"Lo udah kasih tahu Ryan siapa yang dijodohin sama lo?" tanya Hanin saat mereka berdua sudah berada di kamar tamu dan sudah bergelung selimut. Mereka berdua sudah berganti baju. Ada beberapa baju Anggi yang sengaja ditinggal di apartemen Ryan.
Anggi menggeleng. "Enggak. Gue enggak kasih tahu Ryan siapa cowok yang dijodohin ke gue. Gue enggak mau dia kepikiran dan terlibat masalah. Gue tahu kalau Ryan mau bertahan bersama gue aja udah cukup."
"Lo enggak boleh gitu."
Anggi menoleh merasa ada penolakan atas keputusannya.
"Kalau lo mau gue ngomong jujur, lo sama aja kayak memanfaatkan Ryan yang enggak tahu apa-apa. Apa lo enggak kasihan sama pacar lo kalau kayak gitu?"
Anggi menatap langit-langit kamar tamu. Itu yang dia bimbangkan dari dulu. "Gue enggak mau kehilangan Ryan." Air mata Anggi menitik lagi.
Hanin melihat sahabatnya itu dengan tatapan nanar. Dia tahu dilema apa yang sedang dialami oleh Anggi. Dulu dia juga begitu hingga akhirnya terlepas dari semua jeratan hidup yang menyesakkan.
"Tapi lo enggak bisa terus-terusan membodohi Ryan kayak gini. Cowok sabar kayak Ryan juga punya batasan, Nggi."
"Gue terlalu cinta sama dia, Nin. Gue belum siap buat ditinggalin sama Ryan. Gue yakin dia juga bakalan merasakan hal yang sama."
Tanpa mereka sadari, Ryan mendengarkan percakapan itu dari balik pintu. Dia tidak jadi mengetuk pintu tersebut saat bisa mendengar suara dari dalam. Awalnya dia hendak menawarkan minuman hangat untuk dua gadis yang kebasahan tadi.
Napas Ryan seperti tertahan. Sesak sekali dia rasakan dadanya. Ternyata selama ini dia tidak tahu apa-apa tentang kekasihnya. Sudah berjalan tiga tahun mereka pacaran dan dia baru tahu sekarang tentang masalah besar Anggi dan keluarganya.
Serta, ucapan Anggi barusan. Anggi benar, dia tidak bisa ditinggal atau meninggalkan Anggi sekarang. Terlalu mendadak dan tidak akan bisa dia tanggung. Selama ini mereka saling menghibur dan menjaga. Jika salah satu dari mereka pergi begitu saja, ada banyak ruang di hati yang akan kosong.
Ryan duduk di kursi kafetaria dapurnya dengan tatapan kosong. Sebagai lelaki, dia juga harus bisa mempertahankan gadis yang dicintainya untuk dihalalkan. Tapi kata menikah masih terlalu berat baginya.
"Sayang." Sapaan itu membuat Ryan menoleh. Anggi keluar dari kamar dan mendatanginya dengan senyuman yang sedikit dipaksa. Mata gadis itu masih sayu.
"Hai, aku baru aja mau nawarin ini ke kamu dan Hanin." Ryan mencoba untuk menyembunyikan perasaannya yang terlampau galau.
Anggi memeluk Ryan yang masih duduk. "Makasih karena udah mau tetap menerima aku apa adanya."
Ryan terenyuh. Gadisnya ini rapuh. "Aku akan selalu ada untuk kamu, Sayang."
"Ryan, kamu bakalan tetap ada buat aku, kan, apa pun yang terjadi?"
Ryan mengangguk. Dia tidak bisa berkata tidak. Anggi adalah segalanya dalam hidupnya. Dia tidak bisa lepas begitu saja dari kekasihnya.
"I love you, Ryan." Hati Anggi menjadi tenang. Sedangkan Ryan masih menunggu kapan gadis ini akan membicarakan masalah perjodohan itu kepadanya. Namun setelah beberapa saat mereka berdiam dalam pelukan, Anggi tak kunjung membuka suara yang membuat Ryan semakin bimbang dengan perasaannya.
"Anggi, aku boleh tanya sesuatu enggak?"
Anggi yang masih memeluk Ryan, mengangguk pelan. "Apa?"
"Orang seperti apa yang dipilih oleh orang tuamu buat jadi pasangan kamu?"
Pertanyaan itu menghantam dinding pertahanan dalam hati Anggi. Ini yang dia takutkan. Dia takut mengatakan sebenarnya kepada Ryan lalu lelaki itu meninggalkannya.
"Cowok yang enggak ada apa-apanya dibandingkan dengan kamu."
Ryan mengerti apa maksud Anggi mengatakan itu. Dia tidak akan bertanya lebih banyak lagi. "Jadi cuma aku yang nomor satu, kan?"
Anggi menunduk dan tersenyum. Senyumannya kali ini sangat indah dan cantik. "As always."
Mereka mengeratkan pelukan lagi.
"Anggi!" Suara Hanin dari dalam kamar sangat keras. Kemudian gadis itu keluar dari kamar tamu dan mencari keberadaan sahabatnya itu.
"Gue di dapur. Ada apa?"
Hanin memegang gawainya. Dia mendatangi sahabatnya tersebut. "Sumpah kita harus kabur sekarang, Nggi. Utusan Ibu lo udah ke rumah gue. Gue yakin mereka bakalan ke sini."
"Lo tahu dari mana?" Anggi ikutan panik.
"Pacar gue nelepon. Kalau lo enggak mau perkaranya semakin runyam, mending lo kabur sama gue sekarang."
"Ke mana?" tanya Ryan yang juga panik.
"Kontrakan gue, lah. Secara, tempat itu udah didatengi sama utusan orang tua lo dan gak ada lo di sana. Jadi, mendingan kita balik kucing ke sana biar lo gak ditemuin di sini. Baru dari sana lo bisa pulang pakai alasan lain."
Anggi menatap Ryan dengan tatapan resah. Dia tidak tahu harus menuruti perkataan sahabatnya atau tetap bersama kekasihnya.
"Kalian lewat lift pribadi gue aja. Kalian bakalan sampai ke basement dan ada mobil Innova biru gelap di sana. Pakai aja." Ryan segera menunjukkan jalan ke lift yang dia katakan tadi. Dia juga memberikan kunci kepada Hanin agar gadis itu yang menyetir.
Anggi memberikan kecupan di bibir sebelum benar-benar pergi. "Maafin aku, Sayang. Aku bakalan telepon kamu kalau udah sampai."
Ryan mengangguk. "Apa pun itu, kabari aku, ya."
Mereka pun berpisah menyisakan Ryan di apartemennya yang semakin lama merasa bahwa tidak ada banyak hal yang bisa dilakukannya untuk Anggi. Bahkan untuk kabur pun Anggi harus bersama Hanin, bukan dengannya. Ryan merasa tak berdaya.
***
Bel pintu apartemen Ryan dipencet. Tak berapa lama, pintu tersebut dibuka. Ada tiga lelaki dengan tubuh kekar yang berdiri di depan pintu. Mereka tampak garang dan berwajah serius.
"Ada apa, Pak?" tanya lelaki yang membukakan pintu.
"Benar ini rumah Aryan Buono?" tanya salah satu lelaki kekar itu yang berada di barisan paling depan.
"Ah, bukan, Pak. Saya Erwin."
Ketiga lelaki itu saling pandang. Mereka sudah memastikan bahwa mereka tidak salah alamat. Bangunan apartemen yang ditunjukkan dan nomornya sudah sesuai dengan yang tertera di gawai mereka.
"Anda kenal Aryan Buono?"
"Cuma tahu. Dia pemilik apartemen ini sebelumnya. Emang dia kenapa, Pak?" Erwin segera merogoh sakunya dan mulai membuka aplikasi rekam video. Dia sengaja memperlihatkan aksinya itu kepada tiga lelaki ini lalu menyorot mereka.
"Apa yang Anda lakukan?" sergah lelaki itu dengan cepat. Dia hendak mencekal tangan Erwin.
"Eit." Erwin berhasil menghindar dan menyelamatkan gawainya. "Mau saya rekam aja. Siapa tahu si Aryan Aryan ini akan viral dan akun saya kena traffic-nya."
Salah satu lelaki yang ada di belakang berbisik.
"Emang kenapa Aryan, Pak? Dia punya masalah, ya, sama Bapak sekalian?"
"Ya sudah kalau begitu. Kami pamit saja."
"Loh, Pak. Ini berita si Aryan kayak gimana? Belum ada apa-apa yang bisa saya upload ini loh."
Ketiga lelaki itu tidak peduli dengan ocehan Erwin dan langsung pergi begitu saja. Sedangkan Erwin, dia masih menyorot mereka sampai tubuh mereka tak tampak lagi di belokan.
Dia menghela napas lega kemudian menutup pintu apartemen dan menutupnya dengan rapat. "Repot banget masalah bocah doang."
Di ruang tamu, Ryan sudah duduk kembali setelah bersembunyi. Dengan wajah yang masih kaku, dia menunggu ucapan dari Erwin.
"Beres. Nih." Erwin memberikan gawai yang dia gunakan untuk merekam para lelaki itu kepada Ryan. "Om cuma bisa bantu sampai sini doang, ya. Kalau ada masalah lagi, ogah gue bantu-bantu."
Ryan membuka video rekaman Erwin atau yang biasa dia panggil dengan Om Win itu. Terpampang jelas muka tiga lelaki tersebut. "Bayangkan kalau mereka menemukan Anggi, terus cewek kayak dia bakalan menghadapi tiga cowok kayak gini? Gila banget orang tua Anggi." Kemudian dia mengirimkan video itu kepada Devan, salah satu sahabatnya, agar profil tiga lelaki itu dicari.
Erwin merebahkan tubuhnya di sofa. Dia yang tadinya sedang bersantai sambil menyiapkan pelajaran untuk bocah ini pun jadi kalang kabut saat Ryan meneleponnya seakan ada bahaya yang hampir terjadi. "Besok pagi kalau kamu sampai kabur lagi pas sesi belajar sama Om, bakalan tahu akibatnya."
Ryan tidak mengindahkan ancaman dari mentornya itu. Dia masih kepikiran dengan keadaan Anggi dan Hanin. Apa mereka berdua sudah sampai tujuan dengan selamat atau malah sebaliknya?
Erwin menjentikkan tangannya ke depan muka Ryan yang langsung menyadarkan lelaki itu. "Kalau Om ngomong didengerin. Itu ... mereka lagi cari pacar kamu yang kabur?" tanyanya menebak.
Ryan terdiam. Om Win memang tahu tentang dirinya dan sang pacar. Beberapa kali dia juga meminta nasehat dari lelaki ini meski statusnya masih saja jomblo.
"Haaah, Ryan. Capek banget tahu enggak kalau kamu harus ngurusin anak orang lain demi 'cinta'. Mending kamu fokus ke karier aja. Baru kamu bisa menikahi dia dengan keadaan kamu yang udah layak."
Ryan menoleh ke arah Erwin. "Om enggak tahu apa-apa tentang aku dan Anggi."
"Detailnya mungkin enggak tahu, tapi Om lebih banyak umur daripada kamu. Om tahu bagaimana cara kerjanya."
Ryan tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Erwin. Dia hanya akan diomeli tanpa ada solusi.
"Orang tua kamu juga belum tahu, kan, tentang kalian berdua selama ini? Kamu juga belum kenalin dia ke orang tua kamu, kan?"
Ryan menggenggam tangannya dengan erat. Dia yang tadinya sudah kalut malah bertambah emosi saat mendengar kalimat ejekan dari Erwin.
"Kalau kamu emang mau serius sama Anggi, paling enggak kamu harus kenalin dia ke orang tuamu. Kalau kamu enggak mendapatkan dukungan dari keluarga Anggi paling enggak kamu harus mendapatkan dukungan dari keluarga kamu sendiri untuk memperjuangkan orang yang kamu cintai."
Pikiran Ryan penuh sekali sekarang. Apa yang dikatakan oleh Om Win benar sekali. Tapi kenyataan yang dia hadapi sungguh tidak mudah untuk dijalani.
"Kalau kamu memang sayang sama pacar kamu, kamu juga harus memantaskan diri di depan orang tua kalian berdua. Enggak ada orang tua yang mau masa depan anaknya enggak terjamin. Nah, kamu punya enggak masa depan terjamin itu?"