"Astaghfirullah, Pak, kendalikan dirimu," ucap Istri ayahnya Filza sambil mengelus d**a sang suami. "Kenyataannya ... andai dia paham, bahwa Albi bukan miliknya saja, maka sudah barang tentu, dengan sendirinya dia mengerti bahwa ada waktu dan perhatian yang harus dibagi." "Tapi, kau serakah!" ujar ayah Filza dengan mata merah dan suara meninggi, aku sampai tersentak dan syok mendengarnya. Dia ingin maju dan menyerangku tapi istrinya menahannya. "Maaf, saya tidak serakah Pak. Perkara Mas Albi lebih banyak di rumah, itu karena dia merasa ingin ada di sini. Saya tidak pernah memaksanya datang apalagi sampai menginginkan sebuah jarak antara Albi dan Filza. Jaga tuduhan Anda!" Aku heran sekali dengan sekeluarga Filza ini, mengapa masalah yang sedang mendera mereka akibat perbuatan sendiri

