Happy Reading.
*
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam tapi Aliya belum saja tidur. Wajahnya terlihat sangat tegang, dan keringat dingin juga mengalir dari pelipisnya.
"Ottekheyo!" Lirih Aliya. Kepalanya pusing memikirkan apa yang ia lakukan selanjutnya.
"Tapi bagaimana jika ketahuan?" Lirih Aliya lagi. Aliya meremas piamanya resah.
"Tidak! Tidak ada yang boleh tahu" tegas Aliya.
"Hanya aku yang tahu! Iya hanya aku!" Kata Aliya kekeh.
*
Pagi ini sarapan Aliya dan Jimin dilalui dengan tenang dan hening. Aliya dan Jimin sibuk dengan makananya masing-masing.
"Tidak kuliah?" Tanya Jimin memecah keheningan diantara mereka.
"Ani!" Jimin menyeringit mendengar jawaban datar Aliya.
"Kau sakit?" Aliya menggeleng singkat.
"Ada yang salah dari Oppa?" Tanya Jimin.
"Tidak!" Jimin merasa aneh dengan sifat Aliya. Beberapa minggu ini Aliya sangat datar dan dingin entah apa yang Jimin lakukan hingga Aliya jadi begini.
"Kau ada masalah? Atau Oppa melakukan kesalahan padamu? Kau tampak berbeda akhir-akhir ini!" Kata Jimin.
"Aku baik-baik saja!" Jawab Aliya.
"Jinja?"
"Ye!"
*
Aliya hanya berbaring seharian dikamar dan dia juga tidak melakukan apapun. "Nyonya!"
"Masuk Ahjumma" Ahjumma Lee masuk kedalam kamar.
"Wae Ahjumma?" Tanya Aliya.
"Ada kiriman paket untuk anda!" Jawab Ahjumma Lee.
"Berikan padaku!" Ahjumma Lee mengangguk dan memberikanya pada Aliya.
"Ini Nona!"
"Gumawo! Ahjumma pergi saja!" Ahjumma Lee mengangguk dan pamit undur diri.
"Apa lagi ini?" Aliya membukanya dengan kasar dan saat melihat isinya wajahnya langsung datar.
"Bajingan!" Serunya geram.
"Kau semakin memalukan!" Desis Aliya emosi.
*
Jimin meneliti setiap foto yang dikirimkan Lisa padanya. Difoto ini tampak biasa, seorang kurir memberikan paket pada Ahjumma Lee, tapi saat Jimin memperhatikan baju yang dikenakan sang kurir, Jimin sedikit meresa aneh.
"Apa yang dibawa pengantar barang itu?" Tanya Jimin penuh selidik.
"Ini lebih dari tiga kali dalam seminggu ini" gumam Jimin.
"Dan apa yanh dikirim?" Jimin menekan angka 3 dalam telfon kabelnya.
"Awasi Istriku" tegas Jimin. Jimin mematikan sambungan telfonya dan langsung memijat kepalanya. Kepalanya terasa pening karena memikirkan hal yang mengganggu beberapa hari ini.
"Apa aku harus jujur?" Tanya Jimin dalam hati.
"Tapi bagaimana jika dia marah? Tidak! Aku harus jujur" tegas Jimin pada dirinya sendiri. Ia tidak bisa terus membohongi Aliya selamanya, Aliya adalah istrinya dan sudah seharusnya Aliya tahu tentang masa lalunya.
"Dia harus tahu!"
*
Aliya mengunci kamarnya dari dalam dan itu artinya Jimin tidak bisa masuk. Hampir 30 menit Jimin mengetuk pintunya tapi tidak ada sautan sama sekali. "Tuan" Jimin berbalik dan menemukan Ahjumma Lee yang menghampirinya.
"Ahjumma, istriku didalam?" Tanya Jimin.
"Nona dirumah seharian!" Jawab Ahjumma Han.
"Tapi kenapa dia tidak membuka pintunya?" Tanya Jimin.
"Ini kunci cadanganya Tuan!" Jimin menepuk keningnya, kenapa dirinya bisa lupa jika ada kunci cadangan.
"Gumawo Ahjumma!" Ahjumma Lee mengangguk dan pamit undur diri.
"Hah kena juga!" Jimin masuk kedalam kamarnya. Matanya terbelalak saat melihat koper yang ia sembunyikan dulu sudah dibongkar habis oleh Aliya dan saat Aliya menyadari kehadiran Jimin senyum sinis terukir dari bibirnya.
"Aku tidak keberatan jika kau mau menamparmu!" Jimin menatap kosong Aliya yang terlihat datar.
"Jadi ini yang kau sembunyikan? Bagus! Kau luar biasa Tuan Park!" Kata Aliya mencemooh.
"Aku beruntung memiliki suami pembohong sepertimu" Aliya tersenyum sinis dan melempar album yang ia pegang.
"Aku kembalikan" Aliya bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.
"Kau salah faham!" Lirih Jimin menahan tangan Aliya.
"Salah Faham? Benarkan?" Desis Aliya emosi.
"Aliya aku bisa jelaskan padamu" kata Jimin menatap sendu manik coklat keabu-abuan Aliya.
"Aku tidak peduli! Lepas" Aliya mencoba menyentak tangan Jimin tapi pegangan Jimin terlalu kuat.
"Please dengarkan aku dulu!" Lirih Jimin.
"Aku tidak mau!" Kekeh Aliya.
"Please!" Aliya menatap sinis Jimin dan menyunggingkan senyum meremehkan.
"15 menit!" Kata Aliya datar.
"Aku mengerti!" Kata Jimin pasrah.
"Lepas!" Jimin menggeleng dan menuntun Aliya agar duduk diranjang sedangkan Jimin bersimpuh dilantai.
"Dia mantan Yeojachinguku" kata Jimin.
"Kami berhubungan sejak 3 tahun yang lalu. Dia adalah mahasiswa kiriman dari Kyunghee dan dia disana selama 3 tahun berturut-turut. Dia cantik dan menarik dan aku mulai tertarik padanya dan dia juga punya sesuatu yang langsung bisa menarik perhatianku. Aku mengutarakan perasaanku padanya dan dia juga menerimanya. Hubungan kami berjalan baik-baik saja awalnya tapi lama kelamaan sifat serakahnya muncul. Dia sering keluar masuk Club dengan laki-laki lain dan hampir setiap malam dia Make Out disana. Aku tetap diam karena aku masih sangat mencintainya tapi lama kelamaan aku juga tidak tahan terus dibohongi apalagi dia juga terus menghabiskan uangku. Aku memutuskanya dan kembali ke Korea dan menikahimu" Aliya menatap datar Jimin yang menunduk. Matanya terlihat jelas ada kemarahan dan Aliya ingin meluapkanya.
"Jadi aku adalah pelampiasan? Benarkan?" Jimin mendongak menatap Aliya dengan pandangan bersalah.
"Awalnya iya tapi sekar..."
"Aku menyedihkan!" Ujar Aliya menyela Jimin.
"Aliya aku~~"
"Kau masih mencintainya?" Sela Aliya lagi.
"Tidak! Aku~~" perkataan Jimin terhenti saat Aliya melemparkan beberapa foto padanya.
"Jelaskan ini!" Desis Aliya geram. Difoto itu ada foto Jimin dengan wanita yang dimaksud Jimin yang sedang berpelukan dan ada juga yang sedang berciuman.
"Kau mau menyangkal?" Jimin menggeleng tidak percaya dengan gambar ini.
"Aku dijebak Aliya! Kau sala~~"
"Dijebak lebih dari 3 kali? Wah Daebak! Kau bodoh ya?" Jimin memegang erat tangan Aliya.
"Please Aliya! Aku dijebak! Itu memang fotoku tapi semuanya direkayasa" kata Jimin mencoba memberi pengertian.
"Aku tidak peduli!" Jimin menggeleng tidak mau.
"Tolong percaya padaku Aliya. Ini rekayasa" lirih Jimin.
"Kau sudah sering membohongiku" desis Aliya emosi.
"Hampir 3 bulan kita menikah dan kau tidak pernah berkata jujur tentang masa lalumu. Dan kau meminta aku mengerti. Perlu kau tahu wanita yang masih kau cintai itu adalah Viral-ku di Kyunghee. Lee Yumi!" Jimin menatap Aliya kaget. Jadi Yumi adalah Viral istrinya.
"Pasti kau senang karena wanita yang kau cintai terus menang melawanku" Jimin menggeleng tegas mendengar tuduhan Aliya.
"Aku tidak tahu jika Lee Yumi adalah Viralmu Aliya. Yang aku tahu Lee Yumi adalah Mahasiswa Kiriman Kyunghee, selebihnya aku tidak tahu!" Jelas Jimin.
"Bullshit! Kalian sama saja, kau bilang tidak pernah tidur dengan wanita lain tapi Lee Yumi pernah hamil! Bayi itu anakmu kan?" Tuduh Aliya emosi.
"Tidak Aliya! Aku berani bersumpah jika hanya kau yang kusentuh. Memang aku mencintai Lee Yumi tapi hanya kau yang aku tiduri" Aliya tersenyum hambar mendengar jawaban Jimin.
"Lalu ini apa?" Tanya Aliya menunjukkan foto Jimin yang memeluk Lee Yumi dalam ranjang dan saling berpelukan. Dan terlihat jelas jika keduanya telanjang.
"Aliya ini palsu. Aku tidak pernah tidur dengan Lee Yumi percaya padaku" Aliya tersenyum miris dan melepaskan gengaman Jimin.
"Kau minta aku percaya setelah semua bukti ini terkumpul? Apa yang harus kupercayai darimu?" Jimin kembali menggenggam erat tangan Aliya.
"Tolong maafkan aku! Aku tahu aku salah dan beri aku kesempatan kedua. Aku mengaku salah tapi kumohon maafkan aku" lirih Jimin.
"Sayangnya aku tidak bisa melakukanya. 3 bulan bukanlah waktu yang singkat untuk berkata jujur" Jimin mempererat genggamanya.
"Kumohon Aliya" Aliya melepaskan pegangan Jimin dan bangkit dari posisi duduknya dan berjalan menjauh.
"Kita selesai!" Dua kata yang membuat Jimin merasakan seperti ada sebuah meteor yang menimpa kepalanya. Mata Jimin memerah dan tanganya terkepal erat. Mata Jimin menatap langkah kaki Aliya yang semakin menjauh, hatinya sangat ingin mengejar Aliya, tapi kakinya seperti mati rasa dan tidak bisa bergerak sama sekali.
"Aku mencintaimu!" Lirih Jimin.
"Aku sangat mencintaimu! Kau istriku, nama Lee Yumi tidak berarti apapun dalam hidupku. Hanya kau dan selamanya hanya Aliya" Air mata Jimin menetes saat tidak menemukan bayangan Aliya dikamar mereka.
"Aku bodoh!"
*
Aliya berjalan sempoyongan ditrotoar jalan, mata memancarkan kekosongan yang luar biasa. Kenyataan jika Jimin adalah Kekasih Lee Yumi sangat menyakitinya, hatinya terlalu mudah untuk jatuh cinta dan ia sudah jatuh dalam pesona dan karisma Jimin dan ini akibatanya. Dirinya hanya jadi pelampiasan, PELAMPIASAN.
"Hei!" Aliya tersentak saat ada yang memegang tanganya.
"Aliya!" Panggil Namja itu.
"Sunbae~~~"
"Ah kau benar Aliya rupanya! Senang bertemu denganmu!"
*
Mata Lisa memerah saat mendengar penjelasan Jimin tentang masa lalunya. Rasanya Lisa ingin melempar Heels 7 cm yanh ia pakai kewajah Jimin dan untung ada Tzuyu yang menahanya.
"Kemana Aliya?" Jimin menggeleng tidak tahu.
"Dia pergi!" Lirih Jimin.
"Dan Oppa tidak mengejarnya?" Tanya Tzuyu.
"Aku takut Tzu! Dia sangat marah padaku da~~~"
"Tentu saja dia marah! Kau hanya menjadikanya pelampiasan" teriak Lisa menyela Jimin.
"Itu dulu Lis. Sekarang aku mencintainya!" Teriak Jimin yang ikut emosi.
"Aku mencintainya dan aku mengaku salah tentang masa laluku. Itu juga diluar kemampuanku" Jimin jatuh berlutut dilantai. Ketakutan tentang masa lalunya membuat Jimin menjadi seorang pengecut dan tidak berani berkata jujur.
"Cinta? Yakin? Apa kau tahu jika Aliya hamil?" Jimin menatap Lisa kaget.
"Hamil?" Tanya Jimin shok.
"Anakmu!"
*
"Untuk sementara kau bisa tinggal disini" kata Namja itu.
"Mian aku merepotkan Sunbae!" Namja itu menggeleng pelan.
"Untuk wanita yang kucintai akan kulakukan apapun!" Aliya menunduk dalam dan membuat Namja itu tersenyum simpul.
"Aku tahu jika kau sudah menikah. Park Jimin kan?" Tanya Namja itu.
"Mian Sunbae!" Lirih Aliya.
"Tidak perlu minta maaf. Hiduplah dengan baik disini" kata Namja itu.
"Gumawo Sunbae" Namja itu mengangguk.
"Untuk Aliya!" Kata Namja itu.
T.B.C