Hanin memeriksa Anggi yang duduk di sebelahnya sambil terus-terusan menangis. Mereka masih ada di mobil yang dipinjamkan Ryan. Meskipun dia sendiri tidak tahu bahwa itu adalah mobil Erwin yang kuncinya ketinggalan di apartemen Ryan. Syukurlah mereka tidak ketahuan oleh utusan orang tua Anggi. Mereka sudah terlebih dahulu keluar dari daerah apartemen Ryan sebelum para suruhan itu sampai.
"Udah bener-bener matiin hp lo, kan?" tanya Hanin sengaja mengajak bicara Anggi yang terlihat sangat kosong. Sahabatnya itu pasti punya banyak pikiran di kepalanya. Bagaimana pun dia tahu tentang seluk beluk kehidupan gadis ini sejak SMA dulu.
"Udah." Anggi menghapus air matanya. "Gue takut Ryan kenapa-napa. Mana gue enggak bisa telepon dia karena hp gue." Tanpa Anggi sadari, gawainya telah dipasangi semacam GPS oleh orang tuanya. Tidak heran jika suruhan orang tuanya bisa menemukan apartemen Ryan. "Gue bisa pinjem hp lo, kan?"
Hanin mengangguk. "Pakai aja. Bebas. Nanti hp lo gue bawa aja. Biar entar si Mujib yang benahin dan hapusin itu pelacak."
Anggi menelepon Ryan. Sahabatnya ini sudah menyimpan nomor pacarnya sejak lama dan dia tahu itu. Dia pun memberi tahu Ryan tentang keadaannya yang baik-baik saja.
"Aku enggak tahu harus ke mana, Ryan." Anggi terus meneteskan air matanya. Dia menggigit jari telunjuknya untuk menahan isaknya.
"Kamu enggak sama Hanin?"
Hanin berisyarat agar Anggi menyalakan loud speaker-nya. "Gue enggak bisa ke kontrakan gue. Kata pacar gue kontrakan gue lagi diawasi dari jauh. Sumpah kayaknya cowok gue jadi tambah pinter masalah kayak gini."
"Gue titip Anggi, ya, Nin. Anggi, maafin aku karena aku belum bisa jaga kamu dengan baik."
Anggi membenturkan kepalanya ke belakang beberapa kali. "Kamu mau menerima aku apa adanya ucah cukup buat aku, Ryan. Kamu bertahan sama aku, ya. Please."
"Iya. Aku akan lakukan apa pun agar kita tetap bersama. So, malam ini kamu pulang aja ke rumah, ya. Bilang aja kamu kabur jalan-jalan sama Hanin. Seperti dulu yang kita lakukan buat Hanin dan Mujib." Ryan menginstruksi kepada Hanin juga.
"Aku enggak mau pulang, Ryan!" Tangis Anggi jadi pecah lagi. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh orang tuanya jika dia pulang ke rumah. Sekarang saja dia jadi buronan pesuruh orang tuanya.
"Percaya sama aku. Aku udah dapet profil mereka dari Devan. Ternyata mereka sewaan dari geng yang ada di bawah keluarga Devan. Kamu dan Hanin jangan takut lagi, ya. Sekarang mending kamu pulang ke rumah dan minta Hanin untuk temani kamu. Nin, lo nginep aja di rumah Anggi."
"Siap. Gue ngerti."
"Percaya sama aku, ya. Besok waktu selesai kuliah, kamu bakalan aku jemput." Ryan berkata dengan penuh percaya diri.
"Kamu yakin kalau kamu aman jemput aku?"
"Tenang aja. Semua bakalan aman. Jangan meragukan pacar kamu, Sayang. Gini-gini aku juga bisa membalas pakai cara under covering."
Anggi tersenyum mendengar ucapan Ryan barusan. Dia tidak pernah melihat Ryan dengan sisi yang seperti ini. Di matanya, Ryan adalah lelaki yang sangat lembut dan suka kedamaian.
"Kalau mereka mau mengusik kita dengan cara begini, kita hadapi bareng."
Hati Anggi menjadi tenang. Kalau begini dia tidak takut lagi untuk pulang ke rumah dan menghadapi orang tuanya. Toh, pacarnya juga mempunyai kekuatan yang tersembunyi.
"Kamu siap-siap juga, ya, besok. Aku akan mengatur jadwal dengan orang tuaku. Kita bakalan ketemu mereka."
Senyuman Anggi mengembang lebar. Sungguh ini yang dia harapkan dari Ryan. "Kamu mau kenalin aku ke mereka?"
"Lebih tepatnya mencari restu mereka."
Anggi lega. Sungguh lega. Sambungan mereka terputus dan Hanin melajukan kendaraan mereka ke rumah Anggi.
Sesampainya dua gadis itu di rumah Anggi, Bi Mia langsung menghampiri mereka berdua. Wajah Bi Mia sangat panik tapi juga lega. "Untung kalian baru sampai, Mbak." Bi Mia memeluk gadis yang dari kecil sudah dia asuh itu.
"Ibu sama Bapak ada di rumah, Bi?" tanya Anggi yang terlihat sekali habis menangis lama.
"Ibu ada panggilan ke luar kota. Yang ada hanya Bapak. Untung juga pulangnya sama Mbak Hanin. Bapak enggak akan ngapa-ngapain Mbak Anggi."
Hanin yang menyaksikan percakapan itu di depan matanya pun tak bisa menahan rasa harunya. Seandainya dulu dia juga mempunyai orang yang support di rumahnya, mungkin dia akan bisa bertahan lebih lama. Dia bergabung dengan Anggi dan Bi Mia lalu memeluk mereka.
***
"Kabur dengan Hanin?" Bambang, bapak Anggi, memicingkan mata saat anaknya itu membuat dalih dengan hal yang tidak masuk akal itu. Jelas-jelas tadi istrinya bilang kalau anaknya sedang di daerah apartemen yang familiar di benaknya.
"Enggak kabur, Pak. Aku jalan-jalan doang sama Hanin. Bapak tahu juga aku enggak mau dijodoh-jodohkan."
Bambang memiringkan senyumnya. "Bodoh amat kamu mau atau tidak. Semua ketetapan yang Bapak dan Ibu buat harus kamu ikuti."
Anggi menggenggam tangannya dengan erat. Tenaganya sudah habis untuk mendebat bapaknya.
"Lagi pula." Bambang menahan tawanya. "Aryan Buono? Heh? Apa kamu bakalan diterima di keluarga itu? Kamu sendiri tahu bagaimana riwayatnya."
Hanin menggenggam tangan Anggi. Dia pun juga paham apa yang dimaksud oleh Bambang. Hal rumit yang tak akan ada habisnya.
"Coba aja, sih, kalau kalian masih punya nyali. Bapak, apalagi Ibu enggak akan segan-segan untuk melakukan apa pun agar perjodohan kalian terjadi. Kamu pikir melobi keluarga Baskara bisa semudah itu? Setelah tiga tahun kucing-kucingan dan akhirnya ada kesepakatan, kamu mau merusak usaha kami? Enggak semudah itu, Anggi.
Gadis itu menelan ludah. Dia sudah menebak bahwa semuanya akan jadi seperti ini. Bapak dan ibunya sudah terkenal bertangan besi. Dia tidak heran lagi.
"Bapak dan Ibu enggak bisa seenaknya juga mengambil kebahagiaanku." Anggi berusaha tegar dan tetap bertahan.
"Mengambil kebahagiaanmu? Apa kebahagiaanmu? Oh, atau siapa? Si Ryan itu? Kebahagiaanmu? Dia masih hidup, Anggi. Bapak biarkan dia hidup."
"Bapak!" Anggi tidak habis pikir dengan ucapan bapaknya barusan. Dia pun segera meninggalkan bapaknya dan pergi ke kamar. Dia sudah tidak tahan lagi dengan ocehan pria itu.
Sedangkan Hanin, dia masih berdiri di hadapan Bambang. Dia menunduk dengan wajah penuh penyesalan. "Maaf, Hanin telat kabarin kalau Anggi ke rumah pacarnya, Om. Maaf juga udah bohong tadi." Hanin berucap setelah memastikan bahwa Anggi sudah memasuki kamarnya.
Bambang menghela napas berat. "Gak papa. Paling tidak kamu sudah membantu Om dan Tante. Kamu harus sering-sering laporan ke kami, ya. Kalau enggak, kami akan bocorkan ke orang tuamu rahasia terbesar kamu."
"Iya, Om."
Bambang menyandarkan punggungnya. "Tantemu sudah bersabar selama ini. Anggi semakin melunjak dan tidak mau diatur. Mentang-mentang dia merasa sudah ada yang mau menerimanya. Om tahu dia cuma berusaha kabur dari keluarga ini."
Hanin tidak menjawab. Dia sendiri juga tidak setuju seluruhnya dengan orang tua Anggi. Akan tetapi, dia tidak punya pilihan lain, hubungan Hanin dan pacarnya jadi taruhan.
"Oke, temani Anggi di kamarnya. Kalau dia berlaku agak mencurigakan, segera laporkan Om."
"Iya, Om." Hanin segera undur diri.
"Oh, ya, satu lagi." Bambang menghentikan langkah Hanin. "Jangan sampai Anggi merelakan keperawanannya untuk anak lelaki jelmaan segawon itu. Kamu harus pantau dengan baik."
Hanin mengangguk. Dia bergegas ke kamar Anggi.
***
Anggi sudah terlentang di kasurnya, disusul dengan Hanin yang rebahan di sebelah sahabatnya itu. Anggi hanya diam sedangkan Hanin menatap gadis di sebelahnya dengan tatapan penuh minta maaf.
"Gue udah nyalain hp dan cari sampe dalem-dalem. Gue enggak nemu aplikasi GPS atau semacamnya. Gue yakin disadap tapi pakai alat lain deh." Anggi menyeletuk.
Cepat-cepat Hanin mengganti tatapan matanya. "Hah? Masa? Enggak ada sama sekali?" Dia bertanya sekenanya.
"Kayaknya emang harus Mujib yang benahin. Tolong kasih ke pacar lo, ya." Anggi menyerahkan gawainya ke Hanin.
"Oke." Hanin menghela napas lega. Dia takut ketahuan dan merusak hubungan persahabatan mereka berdua.
"Lo yakin, kan, kalau gue bisa bahagia sama Ryan?" tanya Anggi yang sudah putus asa ini.
Hanin menatap mata Anggi yang kini mengahapnya. Dua gadis itu saling berhadapan. Kentalnya hubungan persahabatan mereka sungguh membuat momen ini terasa sekali di hati.
Perlahan Hanin mengangguk pelan. "Iya. Gue yakin lo bakalan nemu jalannya."
Perkataan Hanin cukup bias, tapi Anggi tersenyum manis, menganggapnya sebagai sebuah kata penyemangat.
Dalam hati Hanin, ada beribu kata maaf yang tak sempat terucap kepada Anggi. Sungguh dia merasa bersalah tapi tak bisa berkata.
***
Di sisi lain, Erwin mengambil gawainya di atas meja setelah Ryan meninggalkannya sendiri di ruang tamu. Dia menelpon teman baiknya, Anwar atau papa Ryan.
"Kenapa? Malam-malam begini malah telepon. Waktunya istirahat ini. Ryan bikin masalah lagi? Masa udah bertahun-tahun kamu enggak bisa handle?" Pertanyaan itu langsung keluar berjajar dari seberang sana.
"Dengarkan aku dulu, Kang." Erwin memotong ucapan Anwar yang mungkin tiada habisnya itu. "Aku enggak tahu ini bener apa enggak, tapi aku mau ngomong sesuatu yang penting ke Kang Anwar."
Anwar jadi diam. "Masalah apa? Proyek kita?"
"Enggak. Bukan itu. Ini masalah yang mungkin belum kelar, Kang."
Anwar sedikit bisa menebak. "Masalah saingan?"
"Iya. Saingan yang dulu punya sejarah sama keluarga istri Kakang."
"Agustinus?"
"Iya, Kang."
"Kenapa lagi dia? Mau mencelakai Ryan lagi?"
"Untuk tepatnya enggak tahu, sih, Kang. Tapi selama ini aku cuma simpan sendiri dan enggak kasih tahu ke Kakang karena masih aman."
"Aman apanya? Semua yang berkenaan sama keluarga itu cuma masalah."
"Kakang tenang dulu. Aku minta Kakang enggak ngomong dulu ke istri Kakang, ya. Simpan sendiri dulu."
Anwar mengangguk meski dia tahu bahwa Erwin tidak bisa melihatnya. "Oke. Oke."
"Ternyata pacar Ryan selama ini adalah anak Bambang, Kang. Tiga tahun ini aku udah ikuti mereka terus dan enggak ada yang mencurigakan. Tapi malam ini, apartemen Ryan tiba-tiba didatangi sama orang-orang suruhan dan ..."
"Dan apa?"
"Aku barusan cek CCTV, sepertinya pacar Ryan ingin hamil duluan."
"Bangsatt!! Anak sama bapak sama aja. Sama bejatnya."
Erwin bisa membayangkan bagaimana kemarahan Anwar meluap. "Tapi, sepertinya Ryan ingin membawa pacaranya ke Kakang untuk minta restu. Aku minta Kakang tahan dulu, ya, sampai itu benar-benar terjadi."
"Oke. Makasih infonya, Win. Kamu memang orang yang bisa dipercaya."
Mendengarnya, Erwin malah merasa ada yang mengganjal. Entah dia bisa dibilang bisa dipercaya atau tidak di saat dia sendiri yang telah membocorkan profil Anggi kepada Anwar tanpa memberitahu Ryan sama sekali.