Menemani Mbak Dewi

2157 Words
Ryan sudah berada di kampus kurang dari jam tujuh pagi. Dosennya meminta dirinya untuk datang lebih pagi dari yang lain. Ada sesuatu yang perlu mereka bicarakan. Lelaki itu sudah berada di depan ruangan sang dosen. Dia mengetuk pintu di hadapannya. "Ryan? Masuk aja. Enggak dikunci." Suara itu terdengar berat dari arah dalam. Dengan gerakan yang pelan, Ryan membuka pintu sambil bersalam. "Enggak pulang dari kemarin, Pak?" tanya Ryan to the point. Dia selalu santai saat berbicara dengan dosen muda yang sudah dia anggap seperti kakak sendiri ini. "Kemarin. Enak aja kemarin. Tiga hari kemarin, iya. Banyak banget yang harus saya urus. Kamu ke mana aja, sih?" Dosen muda itu, Suhono, tengah berkacak pinggang di hadapan mejanya yang penuh dengan kertas. Keadaan wajahnya yang terkenal fresh dan tampan itu sudah tidak berbentuk. Sungguh sangat mengenaskan jika dilihat lebih lanjut. Ryan terkekeh. "Ya, maaf. Saya ada keperluan pribadi sampe enggak sempet ke kampus. Tapi tugas saya enggak keteteran, kok. Semuanya udah rapi. Udah saya kirim ke email Bapak juga." Suhono mendengkus. Lelaki berapa tahun itu mendengkus kasar. "Bagus. Bagus banget kamu udah selesai. Itu nambahin pekerjaan saya, ya." "Udah, deh. Bapak mendingan tiduran di sofa dulu aja. Ini yang di meja biar saya yang urus. Sesuai dengan kelas dan semester, kan?" Ryan menarik lengan Suhono agar menuju sofa. Dia menggantikan dosennya tersebut untuk menata tugas laprak yang telah dikoreksi. "Lagian, siapa sih yang ngide lapraknya ditulis tangan? Nyusahin hidup banget, coba." Suhono masih mengomel meski badannya kini sudah tenggelam nyaman di bantalan empuk sofa ruangannya. Ryan hanya geleng-geleng mendengar ocehan dosen mudanya itu. Sudah jadi hal yang biasa untuk telinganya mendengarkan apa saja yang keluar dari bibir dosennya tersebut. Tiga semester menjadi asisten dosen sejak dia berstatus mahasiswa baru bukan waktu yang singkat untuk bisa saling mengenal dengan dosen muda idaman para mahasiswi ini. "Kalau sudah selesai bawa di kelas mereka, tolong bangunin saya, ya. Saya harus bersihin diri dulu sebelum pulang. Image saya harus dijaga dengan baik." Ryan tertawa tanpa suara. Dosennya ini memang ada-ada saja. Santai sekali pula. "Oke. Oke. Siap, Pak." "Ryan," panggil Suhono sebelum Ryan keluar dari ruangannya sambil membawa setumpuk kertas. "Iya, Pak." Suhono mengangkat kedua jempolnya. Ryan memang benar-benar bisa diandalkan. Padahal, dia sendiri mendapat cerita dari sesama dosen bahwa Ryan tidak hanya berkuliah di kampus ini. Salut banget dengan kerja keras anak ini. Ryan tersenyum. "Udah sana, Bapak istirahat dulu. Saya mau ke kelas ini." "Sip!" Ryan geleng-geleng lagi. Perasaan yang umurnya masih muda itu dia deh. Tapi kelakuan dosennya ini sebelas dua belas dengan lelaki seumurannya. Rada-rada ada tantrumnya dikit. Ryan bergegas ke kelas pertama. Dia meletakkan tumpukan kertas di rak yang ada di bawah meja dosen. Dia tinggal memberikan kabar kepada ketua kelas tersebut agar membagikan tugas yang telah dikoreksi oleh Suhono. Suara dering gawai Ryan berbunyi. Lelaki itu jadi berhenti sejenak di kelas yang terakhir dia kunjungi. Dia duduk di salah satu bangku di kelas itu. Layar gawainya menampakkan nama yang sangat familiar. "Iya. Ada apa, Mbak?" Pertanyaan itu langsung keluar dari bibirnya. "Enggak lupa, kan, kalau nanti siang ada jadwal ke dokter?" tanya yang di sana, Dewi. Ryan tersenyum sendiri. "Enggak dong. Ini aku lagi di kampus, kok, Mbak. Tenang aja. Hatiku sekuat baja." "Topengnya enggak usah dipakai kalau sama aku. Aku tahu apa yang ada di balik topeng kamu itu." Dengan suara yang sedikit sumbang, Ryan terkekeh. Dia memang tidak bisa berbohong kalau berhadapan dengan Dewi. Gadis itu seakan memiliki kekuatan magis yang bisa mengetahui seluk beluk masalah orang. Dia jadi heran juga gadis itu terbuat dari apa. "Iya, Mbak. Habis ke dokter, kita makan siang, ya. Ada banyak yang mau aku bicarain." "Aku juga," ucap Dewi dengan cepat. Ryan menelan ludah. Dia tahu maksud perkataan Dewi barusan. Tanpa sadar dia mengelus telinganya. Bakalan panas ini nanti. Suara gaduh dari arah belakang Ryan membuat lelaki itu menoleh. Ternyata, di sana sudah ada beberapa mahasiswi yang sedang duduk agak bergerombol. Dia menyuguhkan senyumannya. Rada sungkan pula karena lupa kalau dia sedang numpang duduk di kelas orang. Pikiran itu sungguh berbeda dengan yang sedang digaduhkan oleh para mahasiswi. Ryan adalah salah satu idola kampus yang sayangnya sudah mempunyai pacar. Meski harapan para gadis di kampusnya itu pupus, tapi melihat cowok ganteng adalah anugerah tersendiri. Lebih lagi kalau dari dekat gini. Aura gantengnya bisa terasa dengan nyata. Bahkan lebih dari itu. Para mahasiswi jurusan psikologi di kampus Ryan ini juga tahu kalau Ryan bukan sembarang orang. Lelaki itu berasal dari keluarga berada, pintar, dan bahkan berkuliah di dua jurusan di dua kampus yang berbeda pula. Mana dua-duanya adalah kampus ternama di Surabaya. Yang bisa menggapai lelaki seperti itu pasti orangnya juga enggak main-main. "Kak Ryan." Sapaan lembut dari seorang gadis membuat Ryan menoleh. Lelaki itu menaikkan kedua alisnya, sekalian sebagai ganti tanda tanya. Dia bergumam singkat. "Ini buat Kakak." Gadis itu menyodorkan botol isotonik kepada Ryan. "Semangat jadi asisten." Kemudian gadis itu pergi begitu saja membawa peraasaan bahagia karena pemberiannya diterima oleh Ryan. Sedangkan yang diberi, hanya bisa bengong dengan kelakuan gadis tadi. Dia merasa sudah terang-terangan di kampus kalau sudah punya pacar, tapi masih saja ada yang berani memberinya hadiah seperti ini. Bukan maksud Ryan untuk meremehkan hadiah yang tidak seberapa itu, tapi dia malah khawatir dengan nasib yang memberi. Kalau Anggi sampai tahu dan cemburu, bisa celaka gadis itu tadi. Bakalan dilabrak habis-habisan nanti sama Anggi. Mengingat Anggi, Ryan jadi menghela napas dalam. Keadaan kekasihnya itu bagaimana, ya? Apa baik-baik aja masuk ke kampus? Lalu dengan niat yang bulat, Ryan menelepon gadis itu. Tanpa menunggu lama, sambungan teleponnya tersambut cepat. "Sayang, udah makan?" tanya Ryan langsung. Pasalnya, dia tadi mengantarkan Anggi ke kontrakan Hanin tanpa sarapan dahulu. Bahkan dia sendiri lupa kalau ada masakan Dewi yang tersimpan rapi di kulkas. "Ini aku baru makan sama Hanin. Entar aku ke kampusnya jam sembilan, Ryan." Suara Anggi terdengar sangat bersemangat. Hal itu membuat Ryan sedikit lega. Setidaknya gadisnya tidak menangis saat ini. "Oke. Hati-hati, ya. Oh, ya. Nanti kamu pulang sama Hanin dulu, ya, kalau enggak mau ke rumah. Aku nanti harus anter Mbak Dewi ke dokter." "Iya. Gak papa. Entar aku nebeng Hanin aja. Males pulang ke rumah. Lagian enggak bakalan ada yang cari. Btw, ke dokternya sampai jam berapa?" "Jam tiga sore, mungkin. Aku juga enggak tahu. Kadang cepet, kadang lama." "Oke." Anggi terdengar sungguh bersemangat. Ryan jadi membayangkan wajah gadis itu sekarang. Anggi kalau lagi semangat jadi terlihat seperti anak kecil. Menggemaskan. Dia suka. "Ya udah. Yang penting hati-hati, ya. Kalau butuh apa-apa, kamu bisa telepon aku." "Aku butuh kamu sekarang, kek mana?" Ryan mengerutkan dahinya. Sepertinya, dia salah memberikan tangan. "Apa?" "Peluk. Mau peluk sekarang." Kelopak mata Ryan berkedip cepat. Permintaan macam apa itu. Sangat mendadak sekali. "Anggi, yang bener aja." Lelaki itu kebingungan sendiri. Terdengar suara Anggi yang tertawa terbahak dari seberang sana. "Enggak, astaga. Gitu aja diambil serius. Entar aja pelukannya kalau kamu jemput aku." Ryan lega. Masalahnya, terkadang Anggi ini kalau tidak dikabulkan permintaannya bisa tantrum seminggu. "Okelah. Sampe ketemu nanti, ya." "Iya, Sayang. Muach." Seketika, Ryan merasa pipinya memanas. Dia melihat sekitar, lalu ke langit. Ah, mungkin efek dari terik sinar matahari yang akhir-akhir ini ganas sekali meski masih pagi. Namun, dia memandangi gawainya beberapa detik terlebih dahulu sebelum mengantongi benda itu lagi. Sial, dia tidak bisa berbohong kepada dirinya sendiri bahwa dadanya berdesir kuat. Senyumannya jadi berkembang lebar. Bahkan dia seakan terlupakan bahwa cinta mereka belum mempunyai restu dari kedua orang tua. *** Sesi kali ini Ryan sendirian mengantarkan Dewi ke dokter psikolog untuk check up rutin. Dewi belum benar-benar selesai dengan traumanya. Terkadang dia masih merasa ketakutan sendiri. Kehilangan seluruh keluarga sekaligus yang baru mengisi kehidupannya sungguh amat membekaskan luka dalam. Meski Dewi termasuk wanita tegas, lugas, dan terlihat kuat, dia terlalu terbiasa menyimpan segala lukanya sendiri. Hanya masalah waktu hingga luka itu akan memburai dan meledak dalam waktu yang bersamaan. Dan itu dialaminya dua tahun yang lalu. "Enggak papa, nih, cuma aku sama kamu doang?" tanya Dewi sebelum masuk ke dalam mobil Ryan. Pintu mobul itu sudah dibuka secara otomatis oleh Ryan dari dalam. "Emang wajib ijin ke yang bersangkutan?" Maksud Ryan dan Dewi adalah Anggi, kekasih Ryan. "Bodoh amat. Belum jadi istri kamu aja. Enggak usah belagu." Lalu, Dewi masuk ke dalam mobil. Ryan tersenyum. Dewi selalu berkata lugas. Dia sudah terbiasa. Malahan itu lebih baik sekali dari pada harus menghadapi Dewi yang hanya memberi reaksi diam. Itu tandanya ada sesuatu yang sedang ditahan oleh gadis tersebut. Dan itu sangat tidak baik untuk kesehatan Dewi. Mereka berangkat. "Di mana dia? Enggak kamu sekap, kan?" Dewi dan mulut lugasnya memang kadang bisa disalahartikan oleh orang yang tak biasa. "Enggak. Dia lagi di kontrakan temennya. Aku titipin di sana." Ryan menjawab dengan santai. Dia sudah terbiasa bercakap dengan kakak dari sahabatnya yang dulu sangat dia sayang. Dewi menyeringai. Ujung bibirnya naik, mengejek. "Dia bukan siapa-siapa kamu selagi belum ada cincin resmi di jari manis kalian." Ryan berdecak. "Iya. Iya, Mbak. Aku tahu. Aku juga enggak bisa lepasin dia begitu aja. Dia juga gitu. You know, lah, kita udah mabuk kepalang." Dewi mengangguk mengerti. Toh, dia juga sudah terbiasa dengan teman-teman di sekelilingnya yang sudah mempunyai pacar. Dianya saja yang tidak mau punya meski sudah ada yang mengincar dari dulu. "Yang penting jangan kelewat batas. Kamu tahu kalau masa depan perempuan itu lebih gampang pecah daripada laki-laki." "Iya, Mbak." Ryan membuat-buat nada bicaranya seperti abdi dalem yang mengiyakan ndoronya. Hal itu membuat pundaknya jadi sasaran empuk tangan Dewi. Jeda sejenak. Mereka hanya mendengarkan suara mesin yang mulus dan suara air conditioner yang tak kalah lembutnya. "Makan siang apa cuma jajan aja kita nanti?" tanya Ryan sambil sedikit memandang Dewi di sampingnya. "Di kafenya Devan apa, yak? Pengin makan es krim." Dewi menjawab dengan nada yang sebenarnya sangat natural. Akan tetapi nama yang dia sebut membuat Ryan tersenyum aneh. "Pengin makan es krim apa mau ketemu ayang?" Ryan menggoda. Sudah jadi rahasia umum di kalangan teman-temannya jika Dewi mempunyai pemuja setia. Dewi tidak merespons. Dia diam dan menatap ke depan. Pertanda kalau dia tidak suka. Raut wajahnya pun datar. Namun, Ryan tahu bahwa raut wajah itu mempunyai guratan sedikit amarah. "Maaf. Maaf. Canda doang." Tak ada jawaban. Tetap saja Dewi menatap depan. Tak menghiraukan ucapan Ryan. Ujung telunjuk Ryan mengetuk pinggiran setir sejenak. Dia memutar otak. "Oke. Ke kafenya Devan, ya, berarti. Moga aja Apaja enggak tutup." Ryan mencoba pembahasan baru. Pembahasan yang tidak menyinggung Dewi. "Kenapa bilang gitu? Emang Devan bilang kalau mau tutup?" Dewi baru menimpali. Rupanya pembahasan seperti ini tidak mengusiknya. Ryan mengedikkan bahu. "Enggak tahu. Katanya Apaja ada renovasi. Aku juga enggak paham pas Devan bilang mau benahin lantai dua." "Oh," reaksi Dewi. Lalu gadis itu kembali menatap jalanan. Ryan sedikit melirik Dewi di sampingnya. Terkadang muncul rasa kasihan di hatinya saat melihat Dewi ini. Ah, bukan terkadang, tapi sering. Bagaimanapun dia tahu lika-liku kehidupan gadis berparas ayu yang semakin bersinar setelah memutuskan untuk memakai hijab tersebut. Sejak kecil, Dewi hidup bersama neneknya, karena dia mempunyai adik yang jaraknya hanya satu setengah tahun dengannya. Orang tuanya yang terlalu sibuk tidak bisa mengatasi situasi tersebut. Jadi, dialah yang harus dititipkan. Orang tua Dewi kemudian tinggal di Inggris. Dewi kecil berumur lima tahun yang sudah terbiasa dengan sang nenek pun tak merasa itu adalah sebuah masalah. Toh, anak sekecil itu tangki cintanya sudah terpenuhi oleh nenek dan kakeknya. Juga paman dan bibinya. Namun, dia harus merasakan kehilangan berturut-turut saat dia mulai menginjak umur empat belas tahun. Dimulai dari teman-temannya yang dia kenal hingga kematian nenek dan kakeknya. Dia kehilangan itu semua dalam waktu tiga tahun, secara berturut-turut. Selama itu pula Dewi memendam. Memendam rasa bersalah yang muncul dari dirinya yang terluka berkali-kali. "Mereka meninggal karena mengenalku." Itu yang ada di pikiran Dewi selama ini. Rasa bersalahnya semakin parah ketika dia akhirnya pindah dari lingkungan pedesaan tempat nenek kakeknya ke kota untuk tinggal bersama keluarga intinya, ayah, ibu, dan adik perempuannya Ella. Namun, sepertinya takdir memang suka mempermainkan hidup gadis berperawakan tegar ini. Anggota keluarganya direnggut nyawanya dalam perjalanan pulang dari menjemput Ella yang masuk sekolah asrama. Rasa bersalahnya itu semakin dalam hingga membuka luka yang dulu dia pendam. Bahkan lebih lebar. Efeknya, dia jadi begitu tertutup dan merasa hidupnya adalah kesialan bagi orang yang dikenal. Itulah kenapa Dewi harus menemui dokter psikolog kenalan papanya Ryan, Anwar. Anwar yang notabene adalah sahabat dari ayah Dewi merasa bertanggung jawab untuk menanggung hidup Dewi dan meneruskan bisnis sahabatnya tersebut, termasuk mengurus Dewi yang benar-benar terguncang saat itu. Begitu pula dengan Ryan. Lelaki itu menyayangi Dewi seperti adik laki-laki yang menyayangi kakak perempuannya. Maka dari itu saat Anggi mendengar nama Dewi disebut oleh Ryan, gadis itu tidak cemburu. Anggi juga tahu bagaimana susahnya hidup Dewi. Ryan dan Dewi telah tiba di rumah sakit yang dituju. "Mbak mau ditemenin?" tanya Ryan, meniru ucapan mamanya setiap kali mengantar Dewi bertemu sang dokter. Dewi menggeleng. "Enggak usah. Aku harus berkembang juga untuk menghadapi ini sesekali seorang diri. Iya, kan?" Ryan tersenyum. Keadaan Dewi rupanya semakin membaik. Dia mengangguk. "Oke. Aku tunggu, ya. Semangat, mbakku sayang." "Ih, gilo!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD