Zanara masih diam menunggu penjelasan dari Mark atas semua yang mengganjal di hati dan pada akhirnya menjadi batu sandungan bagi hubungan mereka. Keyakinan Mark yang keliru, membuatnya meragukan Zanara. Ia adalah wanita yang setia, ia berani jamin itu. Dan apabila ada sedikit saja keraguan, tentu saja itu akan menyakiti perasaannya. Bagaimana mungkin Mark tak mengetahui itu? "Ini ada hubungannya dengan Laura, mantan kekasihku." mark pada akhirnya memulai kisahnya. Entah mengapa, memandang wajah terluka kekasihnya ketika menyebut nama Laura, hatinya seperti teriris. "Apa yang ia lakukan?" Mark meraih jemari Zanara, mengecup, lalu mendekap di dadanya. "Ia yang membuatku meyakini suatu kebohongan. Entah karena aku bodoh, atau ... entahlah, yang pasti aku tidak mencintainya sebesar cint

