Senin berikutnya aku dan ibu memutuskan untuk pergi ke pengadilan agama untuk memasukkan gugatan perceraian kami. Sudah panjang pikiran tentang masa depan dan berbagai hal kemungkinan yang akan terjadi. Semuanya sudah aku diskusikan dengan kedua orang tuaku dan kupikir sendiri masak-masak. Sekarang Di sinilah kami berdiri di depan gedung berlantai 3 dengan tulisan pengadilan agama. Kuambil nomor antrian dengan perasaan berdebar, di kursi tunggu ada beberapa wanita yang terlihat juga memegang berkas mereka. Nampaknya bukan aku saja yang akan memasukkan gugatan perceraian hari ini dan rupanya, bukan cuma aku satu-satunya wanita yang tidak bisa bertahan setelah panjangnya perjuangan. Mungkin, ini titik balik yang akan mengubah semuanya atau membawaku kepada jalan cerita yang baru dalam lemba

