Happy Reading.
*
Aliya menatap resah pantulan wajahnya yang ada dicermin kamar mandi. Matanya memerah menahan tangis yang siap meledak kapan saja dadanya terasa sangat sesak. Bibirnya bergetar hebat menahan isak tangis yang siap terdengar.
"Kau bohong!" Aliya menutup mulutnya rapat agar suara tangisnya tidak terdengar keluar.
"Kau membohongiku" Aliya meremas kuat dadanya.
"Kau terlalu mudah dibodohi Aliya" mata Aliya berubah menanjam terlihat jelas kemarahan disana.
"Kau yang mulai lebih dulu" desis Aliya tajam.
*
Aliya berjalan lesu disepanjang koridor kampus. Ia telat dan juga tidak berniat masuk kekelas. Matanya masih saja kosong dengan hembusan nafas putus asa yang terus terdengar.
"Aliya" Aliya menoleh dan menemukan Yerim yang berjalan kearahnya.
"Kau bolos?" Aliya mengangguk singkat.
"Wae?" Tanya Yerim.
"Banyak tanya! Terus kenapa kau juga bolos?" Yerim langsung salah tingkah mendengar pertanyaan Aliya.
"Aku hanya malas" Aliya hanya mendengus dan menarik tangan Yerim menjauh.
"Eodi?" Tanya Yerim.
"Makan! Aku lapar!" Ketus Aliya.
*
Jimin mengacak-acak lemarinya. Matanya terus bergerak cepat menyingkapi tumpukan baju yang sudah disusun rapi oleh Aliya. "Kemana itu?" Jimin masih terus mencari sampai kotak beludru yang ia cari ketemu.
"Hah untung ketemu" Jimin membukanya dan bernafas lega saat menemukan benda yang ia cari.
"Masih untung tidak hilang" kata Jimin lega.
"Aku sembunyikan dimana ya? Aku bawa saja" Jimin langsung memasukkan kotak itu dalam sakunya.
*
Yerim mendengus kesal saat Aliya yang lama kembali dari toilet. Ini sudah 20 menit lebih dan Wanita Park itu belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali. "Apa dia tidur dikloset" kesal Yerim.
"Eonni!"
"Yakh kenapa kau lama sekali" teriak Yerim kesal.
"Mulas" Yerim mendengus dan menarik Aliya pergi dari Caffe ini. Tidak lama kemudian ada seorang yang berpakaian hitam muncul tidak jauh dari posisi mereka.
"Baru permulaan Nona"
*
Jimin pulang saat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Keadaan rumah masih terang dan sudah dipastikan Aliya belum tidur.
"Aliya!" Aliya menoleh dan tersenyum saat menemukan Jimin yang ada diambang pintu.
"Oppa!" Aliya bergerak cekatan melepaskan pakaian Jimin.
"Belum tidur?" Aliya menggeleng.
"Wae?" Tanya Jimin.
"Ada sedikit desain Oppa" Jimin menghela nafas dan mengusap pipi chubi Aliya.
"Jangan diteruskan jika malam-malam begini. Tidak baik untuk kesehatanmu" Aliya mengangguk.
"Oppa mandi dulu!" Ujar Aliya dan mengundang senyum iblis dari bibir Jimin.
"Wae?" Tanya Aliya aneh.
"Mau menemani Oppa?" Aliya melebarkan matanya kaget mendengar pertanyaan Jimin.
"Oppa!" Jimin mengangkat dagu Aliya.
"Mau tidak?" Aliya merasakan pipinya memerah karena permintaan Jimin.
"Sayang!" Aliya mengangguk singkat dan tanpa banyak bicara Jimin langsung mengangkat tubuh Aliya.
"Oppa!" Jimin hanya tersenyum mesum.
"Kau yang setuju Sayang!" Goda Jimin.
"Tapi~~"
"Nikmati saja!" Aliya menunduk dan menelusupkan kepalanya pada dada bidang Jimin sontak Jimin tertawa keras dan mempercepat langkahnya menuju kamar mandi.
*
"Sudah!" Kata Namja itu.
"Kerja bagus!" Puji Wanita yang ada disampingnya.
"Ini lebih mudah dari yang dulu" cetus wanita itu.
"Sudah kukatakan tapi kau tetap tidak mau mendengarkan" desis Namja tadi.
"Sudahlah. Aku juga tahu jika kau masih melindunginya" balas Wanita itu.
Brakk. Tubuh wanita itu bergetar saat Namja tersebut membalik meja yang ada didepan mereka.
"Diam atau kau juga akan mengalami nasib yang sama" gertak Namja tadi.
"Cih! Kau pengecut" geram Wanita tadi.
*
"Ash!" Aliya mendesah saat Jimin kembali memasukinya. Mereka masih ada dikamar mandi dan sudah berapa Jam dikamar mandi mereka tidak tahu.
Aliya duduk diatas pangkuan Jimin dan Jimik duduk dikloset. "Oppah!" Jimin tersenyum melihat wajah Aliya yang menahan nikmat atas apa yang ia berikan. Tubuhnya benar-benar sudah terkontak untuk Aliya, Jimin benar-benar tidak tahan jika tidak menyetubuhi Aliya.
"Shh! Kauh niikmmatt Baby" Jimin mendesis nikmat saat merasakan pijatan lembut pada Kejantananya yang tertanam pada tubuh Aliya. Selalu nikmat dan memabukkan. Aliya benar-benar membuatnya gila.
"Ah! Aha" Aliya mengeliat dipangkuan Jimin hingga Jimin semakin dalam menusuknya. Jimin mencium lembut bibir Aliya dan tanganya digunakan untuk memegang pinggang Aliya agar tidak jatuh. Sementara Aliya hanya bisa membalas ciuman Jimin dan mencengkram kuat bahu Jimin.
"Oppah Akuh Sahmapii" Jimin mempercepat gerakanya, ia juga akan sampai. Bunyi tubuh mereka yang beradu terdengar menggema dikamar mandi. Dan jangan lupakan suara desahan mereka yang terdengar semakin keras.
"Berasama Sayang arggg" Aliya memejamkan matanye erat saat kembali mendapatan pelepasanya. Menikamati hangatnya cairan Jimin yang ditumpahkan dirahimnya.
"Kita mandi saja ini sudah malam" Aliya mengangguk dan turun dari pangkuan Jimin. Dan saat hendak berjalan ke Buth Up Jimin lebih dulu menggendongnya.
"Oppa!" Jimin hanya tersenyum dan mengedipkan matanya genit.
"Jangan di Buth Up sayang. Sempit. Kita mandi di shower saja Nde?" Aliya memekik tidak setuju tapi Jimin tetap melanjutkan langkahnya.
"Oppah akuh lelahhh"
*
Jimin mengusap lembut kening Aliya yang tengah tidur disampingnya. Matanya tidak lepas memandangi wajah Aliya yang terlihat damai dan sejuk. Senyum Jimin mengembang saat melihat bibir merah Aliya, ada kalanya Jimin merasa aneh pada bibir istrinya. Rasanya manis, lembut, kenyal dan itu membuat Jimin tidak tahan jika tidak menciumnya.
"Eugh!" Aliya perlahan-lahan membuka matanya dan mendapati Jimin yang tengah tersenyum untuknya.
"Aku kesiangan?" Tanya Aliya dengan suara serak.
"Ani! Oppa saja yang bangun pagi" Aliya mengangguk dan menelusupkan kepalanya didada bidang Jimin.
"Tidak kuliah?" Tanya Jimin.
"Ani!" Jawab Aliya singkat.
"Wae?"
"Malas!" Jimin tersenyum simpul mendengar jawaban ketus Aliya.
"Masih ingin masuk Han Group?" Tanya Jimin.
"Aish Mollayo! Oppa jangan tanya itu lagi. Aku bosan dan akan emosi jika mengingatnya" tawa Jimin pecah mendengar teriakan Aliya.
"Aigoo, bagaimana jika kau bekerja dikantor Oppa saja. Itung-itung belajaran!" Tawar Jimin.
"Aku belum lulus" Jimin mengeratkan pelukanya.
"Hanya tinggal beberapa pekan kau ujian kan?" Tanya Jimin dan dibalas anggukan oleh Aliya.
"Setelah ujian kau langsung bekerja saja. Toh kau juga tidak menggunakan skripsi" Kata Jimin.
"Oppa tahu?" Tanya Aliya pelan.
"Hem! Taehyung yang bilang. Jadi bagaimana?" Aliya melepaskan pelukanya dan menatap lama Jimin.
"Oke tapi hanya sementara" Jimin tersenyum dan mengangguk.
"Oppa memang tidak menyuruhmu kerja lama. Kau hamil kau keuar" pipi Aliya besemu merah mendengar ucapan Jimin.
"Oppa mau Baby dariku?" Tanya Aliya pelan.
"Tentu saja Sayang. Aku malah ingin cepat punya Baby!" Tegas Jimin.
"Wae?"
"Aku ingin melihat perut ini semakin menbuncit dan tidak lama kemudian ada yang memanggilku Appa" jawab Jimin sambil menyentuh perut Aliya lembut.
"Oppa aku malu!"
*
Alis Lisa terangkat saat melihat gambar hasil bidikan Tzuyu. "Apa ini?" Tzuyu menggeleng tidak tahu.
"Ada kiriman paket!" Kata Tzuyu.
"Untuk rumah Aliya, tapi kiriman paket itu untuk Maid dirumahnya" tambah Tzuyu.
"Lalu kenapa kau memfoto kurirnya" Tzuyu menepuk keningnya kesal.
"Mana ada pengantar barang yang punya barang Branddid jika pun ada pasti hanya salah satu saja. Ini semua!" Lisa mulai meneliti pakaian kurir itu. Tas, Sepatu dan Dress dengan merek Chanel, itu bukan barang murah. Gaji kurir tidak sebesar itu hingga mampu membeli barang Brandid.
"Kau awasi terus Tzu" Kata Lisa.
"Aku mengerti Eonni. Tapi ada yang aneh juga dengan Jimin Oppa" kata Tzuyu.
"Jimin Oppa?" Tzuyu mengangguk.
"Jimin Oppa seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi aku tidak tahu apa" jelas Tzuyu.
"Sesuatu?"
"Ya sama dengan Lee Jiyo, Jimin Oppa juga sangat misterius. Bahkan saat aku bertanya pada Chanyeol Oppa tentang masa lalu Jimin Oppa di Amerika Chanyeol Oppa tidak tahu sama sekali. Keberadaan Jimin Oppa di Amerika sangat tabu dan gelap. Tidak ada yang tahu apa yang dialami Jimin Oppa disana" Lisa mulai memikirkan apa yang dikatakan Tzuyu.
"Apa itu membahayakan untuk Aliya?" Tanya Lisa.
"Bisa iya, bisa tidak. Tidak menutup kemungkinan jika Jimin Oppa punya musuh dan melampiaskanya pada Aliya karena statusnya yang sudah menyandang marga Park. Eonni tahukan modus kejahatan sekarang?" Jelas Tzuyu.
"Apa Aliya masih diteror?" Tanya Lisa.
"Tidak ada kiriman mawar atau Boneka lagi. Bahkan saat memeriksa loker Aliya yang ada dikampus terlihas bersih dan rapi. Tidak ada boneka atau mawar lagi" Jawab Tzuyu.
"Tidak mungkinkan peneror itu berhenti ditengah jalan?" Tzuyu menggeleng.
"Mungkin dia punya Opsi kedua" kata Tzuyu penuh arti.
"Opsi kedua?"
"Secara mental dan menggunakan Jimin Oppa" ujar Tzuyu.
"Apa bisa?" Tzuyu mengangguk.
"Aliya sudah mulai membuka hatinya untuk Jimin Oppa dan tidak mungkin jika dia menggunakan Jimin Oppa untuk melukai Aliya: Lisa memikirkan apa yang dikatakan Tzuyu.
"Awasi Jimin Oppa!" Desis Lisa.
*
"Oppaa!" Aliya berteriak saat Jimin menciumnya.
"Shut! Wae Sayang?" Aliya mendengus kesal dan mencoba mendorong Jimin. Hello mereka ada dikantor dan bagaimana jika ada yang melihat. Aliya sedang berkunjung untuk melihat kantornya nanti yang akan ia gunakan bekerja dan Jimin justru mengajaknya mesum disini.
"Ada yang melihat nanti!" Jimin mendengus kesal dan kembali mencium Aliya. Tidak peduli jika Aliya menolak atau memukulnya. Ia mau ciuman dan harus dapat.
"Akhh" Jimin memekik saat Aliya mencubit pinggangnya.
"Hei sakit" ringis Jimin.
"Rasakan" ketus Aliya.
"Dasar" Jimin kembali menarik Aliya dan melemparkan tubuh mereka kesofa.
"Oppa" Jimin menutup mulut Aliya rapat.
"Tidak ada yang dengar dan tahu. Ruangan ini kedap suara dan aku sudah menguncinya otomatis!" Aliya menatap kesal kearah Jimin. Jika begini dia sudah tidak bisa kabur lagi. Heol tubuhnya kecil dan Jimim sangat besar dan hanya akan tepar ditempat jika menolak Jimin.
"Kau mau?" Jimin melepaskan tanganya dari mulut Aliya dan menatapnya dalam.
"Tapi jangan tampar bokongku lagi!" Jimin hampir saja tertawa mendengar nada merajuk dari bibir Aliya.
"Sakit! Oppa menamparnya kemarin!" Jimin mengusap lembut pipi Aliya.
"Mian Oppa hanya gemas dan tidak tahan untuk menampar bokong Sexy-mu. Kau sangat Sexy dan Oppa akan sangat tergoda" Jimin menatap Aliya sendu.
"Bolehkah Sayang?" Aliya mengangguk dan membuat Jimin tersenyum.
"I Want You"
T.B.C