggu disana aja dulu,” suruh Kanjeng Harini. “Aku mau ke stand kopi dulu ya Mi, buat temen makan roti nanti.” “Iya, jangan lama-lama.” ■■■ Abi masih asik dengan acara pemilihan jenis-jenis kopi—toko roti O itu tak hanya menyediakan berbagai roti, kopi dari penjuru manapun ada tersedia disana, selain Abi menyukai roti ia juga menyukai kopi apapun jenis kopi. Pria dengan tubuh jangkung itu mulai menggeser-geser langkahnya mencari serta membaca kopi-kopi yang terpajang di display—saat ia terlalu fokus tanpa sadar ia menyenggol orang lain membuat yang dibawa seseorang itu berjatuhan. Abi segera mengalihkan pandangannya dan melihat orang yang ia tabrak tanpa sengaja itu, Abi ikut jongkok dan ikut memunguti bungkus-bukus kopi yang berjatuhan. “maaf—maaf ya Mbak saya terlalu as—kamu?!” ujar Abi. “Eh—masnya tadi ya? maaf ya mas saya enggak sengaja.” “Belum juga 24 jam aku bertemu denganmu lagi—ini sebenarnya kebetulan apa emang jodoh?” “Hah?! Maaf masnya ngomong apa?” “Kebetulan apa jodoh.” Abi menjawab cepat. “Maksudnya Mas?” “Aku sama kamu—“ “Maaf masnya enggak apa-apakan kok ngomomgnya aneh?” Jelita bergedik ngeri. “Aku sama kamu ini memang ditakdirkan dengan jalan kebetulan apa memang jodoh?” “Ngelantur kayanya masnya—saya pamit dulu Mas, maaf sekali lagi.” pamit jelita dengan cepat kembali memasukan bungkus kopi dalam kantungnya setelah itu ia beranjak pergi meninggalkan Abimanyu yang masih menatap Jelita. “SubahanaAllah, cantik sekali ciptaanmu.” Gumam Abimanyu. Cletak.. “Awww—Mami, bisa enggak, nggak usah main kasar ini kepala Abi ini enggak ada salah.” “Kamu ini, pulang dari terbang kok jadi semakin nakal aja!” omel Harina. “Nakal gimana?” heran Abi. “Tadi—Mami lihat kamu pake nabrak-nabrak cewek?! Biar apa Abi—ingat kamu ini darah biru jangan suka jelalatan lihat cewek, cari cewek yang setara sama kita yang punya darah biru juga.” ceramah Harina. “Yeah.. ceramah dadakkan,” “Siapa bilang aku darah biru Mi, aku darah rendah kalo Mami mau tahu.” santai Abi yang kembali mendapatkan toyoran. “Mamii—“ “Ayo pulang, lama-lama kok kamu makin nggak jelas.” Kesal Harina lagi dengan menarik tangan sang putra. “Ingetin Mami buat undang Mbah Dirah buat ruwat kamu, pulang terbang bukannya bener tapi malah gila.” “Mi—kayaknya bener deh Mi..” “bener apa? Ngomong mbok ya jangan setengah-setengah to, Bi.” “Aku fix jatuh hati, Mi!” jujur Abi saat keduanya sudah berada di luar toko. “Astagfirullah—Abimanyuuuuuuu!” ■■■ Entah tadi itu dinamakan kebetulan bertemu lagi atau jodoh, dalam kurun waktu belum dua hari Abi kembai di pertemukan dengan gadis dengan senyum paling manis dan renyah yang parnah Abi temui. Maklum Abi bukannya jelalatan punya mata namun senyum gadis tadi benar-benar membuat dunia Abi jungkir balik, jangan bandingkan dengan para pramugari-pramugari di pesawat amat sangat beda meski begitu Abi juga sering mencuri perhatian dari sang Pramugari dan tentunya berakhir dimana—cukup Abi dan si pramugari serta Tuhan saja yang tahu bejatnya. Sebagai seorang pilot Abimanyu terbang maksimal waktu 7 hari yang berarti 30 jam, satu bulan 110 jam dan satu tahun 1050 jam terbang, jadi bila ia suka nyeleh dalam misi dan visi hidupnya jangan pernah judge dirinya. Abimanyu adalah sebagai mestinya seorang laki-laki yang memiliki orientasi normal, maka sata ia sedang kumat nakalnya ia akan mendekati wanita yang bisa membuka kakinya dengan senang hati untuknya. Awalnya Abi hanya memilih wanita yang benar-benar terpilih dan ternilai bersih tak asal tapi akhir-akhir ini keinginannya sudah tak seperti di awal yang terpenting ia bisa membuat lega kepala kembarnya yang tentunya yang tersimpan diantara kakinya. “Mami kalo tahu kelakuanku di luar sana kayaknya langsung jantungan sih.” batin Abimanyu saat fokusnya masih di jalan. “Apalagi kalo bawa cewek bukan juga darah biru tapi darah merah,” karang Abimanyu kemudian kepalanya ia gelengkan menghilangkan kalimat-kalimat halusinasinya. ■■■
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD