Mark bergeming mendengar kalimat penuh penekanan yang keluar dari bibir cantik kekasihnya. Ia ingin sekali mendekat dan merengkuh Zanara, serta membiarkan gadis itu nyaman dalam pelukannya, tetapi ia tahu ini bukan saat yang tepat. Zanara sedang dalam mood yang tak baik. "Maafkan aku ... aku ingin sekali memberi kabar, tetapi tidak memungkinkan-" "Kenapa? Karena kau berada di hutan dan kehilangan sinyal? Atau di dasar lautan? A-atau jangan-jangan sedang dalam pelukan wanita lain?" potong Zanara, tak sedikit pun ia ijinkan Mark memberi penjelasn. kini, apa pun yang akan dikatakan pria itu, tak penting baginya. Mark hanya mendesah. Pundaknya terlihat meluruh sebagai tanda ia tak memiliki jawaban atas segala pertanyaan gadis itu. Zanara mengangguk mengerti. "Jadi benar, ya? Wanita lain?

