Happy Reading.
*
Aliya hanya diam setelah Lee Jiyo selesai menceritakan kisahnya. Satu kesimpulan yang Aliya tahu, dirinya, Lee Jiyo dan Park Jimin berhubungan sejak kecil.
"Kau ingat? Masa kecil kita? Kebersamaan kita? Kau pasti ingatkan?" Aliya tersenyum hambar mendengar rentetan pertanyaan Lee Jiyo. Dia tidak mengingat apapun, ingatanya hanya terkunci ada satu titik dimasa sekarang dan bukan masa lalu.
"Aliya Please! Kau ingatka?" Lirih Lee Jiyo menggenggam jemari Aliya lembut yang terikat.
"Tidak! Satupun aku tidak bisa mengingatnya!" Jawaban Aliya membuat Lee Jiyo kecewa. Harapanya semakin tipis apalagi kebenaran jika dirinya yang menyutradarai semua ini, Aliya pasti semakin membencinya.
"Jangankan kau, aku pun lupa siapa Jimin? Masa laluku yang mana saja aku tidak ingat!" Tambah Aliya dengan senyum getir. Tidak ada yang tahu jika dirinya pernah mengalami kecelakaan, hanya Kakek dan Neneknya yang tahu.
Setelah pesta ulang tahunnya yang ke-5 Aliya, Kakek dan Neneknya berangkat ke Jeju untuk liburan, naas mobil yang mereka tumpangi menabrak mobik box dan Aliya mengalami luka yang cukup parah. Kepalanya terbentur pintu mobil dan dia juga terlempar keluar dari dalam mobil karena tidak memakai sabuk pengaman.
3 hari dirinya tidak sadar dan saat sadar hanya keluarganya yang ia ingat selebihnya Aliya lupa bahkan siapa pemberi kalung yang ia pakai juga dirinya tidak tahu.
"Aku yakin jika kau mau mengingatnya kau pasti bisa!" Aliya melirik sinis pada Lee Jiyo. Senyum remeh terlukis sempurna dibibirnya.
"Kau terlihat percaya diri sekali. Apa saat aku mengingat masa laluku dengan mudah aku mau kembali bersamamu? Tidak. Dalam mimpipun aku tidak sudi. Kau menjebakku, menculikku, dan kau juga menghancurkan rumah tanggaku. Apa yang kau harapkan setelah semua ini terjadi? Maaf. Aku tidak sudi Lee Jiyo. Kau Bajingan, aku menganggapmu pahlawan tapi kau tak ubah hanya seorang penjahat ulung yang sangat suka membalik fakta. Dan kau masih berharap lebih padaku? Jangan harap!" Lee Jiyo tersenyum hambar mendengar umpatan Aliya. Dirinya sudah memperkirakan ini sebelumnya, Aliya adalah orang kalem dan pemaaf tapi jika sudah berhubungan dengan kebohongan, Aliya tidak akan menengok kebelakang lagi. Sama seperti Jimin yang membohongi Aliya, seperti itulah Lee Jiyo melakukanya. Bahkan Lee Jiyo lebih parah.
"Apa hanya karena aku anak pembantu?" Tanya Lee Jiyo miris pada Aliya.
"Apa hanya karena statusku kau lebih memilih Jimin yang saat itu menjadi putra mahkota sedangkan aku hanya anak pembantu?" Senyum getir kembali terulas dari bibir Aliya. Lagi dirinya disalah artikan oleh orang.
"Apa dulu aku pernah membeda-bedakan perilakuku padamu dan Jimin?" Tanya Aliya pelan.
"Apa aku pernah mengkritik apa yang kau berikan seperti wanita umumnya? Apa aku juga pernah menuntutmu melakukan ini-itu? Apa aku terlihat sangat matrealistis?" Rentetan pertanyaan yang Aliya lontarkan membuat Lee Jiyo sadar jika Aliya bukan gadis yang matrealistis. Aliya tidak pernah malu bermain denganya, bahkan Aliya juga sering membawanya kepesta atau acara yang diselenggarakan Kakek Kim dulu dan Aliya dengan lantang mengatakan jika mereka adalah teman.
"Aku memang tidak ingat apapun tapi matrealistis bukan sifat dasarku. Aku berani jamin dulu aku tidak pernah malu mengakuimu sebagai teman dan menolak semua pemberianmu. Aku menerima semuanya dan aku juga mengahargainya" yang dikatakan Aliya adalah kebenaran. Aliya sangat terbuka pada Lee Jiyo dulu dan Aliya juga tidak membedakan antara dirinya dan Jimin, tapi tetap hati yang memilih. Aliya lebih dulu memilih Jimin dan itulah yang membuat Aliya sedikit bersikap berbeda pada Jimin.
Jimin lebih istiwema dari pada dirinya. Statusnya dan Aliya hanya teman yang saling melengkapi saat bermain. Tapi status Jimin dan Aliya adalah saling menyukai dan ingin memiliki satu sama lain, sangat berbeda dengan penjabaran hubunganya dan Aliya. Jimin tetap yang utama walaupun mereka jarang bertemu, Jimin tetap yang paling berhak atas diri Aliya. Karena kedunya saling mencintai.
"Lalu kenapa saat itu kau tidak menerima hadiah dariku?" Tanya Lee Jiyo lirih.
"Pasti ada satu hal yang pernah kau lakukan dan aku tahu itu. Dan aku yakin jika itu adalah suatu kejahatan karena Aliya benci kejahatan! Aliya tidak mungkin tidak menerima hadiah dari orang apalagi mengingat status kita sebagai teman dekat, Aliya tidak akan pernah menolak jika bukan karena suatu masalah!" Lee Jiyo ingat. Siang itu sebelum ulang tahun Aliya, Lee Jiyo mendorong Jimin dari kolam padahal Jimin tidak bisa berenang dan kebetulan Aliya tahu dan Aliya jugalah yang berteriak meminta bantuan orang untuk menolong Jimin.
Lee Jiyo masih ingat bagaimana Aliya yang menatap dirinya dengan pandangan kecewa dan muak. Dan Lee Jiyo sadar jika kecemburuan yang dirinya rasakan membuatnya semuanya jadi begini. Hancurnya persahabatan mereka juga karena Lee Jiyo sendiri.
"Sadar atau tidak kita memang tidak cocok. Jika pun aku merasa cocok padamu sudah dari dulu aku menerimamu. Entah saat masa kecil kita dan saat masa remaja kita. Kau memang tidak mengutarakan perasaanmu padaku tapi jika aku merasa nyaman aku pasti akan lebih dulu mengungkapkan perasaanku. Kita lebih dulu bertemu, 5 tahun yang lalu kita bertemu sedangkan Jimin baru 3 bulan yang lalu. Lama mana? Kurasa kau tahu jawabanya. Semua ini berawal dan berakhir darimu. Kau yang menghancurkan semuanya, entah itu persahabatan atau kepercayaan. Kau penyebab semuanya. Bukan Jimin atau aku, tapi kau Lee Jiyo"
*
"Tidak Lee Yumi!" Jimin menolak tegas permintaan Lee Yumi. Jimin tidak mau meniduri wanita yang bukan miliknya, menyerahkan semua harta yang Jimin punya lebih baik dari pada meniduri wanita yang bukan haknya. Jimin bukan seorang Bajingan, cukup sekali dirinya mengecewakan Aliya dan Jimin tidak mau mengulanginya lagi. Aliya adalah yang pertama dan Jimin juga mau Aliya jadi yang terakhir.
"Kau lebih suka melihatnya mati rupanya?" Desis Lee Yumi emosi. Sedangkan Jimin hanya mampu membalasnya dengan senyum hambar dan getir.
"Itu lebih baik! Aku bisa menyusulnya kealam baka dan tidak akan bertemu kalian lagi. Dia istriku dan hanya dia yang berhak atas aku. Dan yang lebih penting adalah aku hanya mencintainya dan bukan yang lain. Sebanyak apapun kau merekayasa semuanya pada akhirnya aku akan tetap kembali padanya. Dia milikku entah itu dulu ataupun sekarang!" Lee Yumi naik pitam mendengar jawaban Jimin. Kesabaranya sudah habis dan Lee Yumi tidak bisa menoleransi ini lagi.
"Kau yang mau ini!"
*
"Tidurlah!" Aliya hanya diam saat Lee Jiyo mengusap rambutnya. Ikatan pada tubuhnya sudah dilepas dan dirinya sedang berbaring diranjang.
"Aku akan melepaskanmu" kata Lee Jiyo lembut pada Aliya.
"Aku tidak peduli jika Yumi akan membunuhku karena menggagalkan rencana kami. Yang aku inginkan adalah melihat wanita yang kucintai kembali bahagia. Sudah cukup aku membuatnya menderita dan saatnya aku melihatnya bahagia bersama suami dan anaknya!" Bibir Aliya bergetar menahan isak tangis karena ucapan Lee Jiyo.
"Jangan menangis!" Lirih Lee Jiyo.
"Kau kelemahanku jadi kumohon maafkan aku!" Aliya mengangguk pelan dan memeluk Lee Jiyo erat.
"Gumawo Oppa Hiks!" Senyum Lee Jiyo mengembang saat Aliya memanggilnya Oppa.
"Panggil lagi Aliya, Please" pinta Lee Jiyo.
"Oppa Hiks! Jiyo Oppa Hiks!" Lee Jiyo mengeratkan pelukanya pada tubuh kecil Aliya.
"Gumawo!" Aliya mengangguk dan melepaskan pelukanya.
"Aku~~~brakkk!" Aliya dan Jiyo menoleh saat pintu kamar terbuka dengan kasar.
"Oppa!" Mata teduh Aliya bertemu dengan mata tajam Jimin. Ingin rasanya Aliya berlari menubrukkan tubuh kecilnya kekungkungan Jimin, meluapkan segala perasaan yang tengah ia rasakah dan mengucapkan kata maaf berulang-ulang tapi keinginan hanya tinggal keinginan, ada Lee Yumi disamping Jimin dan Aliya hany bisa diam disamping Lee Jiyo.
"Kita serasi ya?" Suara Lee Yumi terdengar rendah tapi dipenuhi intonasi yang mengerikan. Aliya hanya bisa diam sambil mencengkram piamanya.
"Apa yang kau lakukan Lee Yumi?" Tanya Lee Jiyo geram pada sepupunya. Untuk apa Yumi membawa Jimin kesini dan apa yang diinginkan Yumi sebenarnya.
"Aku hanya ingin bermain" Lee Yumi mendorong kasar Jimin hingga jatuh keranjang bersama Aliya dan Jiyo.
"Oppa!" Aliya tidak berani manatap Jimin, mata Jimin memancarkan kemarahan dan Aliya tidak tahu alasanya.
"Bermain apa hah?" Teriak Lee Jiyo geram.
"Cih sudah kuduga jika kau akan lari dari perjanjian kita" desis Lee Yumi muak.
"Aku tidak peduli!" Bentak Lee Jiyo.
"Sebegitu cintanya kah kau dengan wanita itu? Hingga dengan mudah kau mau melepaskanya? Kau lemah Lee Jiyo" Lee Jiyo mengepalkan tanganya kuta. Lee Yumi benar-benar sudah menghabiskan kesabaranya.
"Kau tidak sadar dengan ucapanmu. Kau juga hanya menuruti keinginanmu sendiri. 3 tahun lalu kau hidup mewah dan melupakanku yang jadi buronan dan kau kembali lagi untuk meminta bantuan untuk mendapatkan Jimin. Jika saja kau tidak bersikap bodoh kita tidak perlu melakukan ini lagi. Kau tidak akan kehilangan Jimin dan aku tidak perlu menyakiti Aliya lagi!" Teriak Lee Jiyo emosi.
"Cih jaga ucapanmu. Kau juga bisa melihatnya lebih lama. 5 tahun juga bukan waktu yang singkat. Aku sudah membantumu untuk bertemu dengan wanita yang kau cintai dan ini balasanya. Tidak ada yang memintamu lari, kau sendiri yang lari, tidak ada yang tahu jika aku yang menculik Aliya. Dan jika kau tidak melarang Aliya untuk memberitahu siapa yang menyelamatkan dirinya kau pasti sudah bisa menikah denganya. Kau yang terlalu bodoh memanfaatkan situasi Lee Jiyo. Kau yang bodoh!" Hampir saja Lee Jiyo membalas ucapan Lee Yumi tapi perkataan Jimin menghentikanya.
"Apa bayi itu anakku?" 3 kata yang menjadi pertanyaan Jimin dan itu sangat melukai Aliya.
"Oppa meragukanku?" Lirih Aliya.
"Kau baru saja tidur denganya kan?" Jimin melihat semuanya, dimana Aliya dan Lee Jiyo yang berpelukan diatas ranjang. Jimin melihat semuanya dan pantaskan jika Jimin menanyakan siapa ayah dari bayi Aliya?
"Aku tampak seperti Jalang? Iyakan?" Aliya tersenyum penuh kegetiran. Kesucian dirinya dipertanyakan dan dirinya terlihat seperti sampah yang pantas dibuang.
"Apa yang kau katakan Aliya?" Aliya tersenyum simpul mendengar teriakan Lee Jiyo. Setidaknya masih ada satu orang yang percaya padanya.
"Wajar jika kau bertanya seperti itu! Aku tinggal dengan seorang pria dewasa dalam jangka waktu yang cukup panjang. 1 bulan bukanlah waktu yang singkat dan akan sangat wajar jika kau bertanya siapa Ayah dari bayiku!" Aliya menarik nafasnya panjang.
"Semuanya selesai! Hubunganku dengan Park Jimin dan hubunganku dengan Lee Jiyo, semuanya berakhir. Aku tidak mengakui satu pun dari kalian sebagai Ayah dari anakku. Anakku tidak punya Ayah, dia hanya punya ibu dan aku hanya orang tua tunggal untuknya. Aku tidak butuh belas kasihanmu Lee Jiyo dan aku juga tidak butuh pertanggung jawabanmu Park Jimin. Kalian berdua sama saja, egois dan mau memang sendiri. Lee Jiyo menculikku demi kepentinganya sendiri dan Park Jimin menikahiku hanya untuk menjadi pelampiasanya saja. Aku hanya ampas yang bisa dibuang kapan saja. Aku hanya pelarian dan tempat rasa keputus asaan kalian. Tidak ada satu pun dari kalian yang mencintaiku dengan tulus. Kalian hanya memanfaatkanku demi kepuasan kalian dan itu membuatku sadar jika seharusnya aku tidak hadir dalam kehidupan kalian. Entah itu dulu atau pun sekarang" Aliya mengusap kasar air matanya yang sempat jatuh. Dengan sedikit terhuyung Aliya bangkit dari ranjang.
"Tidak ada gunanya lagi aku ada disini" Aliya berjalan keluar dari kamar ini meninggalkan mereka bertiga yang masih diam.
"Kau bodoh!" Maki Lee Jiyo.
"Hanya karena melihat kami berpelukan kau menyimpulkan jika anak itu anakku. Tidakkah kau sadar siapa yang mengambil kesucian Aliya, berapa kali kau menidurinya selama 3 bulan pernikahan kalian dan hanya karena dia tinggal selama 1 bulan denganku kau dapat dengan mudah mengatakan jika bayi itu anakku. Kau bodoh Park Jimin, sadarlah jika kau juga salah disini. Jika saja kau mau jujur dari awal ini semua tidak akan terjadi. Kau hanya menjadikanya sebagai pelampiasan nafsu bejatmu saja. Kau tidak mencintainya, kau hanya menjadikanya sebagai tempat saat dalam masalah. Dan kau tidak pernah menganggapnya sebagai istri tidak pernah! Kau bahkan lebih buruk dariku!" Air mata Jimin jatuh mendengar perkataan Lee Jiyo. Aliya tidak terlibat sama sekali dengan semua ini. Hanya tiga nama yang pantas disalahkan disini. Lee Jiyo, Lee Yumi dan Park Jimin, hanya ketiga orang itu yang pantas disalahkan.
"Kau menyedihkan! Kau tidak percaya pada istrimu sendiri dan kau dengan gambang bertanya tentang siapa Ayah dari bayi itu! Kau salah orang, jika istrimu itu Lee Yumi kau pantas mempertanyakanya tapi ini Aliya. Dia wanita yang suci dan bersih berbohong saja dia tidak bisa apalagi tidur dengan laki-laki lain?" Jimin bangkit dari posisinya dan berlari untuk mengejar Aliya. Jimin harus minta maaf, tidak peduli jika Aliya akan mengusirnya dia akan tetap minta maaf. Jika dengan menyerahkan nyawanya Aliya akan bisa memaafkanya maka Jimin akan dengan sangat suka rela menghabisi dirinya sendiri.
*
"Aliya Please" Aliya hanya diam tidak bergeming dan tetap mengemasi barang-barangnya.
"Aliya Oppa mohon!" Jimin memeluk kaki Aliya berharap Aliya akan menghentikan kegiatanya. Tapi Aliya tetap diam membiarkan Jimin memeluk kakinya dan tanganya masih sibuk memasukan bajunya dalam koper.
"Aliya maafkan Oppa! Oppa yang salah" Jimin semakin memeluk erat kaki Aliya. Harga dirinya sudah tidak penting lagi, keberadaan Aliya disisinya jauh lebih penting dari pada lainya.
"Aliya Jebal" Aliya menyelesaikan pekerjaannya dan melepaskan tangan Jimin dari kakinya.
"Tidak Aliya, aku mohon!" Aliya tidak memperdulikan permohonan Jimin, dan tetap melepaskan tangan Jimin pada kakinya.
"Aliya Jebal!" Aliya berhasil melepaskan kaki Jimin dan menarik kasar kopernya.
"Jebal Hiks!" Jimin menarik tubuh Aliya dalam pelukanya. Bukan perpisahan yang Jimin inginkan.
"Hajima!" Isak Jimin.
"Lepaskan aku!" Jimin menggeleng dan semakin memperat pelukanya.
"Hajima!"
"Semua sudah selesai Jimin-shi!" Ujar Aliya datar.
"Tidak! Kumohon maafkan aku! Aku yang salah dan tidak seharusnya aku melemparkan semua ini padamu. Bayi itu anakku dan aku adalah Ayahnya. Dia anakku" Aliya tersenyum getir dan mendorong tubuh Jimin hingga pelukan mereka terlepas.
"Kau bukan Ayahnya. Aku hanya Jalang yang malang melintang diberbagai ranjang laki-laki lain. Aku sendiri tidak yakin siapa Ayah dari Bayi ini, karena begitu banyaknya laki-laki yang tidur denganku" Jimin menggeleng dan menggenggan erat tangan Aliya tapi tidak sampai beberapa detik Aliya sudah menepis kasar tangan Jimin.
"Tanganmu akan kotor jika menyentuh tangan Jalang sepertiku" Jimin berlutut didepan Aliya.
"Kau bisa membunuhku, jika dengan membunuhku kau akan merasa puas kau bisa melakukanya" ujar Jimin pasrah.
"Selain Jalang kau juga ingin menjulukiku sebagia pembunuh. Wow aku menyedihkan ya?" Aliya menertawakan dirinya sendiri.
"Lebih baik kau ceraikan aku dan menikah dengan Lee Yumi. Kalian cocok dan kalian juga saling mencintai!" Gumam Aliya penuh kesakitan.
"Aku tidak mencintai Lee Yumi! Aku mencintaimu" lirih Jimin.
"Cinta? Jalang sepertiku dicintai seorang seperti Park Jimin. Wah aku sangat beruntung rupanya!" Jimin mendongak menatap dalam manik teduh Aliya. Jimin bisa melihat dengan jelas ada kekecewaan disana.
"Maafkan aku" lirih Jimin.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan disini. Toh semuanya juga sudah selesai" Gumam Aliya.
"Beri aku satu kesempatan lagi!" Pinta Jimin.
"Kesempatan? Kau yakin ingin sebuah kesempatan dari Jalang sepertiku? Tidak, jangan pernah berharap apapun dariku Park Jimin. Kesempatan kedua memang ada tapi tidak ada kesempatan ketiga. Aku memaafkanmu karena berbohong padaku karena disitu aku juga salah, tapi untuk kali ini aku tidak bisa. Kau menunduhku sebagai Jalang dan aku juga sudah mengakuinya jadi kesempatan mana yang kau inginkan? Semua sudah selesai dan lagi pula ini juga bukan anakmu jadi kau tidak perlu menahanku. Kita selesai" Aliya menarik kopernya dan berjalan pergi dari kamar mereka. Sudah cukup dirinya merasakan ini semua dan dirinya tidak mau merasakanya lagi.
"ALIYA, ALIYAAA, ALIYAA ANDWAEEEE!" Jimin berteriak lantang memanggil Aliya.
"JANGAN TINGGALKAN AKU. ALIYAAA, JANGAN PERGI. AKU MENCINTAIMU ALIYA, AKU SANGAT MENCINTAIMU. JANGAN TINGGALKAN AKU. ALIYYYAAAAAA! ARGHHHHH" Jimin membenturkan kepalanya kelantai dengan sangat keras. Merasakan sakitnya ditinggal wanita yang sangat dicintainya. Masa lalunya, istrinya, ibu dari anaknya. Jimin kehilangan tiga sosok itu sekaligus dan itu karena dirinya sendiri.
"Argggggggghhhh"
END OR TBC?