1. Pertemuan tidak terduga
06 Agustus 2028
Sekarang mereka jadi pusat perhatian. Waktu seakan berputar saat si wanita yang kini berdiri dengan wajah datar itu baru saja menyiram wajah si wanita yang duduk di luar cafe sana. Si pria yang menjadi penengah mereka hanya berdecak kesal.
"Childish banget sih lo?!" sentaknya ke wanita berwajah datar itu. "Mulai sekarang kita putus." lanjutnya penuh penekanan
Si wanita yang berdiri itu mengangguk pelan. "Oke! Semoga bahagia sama nih pelakor." tunjuknya ke wanita yang kini masih menunduk dalam.
"Jangan kurang ajarnya lo, sama cewek gue." Si pria berkata demikian karena tidak terima.
Terkekeh pelan, wanita tadi melayangkan satu tamparan telak ke si pria tapi tak sempat karena si wanita yang menjadi pacar pria tadi kini malah duluan melayangkan tamparan telak ke pipinya. Suara dengung memekakkan telinga. Si wanita menoleh ke kanan dengan pipi yang memerah. Tangannya mulai terangkat mengusap pipinya yang di tampar tadi.
"Berani banget lo ya." Kekehnya.
Si wanita dengan wajah masih basah itu melipat tangannya di depan d**a. "Itu pelajaran buat lo yang udah berani siram wajah gue." katanya tersenyum miring.
Wanita yang di tampar tadi tak lain adalah Bulan itu berdecih pelan. "Songong banget lo jadi cewek, udah rebut pacar orang malah main tangan sekarang." ujarnya telak membuat si cewek tadi bungkam. "Cih! Sekali murahan ya tetap murahan." Maki Bulan. Tidak peduli sekarang kalau mereka jadi pusat perhatian para pengunjung lainnya.
"Stop Bulan!" Pria yang tadi barusan jadi mantan Bulan mengangkat suara. "Jangan berani-berani ya lo, rendahin cewek gue di depan gue. Asal lo tahu, dia lebih baik daripada diri lo." Tunjuknya ke Bulan dan ke pacarnya secara bergantian. Setelah itu menarik tangan selingkuhan nya tadi meninggalkan Bulan di sana. Dengan tatapan berbeda-beda dari pengunjung.
Bulan menghela napas lirih. Sudah biasa di perlakukan seperti ini jadi dia menganggap biasa saja. Di jadiin pacar kemudian beberapa bulan kemudian mereka selingkuh dan meninggalkan Bulan persis kayak tadi. Seakan dunia selalu mempermainkan hati Bulan yang rapuh.
Bulan menunduk mengusap pipinya yang tadi bekas tamparan. Ia kemudian mengadah terpaku sesaat kala matanya saling pandang dengan netra mata yang dulu selalu ia sukai. Dia diam dalam keheningan kemudian tak berapa lama tersenyum tipis kepada pria yang berdiri depannya.
Dengan lirih Bulan menyapa. "Hai!" katanya dengan senyum yang mulai mengembang. Padahal dalam hati malu, karena lelaki itu pasti menonton drama percintaan nya tadi. Dengan sengaja Bulan mengalihkan perhatian nya. Kemudian berbalik pergi dari sana dengan langkah gontai.
Mata Bulan mengerjap pelan. Masih mengingat jelas jalan hidupnya sekarang tidak menentu. Sering di permainkan oleh semua pria yang selalu ingin menjadikan dirinya pacar. Bulan selalu menganggap ini adalah sebuah karma. Karena ayahnya dahulu juga sering mempermainkan hati ibunya hingga ayahnya itu selingkuh dan menikah lagi. Sampai Bulan yang tidak tahu apa-apa jadi korbannya.
Tangan Bulan menghapus kasar air matanya yang jatuh. Ia tidak ingin menjadi cengeng. Karena dunia ini sangat kejam untuk dinikmati.
***
Bulan membuka pintu apartemen nya tanpa melihat siapa yang datang. Kemudian tertegun kala salah satu abangnya berdiri di sana dengan wajah datar.
"Kenapa?" tanya Bulan sedikit tidak suka karena istirahat nya di ganggu.
Arlan hanya memberikan dia sebuah kartu undangan. Kemudian berucap. "Lusa pernikahan sepupu kita yang ada di Semarang. Gladis, kamu masih ingat dia kan? Di seumuran sama kamu." Arlan menatap adiknya. "Kamu harus datang mewakili mendiang Mamih." lanjutnya.
Bulan mengangguk saja dan mengambil kartu undangan tersebut. "Ada lagi?" tanyanya karena abangnya tak kunjung pergi. Jangan harap Bulan akan menyuruh abangnya masuk.
Sementara Arlan menarik sebelah alisnya. "Gladis sekarang udah nikah. Di keluarga kita tinggal kamu yang belum. Kamu kapan nikahnya? Stop pacaran gak jelas gitu, Lan. Umur lo makin tua, jangan sampai lo jadi perawan tua. Bisa-bisa lo buat malu keluarga kita." ucap Arlan begitu saja.
Bulan melengos. "Belum ada yang tepat." jawabnya acuh. "Kalau nggak ada lagi, pergi sana. Gue pengen istirahat." usir Bulan tanpa hati. Sejujurnya hatinya sedikit tersentil kalau setiap sepupunya menikah sementara dirinya yang kini sudah mau dua puluh tujuh tahun belum menikah sama sekali.
"Gak guna gue ngomong sama lo." Dengus Arlan dan berbalik dari sana.
Tanpa menunggu waktu lagi, Bulan menutup pintu apartemen nya. Menyandarkan punggungnya di balik pintu seraya memejamkan mata. Bukan Bulan tidak mau menikah, hanya saja selama ini tidak ada yang real dalam mencintai nya. Semua lelaki yang pacarin selalu selingkuh begiu saja. Kadang Bulan sering menanyakan dirinya sendiri, apa yang kurang dalam dirinya ini? Sehingga semua pacarnya dengan mudah selingkuh.
Bulan mengepalkan tangannya. Meremas kartu undangan itu begitu saja dengan pikiran berkecamuk. Terkekeh kemudian kala masa SMA nya sangat indah kala itu. Semuanya terlintas begitu saja diiringi air mata Bulan yang mengalir tanpa henti.
***
Seperti tanggal yang sudah di tentukan. Bulan pergi ke Semarang menghadiri pesta pernikahan sepupunya itu. Sepanjang acara Bulan hanya seorang diri. Sesekali bertegur sapa dengan saudaranya.
Papih Bulan juga datang. Tapi ia sama sekali tidak mau menghampiri pria itu. Bulan hanya malas bertemu dengan ibu tirinya yang bermuka dua itu. Bulan duduk di meja bundar dengan segelas bir di tangannya. Perempuan itu sedari tadi minum tiada henti.
Hingga ia mulai bosan, Bulan memilih keluar dari pesta itu. Tertegun saat di luar sana namanya di panggil seseorang.
"Bulan!"
Bulan tidak langsung menyahut dia cuman berbalik. Keningnya berkerut karena lelaki yang dua hari lalu ia jumpai kini berjalan cepat kearahnya. Bulan kadang bingung, kenapa Tuhan sering mempermainkan hatinya begini.
Ia pikir lelaki itu akan menghampiri nya. Tapi Bulan salah, matanya mengerjap melihat lelaki tadi berjongkok di sebelah karena ada anak kecil yang berdiri di sana.
"Sudah papa bilang kan, jangan main jauh-jauh." ujar lelaki itu. Bulan semakin tertegun kala lelaki tadi terlihat khawatir.
"Bulan." lirih wanita itu seorang diri.
Mereka sudah lama di pisah kan karena sesuatu hal. Dan kini setelah beberapa tahun keduanya kembali bertemu dengan lelaki itu yang sudah memiliki seorang anak . Yang mana namanya persis seperti namanya sekarang.
***
Pintu apartemen terbuka. Bulan masuk tergesa dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Setelah itu meraup wajahnya kasar. Sungguh pertemuan kali ini tak terduga oleh Bulan sendiri.
Tanpa sadar mata Bulan memanas. Percuma dia berusaha melupakan kalau takdir malah mempertemukan mereka lagi setelah kian tahun. Dan ujung-ujungnya perasaan Bulan yang porak poranda.
Bulan tertegun sebentar. Bersamaan dengan air mata yang mulai jatuh ke pipinya. Bulan mengingat masa di mana mereka bersama dulu.