5

2587 Words
Happy Reading. * Aliya hanya manatap malas Jimin yang sedang sibuk dengan berbagai peralatan dapur. Aliya malas memasak dan akhirnya Jimin yang turun tangan sendiri. Aliya masih kesal dan bad mood karena ulah Lee Yumi. Aliya harus memulai pekerjaan mendesainya dari awal dan ia harus menyelesaikanya selama 4 hari. Ck apa mereka fikir Aliya itu mesin? Membuat Desain pusat perbelanjaan bukan hal yang mudah dan butuh waktu berminggu-minggu untuk menyelesaikanya. Untung Jimin mau membantu, jika tidak mungkin Aliya sudah kesetanan sendiri. "Sudah melamunya hem?" Aliya membuang mukanya kesal. Jimin yang melihat itu hanya tersenyum dan mengecup gemas pipi Aliya. "Cha makanlah!" Kata Jimin sambil menyerahkan sepiring nasi goreng kimchi dengan telor mata sapi. Sederhana memang tapi jangan tanya rasanya, kata Jimin enak sih tapi kalau Aliya, Jimin tidak bisa menebak. "Habiskan Nde!" Jimin meninggalkan Aliya dan kembali kedapur untuk membersihkan sisa kotoran bekas memasaknya tadi. "Oppa!" Panggil Aliya. "Hem!" Jawab Jimin tanpa menoleh. "Tidak kerja?" Tanya Aliya. "Ani! Oppa libur, wae?" Tanya Jimin. "Tidak papa, aku hanya bertanya" jawab Aliya yang sudah ada dibelakang Jimin. "Sini biar kucuci" Aliya menggeleng dan berjalan menuju washtafel. "Aku bisa sendiri" Aliya mulai mencuci piring bekas makanya. Terlihat sangat manis dan imut. Jimin tidak bisa menyiayiakan kesempatan untuk memeluk Aliya dari belakang. "Mwo?" Tanya Aliya saat Jimin memeluknya dari belakang dan jangan lupakan dagu Jimin yang ada dipundaknya. "Hanya ingin memelukmu" kata Jimin singkat. Menelusupkan wajahnya keceruk leher Aliya. "Oppa ada-ada saja" Aliya kembali meneruskan pekerjaanya. "Oppa geli" kata Aliya saat Jimin dengan sengaja meniup telinganya. "Tapi kau sukakan?" kali bukan hanya meniup, Jimin juga melumat cuping Aliya. "Oppa!" Aliya menggigit bibir bawahnya saat Jimin memasukkan lidahnya kedalam telinganya. Hei ini geli dan nikmat. "Wae?" Jimin semakim gencar menciumi telinga Aliya dan Aliya juga semakin menggigit bibirnya agar desahanya tidak lolos. "Kau menahanya hem?" Tanya Jimin saat merasakan jika tubuh Aliya bergetar. "Anih!" Tuh kan desahan Aliya akhirnya lolos saat Jimin mengigit lehernya. "Aku benarkan?" Jimin membalik tubuh Aliya dan mengangkat tubuh Aliya untuk duduk diwashtafel. "Oppa" Jimin tersenyum saat melihat wajah memerah Aliya. Malu tapi sangat Sexy. "Come on Baby ini sudah biasa dan kau masih saja malu?" Aliya semakin menuduk saat mendengar ucapan Jimin. "Mau lagi hem?" Jimin menurunkan resleting celana Aliya pelan. "Tapi ini masih pagi!" Kata Aliya sambil menahan tangan Jimin yang ada diresletingnya. "Kita pernah melakukanya" kilah Jimin. "Ya tapi ini dapur" kata Aliya lagi. "Wae? Banyak yang melakukan ini" Aliya memejamkan matanya saat Jimin menelusupkan tanganya pada celana selutut Aliya yang sudah sampai paha bawah. "Oppahh!" Jimin tersenyum mendengar desahan Aliya. "Hem! Oppa dengar Sayang!" Jimin mencium lembut bibir Aliya dan Aliya hanya bisa membalasnya. Ciuman Jimin sangat nikmat dan memabukkan. "Sh!" Jimin melingkarkan kaki Aliya dipinggangnya membuat daerah selangkangan Aliya menggesek-gesek dengan tubuhnya. "Ah!" Aliya memekik saat Jimin menciumi lehernya. Lidah Jimin bergerak lembut mencium setiap jengkal leher putihnya dan jangan lupakan sesapan lembut dari bibir sexy Jimin. "Kau mau bermain yang bagaimana?" Tanya Jimin seduktif. "Terserah Oppa saja. Aku menurut" Jimin tersenyum dan kembali mencium bibir Aliya panas dan ganas, dalam dan memabukkan. "I Want You" * "Ck jangan berdiri saja Eonni bantu aku" ketus Aliya pada Lisa. "Sudah minta bantuan, marah-marah lagi" kesal Lisa sambil mendekati Aliya. "Waktumu tinggal berapa hari?" Tanya Lisa sambil mengambil kertas gambar yang ada didepanya. "1 hari" jawab Aliya. "Selesai?" Tanya Lisa yang mulai mengoreskan pensilnya pada kertas gambar untuk membuat Departemant Store yang Aliya inginkan. "Mungkin!" Jawab Aliya singkat. "Apa yang kurang?" "Hanya bagian karyawan dan desain dalam" jawab Aliya. "Kenapa kau sangat berminat diperusahaan itu?" Tanya Lisa pada Aliya. "Eonni lupa jika ada Jiyo Sunbae disana?" Kata Aliya. "Jadi karena Lee Jiyo?" Aliya mengangguk. "Jimin Oppa tahu?" Tanya Lisa penuh selidik. "Ani! Aku masih mengejar kejelasan dari Jiyo Sunbae" jawab Aliya. "Kejelasan kenapa Jiyo menembakmu dan pergi setelahnya?" Aliya mengangguk. "Kau menyukainya?" Tanya Lisa. "Tidak!" Jawab Aliya lagi. "Lalu kenapa kau harus mengejarnya?" Tanya Lisa aneh. "Entahlah! Aku hanya ingin mendengar kejelasanya saja. Aku bukan bermaksud mengulang masa lalu, aku hanya ingin minta kejelasan. Bukan hubungan kami, hanya saja aku penasaran dengan kepribadianya yang aneh menurutku. Lagi pula aku juga sudah menikah" kata Aliya. "Ck! cinta monyet" ketus Lisa. "Apa pedulimu?" Kesal Aliya. "Tentu saja. Lee Jiyo itu misterius, setiap hari mengirimimu mawar dan coklat. Membawakanmu hadiah dan selalu melindungimu dari para penggangu. Dia mengutarakan perasaanya padamu dan pergi setelahnya. Bukankah itu misterius" kata Lisa jengah. "Ck itulah yang aku ingin kuketahui" kata Aliya. "Tapi dia masih kerabat dengan Lee Yumi kan?" tanya Lisa. "Entahlah aku tidak peduli. Mau kerabat dengan ular itu atau tidak aku tidak mau ambil pusing" ketus Aliya. "Dasar bocah!" Kesal Lisa. * Jimin termenung disepanjang perjalanan menuju rumah. Fikiranya kosong dan banyak pertanyaan yang muncul dibenaknya. "Apa ini?" Gumamnya frustasi. "Kenapa dia harus datang lagi" lirih Jimin. Fikiranya terbagi dua, satu sisi memikirkan masa lalunya dan satu sisi memikirkan Aliya. Entah kenapa akhir-akhir ini Jimin sering memikirkan Aliya. Ini dimulai dari percintaan panas mereka pagi itu didapur. Jimin tidak bisa mengalihkan fokusnya selain pada Aliya, jujur ada yang mengganjal dihati Jimin. Melihat bagaimana sifat Aliya dan keseharian Aliya membuat Jimin tertarik untuk memasuki kehidupan Aliya. Jimin bukan mengaku mencintai Aliya disini, maksudnya belum dia belum mencintai Aliya untuk saat ini tapi tidak tahu kedepanya. Tapi entah kenapa sosok Aliya sangat menarik minatnya dan membuat Jimin ingin selalu melihatnya. Bahkan tidak jarang saat Aliya sedang tidur Jimin akan mencuri-curi kesempatan untuk mencium atau memandangi wajah Aliya. "Kenapa aku selalu memikirkanya?" Gumam Jimin sambil mengusap wajahnya gusar. Dulu saat Jimin menjalin hubungan dengan Dia, Jimin tidak segusar ini. Jimin bisa bersikap biasa dan tetap menjadi normal. Tapi ini? Pernikahanya baru terhitung 3 minggu dan Jimin sudah sefrustasi ini. "Kau pasti gila Park Jimin" * "Oh Oppa" Aliya menyambut Jimin yang baru masuk kekamar mereka. "Belum tidur?" Aliya menggeleng. "Pekerjaanku belum selesai" jawab Aliya. "Kau bisa teruskan besok ini sudah malam" Aliya mengangguk dan mulai melepaskan dasi Jimin. 3 minggu menikah dengan Jimin, Aliya mulai belajar jadi istri yang berbakti. Entah itu hanya sekedar menyiapkan baju Jimin atau keperluanya yang lain. "Oppa sudah makan malam?" Tanya Aliya sambil melepas kancing kemeja Jimin. "Sudah tadi, kau?" Aliya tersenyum dan mengangguk. "Cha mandilah! Aku sudah menyiapkan air hangat untuk Oppa" Jimin mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi, sementara Aliya mulai memberkan pakaian Jimin yang ia lepas tadi. * Jimin membiarkan air dingin menguyur tubuhnya. Matanya terpejam menikmati setiap tetas air yang keluar dari shower. Bukanya mandi dengan air hangat yang sudah Aliya siapkan Jimin malah mandi dengan air dingin. Tetes air shower terus membasahi tubuhnya dan erangan frustasi mulai terdengar dari bibirnya. Entah kenapa air ini terasa seperti jemari kecil Aliya yang menari ditubuhnya. Jimin semakin menggila dengan fantasi liarnya. Matanya semakin menggelap, dan s**t Jimin butuh pelepasan sekarang juga. Aliya membuatnya benar-benar seperti orang gila. "Ah sial!" Jimin mengerang saat melihat bagian bawahnya yang sudah mengeras. "Kau membuatku gila Aliya" desis Jimin. "Ah!" Bukanya keluar dari kamar mandi dan menemui Aliya, Jimin malah diam dan membiarkan tubuhnya diguyur air shower dengan desahan yang selalu keluar dari bibirnya. "Ah! Aliya! Lebih dalam!" Jimin semakin menggila saat membayangkan jika Aliya mengulum pusakanya. Sepertinya Jimin lebih memilih memuaskan dirinya sendiri dari pada meminta haknya pada Aliya. "Aliyaah! s**t!" * Aliya menajamkan indra pendengaranya saat mendengar suara desahan Jimin dari kamar mandi. Aliya baru kembali dari dapur untuk membuatkan teh hangat untuk Jimin, dan Aliya terus menunggu Jimin untuk keluar dari kamar mandi. Jimin sudah ada dikamar mandi lebih dari 30 menit dan Aliya takut jika Jimin ketiduran di Buth Up. Akhirnya Aliya berinisiatif untuk mengertuk pintu kamar mandi dan memanggil Jimin tapi suara desahan Jimin menghetikan kegiatan Aliya. "Aliyahh! Ah!" Aliya menutup mulutnya saat mendengar desahan Jimin yang menyebut namanya. Ia melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat dan suara desahan Jimin yang masih terdengar olehnya. "Apa Jimin Oppa lebih memilih memuaskan dirinya sendiri?" Lirihnya. * Entah sudah berapa kali Jimin mengalami orgasme hanya dengan membayangkan tubuh indah Aliya tapi dirinya masih belum merasa puas. "s**t aku lelah" gusar Jimin sambil memukul tembok. "Kau membuatku gila Aliya" erang Jimim frustasi. Grep! Jimin tersentak saat meraskan pelukan tangan kecil seseorang dari belakang tubuhnya. "Oppa!" Tubuh Jimin menegang saat mendengar suara Aliya. "Kau~~~" "Yes Iam In Here" Jimin melepaskan pelukan Aliya membalik tubuhnya menatap tajam mata Aliya dan mencengkram kuat pergelangan tanganya. "Apa yang kau lalukan?" Tanya Jimin tajam. Melihat Aliya masuk kedalam kamar mandi dan menyusulnya membuat Jimin emosi apalagi melihat jika Aliya tidak memakai apapun pada tubuhnya. "Menyusul Oppa" mata Aliya menatap sendu Jimin. Ia tidak mengira jika suaminya ini lebih memilih memuaskan dirinya sendiri dari pada meminta haknya pada Aliya. Tentu saja Aliya kecewa. Ia merasa seperti tidak berguna. "Aku ada disini. Dan Oppa tidak perlu melalukan self s*x" mata Jimin menajam saat mendengar ucapan Aliya. "Kau mendengarnya?" Aliya mengangguk pelan. "Beraninya kau" tubuh Aliya terjatuh kasar dilantai saat Jimin mendorongnya. "Oppa!" Lirih Jimin. "Apa hak-mu mendengarnya? Kenapa kau semakin melunjak. Aku tidak meminta bantuanmu dan itu artinya kau tidak perlu datang kesini. Jangan bersikap seperti Jalang Aliya" mata Aliya memerah saat mendengar umapatan kasar Jimin. Jalang? Dia dianggap Jalang oleh Jimin. Jadi ini arti kehadiran dirinya disisi Jimin, hanya seorang Jalang. Tes, satu tetes liquid jatuh dipelupuk mata Aliya, dengan kasar ia menghapusnya. "Mian karena sikapmu yang membuatmu muak" Aliya bengkit dari posisinya dan berjalan keluar dari kamar mandi sambil meraih kasar kimono yang ada disamping kamar mandi dan memakainya cepat. Blaaammm. Mata Jimin terpejam erat saat mendengar pintu kamar mandi yang ditutup kasar oleh Aliya. Bruk! Tubuh Jimin jatuh kelantai, matanya memancarkan rasa bersalah pada Aliya. "Bodoh! Apa yang kau katakan" maki Jimin pada dirinya sendiri. "Dia hanya mau membantumu dan kau malah memakinya dimana otakmu Park Jimin?" Jimin memukul kepalanya kesal. "Kau harus minta maaf. Ya minta maaf!" Jimin segera menuntaskan kegiatan mandinya. Ia tidak memperdulikan tubuhnya yang masih membutuhkan pelepasan lagi. Ia hanya ingin segera minta maaf pada Aliya. * Jimin keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar. Ia melirik ranjang dimana ada Aliya yang menggulung tubuhnya sampai kepala dengan posisi menyamping. Jimin menghela nafas pelan dan menghampiri Aliya. "Aliya.." Diam tidak ada sahutan dari Aliya tapi Jimin bukan orang bodoh. Jimin bisa melihat jika bahu Aliya bergetar sudah dipastikan jika Aliya menangis. "Mianhae" Jimin naik keatas ranjang dan memegang lembut pundak Aliya. Melingkupi tubuh Aliya dari belakang dan meletakkan dagunya dipundak Aliya. "Aku yang salah! Mianhae" Jimin merasakan jika bahu Aliya semakin bergetar hebat dan Jimin juga mulai mendengar isakan kecil Aliya. "Mianhae" Jimin melepas selimut yang Aliya gunakan dan membawa Aliya kepelukanya. "Mianhae!" Aliya semakin menangis saat Jimin mengusap lembut punggungnya. "Jeongmal Mianhata" Jimin hanya bisa memeluk tubuh Aliya dan mengucapkan kata maaf. Setelah beberapa saat tangisan Aliya mulai reda walaupun masih ada genangan air mata yang mengalir diwajahnya. "Aku Jalang Hiks!" Jimin mengeratkan pelukanya. "Tidak! Aku lah yang salah. Kau bukan Jalang, mulutku saja yang terlalu sialan hingga berkata kurang ajar padamu" kata Jimin. "Jadi aku han..." Jimin melepas pelukanya dan langsung membungkam bibir Aliya. "Oppa yang salah!" Tegas Jimin. "Tapi kenapa Oppa melakukan itu? Apa aku tampak seperti Jal..." Jimin kembali membungkam bibir Aliya. "Jangan sebutkan kata-kata itu lagi kau mengerti?" Aliya mengangguk pelan dan menatap Jimin. "Kenapa Oppa marah?" Jimin membalas tatapan Aliya dengan sendu. "Karena aku tidak ingin meropotkanmu" jawaban Jimin sangat menusuk hati Aliya. "Oppa berkata seperti itu seperti aku ini orang yang tidak berguna. Oppa punya istri dan aku adalah istri Oppa. Oppa lebih memilih melakukan self s*x dari pada memintaku untuk tidur dengan Oppa. Aku seperti tidak ada gunanya, suamiku tersiksa karena menahan hasratnya dan aku hanya bisa diam saja. Aku bukan orang lumpuh atau pun orang cacat yang tidak bisa melayani Oppa. Aku kuat, aku sehat dan aku juga normal. Oke aku faham jika Oppa kurang puas dengan pelayananku karena aku bukan orang yang ahli dalam bidang s*x tapi bukan berarti aku tidak bisa. Aku bisa belajar dan jika Oppa memintaku belajar aku akan dengan senang hati memperlajarinya" Jimin hanya diam mendengar kemarahan Aliya. Ia tidak boleh menyela Aliya, ia harus tahu apa yang ada difikiran Aliya. "Hanya dengan satu kata saja Oppa mengatakan itu aku akan dengan senang hati mengangkangkan lebar kaki demi Oppa. Dan saat Oppa lebih memilih melakukan self s*x dari pada menyentuhku itu jauh lebih melukaiku. Aku terluka saat suamiku tersiksa menahan hasratnya dan aku juga merasa seperti tidak ada harganya. Ani aku memang tidak ada harganya! Benarkan?" Jimin meraup kasar bibir Aliya setelah Aliya selesai mengungkapkan kemarahanya. Ini sudah cukup, Jimin tidak mau mendengarnya lagi. "Aku menginginkanmu" Aliya menatap dalam mata Jimin. Ada percikan gairah yang terlihat jelas disana. Tanpa berbicara apapun Aliya melepaskan pelukan Jimin dan dengan mudah ia melepas kimono yang ia pakai dikamar mandi tadi, melemparkanya asal hingga tidak ada sehelai kainpun yang menutupi tubuhnya. "Iam Ready" Jimin kembali menerjang tubuh mungil Aliya. Melumat kasar bibir Aliya dan meraba tubuh polos Aliya. "Ash" Aliya mengerang saat Jimin memilin n****e-nya yang sudah menegang. Sentuhan Jimin membuatnya cepat kehilangan kesadaran dan akal. Jimin merubah posisi Aliya menjadi dibawahnya dan Jimin dengan mudah mengaitkan kaki Aliya dipinggangnya. Mengekspos penuh bibir Aliya, memasukkan lidahnya kedalam mulut Aliya dan mengajak berperang saliva. Tangan Jimin tidak tinggal diam, tangan kekar Jimin mulai meraba setiap jengkal tubuh Aliya dan Jimin bisa mendengar dengan jelas pekikan kenikmatan Aliya. Mereka bergerak seirama saling mencecap dan melumat. Merasakan nikmat pada tubuh pasangan masing-masing walaupun Aliya masih kalah dengan sentuhan Jimin, tapi tidak masalah. Aliya bisa belajar lagi. "Oppa!" Aliya mendesis tidak karuan saat Jimin mulai memasukinya. Pelan tapi sangat nikmat. Setelah Kejantananya sudah tertanam sempurna Jimin tidak menggerakkanya dulu. Ia ingin Aliya terbiasa dengan ukuran Kejantananya. "Kau siap Sayang?" Aliya mengangguk. Dan dengan pelan Jimin mulai menggerakkan tubuhnya dan itu membuat Aliya mengerang nikmat. Suara desahan, decapan ciuman dan suara dari Kejantanan Jimin yang keluar masuk diliang senggama Aliya menenuhi kamar ini. Jimin benar-benar menuntaskan hasratnya untuk menyetubuhi Aliya. Sangat nikmat dan memabukkan. Lagi dan Lagi, Jimin terus menghentakkan Kejantananya didalam tubuh Aliya. Dalam dan keras, Nikmat dan memabukkan. Mengeram nikmat saat merasakan pijatan lembut didalam sana. "s**t! Kauh nikmatth Saynghh" Jimin mempercepat gerakanya, ia akan sampai, dinding rahim Aliya juga sudah sangat menjepit Kejantananya. "Oppaaah....argggh" Jimin memasukkan Kejantananya pada titik terdalam rahim Aliya. Merasakan nikmatya memuntahkan spermanya dirahin Aliya. Sementara Aliya memejamkan matanya saat merasakan hangatnya cairan Jimin yang menyembur didalam rahimnya. "Puas eoh" Jimin melepas penyatuanya dan baru saja hendak berbaring Aliya lebih dulu duduk dipangkuanya dan kembali menyatukan tubuh mereka. "Oppa sudah dan aku belum" kata Aliya dengan menggerakan pinggulnya naik turun. "s**t! Aliya! Kauh mauhh menyikkaakuhh" Jimin mengerang tidak karuan apalagi gerakan Aliya yang memelan membuatnya geram. Dengan cepat Jimin mengambil kendali dan menguasai tubuh mereka. "Ah! Ah! Oppaahh!" Aliya mendesah kuat saat Jimin menghentakkan dalam Kejantananya. "Kauh yangh milaaaihh" Jimin mempercepat gerakanya. Memanggut puncak dada Aliya yang menggantung bebas dan itu semakin membuat Aliya mendesah nikmat. "Faster pleaseee" lirih Aliya. "Yeahh! Babyhhh! Hemhh! f**k! Fuckk!" Jimin mempercepat gerakanya. Ia juga sudah tidak tahan. "Sayanhhghh Arggghhh" tubuh mereka lemas saat kembali mendapatkan pelepaskanya. "Kau mau lagi?" Aliya mengangguk dengan berani dan turun dari pangkuan Jimin. Berbaring dan mengangkangkan lebar kakinya. "Kau yang memulai Nyonya Park dan terima akibatnya" desis Jimin sambil memijat pelan Kejantananya yang kembali menegang. "Yeah it Me!" Balas Aliya. "Ini baru ronde ke-3 dan masih ada 7 lagi. Kau tidak akan bisa berjalan dengan benar besok" lirih Jimin dengan memasuki Aliya lagi. "What ever. Ada kau yang bisa menggendongku" Jimin tersenyum iblis. "You Want it. Oke" "Ah Oppa!" "Hem!" "Faster pleasee!" "Shitty! s**t!" "Yeah! Ogh" "f**k Up Aliyyaaa!" "Yeah its meehh" "Kquhh arhgggg" T.b.c
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD