Anggi menelan ludah. Dengan gerakan yang pasti meskipun agak samar, Anggi mengangguk dengan berani. Dia tidak ingin menyembunyikan sesuatu lagi dari Ryan.
"Iya. Maafkan aku, Ryan. Aku sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi di antara keluarga kita."
Ryan terhenyak. Dia menatap Anggi tak percaya. Dia tidak salah dengar, kan, apa yang barusan diakui oleh kekasihnya? "Anggi?"
"Tapi, tolong dengarkan aku. Kamu udah tahu kemarin sebagaimana stresnya aku menghadapi keluarga aku sendiri. Kamu juga tahu bahwa aku enggak mau menjalani perjodohan itu. Tolong, Ryan. Aku enggak punya pilihan lain selain kamu. Kamu satu-satunya jalan untuk aku bisa berlari menjauh dari keluarga aku sendiri." Anggi mencoba memperjelas apa yang dia maksudkan.
"Kamu hanya diperalat. Kamu dimanfaatkan." Papa Anwar menatap tajam ke arah Anggi.
Anggi menggeleng. "Om, tolong. Tolong kasih aku kesempatan sama Ryan. Aku enggak seperti apa yang Om bayangkan. Aku beda dari bapakku, Om. Aku bisa buktikan." Anggi menunjuk dirinya sendiri dengan meletakkan telapak tangan di dadanya untuk meyakinkan Papa Anwar.
Papa Anwar menggeleng. "Aku bahkan enggak yakin kalau pohon buah jeruk akan mengeluarkan apel dari tangkainya."
Anggi pias. Dia seperti dihantam oleh batu yang sangat besar. Keputusasaan itu seakan jatuh begitu saja dari langit, menghapus semua tekad yang selama ini dia bentuk dengan sekuat tenaga. Dia pun beralih ke Ria yang ada di sampingnya. Dia menangkup kedua tangan wanita yang sudah tenggelam dalam tangisannya itu. "Tante. Maafin Anggi. Tapi, Anggi janji untuk menjaga Ryan dengan sebaik mungkin. Tolong, Tante." Anggi sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Pertahanannya jebol sudah. Bahkan kini dia bersimpuh di lantai untuk meminta persetujuan dari wanita yang telah melahirkan kekasihnya ini.
"Kamu telah mempengaruhi anak saya untuk mencintai kamu?" Ria yang berhati lembut, juga tidak bisa menahan rasa yang bergejolak di hatinya. Bagaimana tidak, memori kelam tentang keselamatan anaknya yang ikut terkena teror saat itu disegarkan lagi. Bahkan rasa khawatir dan tekanan batin yang dulu dia rasakan ikut terulang kembali di kepalanya.
"Tante, aku baru mengetahui semuanya saat kami udah jalan." Anggi ingin menjelaskan semuanya.
"Kenapa kamu baru bilang, Sayang?" Ryan sungguh kehabisan kata-kata. Terlalu banyak hal yang dia ketahui dua hari ini. Lalu, ke mana saja tiga tahun yang dia habiskan bersama Anggi?
"Aku enggak sanggup bilang, Ryan. Aku takut kehilangan kamu." Anggi menunduk sambil tetap memegang tangan Ria. Dia bahkan terlihat seperti sedang meringkuk. Bahunya bergetar.
Ryan mencelos melihat pemandangan itu. Bahkan mamanya yang dia kenal dengan orang yang paling tidak tega di dunia pun tidak membawa kekasihnya kembali duduk di atas kursinya.
"Dan kamu takut kehilangan harapan kamu untuk bisa kabur dari orang tua kamu? Anak macam apa yang memanfaatkan anak orang lain bahkan yang termasuk saingan bisnisnya untuk keluar dari keluarganya sendiri? Sebobrok itu keluarga kamu? Atau kamu mempunyai hal lain untuk membuat keluarga kami yang sudah tenang ini menjadi terobrak-abrik seperti keluarga kamu?" Anwar masih dengan kalimat pedasnya. Dia tidak terima jika anaknya dijadikan barang yang dimanfaatkan sembarangan.
"Papa," tegur Ryan dan menoleh ke papanya. Ini keterlaluan. Anggi diserang sana sini. "Tolong, stop. Apa kalian enggak kasihan dengan Anggi? Dia juga korban keluarganya."
Anwar menoleh ke anaknya dengan mengerutkan dahi. "Coba bilang lagi, Ryan! Bilang lagi! Papa tahu sendiri rasanya bagaimana bingungnya mengevakuasi kamu dari lubang itu selama setengah hari penuh. Kamu anak Papa dan Mama satu-satunya yang sudah kami perjuangkan dari awal pernikahan. Mama kamu berjuang dengan sekuat tenaga untuk hamil kamu, Ryan, untuk melahirkan dan membesarkan kamu di dunia ini. Kamu bisa bayangkan bagaimana tertekannya kami saat kamu jatuh di sana? Hah?"
"Tapi, Pa. Itu, kan, dulu. Sekarang aku udah di sini dan tumbuh dengan baik bersama Papa dan Mama." Ryan ingin membela Anggi. Dia juga tidak ingin melepaskan gadisnya begitu saja. Tidak segampang itu melepaskan orang yang kita cintai. Apalagi dia sangat membutuhkan Anggi dalam setiap langkah hidupnya.
"Ya. Memang benar kamu sekarang tumbuh dengan baik di sisi kami. Kamu pikir itu tidak ada harganya? Papa enggak membicarakan tentang nominal. Papa membicarakan tentang tanggung jawab sepasang orang tua yang harus menjaga amanah terpenting dari Tuhan yang dititipkan kepada kami. Mau jawab apa Papa jika kamu tidak tumbuh dengan baik, Ryan? Mau jawab apa Papa di hadapan Yang Maha Kuasa?"
Ryan tidak bisa menjawab. Apa yang dikatakan oleh papanya bukan hal yang main-main. Dia juga tahu dan paham akan hal itu. Dia tidak bisa membantah. Dadanya menjadi sangat sesak. Ryan menundukkan kepalanya. Dia melihat Anggi yang masih bersimpuh di kaki mamanya dengan tatapan nanar. Air matanya keluar. Dia pun beranjak dari tempat duduknya dan meraih bahu Anggi. "Berdiri, Sayang. Duduk lagi."
Anggi menggeleng. "Enggak sampai kita mendapat restu dari Om dan Tante."
Ria menatap dua insan kasmaran di bawahnya dengan air mata yang masih mengalir. Anaknya merengkuh tubuh gadis tersebut dengan sangat hati-hati dan penuh kasih sayang. Dia bisa tahu itu dari cara Ryan meletakkan kepala Anggi di bahunya. Hal itu sama persis seperti saat Ryan memperlakukan Ella dulu. Ya, dia sebenarnya tahu bahwa Ryan juga tidak hanya sekedar ingin melindungi Ella. Anaknya jatuh cinta kepada anak dari temannya itu. Bahkan dia juga tahu sedalam apa hancurnya hati Ryan saat Ella tiada. Dan, ternyata gadis ini yang bisa membangkitkan kembali jiwa Ryan yang sempat mati.
"Mama enggak akan menentang kalian, tapi bukan berarti Mama setuju dengan hubungan kalian ini. Mama hanya bisa berpesan ke kamu, Ryan, kamu satu-satunya harapan Mama. Mama enggak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Kalau kamu punya keputusan sendiri, Mama harap itu tidak akan memutus keridlaan Mama Papa akan hidup kamu." Ria beranjak dari kursinya setelah mengambil tisu. Dia melenggang pergi, meninggalkan anaknya dan gadis yang dicintainya.
Anwar menyusul dia meninggalkan sepatah kata untuk anaknya. "Kamu enggak akan mengulangi penyesalan yang sama, kan, Ryan?"
Ryan memejamkan matanya. Air matanya keluar begitu saja. Dia mengeratkan pelukannya di tubuh Anggi yang sedang menangis kuat. Dia berada di persimpangan jalan sekarang. Dia bingung harus menempuh jalan yang mana. Sungguh, ini sangat berat sekali.
Isakan tangis Anggi semakin keras. Hatinya bagaikan gelas kaca tipis yang pecah. "Ryan, apa kita harus sampai di sini saja?"
Perkataan Anggi itu menusuk hati Ryan yang terdalam. Sangat menyakitkan sekali mendengar kekasihnya berucap sebegitu putus asa. Padahal selama ini, Anggi adalah sumber kekuatannya menghadapi dunianya yang sangat berat. Kini, dia merasakan kekuatan itu mulai runtuh dan membuat seluruh dunianya remuk. Dia menggeleng.
"Enggak, Anggi. Kita enggak boleh menyerah. Kita enggak boleh hanya berhenti di sini. Kita harus membuktikan kepada mereka bahwa hubungan kita akan berhasil. Meskipun orang tuaku tidak memberikan jawaban yang pasti tentang pendapat mereka, kita masih bisa mendapatkan restu dari orang tua kamu. Kita masih mempunyai kesempatan itu."
Hati Anggi mencelos mendengarkan tekad Ryan yang sangat kuat itu. Dia berusaha untuk menahan Ryan agar tidak pergi ke rumahnya, namun Ryan masih bersikeras untuk ke sana. Tanpa ke sana pun dia sudah tahu bagaimana akhirnya kisah mereka. Dan dia tidak ingin Ryan merasakan kepedihan seperti apa yang dia rasakan selama ini.
***
"Kamu pikir kamu siapa, hah?" Bentakan itu sangat keras. Itulah yang langsung didapatkan oleh Ryan bahkan sebelum dia mengatakan ingin menikahi Anggi.
"Anak Anwar memang tidak tahu diri. Anggi sudah aku jodohkan dengan pria yang lebih pantas dan lebih baik dari pada kamu. Kamu pikir kami hanya mencari harta? Kami hanya membalas apa yang telah papa kamu lakukan terhadap keluarga kami. Tanyakan kepada papa kamu itu, ya, si Anwar yang tidak tahu diri melarikan sebagian saham milik keluarga kami. Tanyakan ke dia dengan jelas dan gamblang, apa yang telah dia lakukan terhadap keluarga kami. Baru kamu ke sini lagi dan meminta Anggi. Itu pun kamu masih punya muka di hadapan kami." Bambang, bapak Anggi tidak bisa menahan amarahnya. Dia tidak mau keluarganya direndahkan begitu saja. Apalagi oleh keluarga Anwar, saingannya.
"Kamu juga, Anggi! Beruntung ibu kamu enggak ada di sini dan masih ke luar kota. Kalau tidak, kamu sudah diapakan oleh ibu kamu, hah? Berani-beraninya menentang orang tua dan kabur begitu saja kemarin. Sekarang malah mau mengkhianati keluarga sendiri. Kamu pikir selama ini kamu hidup dengan siapa, hah? Dengan keluarganya si Anwar? Yang ngasih makan kamu dan yang udah sekolahin kamu selama ini siapa? Pacar kamu ini? Cuih. Bapak sepertinya harus menyesal membesarkan kamu sampai sekarang. Kalau bisa diganti, Bapak akan mengganti kamu dengan kakak kamu yang sudah tenang di sana. Apa kamu tidak merasa bersalah karena telah membuat dia tiada? Kamu makhluk enggak punya hati sama sekali. Sudah untung kamu masih hidup. Kakak kamu harus merelakan dirinya untuk kamu!"
Lalu Bambang meninggalkan dua kekasih itu di ruang tamu tanpa menoleh lagi sama sekali. Dia ada urusan pekerjaan dan sudah dipanggil dari tadi. Akan tetapi dua kunyuk ini malah menghalanginya pergi dengan alasan cinta bodoh yang tidak penting sekali untuk didengarkan.
Ryan menatap Anggi yang sudah tenggelam dalam tangisan. Dan itu menghancurkannya lagi dan lagi. Ternyata banyak sekali beban yang dipikul oleh Anggi selama ini. Bahkan ucapan bapak Anggi barusan sudah sangat jelas menggambarkan bagaimana kehidupan yang dijalani kekasihnya itu dalam keluarganya sendiri.
Kalau begini, ini benar-benar jalan buntu.
"Hamili aku aja, Ryan. Itu satu-satunya cara biar kita bisa bersama."
Ryan bimbang. Apa dia harus melanggar komitmennya sendiri demi bisa hidup dengan gadis ini?
"Atau, kita melakukannya saja dan kita rekam dan kirim ke orang tua kita."
"Sayang, itu terlalu berbahaya. Aku enggak bisa merusak kamu begitu aja."
"Terus kita harus bagaimana, Ryan? Kita enggak dapet restu dari orang tua kita terus bagaimana?"
"Kita pakai cara yang lain. Pasti ada."
Anggi yang sudah putus asa tidak bisa berkata-kata lagi dengan keputusan Ryan. "Kalau begitu, aku enggak mau di sini. Aku mau ikut kamu ke apartemen."
Ryan hanya mengangguk. Tanpa dia tahu, Anggi sudah menyusun siasat untuk bisa menanamkan benih Ryan di rahimnya.