Happy Reading.
*
Jimin menyeret langkah kakinya menyusuri jalanan Seoul. Matanya menerawang jauh kedepan, keadaanya kacau dengan baju awut-awutan dan muka lelah. Ditanganya terdapat botol Soju entah yang keberapa. Hanya melampiaskan kesediahanya dengan mabuk, setidaknya Jimin tidak akan mengingat jika istrinya pergi dan dirinya kembali ditinggal .
"Kau kemana Hik?" Jimin kembali meneguk minumanya. Entah sudah berapa teguk minuman terkutuk itu yang melewati kerongkonganya.
Terhitung 4 bulan Aliya pergi dan Jimin tidak tahu kemana perginya. Tidak dirumah Keluarga Kim atau Park, Aliya tidak disana dan Jimin juga tidak menemukan Aliya ditempat-tempat yang Aliya datangi. Pencarianya buntu, bahkan yang lain juga mengalami hal yang sama. Buntu dan tidak terarah.
"Hik jangan pergi buk!" Tubuh Jimin jatuh berlutut ditanah, kepalanya sudah sangat pusing dan matanya sudah tidak bisa melihat sekitar.
"Mianhae!" Tubuh Jimin jatuh ketanah dengan keadaan mengenaskan.
*
"Eugh!" Jimin melenguh saat merasakan terik matahari yang menyinari wajahnya. Matanya perlahan terbuka lalu mencoba menegakkan tubuhnya. Mengerang saat merasakan pusing yang luar biasa pada kepalnya.
Mata Jimin mulai menelisik sekitar, dahinya berkerut saat menyadari jika ini kamarnya. "Bukankah selamam aku ada dijalan?" Jimin mengamati pakaianya. Baju dan celana casual, siapa yang mengganti bajunya?
Jimin kembali melirik samping dimana ada teh yang sepertinya masih panas, terbukti dengan asap yang masih mengepul dari sana. Tangan Jimin bergerak cepat mengambil teh itu. Tenggorokanya terasa kering.
"Ini~~~" Jimin menatap teh yang ada ditanganya. Ia kenal dengan rasa teh ini, ini seperti buatan Aliya, ya Aliya. Ini buatan Aliya.
"Sudah bangun?" Jimin menoleh dan menemukan wanita yang menggunakan pakaian rumahan dengan perut yang membuncit. Istrinya, Aliya.
"Aku akan men~~~bruk!" Tubuh Aliya tertarik kasar keranjang karena tarikan Jimin dan jangan lupakan tangan Jimin yang merengkuh tubuhnya dengan erat.
"Bogoshipeo" lirih Jimin yang semakin mengeratkan pelukanya pada tubuh Aliya.
"Perutku mengganjal" Gumam Aliya karena Jimin yang semakin menekan tubuh mereka.
"Perutku aduh!" Jimin langsung melepaskan pelukanya saat mendengar Aliya mengaduh.
"Sakit? Mana yang sakit?" Tanya Jimin panik sambil memeriksa tubuh Aliya.
"Perutku! Oppa menekanya terlalu kuat" oceh Aliya kesal.
"Hah perut" Jimin langsung melihat perut Aliya. Matanya melebar saat menyadari jika perut Aliya sudah membesar.
"Anak Lee Jiyo" ketus Aliya dan membuat Jimin sadar dari keterkejutanya.
"Anakku" teriak Jimin marah.
"Kau bilang kemarin ini anak Lee Jiyo" bentak Aliya yang ikut marah.
"Dia anakku! Jadi jangan sebut nama Bajingan itu lagi" geram Jimin.
"Yakin anakmu? Tes DNA saja biar terbukti, ini anakmu atau~~emphh!" Jimin langsung menyumpal bibir Aliya dengan bibirnya. Kupingnya panas mendengar ucapan Aliya tentang Lee Jiyo.
"Akan kubuktikan jika anakku" desis Jimin sambil menindih tubuh berisi Aliya.
"Yakh buktikan dengan apa?" Teriak Aliya.
"Kubuka jalan keluarnya dengan memasukkan punyaku" cetus Jimin.
"Itu tidak membuktikan apapun!" Kesal Aliya.
"Siapa peduli. Akan kutunjukkan jika hanya aku yang bisa memasukimu dan tidak ada yang lain. Hanya aku dan selamanya hanya aku" Tegas Jimin.
"Kau terlalu percaya diri" ketus Aliya.
"Harus! Karena ini memang anakku!" Kata Jimin dengan menelanjangi Aliya.
"Park Jimin lepassss"
*
"Sana pergi!" Teriak Aliya saat Jimin kembali mendekati tubuh telanjangnya.
"S-H-I-R-E-O!" Tolak Jimin dengan mengeja hurufnya.
"Ini sudah sore kau tidak lelah hah? Aku lapar" kesal Aliya pada Jimin. Bagaimana tidak kesal, Jimin mendekatinya dengan keadaan nekad dan Aliya tahu apa kelanjutanya jika sampai Jimin berhasil meraih tubuhnya.
"Aku tidak mau!" Tolak Jimin yang sudah berhasil meraih tubuh Aliya dengan selimut yang melilit tubuh polosnya.
"Please Jim! Aku lapar" rengek Aliya yang benar-benar merasa lapar. Dari tadi pagi Aliya tidak makan karena Jimin yang terus menyerangnya. Ranjang, sofa, meja rias, dinding, kamar mandi juga.
"Anakmu belum makan!" Ujar Aliya yang sudah benar-benar lemas.
"Tunggu sebentar!" Jimin melepaskan pelukanya, meraih celananya dan memakainya asal lalu berjalan keluar.
"Dasar sinting!" Umpat Aliya dan turun dari ranjang.
"Lapar ya nak? Tunggu ya! Appa sintingmu itu sedang membuatkan makanan untuk kita. Sebentar saja Nde?" Aliya berlari menuju lemari untuk mengambil pakaianya.
"Ah baju yang mana ya Sayang? Ini semua sudah kekecilan dan baju Eomma yang lain ada dikoper dan Eomma malas mengobrak-abriknya" gumam Aliya sambil terus mencari.
"Ini saja!" Aliya meraih terusan polos dan memakainya asal. Anaknya sudah sangat lapar dan Aliya tidak mau terlalu lama memilih pakaian.
"Kita lihat Appa sintingmu itu. Kajja!"
*
Aliya menatap berbinar pada makanan yang ditata Jimin dimeja makan. Air liurnya sudah menetes karena melihat makan lezat yang tertata rapi dimeja makan.
"Deliveri eoh?" Tanya Aliya dengan mata yang masih berbinar terang.
"Tidak lihat apron ini?" Tanya Jimin ketus.
"Mian!" Cengir Aliya.
"Cepat makan!" Aliya mengangguk lalu meraih piring dan mengisinya dengan berbagai makanan yang ada didepanya.
"Pelan-pelan!" Instruksi Jimin pada Aliya.
"Hem!" Angguk Aliya.
"Oppa akan membersihkan tubuh dulu. Kau makan saja, nanti Oppa akan membersihkan piringnya" kata Jimin sambil mencium kening Aliya lalu berjalan menuju kamar.
"Sexy juga!" Puji Aliya saat melihat punggung polos Jimin.
"Jadi dia memasak dengan keadaan toples? Wah Daebak" kagum Aliya yang baru sadar.
"Kajja kita makan lagi sayang!"
*
"Jadi kau tinggal dengan Lee Jiyo selama 4 bulan ini?" Tanya Jimin emosi.
"Hem! Wae? Mau marah?" Tantang Aliya, sontak Jimin langsung menunduk.
"Hanya berdua?" Tanya Jimin pelan.
"Aniya! Dengan Ahjumma Lee juga" Jimin mendongak menatap Aliya.
"Ahjumma Lee?" Aliya mengangguk semangat.
"Ahjumma Lee selalu memasakkan makanan yang enak untukku, banyak lagi. Berat badanku sudah naik 10kg karena makan terus disana" kekeh Aliya dengan wajah lucu.
"Wih banyak juga! Lalu Lee Jiyo?" Tanya Jimin langsung.
"Baik! Jiyo Oppa juga selalu menuruti keinginanku jika sedang ngidam" jawab Aliya riang.
"Aku ini Ayahnya seharusnya aku yang menurutinya" protes Jimin kesal.
"Siapa peduli. Yang penting aku makan" balas Aliya cuek.
"Aish!" Jimin merengut kesal dan membelakangi Aliya.
"Tidak mau minta maaf padaku?" Jimin sontak berbalik dan menatap Aliya dengan pandangan bersalah.
"Aku~~ak-aku Mianhae" lirih Jimin tertunduk.
"Aku ingin mendengar alasanya" ujar Aliya lembut sambil membawa wajah Jimin untuk menatapnya.
"Tapi janji tidak akan marah dan pergi lagi?" Aliya mengangguk pelan.
"Aku akan jadi pendengar yang baik" Jimin menghela nafas pelan dan mengangguk.
"Aku cemburu. Disepanjang perjalanan menuju Apartemant Lee Jiyo, Lee Yumi terus memanasiku dan berkata yang tidak-tidak tentang kalian. Lee Yumi bilang jika kalian sering tidur bersama, ciuman dan yang lainya. Dan Lee Yumi juga bilang jika dulu kau mencintai Lee Jiyo, bahkan kau ingin masuk ke Han Group juga karena Lee Jiyo. Aku cemburu dan panas hati apalagi melihatmu yang memeluk Lee Jiyo diranjang dengan keadaan berbaring lagi. Sampai akhirnya aku mengatakan kata-kata sial itu" Aliya tersenyum samar dan mengusap pelan pipi Jimin.
"Oppa masih mencintai Lee Yumi?" Tanya Aliya dan Jimin langsung mengeleng keras.
"Saat pernikahan kita aku sudah tertarik padamu tapi hanya sebatas tertarik dan lama kelamaan aku ingin memasuki hidupmu. Melihat keseharianmu yang polos dan apa adanya membuatku luluh hingga benar-benar menghapus nama Lee Yumi dari hatiku. Kau ingat saat percintaan kita didapur waktu itu?" Tanya Jimin dan dibalas anggukan dari Aliya.
"Sejak pagi itu juga kau mulai memenuhi fikiran dan hatiku tapi aku masih bimbang karena tiba-tiba Lee Yumi kembali menunjukkan wajahnya didepanku. Aku ragu akan hatiku sendiri, entah aku mulai mencintaimu atau masih mencintai Lee Yumi! Dan saat aku yakin dengan perasaanku adalah saat kau bersikap ketus padaku beberapa hari sebelum kepergian pertamamu, sebelum kepergianmu itu aku sudah akan bilang jujur tentang masa laluku tapi kau keburu pergi dulu" lirih Jimin.
"Dan sekarang aku ingin mendengar semuanya dari Oppa. Termasuk masa kecil kita, Oppa maukan?" Tanya Aliya.
"Masa lalu? Kau ingat?" Tanya Jimin kaget.
"Tidak semuanya tapi agak karena Ahjumma Lee sudah menceritakan semuanya dengan benar tanpa bumbuan apapun" ujar Aliya.
"Baiklah. Kita berteman, aku, kau dan Lee Jiyo. Pertemanan kita tidak mengenal nama. Aku hanya memanggilku Pink dan kau memanggil kami Oppa. Kita berteman dan ki~~~~"
*
"Pergilah! Aku sudah memaafkanmu" Lee Jiyo tersenyum simpul dan mengangguk.
"Boleh aku memelukmu?" Jimin menggeleng keras.
"Aku bukan Gay~~~akhh" Jimin memekik saat Aliya menginjak kakinya.
"Tidak sopan!" Ketus Aliya.
"Aku bercanda. Sini" Jiyo tersenyum dan memeluk Jimin erat.
"Mian Jimin-ah!" Sesal Lee Jiyo.
"Gwenchanayo! Aku mengerti apa yang kau rasakan" Jimin menepuk pelan punggung Lee Jiyo.
"Gumawo!" Kata Lee Jiyo sambil melepaskan pelukanya.
"Ya dan jangan ulangi itu lagi!" Lee Jiyo mengangguk pelan.
"Aku tahu akan sangat tidak pantas bertanya seperti ini tapi bisakah kita berteman lagi seperti dulu?" Tanya Lee Jiyo pelan.
"Bisa asal saat pulang dari Makau kau membawa istri beserta anakmu dan menunjukkan padaku" Lee Jiyo sontak menatap Jimin. Terlihat sekali sorot kebahagiaan dimatanya.
"Aku pasti akan membawanya! Kau tenang saja" Jimin mengangguk pelan.
"Pergilah pesawatnya akan berangkat" kata Jimin dan memeluk Ahjumma Lee.
"Ahjumma baik-baik disana. Jika Jiyo melakukan kesalahan telfon saja aku" Ahjumma Lee mengangguk dan mengusap pipi Jimin.
"Jadi suami yang bertanggung jawab untuk istri dan jadilah Ayah yang baik untuk anakmu" nasihat Ahjumma Lee pada Jimin.
"Itu pasti Ahjumma!" Janji Jimin.
"Dan Aliya jaga kesehatanmu dengan baik. Jangan marah-marah terus kasihan Jimin" Aliya menganguk dan memeluk Ahjumma Lee.
"Ahjumma baik-baik disana!" Pesan Aliya.
"Ya! Ada Jiyo yang akan menjaga Ahjumma!" Aliya melepaskan pelukanya.
"Hati-hati!" Pesan Jimin pada Jiyo.
"Hem! Kami pergi!" Lee Jiyo menggandeng ibunya dan berjalan kepintu masuk pesawat.
"Hati-hati" seru Aliya.
"Kita pulang!" Ajak Jimin saat sudah tidak bisa melihat Ahjumma Lee dan Lee Jiyo.
"Sekarang?" tanya Aliya.
"Hem!"
"Makan dulu ya? Aku lapar!" Jimin mengangguk dan menarik pinggang Aliya untuk pergi dari Incheon.
*
"Sesak Oppa!" Teriak Aliya pada Jimin.
"Pelan-pelan Sayang! Ini juga dicoba" rasanya Aliiya ingin merobek baju yang Jimin kenakan pada tubuhnya. Jimin membelikan baju untuknya tapi ukuranya kekecilan dan Jimin tetap memaksa dirinya untuk memakainya.
"Ayolah! Ini baju hamil pertama yang kubelikan untukmu" ujar Jimin.
"Tapi~~~"
"Please hanya untuk beberapa saat!" Aliya mendengus kesal dan kembali memasukkan bajunya.
"Sini kubantu!" Jimin meraih bagian depan baju Aliya dan menariknya kebawah. Panjanganya hanya sampai kelutut, tapi bagian perutnya sedikit kekecilan karena perut Aliya yang sudah membesar.
"Hah sampai juga" kata Jimin lega.
"Berbalik Sayang!" Aliya menurut lalu berbalik dam Jimin mulai menaikkan resleting Aliya. Tapi punggung mulus Aliya sangat mengganggu aktifitasnya. Bukanya meneruskan pekerjaanya Jimin malah sibuk menciumi punggung Aliya.
"Oppa!" Aliya sudah mulai tidak nyaman karena perlakuan Jimin.
"Ya Sayang!" Jimin malah menurunkan bagian bahu Aliya, padahal tadi pemasangan bahu juga sangat sulit tapi ini malah dilepasi lagi.
"Oppah!" Tangan Jimin mulai merambat kenagian depan Aliya.
"Jangan keras-keras! Sakit" kata Aliya saat Jimin meremas gundukan kembarnya.
"Ouhg!" Jimin mencubit pelan n****e Aliya yang menegang dibalik Bra dan bajunya.
"Ah!" Jimin membalik tubuh Aliya dan memciumnya dengan ganas. Mengekspos penuh bibir plum Aliya.
"Ah!" Tangan Jimin merambat kebagian lain tubuh Aliya merasa kesusahan dengan baju Aliya, Jimin langsung merobeknya dan menciumi leher putih Aliya.
"Kenapa dirobek?" Tanya Aliya pelan saat Jimin menyesap kulit lehernya.
"Susah!" Jimin membuang sisa baju Aliya kesembarang arah dan merapatkan tubuh mereka. Meremas bokong sintal Aliya dan menciumi daerah belahan dada Aliya.
"Oppa!" Jimin melepas semua pegangan dan ciumanya, menatap Aliya dengan pandangan yang sudah menggelap sempurna.
"Kita teruskan ya? Adikku sudah mau pulang!" Lirih Jimin.
"Tapi~~~"
"Wae?" Tanya Jimin cepat.
"Aku malu!" Jawab Aliya pelan.
"Malu apa Sayang?" Tanya Jimin lembut.
"Dadaku semakin besar dan juga jelek" jawab Aliya.
"Itu besar juga karena ulahku. Jadi jangan malu, dada besar itu anugerah dan kau harus menerimanya. Lagi pula kau juga semakin Sexy!" Aliya menunduk malu karena ucapan Jimin.
"Mau ya?" Aliya mengangguk pelan.
"Kajja!"
*
"Pulang saja sana!" Usir Tzuyu pada seseorang.
"Please!" Tzuyu tetap menggeleng.
"Hus pergi. Aku tidak mau kau masuk lagi, kasihan itu-ku kau siksa seharian. Kau fikir tidak lelah?" kesal Tzuyu.
"Tapi hanya sekali. Lagi pula juga sudah lama kita tidak melakukan itu!" mohon pria itu.
"No! Kenapa kau semakin mesum begini? Dulu kau itu polos dan kenapa sekarang jadi urakan?" Teriak Tzuyu kesal.
"Itu dulu Tzu, sekarang aku semakin Sexy dan mau itu" bujuk Namja itu.
"Yakh Cho Jungkook kuadukan juga kau pada Aliya nanti" wajah Jungkook langsung menegang saat Tzuyu menyebut nama Aliya.
"Tidak Tzu! Aku pergi oke" Jungkook langsung melompat dari ranjang dan memakai pakaianya dengan asal lalu berlari keluar.
"Dasar kelinci mesum. Hah untung ada nama Bibi Aliya ya Sayang!" Kata Tzuyu sambil menyentuh perutnya. Yeah Tzuyu hamil anak Jungkook dan Jungkook belum tahu, hanya Tzuyu yang tahu tentang kehamilanya.
"Kita beritahu besok saja Sayang! Eomma masih mau mengerjai Appa-mu" Jungkook ada di Amerika selama seminggu ini dan pulang-pulang langsung menyerang Tzuyu yang sedamg tidur tadi. Untung siap.
*
"Nanti dulu Yerim-ah!" Kata Hanbin pada kekasihnya.
"Please Oppa!" Mohon Yerim.
"Memangnya kenapa?" Tanya Hanbin.
"Aku mau hamil!" Hanbin menatap Yerim kaget.
"Hamil?" Tanya Hanbin.
"Ya! Aliya hamil, Tzuyu juga dan hanya aku yang belum" cetus Yerim kesal.
"Tzuyu hamil? Dengan siapa?" Tanya Hanbin kaget.
"Jungkook!" Jawan Yerim.
"Jungkook? Cho Jungkook?" Tanya Hanbin shok.
"Hem! Oppa fikir Jungkook ada berapa?"
"Tapi mereka belum menikah!" Kata Hanbin.
"Aku tahu itu! Maka dari itu aku mau menikah dan cepat hamil seperti yang lain" rengek Yerim dan Hanbin hanya bisa menghela nafas.
"Ara kajja kita menikah. Aku akan ijin ada orang tuamu" kata Hanbin pasrah.
"Jinja?" Tanya Yerim semangat.
"Ehm!" Yerim berseru senang dan memeluk Hanbin.
"Kapan kita menikah?" Tanya Yerim.
"Setelah pernikahan Taehyung Hyung" jawab Hanbin.
"Assa Oppa memang Jjang"
*
"Ah!" Aliya mendesah tertahan saat Jimin kembali memasukinya. Entah sudah berapa kali Jimin membobolnya, untung kuat.
"Oppah!" Jimin mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan kecepatan stabil dan pelan.
"Faster Oppa" Lirih Aliya.
"Yeah syanag" Jimin menanbah kecepatan gerakanya. Rasanya sangat nikmat dan memabukkan, tidak salah orang tuanya memilih Aliya sebagai istrinya.
"Oppah!" Jimin menunduk untuk meraih bibir Aliya yang terbuka. Memangut dalam dan manis. s**t dirinya akan sampai, Kejantananya semakin membesar dalam rahim Aliya apalagi remasan lembut daru dalam sana membuat Jimin jadi semakin menggila.
"Sayahnmghh!" Jimin melepaskan pegutanya saat gelombang itu kenikmatan itu datang lagi.
"Aku mencintaimu!" Lirih Jimin mengecup dahi Aliya dan melepaskan kontak tubuh mereka.
T.B.C