10

1331 Words
Happy Reading. * Jimin terus mencoba mencari keberadaan Aliya tapi tidak hasil yang berarti. Lisa dan yang lain juga ikut membantu tapi pencarian mereka juga sama saja. Aliya seperti hilang ditelan bumi dan tidak ada jejak yang menuntun mereka untuk menemukan Aliya. Jimin juga kehilangan banyak tendernya karena sibuk mencari Aliya. Yang ia pedulikan hanya Aliya, yang lainya hanya Jimin anggap hal sepele. Apalagi mengingat jika Aliya yang tengah hamil anaknya. "Bogoshipeo Aliya" lirih Jimin sambil memeluk erat foto Aliya. Yang ia inginkan hanya melihat Aliya, istrinya, cintanya. "Aku ingin melihatmu dan anak kita!" Lirih Jimin. * "Aku jadi terus merepotkan Oppa!" Kata Aliya pelan. "Gwenchanayo ini juga demi kesehatanmu!" Kata Namja itu. "Tapi aku terlalu banyak merepotkan Oppa!" Lee Jiyo tersenyum simpul dan mengusap pelan rambut Aliya. "Asal kau senang aku juga senang!" Kata Jiyo. "Gumawo!" Jiyo tersenyum simpul dan mengangguk. "Istiratahlah! Kasihan anakmu!" Aliya mengangguk dan menuju kamarnya untuk istirahat. Saat pintu kamar Aliya yang tertutup sempirna Lee Jiyo tampak menyeringai sinis. "I Got You Aliya Park. No Aliya Lee" desis Lee Jiyo penuh menekanan disetiap katanya. * "Belum ada hasil Hyung!" Jimin meringkuk lesu mendengar jawaban Taehyung. "Aku takut jika terjadi sesuatu padanya Tae!" Lirih Jimin pelan. "Dia pasti baik-baik saja. Percaya itu!" Kata Taehyung. "Oppa terlihat begitu yakin!" Kata Lisa. "Apa maksudmu Lis?" Lisa tersenyum sinis dan melemparkan hasil bidikanya pada Taehyung dan Jimin. "Jelaskan itu!" Kata Lisa penuh penekanan disetiap ucapanya. "Apa ini Lis?" Tanya Taehyung sambil memunguti foto yang dilemparkan Lisa. "Lee Jiyo?" Saat nama Lee Jiyo disebut sontak Jimin merebut foto yang ada dipegangan Taehyung. "Lee Jiyo punya hubungan masa lalu denganmu Oppa dan kau harus menjelaskan ini!" Tekan Lisa geram. "Jimin Hyung?" Tanya Taehyung kaget. "Jelaskan sekarang!" Tegas Lisa. Jimin menundukkan kepalanya dalam. "Lee Jiyo temanku!" Mereka terkejut mendengar ucapan Jimin. "Teman?" "Kami berteman sejak kecil dan kami juga tumbuh bersama. Jiyo anak dari Pembantu dirumahku tapi Eomma ku juga menganggapnya anak. Kami jarang bertemu karena aku dikirim ke Busan tapi setiap 6 bulan sekali aku pulang. Setiap aku pulang kami selalu bermain dengan tetangga kami. Kami sama-sama dekat denganya tapi dia lebih dekat denganku dari pada Jiyo. Pertemanan kami tidak mengenal nama dan dia memanggil kami Oppa dan kami memanggilnya Pink" Jimin menarik nafasnya panjang. "Saat itu ada pesta saat ulang tahunya yang ke-5 kami sama-sama datang dan disana dia hanya berbicara padaku. Kami bersembunyi dari yang lain dan saat itu aku memberikanya hadiah kalung. Dia hanya menerima hadiah dariku dan tidak menerima hadiah dari Jiyo. Dan itulah juga saat aku terakhir bertemu denganya. Jiyo sangat marah dan mulai menjauhiku. Aku hanya diam sampai kami remaja. Aku masih sering bolak balik Busan-Seoul tapi aku hanya pulang setahun atau dua tahun sekali karena jika pun aku kembali ke Seoul tidak ada yang kutemui. Usiaku menginjak 19 tahun aku pergi ke Amerika dan belajar disana selama 5 tahun dan kembali untuk menikah dengan Aliya" Lisa dan Taehyung masih diam saat Jimin selesai mengakhiri ceritanya. "Kapan terakhir kau bertemu Jiyo?" Tanya Lisa. "Saat umurku 17 tahun!" Jawab Jimin. "Siapa nama gadis yang kalian perebutkan?" Tanya Lisa lagi. "Lee Yumi!" Jawab Jimin. "Yumi? Lee Yumi? Kau serius?" Tanya Lisa kaget dan itu mengundang tanya dari Jimin dan Taehyung. "Wae Lis?" Tanya Taehyung. "Kau yakin jika gadis yang kalian perebutkan dulu adalah Lee Yumi?" Tanya Lisa memastikan. "Ya! Wae?" Lisa mulai mengerti arah permainan ini. Lee Yumi dan Lee Jiyo bersekongkol dan tidak ada yang menyadari itu, bahkan Aliya juga. "Kau yakin jika gadis itu Lee Yumi?" Tanya Lisa pada Jimin. "Ya. Kenapa Lis? Ada yang salah?" Tanya Jimin. "Bodoh! Kau dibodohi oleh keduanya. Perlu kau tahu, Lee Yumi itu sepupu dari Lee Jiyo dan bagaimana bisa Lee Jiyo merebutkan sepupunya sendiri. Kau dibodohi Oppa!" Perkataan Lisa membuat Jimin dan Taehyung kaget. "Lis kau yakin?" Lisa mengangguk tegas. "Kau dibodohi" tekan Lisa lagi. "Dan jika itu bukan Lee Yumi, siapa sebenarnya Pink?" Lirih Jimin. "Kau bilang jika Pink punya kalung yang kau berikan saat ulang tahunya yang ke-5. Yumi punya itu?" Tanya Lisa lagi. "Ya dia punya. Dan aku membawanya! Ini!!" Jimin menunjukkan kotak beludru yang ia sembunyikan disakunya. "Ini kalung yang aku berikan pada Pink!" Kata Jimin. Lisa langsung merebut dan membukanya. Bruk! Kotak itu jatuh dan keluar sebuah kalung dengan bandul mawar. "Ini kalungnya?" Tanya Lisa shok. "Ya! Wae?" tanya Jimin aneh. "Itu bukan punya Lee Yumi. Kalung itu punya Aliya yang hilang saat penculikanya 3 tahun lalu" kata Lisa. Tunggu dulu, Aliya pernah bilang jika dirinya pernah diculik dan hanya kalung yang ia pakai dari kecil yang hilang dan Lee Jiyo yang menolong Aliya lalu hilang tanpa jejak setelahnya. 3 tahun yang lalu Yumi datang kepadanya dengan kalung ini, dan kata Lisa, Aliya kehilangan kalung ini juga 3 tahun lalu. Aliya, Jiyo, Yumi berhubungan. Yumi adalah sepupu Jiyo dan berarti Yumi bukan Pink-nya. Dan berarti keduanya bekerja sama untuk menjebak Aliya dan Jimin. "Jadi ini punya Aliya?" Tanya Jimin dengan suara bergetar. "Ya ini punya adikku!" Tegas Taehyung. "Kau dibohongi~~~" "Eonnii" Tzuyu berteriak memanggil Lisa dengan keras. "Wae Tzu?" Tanya Lisa. "Jiyo dan Yumi adalah orang yang meneror Aliya dan mereka juga yang menculik Aliya 3 tahun yang lalu!" * Aliya bangun saat merasakan lapar pada perutnya. "Kau lapar ya Aegi? Kajja kita makan!" Aliya meringsut dari ranjang dan berjalan keluar. "Hah Pam~~~" "Bagus!" Aliya menyeringit saat mendengar suara wanita dari kamar yang biasa digunakan oleh Jiyo. "Semua berjalan lancar dan masih dalam kendali!" Tunggu Aliya tahu suara itu. Suara itu seperti suara Lee Yumi ya Aliya yakin jika itu Lee Yumi dan bagaimana bisa Lee Yumi masuk kekamar Jiyo. "Jimin akan hancur sebentar lagi. Istrinya dalam genggamanku dan aku akan dengan mudah memanfaatkanya" Aliya menutup mulutnya tidak percaya. Dirinya dimanfaatkan. "Aliya terlalu bodoh karena mudah kita bodohi. Ck dia percaya saja pada rekayasa foto yang kubuat. Dasar bodoh" Aliya menatap tidak percaya pada pintu itu. Dia dibodohi, Jimin benar, foto itu hanya rekayasa dan dengan bodohnya dia percaya. "Andai saja kita melakukan ini dari dulu mungkin tidak sepanjang ini. Kita terus meneror Aliya, kita dapat kalung itu dan kau jadi penyelamatnya padahal kau sendiri yang merencanakan penculikan itu. Kau menghilang dan aku datang dengan kalung itu pada Jimin dan mengaku sebagai Pink dan dengan bodohnya Jimin percaya. Pink adalah Aliya dan aku mengaku sebagai Pink. Wah nasib kita beuntung~~~" Bukkk! Aliya tersentak saat tidak sengaja menabrak vas bunga. Dengan panik Aliya berlari keluar. "Aliyyaaaa!" Aliya berlari saat mendengar teriakan Lee Jiyo. "Kenapa tidak bisa dibuka?" Aliya mencoba membuka pintunya tapi tidak bisa. "Kau mau kemana hah?" Aliya menatap takut Lee Jiyo. "Lepaskan aku!" Lirih Aliya. "Tidak semudah itu!" Desis Jiyo. "Aku~~~akhhh!" * Jimin masih terus mencari Aliya, jika apa yang dikatakan Lisa adalah kebenaran tidak menutup kemungkinan jika Aliya dalam bahaya. Tidak Jimin tidak bisa membiarkan Aliya terluka, tidak bisa. "Cristian Park Jimin" tiga kata yang membuat Jimin terbelalak. Tiga nama yang disatukan dan hanya satu orang yang tahu nama itu. "Lee Yumi!" Lirih Jimin. "Ya ini aku!" Ujar Yumi sambil memperlihatkan smirk nya. "Kau merindukanku?" Tanya Yumi sinis. "Bagaimana kau bisa~~~" "Tentu saja aku mengawasimu setiap saat!" Sela Yumi. "Kau~~~" "Ditinggal istri tidak enak ya? Apa lagi jika sedang hamil! Wah nasib baik!" Ejek Yumi. "Kau tahu dimana Aliya?" Tanya Jimin lirih. "Istrimu dalam ambang kematian!" Mata Jimin memerah mendengar ucapan Lee Yumi. "Kematian?" "Dia ada bersamaku" desis Yumi tajam. * "Kau mau?" Aliya melengos saat Jiyo menyentuh wajahnya. "Kau bajingan!" Maki Aliya. "Aku begini karenamu Sayang!" Satu kata kata yang membuat Aliya menyesal meninggalkan dan tidak memperdulikan penjelasan Jimin. Penipuan, dia ditipu oleh semuanya dan itu dimudahkan dengan ketidak jujuran Jimin padanya. Aliya masih ingat bagaimana ia menyabotase semua data Jimin untuk mendapatkan tender. Bagaimana dirinya menghakimi Jimin tanpa melihat kebawah. Dan bagaimana Aliya yang pergi seenaknya tanpa pamit. "Jika saja kau tidak tahu mungkin kau akan aman. Tapi kau tahu duluan, jadi jangan salahkan aku jika berbuat kasar" tekan Jiyo. "Kau Brengsek" Jiyo tersenyum hambar mendengar umpatan Aliya. "Aku memang Brengsek dan Bajingan tapi aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu" T.B.C
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD