Happy Reading.
*
Jimin masih memikirkan kejadian seminggu yang lalu dimana Aliya yang histeris melihat boneka barbie. Entah kenapa fikiran itu selalu mengganggunya akhir-akhir ini. Bayangan Aliya yang menangis histeris masih terekam jelas diingatanya dan Jimin tidak bisa melupakan itu begitu saja.
"Apa ini?" Tanya Jimin frustasi.
"Mana ada orang yang berbeda dan memiliki ketakutan yang sama. Tidak masalah jika hanya satu, tapi ini semua" Jimin menghela nafas pelan.
"Kenapa hidupku dipenuhi dengan masa lalu" lirih Jimin.
"Masuk" seru Jimin saat mendengar suara ketukan pintu.
"Nuguseyo?"
*
Aliya hanya diam membeku saat menemukan mawar hitam dalam tasnya. Wajahnya pucat pasi dan keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya.
"Ini siapa?" Lirihnya sambil mengambil bunga mawar hitam yang hanya tinggal tersisa beberapa kelopak saja.
"Apa ini?" Aliya tidak bisa menebak ini. Kenapa akhir-akhir ini dirinya selalu dihadapkan dengan ingatan masa lalu yang ingin ia lupakan, tapi kenapa itu datang lagi.
"Sebenarnya apa yang diinginkan dariku? Aku tidak memiliki musuh dan aku tidak merasa menyakiti hati orang! Dan kenapa ada teror lagi untukku?" Aliya menangis. Ia takut, sangat takut malah. Kejadian 3 tahun yang lalu, kejadian dimana hampir merenggut nyawanya dan Aliya berhasil lolos. Tapi kenapa muncul lagi.
"Apa aku harus jujur" Aliya menyentuh bagian perut bawahnya.
"Aku tidak mau terluka lagi!" Isak Aliya.
*
"Mwo?" Tanya Jimin terkejut.
"Aku tidak salah dengarkan?" Tanya Jimin tidak percaya.
"Ani Oppa!" Tegas Lisa.
"Kenapa aku tidak tahu?" Tanya Jimin pada Lisa.
"Aliya membuat kami berjanji untuk tidak memberitahumu" jawab Lisa. Jimin mulai memikirkan apa yang dikatakan Lisa, 3 tahun yang lalu Aliya mengalami teror terus menerus dan membuat Aliya sempat frustasi dan Jimin tidak tahu sama sekali.
"Apa saja yang dikirim?" Tanya Jimin ingin tahu.
"Mawar hitam, sengaja menaruh Udang dimakanan Aliya, dan Boneka Barbie" jawaban Lisa membuat Jimin kaget.
"Boneka Barbie? Seminggu yang lalu saat kami berkencan ada yang sengaja melempar boneka Barbie pada Aliya" kata Jimin.
"Mwo?"
*
Jimin berlari masuk kerumah dengan tergesa-gesa setelah mendengar kabar dari Ahjumma Jung yang bilang jika Aliya masuk kerumah dengan keadaan kacau.
Brak. "Aliyya" Jimin mendobrak pintu dan menemukan Aliya yang tengah meringkuk memeluk lututnya diatas ranjang dengan keadaan kacau.
"Aliya!" Jimin berlari melompat keranjang dan memeluk Aliya.
"Oppa Hiks" tangis Aliya pecah saat Jimin memeluknya.
"Shut! Gwenchana" Aliya mencengkram kuat kemeja depan Jimin. Tubuhnya bergetar hebat dengan isak tangis yang terus terdengar dari bibirnya.
"Oppa aku takut hiks!" Jimin mengeratkan pelukanya pada Aliya.
"Ada Oppa tenang saja!" Kata Jimin.
"Apa yang harus kulakukan?" Jimin melepas pelukanya dan membawa wajah Aliya untuk menatapnya. Menatap mata Aliya dengan tatapan memohon
"Bisakah kita saling terbuka? Entah itu masa lalu atau apapun! Kita sudah menikah dan tidak ada dari kita yang tahu masa lalu masing-masing. Kita bukan orang asing Aliya. Kita suami-isrti, dan sudah seharusnya kita saling terbuka. Please, maukah kau berkata jujur tentang masa lalumu pada Oppa?" Mohon Jimin pada Aliya.
"Aku takut!" Lirih Aliya.
"Tidak ada yang perlu kau takutkan! Ada Oppa didepanmu, selalu didepanmu! Kau mengertikan?" Aliya menatap ragu kearah Jimin. Ia sangat takut, masa lalunya bukan hal yang mudah dibongkar, ia takut jika hal kelam itu kembali terulang.
"Please Aliya~~~"
*
"Apa lagi?" Tanya Namja itu sinis.
"Rumahnya!" Jawabnya sekartis.
"Rumah? Tidak! Kau ingin aku tertangkap lagi?" Teriak Namja itu keras.
"Tidak akan! Dia sendirian dan tidak dalam pengawasan siapapun, seperti dulu!" Kata Wanita itu.
"Aku tidak peduli! Aku tidak akan sudi memasuki rumahnya. Cukup sekali aku ketahuan dan aku tidak mau lagi. Fikirkan cara lain" Wanita itu mendengus kesal.
"Ikuti dia! Kemanapun! Kemanapun. Dan jangan membantah jika kau ingin selamat" desis wanita itu sambil berlalu.
"Brengsekkk!"
*
"Aku penah disekap digudang tua oleh sepasang wanita dan pria tapi aku tidak tahu siapa mereka!" Jimin masih diam memperhatikan Aliya yang bercerita.
"Mereka tidak melukaiku sama sekali tapi mereka hanya mengambil kalungku" Jimin menatap Aliya bingung.
"Kalung?" Tanya Jimin.
"Ya! Kalungku dari umur 5 tahun yang kupakai!" Kata Aliya lirih.
"Umurku menginjak 16 tahun dan aku mulai mendapat teror, tapi aku tidak berkata jujur pada siapapun termasuk keluargaku. Setiap hari ada kiriman mawar hitam dan boneka barbie. Awalnya hanya boneka barbie biasa, tapi lama kelamaan menjadi boneka yang mengerikan. Kepala putus, lengan putus dan lainya. Bahkan ada yang tinggal satu matanya. Dan itu juga alasan kenapa aku membenci boneka barbie" Aliya menarik nafasnya panjang.
"Hampir setiap hari dimakanan ku ada udang dan hampir setiap hari pula aku harus mengalami sesak nafas karena tidak sengaja memakanya" Mata Aliya mulai berkaca-kaca.
"Hari itu tiba saat dimana ulang tahunku yang 18. Ada pesta dan semua diundang, dan aku tiba-tiba tidak sadar dan saat aku sadar aku sudah berada digudang tua. Ada dua orang, wanita dan pria. Mereka tidak melukaiku tapi mereka terus melakukan mutilasi pada boneka Barbie didepanku. Penyekapan itu tidak berlangsung lama, karena ada seorang Namja yang menyelamatkanku. Namja itu mengeluarkanku dari sana tapi dia terkena tusukan pada perutnya" Air mata Aliya mulai jatuh.
"Dia mengantarku pulang dan mengabaikan luka pada perutnya dan setelah itu aku tidak pernah melihatnya lagi" Jimin menatap Aliya dalam.
"Bagaimana bentuk kalung itu? Dan siapa Namja itu?" Tanya Jimin serius.
"Oppa!"
"Answer Me Aliya" tekan Jimin. Aliya menatap Jimin takut.
"Bintang dan Lee Jiyo" dua kata yang sukses membuat Jimin menatap Aliya tidak percaya.
"Lee Jiyo? Kau mengenalnya?"
*
Jimin memandang bulan dengan pandangan sendu dengan Aliya ada dipelukanya. Mereka tidak tidur tapi juga tidak saling berbicara.
"Lee Jiyo menyukaimu?" Tanya Jimin kosong.
"Apa aku harus menjawabnya?" Lirih Aliya menelusupkan kepalanya lebih dalam dipelukan Jimin.
"Ya!" Aliya menghela nafas pelan.
"Ya dia menyukaiku! Dia satu angkatan dengan Taehyung Oppa, dan hanya berjarak satu tingkat denganku. Setiap hari dia mengirimi aku mawar dan coklat dan setiap hari pula dia menyingkirkan anak-anak yang mengganguku. Hari itu malam sebelum ulang tahunku dia mengutarakan perasaanya padaku dan malam saat pesta dia tidak datang, dia yang menyelamatkanku saat diculik dan dia mengalami luka tusukan pada perutnya" Jimin mengeratkan pelukanya pada Aliya berharap bisa menghilangkan keresahan dalam hatinya.
"Keluargamu tahu jika Lee Jiyo yang menyelamatkanmu?" Tanya Jimin.
"Ani!" Jawab Aliya singkat.
"Wae?"
"Dia yang memintaku untuk merahasiakan ini. Taehyung Oppa tidak terlalu menyukainya, dia misterius dan itu yang Taehyung Oppa tidak suka" jawab Aliya.
"Dia tahu kau diteror?" Tanya Jimin.
"Nugu?"
"Lee Jiyo?"
"Tidak! Tidak ada yang tahu jika aku diteror termasuk Taehyung Oppa dan yang lain. Aku menyembunyikan semua sampai ada satu kejadian dimana ada seseorang dengan sengaja melempariku boneka Barbie dari atas atap dengan mawar hitam dan siangnya aku masuk rumah sakit karena makan udang lagi. Dan itulah saat semua sadar jika aku diteror" jawab Aliya.
"Taehyung?"
"Membatasi gerakku dan lebih menjagaku!" Jawab Aliya.
"Kau punya musuh?" Aliya menggeleng.
"Aku tidak punya musuh sama sekali. Aku pendiam dan hanya Yerim, Tzuyu dan Lisa Eonni temanku dan tidak ada yang lain" jawab Aliya.
"Kau sering mengikuti acara sekolah atau kejuaraan sekolah?" Tanya Jimin lagi.
"Hampir setiap saat. Entah itu lomba akademi atau non akademi. Pasti aku yang dikirim" jawab Aliya.
"Itu lah alasanya. Kau tidak merasa memiliki musuh tapi kesempurnaan yang kau miliki membuat orang iri. Kau sempurna, kaya, cantik, dan berbakat. Itulah alasan kenapa ada yanh menerormu!" Kata Jimin.
"Apa ada hubunganya?" Tanya Aliya bingung. Jimin masih diam sambil memperhatikan bulan dengan kosong dan sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan yang Aliya lontarkan.
"Ada! Buktinya jika diperhatikan secara jeli, masa lalumu dan masa laluku terlihat sama dan saling berhubungan. Entah ini tidak disengaja atau memang disengaja. Dan perlu kau tahu. Kalian ber-3 sama. Keduanya masuk kedalam hidupku lebih dulu dan kau yang terakhir. Dan juga ada satu hal yang kau tidak tahu Lee Jiyo adalah mantan temanku. Mantan" monolog Jimin dengan mengeratkan pelukanya pada Aliya.
"Oppa!" Panggil Aliya.
"Mwo?"
"Apa aku salah?" Tanya Aliya.
"Salah apa?" Tanya Jimin lagi.
"Jika ingin kembali kemasa lalu dan mengunkap apa yang terjadi? Aku lelah hidup dengan berbagai teror" Jimin menatap Aliya dalam dan lembut.
"Boleh asal Oppa yang ada didepanmu. Kau tidak bisa sendirian karena Oppa tidak ingin ada yang melukaimu" Jimin menunduk untuk memanggut bibir merekah Aliya dan Aliya hanya bisa membalasnya. Ciuman manis, tapi ada keraguan dan ketakutan disana. Jimin melepas pagutanya dan menatap Aliya lembut, tanpa berbicara apapun, Jimin mengangkat tubuh Aliya berjalan kearah kamar mereka.
"Katakan iya disetiap permintaanku dan jangan lakukan apapun tanpa persetujuanku"
"Ada gunanya?"
"Sangat! Karena aku tidak ingin kau terluka. Ingat itu!"
T.B.C