Happy Reading.
*
Aliya meringsek memeluk Jimin dengan erat, wajahnya yang sebab dan basah disembunyikan didada bidang Jimin, sedangkan yang dipeluk hanya bisa mengusap lembut punggung Aliya dan menenangkan Aliya yang sedang menangis.
"Uljima, masih ada kesempatan yang lain" kata Jimin menenangkan dan Aliya juga semakin terisak.
"Sayang!" Jimin mengangkat wajah Aliya dan menarik dagu Aliya untuk menatapnya.
"Aku sudah bilang jika kau jelek saat menangiskan?" Kata Jimin.
"Oppa!" Rengek Aliya.
"Benar Sayang! Lihat saja wajahmu" Aliya melepaskan tangan Jimin dari dagunya dan kembali menelusupkan wajahnya didada Jimin.
"Ayolah Aliya itu hanya perusahaan kecil" kata Jimin.
"Aku tahu. Tapi aku memang ingin kesana" Aliya gagal masuk seleksi ke Han Group karena desainya yang kurang memuaskan, memang sih dapat nilai A tapi ada yang dapat nilai A+ dan tentu saja Aliya kalah dengan nilai A+.
"Kau bisa bekerja diperusahaan Oppa!" Kata Jimin.
"Tidak mau!" Jawab Aliya cepat.
"Wae?" Tanya Jimin bingung.
"Oppa mesum dan jika aku bekerja disana Oppa pasti hanya akan merecokiku dan memaksaku untuk itu terus dan sialnya aku juga selalu bilang iya karena aku juga mau" Jimin terbahak mendengar jawaban frontal Aliya. Benar-benar tidak bisa berbohong.
"Kim's?" Aliya kembali menggeleng.
"Jika disana aku akan menjadi Putri dan pasti akan banyak yang memperlakukan aku istimewa karena aku anak bungsu dari Kim's dan aku tidak mau itu. Aku ingin bekerja seperti orang biasa. Tanpa ada embel-embel Kim's dan kekuasaan yang lainnya" Jimin mengusap lembut rambut hitam Aliya. Takjub dengan kepribadian Aliya yang mau berusaha tanpa bantuan Ayahnya dan Saudaranya.
"Ya sudah jika tidak mau" kata Jimin menyerah.
"Ck aku jadi pengangguran" kesal Aliya bangkit dari posisinya.
"Tidak masalah! Ada Oppa yang siap menghidupimu" kata Jimin bangkit dari posisi berbaringnya.
"Itu harus, Oppa suamiku" ketus Aliya sambil turun dari ranjang.
"Eodi?" Tanya Jimin.
"Dapur, aku lapar dan mau makan!" Ketus Aliya.
"Hei Oppa ikut"
*
"Jadi bagaimana?"
"Sesuai permintaanmu!" Kata Namja itu datar.
"Bagus!" Wanita itu menyeringai sinis.
"Selesaikan ini cepat! Aku tidak mau terlibat lebih jauh dalam rencana kotormu itu" desis Namja itu tajam sambil berlalu.
"Tidak secepat itu! Aku harus mendapatkan apa yang kuinginkan!" Desis wanita itu sambil meremas kertas yang ada dipeganganya.
*
"Buka mulutmu" Aliya membuka mulutnya saat Jimin menyuapkan Babingsu padanya. Tidak ada makanan dirumah dan Aliya jadi makin emosi. Akhirnya Jimin mengajak keluar dan mereka ada dikedai Babingsu setelah dari Caffe.
"Jalan-jalan atau pulang?" Tentu saja Aliya memilih opsi yang pertama. Aliya bosan dirumah dan lagi pula Aliya juga butuh hiburan dan jalan-jalan dengan Jimin juga tidak buruk.
"Eodi?" Tanya Aliya. Jimin tampak berfikir.
"Ice Scating?" Aliya mengangguk semangat.
*
"Apa ini?" Tanya Lisa pada Tzuyu.
'"Entahlah Eonni, aku menemukan ini ditas Aliya tadi!" Kata Tzuyu.
"Tas Aliya? Hei jangan bercanda? Aliya takut dengan ini!" Kata Lisa.
"Itulah yang aku maksud! Kenapa benda ini bisa sampai ditas Aliya. Pasti ada yang sengaja menaruhnya" kata Tzuyu sambil memperhatikan boneka barbie dengan kepala yang terputus. Aliya tidak suka barbie sangat tidak suka malah. Jika Aliya melihat boneka barbie Aliya akan histeris, itu boneka utuh dan bagaimana jika Aliya melihat boneka barbie dengan kepala terputus? Bisa pingsan ditempat Aliya.
"Dia diincar seseorang" desis Lisa. Mengenal Aliya sebagai adik iparnya membuat Lisa sadar jika banyak orang yang tidak suka pada kesempurnaan yang Aliya miliki.
Terlihat tegar dan kuat, Aliya tidak lebih dari seorang yang lemah dan penakut jika dilihat dengan mata yang jeli. Aliya alergi udang, Aliya bisa diopname jika sampai satu udang masuk kedalam mulutnya. Aliya akan menangis histeris saat melihat boneka barbie.
"Kau ingat dengan kejadian 3 tahun lalu kan Tzu?" Tzuyu mengangguk. Kejadian dimana ada yang meneror Aliya dengan terus mengirimkan boneka barbie dan juga mawar hitam. Dan saat itu ada juga yang sengaja menaruh udang dimakanan Aliya, padahal sudah diperingatkan jika tidak ada udang yang boleh ada dipiring Aliya.
"Apa teror yang sama?" Tanya Tzuyu penuh selidik.
"Aku tidak tahu, tapi kemungkinan juga benar" balas Lisa.
"Kita diam Eonni?" Lisa menggeleng tegas.
"Kita beritahu yang lain!" Tegas Lisa.
"Jimin Oppa?" Tanya Tzuyu.
"Boleh! Jimin Oppa yang harusnya lebih waspada" kata Lisa.
"Kita beritahu Jimin Oppa!"
*
"Yakh sakit!" Teriak Aliya saat ia kembali terjatuh dipermainan Ice Scating.
"Pelan-pelan Aliya" instruksi Jimin.
"Sudah, tapi susah!" Kesal Aliya sambil mencoba berdiri.
"Sini kubantu" Jimin memegang tangan Aliya dan Aliya dengan senang hati menerima uluran tangan Jimin.
"Pelan-pelan" Aliya mengangguk dan mulai bergerak.
"Oppa pegang!" Jimin mengeratkan pegangnya.
"Sudah?" Tanya Jimin.
"Belum! Oppa pegang aku sampai bisa" kata Aliya.
"Lalu kapan aku mainnya?" Tanya Jimin kesal.
"Nanti setelah aku capek. Oke?" Jimin menggeleng tidak percaya atas jawaban polos Aliya.
"Ck yang benar saja" kata Jimin kesal.
"Ish Oppa diam!" Kata Aliya sambil terus bermain.
"Kulepas juga jika begini!" Aliya langsung memeluk Jimin erat.
"Boleh lepas jika begini" kata Aliya manja.
"Ck apa gunanya? Sama saja tambah beban" Aliya tersenyum dan menunjukkan senyum manisnya.
"Pegang saja Nde!" Aliya kembali bermain dan Jimin juga kembali memegang Aliya. Mereka terus bermain sampai teriakan Aliya membuat Jimin kaget.
"Kya Apa ini?" Aliya hampir terjatuh dan Jimin dengan cepat menahan tubuhnya. Sontak Aliya memeluk Jimin dengan tubuh bergetar.
"Ada apa?" Tanya Jimin bingung.
"Disana" mata Jimin melebar saat melihat boneka barbie yang terletak tidak jauh dari Aliya.
"Boneka?" Tanya Jimin kosong.
"Aku takut Hiks!" Isakan Aliya membuat Jimin kaget.
"Kau takut boneka?" Tanya Jimin pelan.
"Hiks! Aku takut! Hiks! Tae Oppa! Hiks!" Tubuh Jimin lemas mendengar jawaban Aliya dalam isakanya.
"Seolmma" lirih Jimin. Dan tidak jauh dari mereka ada orang yang tampak menyeringai dan berjalan menjauh dari Jimin dan Aliya.
"Kita mulai Nona Muda Aliya Kim" desisnya tajam.
T.B.C