Kehidupan Yang Tak Diinginkan

1978 Words
Ryan lega. Setidaknya untuk sesi konsultasi Dewi kali ini tidak membuat gadis itu dipenuhi dengan air mata. Dia melihat gadis itu keluar dari pintu masuk rumah sakit. Wajahnya tetap segar. Tak ada bekas air mata di wajah ayu tegas gadis tersebut. Bagi Ryan, melihat Dewi menangis sama sakitnya seperti melihat Anggi terpuruk. Lebih parah lagi karena lelaki itu malah akan teringat dengan teman kecil sekaligus cinta pertamanya yang telah tiada, Ella. "Alhamdulillah ceria." Ryan menoleh ke arah Dewi yang sudah duduk manis di sampingnya di dalam mobil. Sedari tadi dia menunggu gadis itu di parkiran sambil mengerjakan tugas yang diberikan Suhono. Dewi tersenyum. Dia melongok ke arah laptop Ryan setelah merapikan duduknya. "Masih mau lanjut? Aku masih ada waktu juga, kok, buat ngerekap pengeluaran bulan kemarin." Ryan menutup laptopnya dan menaruh benda itu di jok belakang. Dia melipat kedua tangannya sambil bersandar ke samping. Dia menghadap Dewi. "Kayaknya enggak cuma ceria, deh. Kenapa kelihatan seneng banget?" Dewi tersenyum lebih lebar. "Lega aja. Rasanya bisa keluar dari berbagai macam pikiran ruwet tuh lega banget." Ryan mengiyakan. Dia mengangguk kecil. "Bener juga, sih." "Jadi ke Apaja, kan?" Dewi dengan sangat bersemangat dan penuh senyuman menanyakan itu. Ryan mengangguk. "Iya, Mbak. Dah ngebet banget ketemu sama Devan, ya?" Dewi memonyongkan bibirnya, sebal. Ryan selalu saja mengaitkan kunjungannya ke Apaja dengan menemui pemiliknya. Dewi hanya ingin menikmati es krim enak kafe itu. Tidak lebih. *** Lonceng Kafe Apaja terdengar sangat familiar. Devan, pemilik yang masih suka berperan dobel jadi pelayan, menoleh ke arah pintu. Tangannya dengan ulet membersihkan meja yang telah dipakai pengunjung. "Selamat datang di Apaja Kafe." Senyumannya mengembang dengan sempurna saat tahu siapa yang datang. Dengan segera, dia memberikan alat bersih-bersihnya kepada Gavin, salah satu stafnya. "Hoi! Apa kabar?" tanyanya kepada Ryan yang berjalan menuju dirinya. Akan tetapi, bukan Ryan yang sebenarnya membuat senyuman Devan semakin merekah indah. Gadis yang berjilbab merah hati itu yang membuat Devan menjadi secerah mentari hari ini. Gadis yang masih mempunyai tempat istimewa di hatinya, mengisi harinya sejak awal kenal di SMA hingga hari ini. Gadis yang ingin dia perjuangkan. "Hai, Dewi!" Sapaan itu sangat lembut. Devan yang memiliki badan tinggi dan atletis sungguh terlihat layaknya gentleman sungguhan saat ini. Dewi tersenyum. Teman satu bangkunya di kelas dua SMA itu terlihat sangat membanggakan. Di usia yang masih muda, Devan sudah mempunyai kafe, merintis bisnis sendiri. "Hai, Dev. Apa kabar?" "Baik banget. Apalagi kamu ke sini." Devan menyengir kuda. Ryan serasa jadin obat nyamuk kalau begini. Dia sih sudah tahu dari dulu kalau Devan ini menyukai Dewi. Akan tetapi hubungan mereka tidak ada perkembangan. Devan tetap ingin fokus pada kafenya, bahkan belum menyatakan isi hatinya lagi ke Dewi. Terlebih lagi dengan keadaan Dewi yang sekarang. "Hmm, ngalus mulu. Kapan sertifikasi halalnya diurus?" Ryan mencibir. Devan tidak memedulikan ucapan temannya itu. Apalagi Dewi. Dia sudah terbiasa dengan godaan dari Ryan dan teman-temannya yang ditujukan untuk dirinya dan Devan. "Mau pesen apa?" tanya Devan langsung dan tanpa menoleh sekali pun ke arah Ryan. Sekaran dan di sini, yang jadi pelanggan naratama Devan adalah Dewi. Ryan, mah, cuma angin kentut doang. "Ice cream latte dengan topping gula aren. Iya, kan, Mbak?" Ryan menyela, menjawab pertanyaan Devan yang sangat memihak kepada Dewi itu. Dewi mengedipkan sebelah matanya ke Ryan, isyarat untuk menyetujui. Hal itu hanya bisa dilakukan olehnya kepada Ryan seorang, lelaki yang dia anggap seperti keluarga sendiri. Hal yang tidak akan bisa ditujukan kepada Devan meski pemilik Apaja Kafe itu iri setengah mati. Devan menelan ludah. Kepalanya dipenuhi dengan bunga. Melihat Dewi yang bisa centil seperti itu adalah momen yang sangat langka. Entah dia jadi iri kepada Ryan atau hendaknya berterima kasih karena dengan keberadaan Ryan di sini dia jadi bisa menatap Dewi yang sudah lama dia rindukan. Ryan menjentikkan jarinya di hadapan muka Devan. "Fokus! Fokus! Anda di sini untuk melayani pesanan kami, woy!" Devan menampik tangan Ryan dan tersenyum manis kepada Dewi. "Oke. Karena kamu udah lama enggak ke sini, gimana kalau cobain menu baru yang dibuat karyawan aku?" Dia sama sekali tidak memedulikan Ryan. Dewi mengangkat alisnya. "Boleh? Emang nanti enggak bikin yang lain iri?" Devan melambaikan tangan, berisyarat bahwa yang diasumsikan oleh Dewi tidak benar. "Tenang aja. Aku yang punya kafe ini, Wi." Dewi mengangguk. "Oke kalau gitu. Emang menu barunya apa?" "Cheese garlic puff. Aku butuh pendapat pelanggan buat menjadikan ini sebagai menu." "Gue juga mau." Ryan mengangkat tangannya dengan antusias. Devan berkacak pinggang dan menghadap ke Ryan. "Lo tuh enggak diajak." Telunjuknya menekan di bahu lebar Ryan dan mendorongnya ke belakang. Dewi tersenyum melihat kelakuan dua lelaki yang ada di depannya ini. Ryan dan teman-temannya memang tidak pernah gagal untuk membuat suasana hatinya semakin membaik. Selepas kepergian kedua orang tuanya dan juga Ella pun yang selalu menemaninya adalah Ryan dan teman-temannya. Mereka selalu menghiburnya dengan berbagai macam hal hingga akhirnya dia mau bangkit lagi. "Makasih, ya, Devan. Aku malah ngerepoti kamu." Dengan senyum yang ramah dan jiwa ceria Devan menjawab, "Oh, enggak. Kamu sama sekali enggak merepoti aku kok, Wi. Justru aku seneng banget kalau kamu bisa jadi orang pertama yang mencicipi menu baru ini. Sebuah kehormatan malahan menu baruku bakalan dicicipi sama pemilik restoran." Lalu Devan mengedipkan mata. Dewi terdiam. Tindakan Devan barusan terlalu cepat untuknya yang cukup membatasi diri dalam berinteraksi, lebih lagi dengan lawan jenis. Ryan memukul Devan tepat di bagian pantatnya. Devan paham bahwa dia baru saja melakukan sedikit kesalahan yang membuat Dewi malu sendiri. Dengan khidmat, dia membungkuk kepada Dewi. "Maaf banget. Aku kelepasan." Sedangkan itu, di balik meja kasir dan bartender Apaja, dua karyawan Devan sedang memandang heran kepada bosnya. "Kayaknya cewek itu deh yang jadi crush-nya Bos." Gavin, lelaki dengan tato mawar kecil di leher kirinya berkomentar. "Baru kali ini gue lihat Bos bisa sekonyol itu." Gadis di samping Gavin mengangguk. "Cowok kalau lagi sama cewek yang disukai mah suka gitu. Kadang enggak bisa ketebak mau jadi apa." "Tapi kata si Anto, ceweknya itu enggak mau jadi pacar Bos karena ada sesuatu. Lo tahu enggak, Jul, itu siapa? Katanya dia tinggal di sekitaran tempat lo." Gadis yang ada di balik mesin kasir itu melihat ke arah bosnya berada. Dengan seksama dia mengamati wajah gadis tersebut. Matanya pun melebar. "Anjir, gue tahu." Gadis itu, Julianza, berseru dengan suara berbisik. "Siapa, Jul? Anjir, gue jadi makin penasaran." "Dia yang bikin restoran di perumahan depan. Iya, gue inget. Tapi, kayaknya hidupnya dia tuh enggak begitu mujur deh. Gue denger gosipnya dari yang punya kontrakan gue tuh kalau dia sebenernya kena gangguan." "Jin?" Gavin hampir berteriak di tengah acara merunduk bersama Julianza. "Mental. Pikiran lo horor mulu." "Ah, masa? Cewek secantik dia masa kena mental? Kenapa Bos mau aja, ya? Kok bisa?" "Enggak ada yang mau kena mental." Bisikan itu membuat Gavin dan Julianza merinding dan hampir berteriak keras. Teriakan mereka tertahan saat merasakan jeweran di telinga mereka. "Ngapain ngurusin kehidupan orang, hah? Enggak ada orang di dunia ini yang pengin hidupnya sengsara. Mereka cuma terima takdir aja." "Iya, Bos. Ampun. Siap salah." Gavin menggosokkan kedua telapak tangannya. Devan yang entah dari kapan memergoki dua karyawannya itu hanya menggeleng. Dia kira Julianza yang cenderung pendiam ini tidak bisa bergosip. Ternyata perempuan sama saja, ya. "Bos, mau tanya." Gavin masih ingin memenuhi rasa penasarannya. "Apa? Enggak buatin pesanan customer lo?" "Tanya sedikit aja. Masa enggak boleh?" "Oke, cepet. Mau tanya apaan?" "Hmm, emangnya Bos suka cewek itu?" Gavin sembunyi-sembunyi menunjuk ke arah Dewi. "Kalau iya kenapa?" Devan malah menantang Gavin sekarang. Gavin menggeleng. "Cantik sih. Tapi judes gak sih? Agak kelihatan soalnya." Hal itu malah membuat Devan tersenyum. "Malah itu pesonanya, Vin." Devan menepuk pundak Gavin. "Lo enggak akan tahu bagaimana dia sebenernya kalau enggak deket sama dia. Awalnya gue kira dia juga judes dan sombong gitu. Tapi, asal lo tahu, hatinya lembut banget." Gavin menelan udah. Dia berpikir dua kali untuk mengatakan sesuatu yang sedang muncul di kepalanya. "Sorry to say, but ... kalau gitu kenapa dia bisa kena mental?" "Karena dia terlalu banyak menanggung semua sendiri. Bahkan takdir pun bikin dia enggak bisa memilih." *** Hanin menatap Anggi dengan ragu-ragu. Dia kaget setengah mati saat melihat temannya itu berdiri di depan pintu kontrakannya. "Gila! Lo habis ke mana aja, sih?" Hanin segera menarik tangan Anggi untuk masuk ke dalam rumah kontrakannya. Dia memeluk gadis itu dengan erat. "Anjir banget. Ngapain juga gue khawatir sama lo." Anggi terdiam di dalam pelukan Hanin. Dia ingin merasakan hangatnya pelukan orang yang benar-benar peduli kepadanya. Ironisnya, pelukan dengan rasa serupa sudah tidak lagi bisa dia dapatkan dari siapa pun kecuali Ryan. Bahkan orang tuanya pun sudah tidak banyak peduli dengan dirinya. "Makasih udah khawatirin gue." Belum juga Anggi membalas pelukan, Hanin sudah melepaskannya dan memberikan tabokan maut di lengan kanan. "Lo yang kabur, gue yang kerepotan, anjir. Gue diteror emak lo jadinya." Anggi tidak jadi menangis. Tadinya dia sudah terbawa suasana dan ingin melepaskan semua kesumpekan yang dia hadapi bersama Ryan beberapa hari ini. Tapi kelakuan Hanin malah membuat semua itu pecah. Sepertinya dia memang tidak diperbolehkan untuk menye-menye. "Emanngnya emak gue ngapain lo?" Anggi memeluk pinggang Hanin, begitu pula sebaliknya. Mereka berdua berjalan ke ruang tengah dan merebahkan diri di sofa empuk nan lebar di sana. Kontrakan Hanin ini memang nyaman sekali. Mana yang punya baik banget pula sudah memberikan banyak fasilitas berupa furnitur yang lebih dari disebut layak. "Nelepon gue terus. Kan, gue bete juga jadinya. Mana kemarin teleponnya pas gue lagi HS sama lakik gue pula." Hanin meletakkan kepalanya di atas perut Anggi. "Sorry, ya, emak gue ganggu acara kalian berdua. Tapi, asal lo tahu, dia sama sekali enggak telepon gue. Emang aneh itu orang." Anggi menerawang. Pandangannya tertuju pada langit-langit rumah yang kosong. Dalam kepalanya, dia sedang membayangkan bagaimana jika dia jadi bergumul dengan Ryan kemarin, sama seperti Hanin yang hidupnya sangat bebas. "Berantem lagi sama orang tua lo?" tanya Hanin peduli. Dia adalah teman Anggi sejak SMA, jadi dia tahu banyak tentang Anggi dan keluarganya. Anggi mengangguk pelan. "Bisa dibilang begitu." "Kok gitu jawaban lo, heh? Emang lo ama orang tua lo lagi ngapain?" Helaan napas berat terdengar dari Anggi. Sebenarnya dia malas untuk mengungkit kejadian beberapa hari ini. Sangat menyakitkan. Akan tetapi, masih ada secercah harapan yang bisa menjadi bahan bakarnya untuk tetap berjuang. "Gue sama Ryan enggak direstuin sama orang tua kita, Nin." "Hah? Kalian berdua udah lamaran?" Hanin sampai terduduk mendengarnya. "Maunya kayak gitu. Gue kira juga bakalan segampang itu buat mendapatkan restu orang tua Ryan, Nin. Ternyata enggak. Kayaknya gue emang enggak ditakdirkan buat bahagia deh." Hanin mengusap wajah Anggi dengan sedikit kasar. Sekarang, kalian tahu, kan, kebiasaan Anggi yang suka main tangan kalau sama Ryan itu bermula dari mana. "Ngawur. Itu bukan berarti lo enggak boleh bahagia, ogeb! Lo harus berjuang dulu buat mengusahaan kebahagiaan yang lebih indah. Kalau kayak mie instan entar kenyangnya sebentar doang." Hanin kembali menyandarkan kepalanya di perut Anggi. "Terus, Ryan kayak gimana? Dia, kan, anak tunggal dan anak orang tuanya banget." Anggi tersenyum. "Untungnya gue enggak salah buat bikin cowok bucin ke gue." "Dia tetep mau perjuangin lo, kan?" Anggi mengangguk. "Bahkan dia rela buat belain gue yang punya keluarga dengan track record buruk di keluarga dia. Dia memandang gue sebagai orang baru yang enggak termasuk dalam permainan bisnis keluarga kita berdua." "Padahal dari awal, lo juga tahu kalau keluarga kalian berdua emang enggak akur dari sononya? Lo emang rada sinting, sih." Hanin mengarahkan telunjuknya ke Anggi dan menempelkan ujung jarinya tersebut di pipi temannya. "Gue capek banget hidup, Nin. Gue enggak ada pilihan lain selain harus keluarin diri dari keluarga gue yang kayak jahannam itu. Gue bakalan keluar dari sana dan ninggalin luka besar. Gue, satu-satunya anak cewek di keluarga gue yang jadi harapan besar orang tua, bakalan dimilikin sama anak dari saingan bisnis terberat keluarga gue sendiri." "Lo gila, sih, emang." Hanin tak habis pikir dengan apa yang ada di kepala Anggi ini. Selalu ada saja gebrakannya. "Gue emang gila. Tapi gue bakalan lebih gila lagi kalau harus menjalani hidup yang enggak pernah gue inginkan ini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD