Perjodohan Sialan

2114 Words
'Pulang ke rumah, atau Ibu bawa orang-orang Ibu ke tempat kamu sekarang?' Tangan Anggi bergetar hebat saat membuka pesan dari ibunya. Air matanya menggenang di pelupuk kemudian mengalir deras menuruni pipinya. Pesan singkat itu mampu membuat hatinya berdegup kencang, napasnya jadi tersenggal. Matanya jadi tidak fokus, pikirannya penuh berkecamuk. "Anggi! Lo kenapa?" Hanin yang baru saja selesai mencuci piring langsung menghampiri temannya. Anggi terlihat pucat, ketakutan. Dia memeluk temannya itu. "Ibu nyuruh gue pulang." Air mata Anggi semakin deras mengalir. "Gue takut digebukin." Hanin mendesis guna menenangkan Anggi. Dia mengusap-usap surai panjang temannya itu. "Tarik napas dulu, Nggi. Keluarin pelan-pelan. Lo tenang aja, ya. Gue bakalan telepon ibu lo dan bilang kalau lo udah ada sama gue." Anggi menggeleng. "Sama aja, Nin. Itu enggak mengubah apa-apa. Gue bakalan tetep digebukin nantinya. Apalagi gue kemarin ke rumah sama Ryan. Bapak marahin gue habis-habisan." Hanin jadi ikutan sumpek. Hatinya gelisah sekaligus khawatir tentang keselamatan temannya ini. Meski ini bukan yang kali pertama Anggi mendapatkan perlakuan tak pantas dengan menerima kekerasa dari orang tuanya, tetap saja dia merasa harus melindungi temannya ini agar hal tersebut tidak terjadi lagi. "Gak papa. We make a deal aja sama ibu lo. Lo pulang ke rumah, tapi lo mau enggak kena tangan siapa pun." Hanin berusaha membuat Anggi percaya diri. Anggi yang dia kenal adalah gadis yang tangguh dan tak kenal takut. Melihat temannya jadi begini sungguh punya rasa sakit tersendiri. Hanin akhirnya menelepon ibu Anggi. Sebisa mungkin dia berbicara kepada wanita itu dengan tenang, tak terkesan menantang. "Halo, Tante. Ini Hanin." Gadis itu dengan nada yang cukup riang menyapa saat sambungan teleponnya terjalin. "Hanin mau ngabarin kalau Anggi sekarang lagi di kontrakan. Kita mau ngerjain tugas bareng, Tante. Jadi, bisa enggak nanti Anggi nginep aja di rumah Hanin?" "Bisa bicara dengan Anggi langsung?" tanya ibu Anggi dengan nada yang tak terbantahkan. d******i auranya terasa meski hanya lewat telepon. Anggi menelan ludah. Begitu juga dengan Hanin. Segera, dia menghapus air matanya dan menenangkan diri. Ibunya sangat benci anak yang cengeng. "Iya, Bu?" Hanin berisyarat kepada Anggi agar menekan tombol loud speaker. Dia juga ingin menyimak percakapan tersebut. "Kenapa harus Hanin yang minta izin?" tanya sang ibu to the point. Dia bukan tipe orang yang suka basa basi. "Kalau aku yang minta, biasanya Ibu enggak bakalan bolehin dan marah. Siapa tahu kalau Hanin yang minta jadi dibolehin." Anggi tidak membahas pesan yang baru saja dia baca dari bilah nafigasi gawainya. Dia berlagak seperti belum membaca itu sama sekali. "Chat Ibu belum masuk ke hp-mu?" "Hmm? Chat apa?" Dengan sekuat hati, Anggi mempertahankan aktingnya. Aslinya, di dalam dadanya sudah ada suara gemuruh detak jantung yang tidak karuan. Dia tahu bahwa sang ibu tidak akan mengungkit hal semenyeramkan itu jika ada orang. "Oh, ya udah. Kamu enggak bisa nginep malam ini. Ibu pulang tadi siang dan nanti malam harus datang ke pertemuan yang udah direncanakan dari bulan kemarin. Kamu harus ikut." Anggi menelan ludah. Masalah akan lebih runyam kalau dia menolak. Ibunya bukan tipe orang yang gampang mengubah nada bicara dan meminta dengan baik seperti ini. Kalau dia melawan, riwayatnya akan habis. "Ketemuan sama siapa?" "Temen Ibu sama Bapak." Anggi memejamkan matanya. Dia sudah bisa mengira keluarganya akan bertemu dengan siapa. "Iya, Bu. Bentar, ya, aku mandi dulu." "Enggak usah. Kamu mandi di rumah aja. Pulang sekarang, ya." Nada bicara ibu Anggi sungguh tidak biasa, terlalu ramah untuk ukuran ibu yang tidak menyukai bahkan menyimpan dendam kepada anaknya. Entah itu berarti pertanda baik atau pertanda buruk. Yang terpenting sekarang, dia harus pulang dan Hanin sudah tidak bisa ikut campur apa pun lagi. *** "Mbak Anggi!" panggil salah satu pembantu keluarga Anggi saat gadis itu sedang memasuki gerbang rumahnya bertepatan dengan adzan maghrib yang berkumandang. Bi Mia, pembantu yang sudah lama bekerja dengan keluarga ini, yang telah merawat Anggi dari kecil, sedang melakukan rutinitasnya yaitu membuang sampah dapur ke sampah depan. Anggi menoleh. Dia langsung berhambur ke pelukan Bi Mia, satu-satunya orang yang memberikannya kasih sayang dengan tulus. "Ibu ada di dalem, Bi?" tanyanya dengan was-was. "Mbak Anggi dianterin siapa? Kok enggak masuk orangnya? Ibu tadi bilang kalau mau ngomong ke Mbak Anggi sama yang anter." Bi Mia tidak kalah resahnya dengan Anggi. "Hanin. Aku suruh dia langsung pulang. Aku enggak mau dia kena semprot Ibu." "Aduh, Mbak Anggi. Bibi ...." Belum saja Bi Mia menyelesaikan ucapannya, sebuah suara yang tidak asing di telinga mereka menyapa. "Anggi? Udah dateng, sayang?" Dua perempuan itu pun menoleh ke asal suara. Ibu Anggi, Tina, sedang berjalan mendekat ke arah mereka. Dia mengenakan gaun hijau lumut yang tampak megah di bawah cahaya lampu taman halaman rumah mereka. senyumnya terlihat sangat hangat menyapa mereka. "Baru pulang? Ayo cepetan masuk dan ganti baju. Jam tujuh kita sudah harus sampai sana." Tina melihat jam tangannya. Anggi merinding. Sikap ibunya yang keras dan tegas kini menjadi lembut. Dia belum pernah dipanggil sayang lagi setelah bertahun-tahun. Kalau dulu, dia akan menyambut panggilan itu dengan senang hati dan riang gembira. Akan tetapi, sekarang panggilang lemah lembut itu malah terasa seperti benda tajam yang siap mengiris. Sangat mengerikan. "Iya, Bu." Anggi mengangguk saja. Dia melepaskan genggaman tangan Bi Mia dan beranjak untuk memasuki rumahnya. Ternyata kekagetannya tidak hanya berhenti di situ. Saat memasuki kamar, matanya langsung disambut dengan jajaran gaun yang dia yakin tidak ada satu pun yang murah. Warna-warnanya juga hampir sama, gradasi antara hijau dan biru. Sialnya, itu bukanlah warna yang masuk dalam seleranya. "Pilih salah satu gaun yang menurut kamu bagus." Suara sang ibu kembali menyapa. Wanita itu sudah berdiri, bersandar di kusen pintu. "Kalau saranku, sih, kamu pilih warna yang agak terang. Dia enggak terlalu suka warna-warna kelam soalnya." Dia ... Anggi menghela napas dalam dan mengeluarkannya dengan sedikit kasar. Dia yang dimaksud oleh ibunya pasti orang yang akan dijodohkan dengannya. Orang yang sudah dikenalnya sejak SMA, lebih tepatnya orang yang dibidik oleh kedua orang tuanya agar menjadi batu loncatan bisnis keluarganya yang bisa dibilang sedang menyusut, hampir berada di ujung tanduk. "Aku bebas pilih perhiasan, kan?" Anggi ingin mencari celah untuk tetap mempertahankan jati dirinya yang ingin memberontak. Dia tidak melihat ada kotak perhiasan baru di atas meja riasnya. "Whatever. Ibu enggak mau kamu mempermalukan keluarga setelah kemarin kamu malah membawa hama masuk ke rumah ini." Pintu kamarnya ditutup. Perkataan Tina memang terdengar lembut dengan nada yang biasa, tapi sangat tajam di telinga dan hati. Anggi harus menahan kekesalannya agar tidak bertindak seenaknya dan bisa berujung dipukuli oleh orang tuanya. Dia sudah capek mendapatkan berbagai siksaan secara fisik dan verbal. Untuk kali ini dia akan menurut. Tapi, bukan Anggi kalau tidak bermain cerdik. Alih-alih memakai kalung yang berliontin inisial namanya, dia lebih memilih untuk menghiasi lehernya dengan inisial kekasihnya, Ryan. Dia ingin menunjukkan bahwa bukan hanya orang tuanya yang bisa berbuat seenaknya. Dia juga bisa membelot dengan halus. Ditambah lagi gaun yang dia kenakan adalah biru langit malam, bertolak sekali dengan anjuran sang ibu. Akan tetapi pilihannya itu tetap membuat wajah ayu khasnya tetap terlihat sempurna. Semua pilihannya mungkin tidak begitu disukai oleh ibunya, tapi bisa membuat mata empat anggota keluarga yang ditemuinya malam ini terpukau. "Anggi semakin cantik, ya, Papa. Enggak salah kita dulu memilih calon buat anak kita." Itu adalah komentar dari nyonya besar keluarga calon Anggi, Puspa. "Pilihan Papa itu, Ma. Dulu Mama juga sempat enggak setuju gitu loh waktu Papa bilang kalau kita mau menjodohkan Suhono dengan salah satu cucu keluarga Agustinus." Itu adalah fakta yang diucapkan oleh tuan besar ketiga dari salah satu keluarga yang terpandang di kota, Keluarga Baskara, sepupu dekat keluarga Anggari. "Suhono sendiri bagaimana? Anggi terlihat cantik atau tidak?" Bagi Tina, yang terpenting adalah pendapat Suhono, calon mantunya. Jika lelaki itu tidak senang, batal sudah perjodohan ini. Anggi sedikit tersenyum miring sambil sedikit menunduk. Dalam hati dia sudah kegirangan karena berhasil memilih outfit yang berseberangan dengan selera orang yang akan dijodohkan dengannya. Dia berharap pilihannya ini membuat kesan buruk di mata lelaki itu. "Cantik." Anggi segera mengangkat wajahnya tak percaya. Pandangannya langsung bertemu dengan tatapan memuja dari lelaki yang ada di seberang tempat duduknya. Senyuman manis nan lembut yang diberikan untuknya itu terlihat sangat memuakkan. Dia benci. "Tapi, bukannya kamu enggak suka warna yang agak gelap, ya?" Tina memastikan bahwa kata 'cantik' yang dia dengar bukan ilusi pendengaran belaka. Senyumnya sudah mengembang hampir sempurna sekarang. Lelaki itu, Suhono, menggeleng pelan sambil tetap memandang Anggi dengan penuh makna. "Anggi memang cocok dengan baju yang berwarna agak gelap. Tapi, apa pun yang dipakai Anggi, aku rasa bakalan cocok aja dan semakin menambah kesan menawan buat dia." Senyum di bibir Tina merekah sempurna sekarang. Begitu pula dengan semua yang ada di meja makan ruangan privat restoran bintang empat ini. Kecuali sang bintang bersinar yang ingin meredupkan sinarnya, Anggi. Gadis itu menggenggam tangannya di bawah meja, berusaha sebisa mungkin meredam kekesalannya. "Kalau aku punya kakak cewek kayak Kak Anggi, aku enggak bakalan segan-segan buat kenalin ke temen-temenku." Kini giliran Hanum yang berbicara. Dia adalah adik Suhono, gadis yang tak jauh umurnya dengan Anggi. Dia masih duduk di bangku terakhir SMA. "Cantik manis soalnya." Anggi tersenyum dengan terpaksa. Dia harus bersikap baik dan menahan diri. Kalau tidak, neraka di rumah akan menanti. "Omong-omong, Suhono ini benar-benar hebat loh, Pak." Tina melancarkan jurus memujinya untuk bisa mengambil hati keluarga Baskara. "Di umur segini udah jadi dosen dan selesai S3. Pasti banyak banget, ya, yang harus dilakuin. Sibuk banget. Makasih loh udah meluangkan waktu untuk bertemu." Suhono tersenyum. Ada lesung pipi yang menyembul. "Makasih, Tante. Tapi, aku enggak akan keberatan untuk meluangkan waktu demi bertemu sama calon rumahku. Aku juga harus bener-bener selektif juga, kan, untuk memilih siapa yang akan menjadi sandaran selama hidup." Tina semakin kegirangan. Dia tertawa dengan sedikit menutupi mulutnya dengan jemarinya. "Astaga. Tante mimpi apa selama ini kok bisa punya calon mantu yang keren kayak gini." "Jarang banget, loh, Jeng, Suhono bicara kayak gitu." Puspa memberikan komentar. Dia juga tidak kalah senangnya dengan Tina. "Aku yang jadi ibunya dia aja sampe enggak nyangka dia bisa bilang hal seromantis itu." "Ma ... Please, lah." Suhono merajuk, membuat dua wanita itu semakin gemas dengan kelakuannya. Berbeda dengan Anggi yang sangat ingin sekali untuk membalik meja makan ini. Dia muak dengan drama sok ramah ini. Pun dia merasa harga dirinya sungguh direndahkan. Hanya karena mempunyai paras yang cantik, bukan berarti dia bisa dijadikan bahan pembicaraan menyebalkan seperti ini. "Dari tadi Anggi cuma diam aja. Kamu enggak enak badan, nak?" Gunawan, ayah Suhono, merasa ada yang salah dengan Anggi. Gadis itu seperti tidak diberi panggung untuk bicara di setiap pertemuan keluarga. Anggi tersenyum simpul. "Enggak, kok, Om. Aku baik-baik aja." Perkataan tulus itu menjadi perasaan kesal saat sang ibu dengan sembunyi-sembunyi mencubit lengannya dari balik meja. Itu adalah isyarat bahwa dia harus bersikap lebih baik lagi tapi versi ibunya. Anggi menggigit bibir bawahnya bagian dalam, menahan sakit yang nyelekit di lengan juga dalam hatinya. Bisa-bisanya ada orang tua yang menjadikan anaknya umpan untuk meraup keuntungan seperti ibunya ini. "Beneran? Kalau emang enggak enak badan, kamu ngomong aja. Enggak papa, kok." Puspa berucap dengan raut wajah khawatir. Jujur saja, Anggi bingung harus bersikap bagaimana. Satu sisi dia memaknai ucapan tersebut sebagai bentuk peduli tapi di sisi lain mungkin saja ibu Suhono ini sedang menyindirnya. Dia mempunyai jalan pemikiran demikian karena sering melihat ibunya sendiri yang seakan mempunyai dua kepribadian dalam satu waktu. Gadis itu pun hanya tersenyum dan menggeleng pelan. Hal itu membuat Tina semakin kesal dengan anaknya. Sikap demikian bukanlah sikap elegan. Tina benci anaknya yang tidak bisa bersikap dengan baik. Lebih lagi di depan orang penting seperti ini. Sangat memalukan di mata Tina. "Anggi, butuh ambil udara segar?" Suhono mengambil langkah dengan sigap. Anggi menaikkan alisnya, tak percaya sekaligus tertegun bahwa dia sedang diajak bicara. "Iya?" "Mau ambil udara segar enggak? Aku temenin." Sebelum ada yang berbicara di antara kedua keluarga, Suhono sudah terlebih dahulu berdiri dan menghampiri Anggi. Dia membentangkan kedua telapak tangannya kepada gadis itu. Mau tak mau, Anggi harus menyambutnya. Dia meraih tangan Suhono dan berdiri bahkan sebelum ada komentar dari dua wanita yang biasanya lebay tentang hal beginian. Suhono menggenggam tangan Anggi dan membawanya keluar dari ruangan privat itu. Anggi berjalan di sampingnya, mengekor ke mana pun Suhono pergi hingga mereka sampai di sebuah taman di restoran. Anggi langsung melepaskan tangannya. "Seharusnya kamu berterima kasih karena aku menyelamatkanmu dari ibumu." Anggi yang sedari tadi enggan melihat ke arah lelaki itu, kini menatapnya dengan tanda tanya. Suhono menghela napas dan memasukkan tangannya di saku. "Yah, aku tahu ibumu sangat kejam. Maka dari itu aku mengajakmu keluar." "Apa urusannya?" Suhono menarik ujung bibirnya ke bawah sambil mengedikkan bahu. "Setidaknya dengan aku berinisiatif begitu kamu bisa terjauhkan dari omelan ibumu. Lagipula kerjaanku juga menumpuk untuk sekedar basa basi begini." Anggi mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Ternyata lelaki yang dijodohkan dengannya ini sangat menyebalkan. "s**t-lah. Perjodohan sialan," batinnya mengumpat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD