Upaya Hamil Duluan

1301 Words
Anggi tidak ingin tinggal di rumahnya. Dia akhirnya ikut dengan Ryan ke apartemen lelaki itu. "Ryan," panggil Anggi saat mereka telah selesai makan malam seadanya dan membersihkan diri. "Sini, aku pengin peluk kamu." Ryan yang sudah mandi pun segera mendatangi Anggi yang rebahan di sofa. Dia memeluk gadisnya itu. "Aku akan tetap berusaha untuk menikah dengan kamu suatu hari nanti Anggi. Dengan restu orang tua kita berdua." Ryan sedikit berbisik. Dia memberikan kecupan di pucuk kepala gadisnya. Dia merasakan sensasi yang tidak biasa. Apa karena efek sedang sedih jadi mencium kening Anggi terasa sekuat ini? Anggi mengangguk. "Harus banget, ya, pakai restu orang tua?" Pertanyaan itu hanya basa-basi Anggi. Dia sudah paham sekali bagaimana jalan pikir Ryan yang selalu mengutamakan keluarga. "Kalau bukan restu orang tua kita, siapa lagi?" Ryan menanggapi pertanyaan Anggi dengan sedikit serius. Anggi malah terkekeh, membuat Ryan mengerutkan dahinya dengan tak suka. "Iya, Ryan. Restu orang tua adalah yang pertama. Yang paling utama. Aku paham, kok. Apalagi pas aku ajakin ninuninu malah nolak. Padahal enak." "Kamu pernah?" "Ih, enggak. Aku masih perawan, ya." "Kok kamu bilang enak?" "Si Hanin yang bilang. Dia, kan, pernah." Anggi membela diri. "Terus kamu fomo? Pengin gitu?" Bola mata Anggi mengarah ke atas, menghindari tatapan Ryan seakan tanpa dosa. "Kalau iya kenapa?" Seketika tubuh Ryan menegang. Sungguh, setiap kata dan setiap gerakan yang menyentuh tubuhnya membuatnya merasakan sensasi aneh tapi mendebarkan. "Kalau iya kenapa? Hei, kamu sadar gak sih kalau sedang berduaan aja sama cowok? Kalau diterkam baru tahu rasa." "Terkam aja." Anggi malah main-main sambil sedikit cekikikan. Telunjuk Ryan menusuk ke pipi Anggi. Gemas sekali punya pacar yang suka nantangin kayak gini. "Kan, mulai. Emang enggak ada kapoknya anak ini." Kepala Anggi menggeleng. Dia melihat dengan seksama perubahan sikap Ryan. Dia yakin obat yang dia masukkan ke dalam minuman Ryan tadi sedang bekerja. "Enggak bakalan kapok kalau sama kamu. Ryan, janji, ya, jangan tinggalin aku. Cinta aku udah mentok banget ini di kamu." Usapan di kepala Anggi begitu lembut. Ryan menatap gadisnya dengan lekat, penuh makna. "Aku udah janji, kan, buat berusaha agar dapet restu dari orang tua kita? Aku enggak akan tinggalin kamu, Sayang. Sebaliknya, kamu tetep bertahan sama aku, ya." Anggi memainkan jemarinya di atas leher Ryan, kemudian agak turun. Dia bergumam agak tak jelas. "Apa, sih? Bilang aja." Ryan tahu kalau Anggi sedang ada pikiran. "Kamu baik-baik aja dengan status aku udah dijodohin?" Anggi tak berani menatap Ryan. Dia menggigit bibir bawahnya sambil menunduk, menghindari tatapan lelakinya. "Enggak mau batalin status itu jadi kamu adalah ayah dari janin di perutku gitu? Ryan menatap Anggi sejenak lalu mengecup puncak kepala gadis itu lama. Kemudian, dia menarik tubuh Anggi dalam pelukan yang hangat. "Pantes kamu enggak gemuk-gemuk. Ternyata banyak pikirannya yang agak ngawur. Kasihan banget pacarnya Ryan ini." "Aku jelek kalau gemuk." Ryan mengusek hidungnya di pipi Anggi. "Gak papa. Biar makin enak ciumnya kek gini. Biar tambah gemesin." Lama-lama Anggi geli. Dia tidak menjauhkan diri dari Ryan bahkan dia menunggu reaksi selanjutnya dari lelaki itu. "Ryan, berhenti enggak? Geli banget sumpah." "Gini aja kamu geli. Apalagi kalau kayak gini." Ryan menahan Anggi yang terus bergerak dalam pelukannya. Dia merapatkan tubuh mereka dan menarik turtle neck kaos yang dikenakan oleh gadis itu. Ciumannya turun ke leher. Membuat Anggi menahan geli, rasa geli yang berbeda dari sebelumnya. Dengan napas yang sedikit memberat, Ryan menciumi leher Anggi. Hanya ciuman biasa, dia tidak melakukan lebih. "Ini yang kamu inginkan kemarin?" Anggi memejamkan matanya, merasakan napas Ryan yang menyusuri leher jenjangnya. Dia benar-benar ikhlas jika Ryan melakukan lebih. Maka dari itu dia semakin memiringkan kepalanya, merenggangkan lehernya agar Ryan dengan leluasa bisa menjajaki tubuhnya. Ryan semakin erat memeluk Anggi dan menenggelamkan wajahnya di leher gadis itu. Tak bisa dipungkiri, dia juga merasakan sensasi yang luar biasa. Sepertinya akan ada yang tegak tapi bukan keadilan. Jujur, pertahanannya mulai runtuh. Namun, semua kemesraan itu pecah dengan teriakan dari arah pintu masuk. "Ryan! Berhenti! Kalian gila, ya!" *** Kini dua sejoli itu tengah duduk berdampingan dengan wajah menunduk. Di hadapan mereka ada gadis 23 tahun yang sedang bersendekap dan memasang wajah yang siap menghukumi pasangan kasmaran ini. "Kalian mikir enggak, sih, tentang masa depan? Cewek itu harus dijaga. Jangan jadi kayak binatang yang enggak punya aturan gitu." Omelan gadis itu sungguh tajam. Namun itulah kelebihannya, lugas dan tegas. "Maafin aku, Mbak." Ryan yang telah kembali akal sehatnya pun tengah dipenuhi oleh penyesalan. "Jangan minta maaf ke aku, lah. Minta maaf ke cewek kamu itu. Masa depan dia yang hampir kamu rusak. Kamu enggak mikir apa ke depannya kayak gimana? Kalau kalian ditakdirkan untuk enggak bersama gimana? Siapa yang bakalan menanggung rasa malu yang didapet cewek kamu?" Ryan semakin menunduk. Ucapan gadis yang lebih tua darinya itu memang benar, tapi menusuk sekali. Bahkan kata-kata bahwa dia dan Anggi mungkin saja tidak bersama membuatnya semakin terluka. Luka yang dia dapat tadi seperti menganga lagi. "Aku yang minta, Mbak. Jangan salahin Ryan." Anggi dengan berani mengatakan hal itu. Ryan saja sampai kaget dibuatnya. Lelaki itu menoleh cepat ke samping. Gadis yang lebih tua dari mereka berdua itu menghela napas dalam dan mengeluarkannya kasar. Dia memperbaiki hijabnya yang terasa agak melorot. "Malah bodoh." Ryan memejamkan mata. Bakalan runyam masalahnya kalau begini. Anggi terlalu berani untuk melawan Dewi yang tegas. Bahkan teman-teman Dewi saja sangat sungkan jika gadis itu sudah angkat bicara. "Aku emang bodoh, Mbak. Bodoh banget karena dia." Anggi menunjuk ke arah Ryan. Sekali lagi Dewi menghela napas dalam. Perkataan Anggi barusan benar-benar terdengar seperti angin kentut di telinganya. Bau. Bikin orang tidak selera. "Sayang, udah kamu diem aja." Ryan berbisik kepada kekasihnya. "Kenapa? Emang bener, kok. Aku jadi bodoh karena kamu. Aku takut kehilangan kamu makanya aku jadi bodoh." Menurut Anggi, sekalian saja dia memaki dirinya sendiri dari pada dimaki orang lain. Apalagi gadis berhijab nan manis dengan tatapan tajam di depannya ini. "Oke. Itu masalah kalian, kan, ya. Emang enggak seharusnya aku ikut campur. Cuma ... please jangan rusak masa depan kalian berdua deh. Itu doang. Atau at least, jangan rusak masa depan Ryan kalau kamu enggak mau dengerin omongan aku. Ryan udah kayak adik aku. Jadi, aku juga enggak rela kalau masa depan dia terancam." Dewi (yang sudah kita kenal sebagai kakak Ella yang super tegas dan ketat) berkata dengan lugas. Dia tidak main-main jika membahas masalah masa depan. Apalagi masa depan Ryan. Gadis itu berdiri sambil sedikit merapikan bajunya kembali. "Aku masih ada urusan yang belum selesai di restoran. Jadi aku permisi dulu." Anggi yang hendak menjawab perkataan Dewi pun jadi urung karena gadis itu mengundurkan diri terlebih dahulu. Pun tangan Ryan sedari tadi sudah menahan pergelangan tangannya. "Buat kamu, Ryan. Pokoknya jangan sampai menyesal. Hidup itu cuma sekali. Jangan bodoh." Lalu, Dewi benar-benar meninggalkan dua sejoli itu duduk terdiam di tempat mereka. Dia keluar dari apartemen Ryan. Di luar apartemen Ryan, Dewi segera menghubungi Erwin. "Dari mana Om tahu kalau mereka berdua sedang begituan di apartemen Ryan?" Di seberang sana, Erwin lega setelah menerima telepon dari Dewi. Dia bisa menggagalkan aksi dua bocah kasmaran tanpa restu itu. "Feeling. Ryan tadi habis minta restu ke Om Anwar dan bapaknya Anggi. Yang aku tahu, mereka enggak dapet apa yang mereka inginkan." "Terus malah mau make out kayak gitu? Bodoh banget, sih." Dewi yang sedikit 'anti cowok' sangat tidak suka dengan perempuan yang tidak menjaga martabatnya sendiri. "Nanti kalau udah hamil dan gak dapet restu, nangis lagi." Erwin tersenyum. "Kamu tahulah orang yang lagi jatuh cinta itu kayak gimana." "Oke, Om. Untung Om telepon aku tadi. Ryan kalau udah diperingatin insyaallah enggak ngapa-ngapain lagi." Erwin hanya diam sambil melihat layar tab di pahanya. Di sana tampak Ryan dan Anggi hanya duduk sambil berbicara ringan. Keadaan sudah aman. Dia hanya perlu memantau dan mengirim orang untuk menggagalkan kelakuan mereka berdua jika terlihat sedang menjurus ke sana. "Maafkan Om, Ryan. Hanya ini yang bisa Om lakukan demi menyelamatkanmu dari mereka."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD