Usai makan malam, aku dan Mas Albi melanjutkan sesi dating kami ke sebuah hotel yang ada di jantung kota. Hotel itu mewah dan baru dibangun, lokasinya strategis dan menjangkau banyak tempat, juga fasilitasnya lengkap. Kami sampa di meja resepsionis setelah lima menit berkendara, kutunjukkan tanda pengenal dan memberi tahu kalau aku sudah reservasi sebelumnya. "Oh, atas nama ibu Aini lestari ya?" "Iya, betul." "Baik, Bu. Ini kuncinya, kamar nomor seratus, naik ke lantai tiga lorong sebelah kiri," ujar pegawai muda berpakaian ungu itu. "Terima kasih, Mbak." "Dengan senang hati ibu," jawabnya. Kususuri lorong, beriringan dengan Mas Albi kami temukan kamar dan langsung memutar kunci untuk membuka pintunya. Saat pertama kali masuk, aroma bunga dan buah segar pengharum udara menghampi

