Ryan memasuki kafe Apaja yang sangat familiar untuk kita. Dia langsung menuju ke salah satu staff yang ada di situ. Ah, tepatnya adalah owner yang merangkap menjadi staff.
"Dev," panggil Ryan dengan sangat hangat.
Yang dipanggil pun menoleh dan langsung menyambut Ryan dengan hangat pula.
"Makasih bantuan lo kemarin, ya. Gue lagi kepepet banget soalnya."
Devan si pemilik kafe Apaja itu tersenyum lebar. "Sans aja. Gue bakalan bantuin lo demi kebaikan lo. Jarang-jarang juga lo bakalan minta bantuan kayak kemarin."
"Ya, udah. Entar gue seringin." Ryan tertawa diikuti dengan Devan.
"Gimana lo sama Anggi? Aman?" tanya Devan yang masih penuh dengan perhatian. Dia melihat wajah temannya ini suntuk tapi agak berseri juga.
"Aman. Aman. Gue hari ini mau ngajak Anggi buat ketemu sama orang tua gue."
"Langkah yang bagus, bro."
Ryan hanya tersenyum sejenak lalu senyuman itu menghilang begitu saja.
"Kepikiran apa lagi?"
"Gue ngerasa belum pantas aja buat ajak dia ke keluarga gue. Gue merasa belum layak buat dibilang sukses."
Devan membawa Ryan ke meja yang ada di lantai dua. Pembicaraan mereka mungkin akan lebih intens ke depannya. Dia juga menjaga privasi Ryan dari para staff yang ada di lantai bawah.
"Tapi lo udah ada jaminan, Ryan. Look at your parents and their company. Bahkan kalian menjalankan bisnis keluarga Dewi dan Ella. Mau meragukan apa lagi?"
Ryan mendengkus. "Tapi gue masih di tahap belajar semua itu, Dev. Gue bukan lo yang udah buka kafe dan take an action."
"Hallah, masalah waktu. Orang tua Anggi juga bakalan segan ke lo kalau lo memperkenalkan diri ke mereka. Masalah Anggi dijodohkan? That isn't a big deal. Lo punya Anggi dan Anggi milih lo. Lo berdua punya dunia kalian. Tinggal kalian meyakinkan dunia aja bahwa kalian memang berhak untuk mendapatkan tempat yang layak."
Perkataan Devan sungguh benar. Dia akan lebih mengikuti saran temannya ini daripada Om Win yang isinya cuma gembosi semangatnya saja. Dia harus melangkah lebih maju untuk bisa hidup bersama Anggi selamanya.
"Ada rekomendasi enggak buat gaun kasual yang bisa dipakai buat Anggi. Gue mau dandanin dia biar tambah cantik pas ketemu orang tua gue."
"Ke butiknya Kak Juwita tuh. Juwita Anggari. Di sana ada banyak gaun dan fashion. Entar deh lo bisa pilih-pilih sendiri sama Anggi." Devan langsung merekomendasikan butik yang terkenal di kota. Tidak segan-segan, dari keluarga Anggari.
Ryan mengangguk. "Oke. Gue bakalan ajak dia ke sana. Eh, btw, gue pakai tempat ini dulu, ya, buat meeting sama dosen gue."
"Bebas. Aman."
Devan meninggalkan Ryan sendirian di lantai dua Apaja. Dia akan kembali berkutat dengan pekerjaannya di bawah. Sedangkan Ryan, dia tetap harus menjalani kuliahnya meski pikirannya penuh dengan keruwetan. Dia membuka menelepon video dosennya dan melakukan meeting.
"Kamu lagi di mana, Ryan?" tanya dosen Ryan. "View-nya bagus."
"Apaja, Pak. Bapak kemarin gimana pertemuan keluarganya? Berjalan dengan lancar apa enggak?" tanya Ryan balik. Dia sudah menjalin hubungan yang dekat dengan dosennya ini. Dia juga menjadi asisten dosennya ini.
"Ya, begitulah. Aku dari kemarin udah males banget ikutan dan ternyata bener. Orang yang dijanjikan juga enggak datang. Lega banget ternyata seperti apa yang aku harapkan."
Ryan tertawa. "Emang siapa coba yang berani enggak datang di pertemuan dengan keluarga seorang Bapak Suhono ini."
Dosen Ryan, Suhono, tertawa. "Ada banyak orang yang enggak tahu malu, Ryan."
"Yuklah, Pak, dimulai. Habis ini saya harus membawa pacar saya ke orang tua saya."
"Wih, mau melangkahi aku, ya? Kamu enggak boleh nikah dulu, Ryan. Aku semakin diledek tua nanti sama para bapak-bapak itu."
Yang dimaksud Suhono adalah para Bapak
"Doain aja, lah, Pak, yang terbaik buat saya dan pacar saya. Entar kalau saya udah dapet restu, saya kasih undangan buat Bapak."
Suhono tertawa. "Anak muda jaman sekarang ngegas mulu. Oke, aku tunggu undangan kamu, ya."
Mereka pun melakukan meeting seperti biasanya tanpa ada yang merasa bahwa Tuhan sedang merangkai mereka di benang takdir yang sama.
***
Siangnya, Ryan menjemput Anggi yang sudah menyelesaikan kuliahnya. Mereka menuju butik Juwita Anggari yang disebut oleh Devan tadi. Beruntung, mereka bisa bertemu dengan Juwita langsung dan dipilihkan gaun yang sangat manis sekaligus cantik di badan Anggi.
"Papa Mama kamu pasti suka banget sama Anggi, Ryan. Dia cantik banget." Juwita memuji gadis itu terang-terangan.
"Enggak kalah, ya, Bu, sama kakaknya yang dulu juga ke sini." Erika, asisten Juwita menyeletuk. Dia langsung kena siku atasannya.
Anggi tidak ingin merusak suasana. Dia mengangguk sambil tersenyum dengan manis. "Makasih pujiannya. Tapi kakak saya lebih cantik sih daripada saya."
Ryan bisa melihat gurat kesedihan di wajah Anggi. Kakak yang dimaksud oleh adalah kakak Anggi yang sudah meninggal. Hal itu membuat bekas luka yang sangat dalam di kehidupan Anggi. Bahkan kematian kakak Anggi selalu saja dijadikan dalih oleh orang tuanya agar Anggi tetap menurut dengan mereka.
Setelah berpamitan, mereka segera menuju tempat yang sudah direservasi oleh Ryan. Lelaki itu sudah mendapatkan pesan bahwa orang tuanya sudah sampai lokasi. Hal itu membuatnya semakin tersenyum lebar. Harapan dan asanya sungguh membumbung tinggi. Dia pun mengambil tangan Anggi yang terdiam di sisi tubuh gadis itu lalu mengecupnya.
"Apa-apaan ini?" Anggi yang diperlakukan sangat manis seperti itu langsung tersipu malu.
"Tenang, ya, Sayang. Kita akan memulai hidup baru dengan kisah yang akan kita jalani sendiri."
Anggi tersenyum. "Makasih kamu mau berjuang dan memberanikan diri untuk aku."
Ryan mengangguk. Mendapatkan dukungan dari pasangan memang sangat berarti bagi semangatnya. Rasa percaya dirinya meningkat berkali-kali lipat. Dia yakin dengan langkah yang dia pilih sekarang.
***
Di restoran bintang empat yang dipilih oleh Ryan, mereka berjalan menuju ruangan VIP yang telah dibooking oleh lelaki itu. Anggi memegang tangan Ryan dengan erat.
"Kenapa, Sayang?" tanya Ryan yang melihat Anggi tampak kaku sekali.
"Aku gugup. Sumpah."
Ryan tersenyum. "Ada aku. Aku yakin Papa dan Mama bakalan mendukung kita."
Mereka pun memasuki pintu ruangan tersebut.
"Hai, Ma. Hai, Pa." Ryan memeluk mama papanya secara bergantian. Kemudian diikuti oleh Anggi.
"Ini pacar kamu, Ryan? Manisnya." Ria menahan tangan Anggi di dalam genggamannya.
Ryan tersenyum optimis. "Iya, Ma." Dia menggeser kursi untuk Anggi. "Orang yang bikin aku waras dari kerjaan yang dikasih sama Papa." Dia menekan di kata 'waras' dan sedikit menghadap ke papanya.
"Terus aja sindir Papa. Itu demi kebaikan kamu, ya." Anwar tahu sekali bahwa anaknya seperti mempunyai dendam kesumat dengan dirinya masalah belajar bisnis. Dia sendiri ingin anaknya menjadi penerus bisnisnya dengan baik. Dia mempersiapkan anaknya yang semata wayang ini dengan sekuat tenaga agar bisa menopang beban yang tidak ringan ini.
Di sisi lain dalam batinnya, Anwar mencoba menahan diri untuk tidak berkata apa pun tentang apa yang dikabarkan oleh Erwin. Ternyata anaknya dan anak Bambang ini punya nyali juga untuk beryemu dengannya. Berarti omongan Erwin memang bukan omongan kosong belaka. Dia harus bisa mengontrol emosinya dengan baik, lebih lagi saat melihat senyuman di bibir istrinya ini mengembang dengan begitu tulusnya.
Anggi dipeluk Ria lagi lalu dipersilakan untuk duduk di sebelah Ryan. Dia tersenyum simpul dan menawan.
Mereka pun berbincang-bincang ringan sambil menikmati makanan yang dihidangkan. Ria tidak bisa berhenti untuk menatap Anggi. Baginya, pacar anaknya yang selama ini disembunyikan atau lebih tepatnya tidak diperkenalkan kepadanya, sungguh manis. Pantas saja Ryan kepincut kepada gadis ini.
"Kamu kuliah, Sayang?" tanya Ria dengan nada yang sangat lembut.
Anggi tersenyum. Dia merasa sangat diterima oleh keluarga Ryan dan itu membuatnya sangat lega. "Satu univ sama Kak Radit, Tante."
"Radit?"
"Raditya temen Ryan yang banyak gaya dan lucu itu loh, Ma." Ryan mencoba mengingatkan mamanya.
"Oh, yang anak tukang bakso itu, ya?"
Anggi menahan tawa saat Radit disebut anak tukang bakso oleh mama Ryan. Tidak salah, tapi terdengar lucu aja.
"Iya, Ma. Yang itu. Yang dulu suka banget kirim-kirim bakso kalau lagi gabut."
Ria ingat. Anwar hanya mengangguk paham sambil mendengarkan percakapan tiga orang yang ada di hadapannya ini.
Anwar baru mengeluarkan pertanyaan yang membuat tubuh Anggi seketika menjadi tegang saat makanan mereka hampir habis. "Kalau kamu sendiri, Anggi. Pekerjaan ayah kamu apa?"
Anggi meremas tangannya sendiri di bawah meja. "Pebisnis, Om."
Pria itu mengangguk. "Bidang?"
"Perumahan gitu-gitu, Om. Enggak beda jauh dari Om, lah."
"Boleh tahu nama panjang kamu enggak?"
Ryan jadi sungkan saat papanya menanyakan hal demikian. Dia hendak mencegah Anggi untuk tidak menjawab jika tidak nyaman tapi gadis itu memberanikan diri dan tersenyum.
"Boleh, Om. Nama lengkapku Anggi Husnia Agustin."
Wajah Anwar seketika mengeras. Rahangnya saling menekan. "Berarti kamu ini adalah anak dari Bambang yang punya bisnis real estate di daerah Tanggulangin itu?"
Anggi yang merasa tak ada yang salah pun mengangguk sambil tersenyum. Ryan berbaik sangka, mungkin dia memang akan mendapat restu dari kedua orang tuanya dengan cepat. Itu akan mempermudahnya menyampaikan maksudnya mengajak Mama dan Papa makan bersama ini.
"Bambang, Pa?" Ria bertanya untuk memastikan.
Anwar tersenyum miring. "Kamu disuruh bapak kamu buat jatuhin perusahaan kami dari dalam?"
"Apa maksudnya, Pa?" Ryan kaget dengan apa yang dikatakan oleh Anwar barusan. .
"Tanyakan sendiri kepada pacar yang ingin kamu nikahi itu." Papa Anwar berisyarat dengan dagunya, menunjuk ke Anggi.
Napas Ryan memburu. Jujur dia bingung dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Bahkan dia heran dengan tatapan datar Anggi yang masih ada di samping mamanya. Anggi menunduk dalam. Sedangkan Ria terlihat membeku. Perlahan, air mata Ria mengalir.
"Pa, tolong jelaskan apa yang Papa maksud tadi?" tanya Ryan frustrasi.
Anwar menghela napas dalam dan mengeluarkannya kasar dari mulut. Dia mengalihkan pandangannya dari Ryan dan Anggi yang ada di hadapannya. "Kamu tahu orang yang sudah pernah membuat kamu celaka saat kelas enam SD, orang yang sengaja menghancurkan konstruksi penginapan di Graha Anjani?"
Ryan mengingatnya dengan samar. Akan tetapi gambaran kejadian itu masih ada di memorinya. Dia pun mengangguk agak ragu. "I-Iya. Yang aku dilarikan ke rumah sakit karena tertimpa beberapa barang bangunan itu, kan? Tapi, waktu itu aku enggak papa karena aku masuk ke lubang di tanah dan barang bangunannya tersanggah sama kayu yang melintang di lubang itu. Iya, kan?"
"Iya. Bener. Yang kejadian itu." Papa Anwar menatap Ryan dengan lekat dan serius. Telunjuknya teracung ke Anggi. "Itu perbuatan orang suruhan bapaknya dia. Dan itu masih dari salah satu hal kotor yang dilakukan oleh bapaknya pacar kamu di permainan bisnisnya."
Ryan tak percaya. Tentu saja. Dia memandang Anggi yang tak menggambarkan mimik apa pun. Hanya datar. "Anggi, kamu tahu ini?"