Sembilan tahun yang lalu.
"Berlian! Ambilin gue saos dong," pinta Bulan yang kini menatap baksonya dengan minat. Berlian yang duduk di samping Janur pun mengambil kan saos untuk sang sahabat. Matanya membulat saat melihat seragam Bulan di siram seseorang.
"Bangke!" Bulan mengumpat langsung. Dingin pun menyerang di sekujur tubuhnya. Bulan langsung menutupi bajunya tembus pandang dengan tangannya sendiri.
"Dasar cabe," geram Puspa ketika tahu siapa pelakunya. Siapa lagi kalau dua musuhnya itu. "Sialan lo duanya!" Bulan pun berdiri siap hendak membalas perbuatan Angel dan Laras tadi.
"Udah Lan! Jangan balas dulu! Itu baju lo, astaga," ucap Berlian separuh memekik. Bulan langsung menelan salivanya ketika menyadari. "Teh, minjem almamater lo dulu," tutur Bulan karena mengingat Uteh sekarang lagi make almamater kebanggaan nya. Yaitu almamater osis.
Uteh yang lagi makan mengangguk. Cepat-cepat melepas almamater nya tapi terurung karena di dahului oleh seseorang.
"Ganti baju lo buruan nanti bisa masuk angin," Orang itu adalah Alam yang kini menyampirkan jaketnya di tubuh Bulan. Membuat gadis itu mengerjap pelan. Tidak menyangka Alam senekad ini.
"Lo kalau cari masalah sama Bulan lagi. Urusannya sama gue," ujar Alam santai menatap dua cabe di depan sana. Menuntut Bulan keluar dari kantin membuat beberapa murid tercengang karena perlakuan gentle seorang Alam yang sangat susah di dekati.
"Makasih." Cicit Bulan ketika sampai di depan kamar mandi. "Gue masuk dulu." lanjut Bulan sedikit tergagap.
Alam menghela napas. "Lo ada baju ganti nggak?" tanya Alam dan gadis itu menggeleng pelan.
"Tunggu di dalam, gue cari baju ganti lo." Alam berlari menjadikan Bulan semakin tertegun karena tingkah sigap cowok itu.
Bulan jadi malu karena beberapa waktu lalu selalu menolak dan beranggapan kalau cowok itu sama dengan cowok di luaran sana.
Nyatanya mereka beda sekali.
***
Bulan menghela napas dengan bersandari di belakang pintu kamar mandi. Seraya menunggu Alam yang akan datang.
"Lan, lo di dalem kan?" suara cowok itu terdengar dari luar. Bulan langsung membuka pintunya tertegun melihat Alam kini sudah berganti baju dengan seragam olahraga.
"Ini pakai aja seragam gue. Kebetulan gue habis ini mapel olahraga." Alam menyerahkan bekas seragam yang pakai tadi. Membuat Bulan ragu mengambilnya. "Seragam gue masih wangi kok, tadi gue kasih minyak wangi sebelum ke sini. Lagian itu cuman beberapa jam baru gue ambil." Alam menjelaskan sedikit.
Bulan mengangguk sebentar dan menatap Alam. "Thanks." ucapnya. Dan Alam mengangguk menyuruh cewek itu masuk ke dalam kamar mandi. Agar segera mengganti seragamnya.
Helaan napas keluar dari mulut Bulan. Ia menatap dirinya di cermin dengan tubuhnya yang terbalut dengan seragam Alam sekarang meski sedikit kedodoran untuk tubuhnya yang minimalis ini. Untung saja roknya tak ikut basah juga tadi. Setelah membereskan seragam kotornya. Bulan keluar dari kamar mandi. Sedikit terkaget karena Alam masih berdiri di luar sana.
"Udah?" tanya Alam. Bulan hanya mengangguk kaku.
"Sebagai imbalan, save nomer guenya." usai mengatakan itu Alam pun berlalu. Meninggalkan Bulan yang menatap cowok itu tidak habis pikir.
"Jadi, dia nggak ikhlas nolong gue gitu? Pake minta imbalan segala." gerutunya pelan. Meniup poninya dengan kasar.
Gadis itu merogoh saku roknya merasakan ponselnya bergetar. Mulut Bulan terbuka membaca isi pesan dari nomor asing itu.
Unknown: gue alam jangan lupa sv backnya buat balikin seragam gue nanti
Bulan menipiskan bibirnya. Merutuk karena berprasangka buruk dengan cowok itu.
"Lan!" Merasa terpanggil Bulan pun menoleh. Mendapati Berlian yang kini berlari menujunya.
"Gue cariin dari tadi ternyata lo di sinu." ungkap Berlian menghela napas. "Masuk yuk, bu Parida udah masuk. Gue izin keluar tadi buat cariin lo. Untung bu Parida baik banget orang." cerocos Berlian. Merangkul bahu Bulan tanpa bertanya dari mana Bulan mendapat seragam ganti itu.
***
Bel pulang sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Namun, Bulan masih duduk di kursi kelasnya sekarang. Tidak mau ikut berdesak-desakan saat keluar nanti seperti teman-teman sekelasnya.
Bulan menunduk membaca pesan dari papi yang setengah jam lalu masuk dan belum ia baca sama sekali.
Papi: kalo kamu gak dateng nanti malem papih pastiin mamih kamu sudah berada di rumah sakit jiwa saat itu juga
Napas Bulan memburu. Meniup poninya kembali. Gadis itu jadi teringat dengan pembicaraan abangnya pagi tadi.
Pagi itu Bulan terkejut melihat kehadiran salah satu abangnya di rumah. Bulan langsung menutup pintu kamar Mamihnya, menatap penuh tanya ke arah Andre — abangnya.
"Tumben bang?"
Andre mengalihkan pandangannya dari sang adik, terdiam beberapa lama. Saat Bulan hendak pergi ia langsung mencekal tangan gadis itu. "Papi nyuruh kita kumpul kerumahnya nanti malem,"
Bulan jadi terdiam, tidak percaya akan ajakan papi ya kali ini. Gadis itu langsung saja mendengus tidak suka. Sambil memutar bola matanya malas.
"Gue gak mau!" tolaknya langsung. Dan Bulan tidak akan pernah sudi menginjak kan kakinya ke rumah papi yang baru.
Gadis berponi itu langsung saja menuruni tangga, lebih baik pergi ke sekolah daripada meladeni abangnya lagi. Yang akan berakhir dengan pertengkaran mereka. Bulan menyambar tasnya di kursi meja makan, meminum susunya dengan tergesa-gesa. Begitu habis dia langsung beranjak dari sana, tapi urung saat mendengar suara bibi.
"Gak sarapan dulu, non?"
Bulan menggeleng. "Gak, bi. Bulan mau langsung berangkat aja, maaf ya bi, Bulan gak jadi makan nasi goreng yang bibi buatin." katanya tak enak. Merasa tak menghormati usaha sang bibi yang rela bangun pagi-pagi demi memasakkan ya sarapan.
"Kalo gitu tunggu bentar non, bibi buatin bekalnya dulu. Biar non, makan di sekolah aja nanti." balas bibi, bergegas hendak menyiapkan bekal untuknya.
Bulan langsung tersenyum senang. "Buatin dua ya, bi. Bulan ke depan dulu, mau pake sepatu." ujarnya antusias. Bibi cuman mengacungkan jempol ya tanda setuju.
Bulan langsung berlari kecil ke arah teras, sebelum itu mengambil sepatunya yang terletak di rak khusus. Katakan lah Bulan pengecut, menghindari abangnya. Hanya saja Bulan tidak ingin bertengkar dan itu akan menambah luka di hatinya.
Sambil bersenandung kecil, Bulan memasang sepatu. Tak sadar Andre berdiri diambang pintu memperhatikannya.
"Sampai kapan lo, begini terus, Lan." Bulan langsung tersentak mendengar suara itu. Gerakan memasang sepatu ya pun terhenti, tapi itu hanya sekejap karena Bulan melanjutkan lagi. Menghiraukan keberadaan sang abang.
"Lo, harus dateng ntar malem. Kalo enggak, lo, pasti tau kan, konsekuensinya." ancam Andre.
Lagi, lagi, Bulan mendengus tidak suka. Mentang-mentang Bulan anak terakhir dan mudah di ancam begini, mereka selalu senantiasa memperlakukan ya sesuka hati mereka semua. Kadang Bulan rindu sama masa kecilnya, di mana keluarganya masih lengkap. Mami, Papi, Andre dan Arlan pun sama-sama menyayangi nya, selalu ada untuknya. Tapi semua berubah ketika ketiga perempuan itu datang. Saat Andre menikah, lelaki itu berubah. Tidak peduli lagi akan dirinya dan Mami.
Setelah itu, perubahan kembali terjadi, saat wanita pelakor itu menggoda papi dan jadilah perpecahan keluarga mereka. Tak sampai di situ. Arlan, abang keduanya pun menikah juga. Lelaki itu merasa terpuruk akan perceraian orangtuanya dan memilih menikah dengan perempuan pilihannya, berupaya ada menguatkan dirinya. Tanpa memikirkan nasib Bulan sendirian di sini. Sendiri berdiri tegak, tak kuasa melihat Mami depresi akibat semua perubahan ini.
Bagi Bulan sekarang, ketiga lelaki yang dulu ia banggakan tak seperti seonggok sampah yang menyebar bau ke dalam kehidupannya. Mereka sama brengseknya, memikirkan kebahagiaan sendiri tanpa memikirkan dia dan Mamih di sini.
"Ya, ya, Bulan tau itu. Dan Bulan tidak akan pernah sudi datang kesana. Apapun konsekuensi dari Papi. Puas?" balas Bulan sarkas. Bulan akan memberontak, tidak mau terlihat lemah lagi di depan mereka semua. Bulan pastikan ia akan berdiri tegak untuk melindungi Mami juga dirinya sendiri.
Bulan jadi tersenyum saat bibi datang menbawa dua bekal untuknya. "Makasih, bi." Bibi hanya mengangguk. Menerima tangan Bulan, yang hendak menyalim tangannya.
"Bulan berangkat dulu ya, bi. Assalammualaikum,"
Dengan santai Bulan melewati Andre, enggan berpamitan dengan lelaki itu. Ketika melewati pak supir yang sudah siap mengantarkan nya. Bulan menghela napas.
"Pak, Bulan berangkat kayak biasanya. Udah berapa kali Bulan bilang. Bulan gak mau naik mobil, bapak sebaiknya istirahat aja di belakang. Oke," nasihat Bulan panjang. Gadis itu dengan gembira melangkah pergi dari pelataran rumah.
Meninggalkan Andre berdiri di sana, menatap punggungnya dari jauh. Raut wajah lelaki itu tidak bisa di tebak.
***
Mobil yang di naiki Bulan berhenti tepat di depan halaman rumah Papi. Bulan menghembuskan napas pelan, membuka pintu mobil kemudian. Begitu turun dari mobil ia di sambut oleh sang Papi. Papi Bulan tersenyum senang, merentangkan tangannya berharap sang putri akan datang ke dalam pelukannya.
Bulan hanya melengos, mengambil tangan Papi kemudian menyalim nya. Berjalan melewati Papi begitu saja, masuk ke dalam rumah. Di dalam sana sudah ramai, kedua kakaknya itu kini duduk santai entah membicarakan apa. Sementara kedua ipar nya berbincang dengan ibu tiri Bulan.
Mata Bulan melirik kearah bahunya di sana tangan Papi bertengger manis. "Bulan udah datang, jadi kita makan sekarang." ajak Papi.
Semua orang mengikuti mereka dari belakang. Papi menarik kursi untuk Bulan duduk. Lainnya pun melakukan hal yang sama. Saat ibu tiri Bulan hendak mengambil kan nasi untuk dirinya, Bulan langsung merampas centong nasi dari tangan ibu tirinya dengan cara tak sopan.
"Saya bisa sendiri." ucap Bulan dingin.
Ibu tiri Bulan hanya mengangguk pelan. Papi jadi menghela napas melihat tingkah putrinya.
"Papi senang kamu mau datang ke sini, Nak." ungkap Papih. Sembari mengusap kepala Bulan pelan. Bulan hanya menunduk kan kepalanya dalam hati terus mendumel.
Makan malam sudah selesai, semuanya kini berkumpul di ruang keluarga. Di temani dengan cemilan yang di bawa pembantu yang kebetulan ada di sini.
"Bulan, di makan sayang." ujar Resta — ibu tirinya. Wanita itu tersenyum manis, namun Bulan menanggapi itu adalah senyumam yang meremehkan dirinya dan Mami.
"Hm," gumam Bulan. Mengambil satu kue brownies dan memakannya. Saat mengambil jus jeruk di atas meja. Dengan sengaja Bulan menumpahkan jus tersebut ke baju Resta. Membuat wanita itu memekik jarena kaget.
Bulan jadi membulatkan matanya, pura-pura kaget lebih utamanya. "Aduh ... maaf-maaf tante saya gak sengaja." Bulan mengambil tisu diatas meja. Mengilap gaun putih yang di kenakan ibu tirinya.
Resta menepis tangan Bulan. "Sudah! Saya mending ganti gaun lain." kata wanita tersebut. Papi Bulan tadi sibuk berbicara jadi memusatkan perhatiannya kepada Bulan dan istri mudanya.
"Ini ada apa?" tanya Pria itu mendekat.
Resta menggeleng pelan seraya tersenyum tipis. "Gak apa-apa Mas, ini tadi Bulan gak sengaja numpahin jus ke gaun aku." jelasnya.
Bulan langsung pura-pura menunduk. "Maaf," gumamnya pelan. Dalam hati tertawa, puas melihat hasil kejahilannya.
Resta berlalu dari sana. Meninggalkan Bulan dan Papi. "Papi tau kalau kamu sengaja lakuin itu." Papi menghela napas.
Pria itu duduk di samping putrinya. Lagi-lagi mengusap kepala Bulan. Putri kecilnya sudah besar sekarang, padahal dia merasa baru kemarin menggendong tubuh mungil Bulan.
"Papi tau kamu benci sama Resta. Tapi mau gimana pun, dia istri Papi sekaligus Mama kamu, sayang." Papih mupai menjelaskan agar putrinya mengerti.
Tangan Bulan jadi mengepal mendengar itu. Mendongak menatap sang Papi. "Bagi Bulan. Ibu Bulan itu itu cuman Mami doang. Gak ada yang bisa gantiin posisi Mami. Siapapun itu, termasuk wanita itu." ucap Bulan telak.
Suasana hening seketika. Baik abang dan kakak ipar Bulan pun terdiam. Menatap perseteruan anak dan ayah itu.
"Jaga omongan kamu, Bulan. Papi gak pernah ngajarin kamu kayak gitu," desis Papi.
Bulan memalingkan wajahnya tak suka. "Toh, Papi pun gak pernah ngajarin Bulan apa pun. Karena sedari dulu Papi sibuk selingkuh." balas Bulan. Hati gadis itu terlalu sakit, mengingat pertengkaran Mami dan Papi dulu. Dimana Papi membentak Mami, padahal di situ suasana hati Mami lagi tak mendukung. Mereka baru saja kehilangan adik bungsu Bulan. Yang meninggal karena jatuh dari tangga. Kala itu, umur adiknya Bulan baru lima tahun. Mungkin sekarang kalau masih hidup, adiknya sudah duduk di sekolah dasar.
"Bulan, jaga omongan lo! Lo, itu lagi ngomong di depan orang tua." sela Andre terlihat kesal.
Bulan mendengus jengah. Gadis itu pun lantas berdiri dari duduknya. "Bahkan Papi gak pernah ngertiin perasaan Bulan. Saat Papi gugat cerai Mami di depan mata kepala Bulan sendiri." lanjut anak itu. Kemudian berlalu dari sana. Mata Bulan berkaca-kaca, sakit mengingat hari itu. Mami bahkan rela bersujud di depan kaki Papinya, agar tidak bercerai. Namun, hati Papinya seperti sudah di tutup. Pria itu bahkan tega menendang tubuh istrinya. Seakan tidak punya hati di hari itu.
"Bulan!"
Gerakan tangan Bulan hendak masuk ke dalam mobil terhenti. Menoleh ke belakang, mendapati abang keduanya di sana — Arlan.
"Lo, keterlaluan! Tega banget ngomong di depan Papi kayak gitu. Gimana pun, kesalahan Papi dia tetap orang tua kita." kata Arlan.
Bulan tertawa tak percaya. Kenapa kedua abangnya ini sangat mendukung pernikahan Papihnya ini. Apa mereka tidak mengerti posisi Bulan seperti apa?
"Papi, bang Andre dan lo!" tunjuk Bulan kepada Arlan, sudah terlanjur emosi. "Sama-sama b******k! Kalian pergi ninggalin gue sama Mami berdua. Demi cari kebahagiaan lain di luar sana!" teriak Bulan.
"LO BAHKAN NIKAH SAMA CEWEK YANG GAK BENER!"
"BULAN!" bentak Arlan. Tak terima saat istrinya di katain buruk. "Lo, makin kurang ajar sekarang." desis Arlan marah.
"Jangan sekali-kali lo jelekin istri gue lagi." lanjut Arlan.
Bulan mengepalkan kedua tangannya. "BELAIN AJA TERUS! LO JUGA MANA MAU DENGER UCAPAN GUE?! LO UDAH DI BUTAKAN SAMA CINTA?!"
"Kalau istri lo perempuan baik-baik. Dia pasti bakal ke rumah jenguk Mami. Tapi apa?" tanya Bulan pelan. Mata gadis itu semakin memerah sementara air mata menumpuk di ujung pelupuk mata. "Mau istri lo, mau istri bang Andre. Mana pernah jenguk Mami. Karena bagi mereka Mami itu hama, harus di musnah kan dari dunia ini." lanjut Bulan. Gadis itu lantas masuk ke dalam mobil. Menyuruh sopirnya membawa ia pergi dari sana.
Meninggalkan Arlan yang bergeming di tempat. Sedangkan Andre yang tak jauh berdiri di belakang Arlan, kini menunduk dalam. Memikirkan perkataan sang adik.
***
Biasanya kalau istirahat begini. Anak Lencana sebagian cowoknya suka main bola kaki di lapangan meski matahari lagi teriknya mereka nggak gentar.
Hari itu Bulan berjalan di sisi lapangan dengan airphone di telinganya. Gadis itu mendengus kala ada beberapa cowok terang-terangan menggodanya.
Saat menoleh kearah lapangan. Bertepatan dengan itu ada bola yang melayang di arahnya. Bulan yang tidak tahu apa-apa terdiam saja. Sehingga seseorang berdiri di depannya, menjadikan bola tersebut menghantam punggungnya.
Alam tersenyum, menepuk kepala Bulan dua kali. "Lain kali hati-hati kalau lewat lapangan lo bisa cedera nanti " katanya. Membuat Bulan mengerjapkan matanya beberapa kali. Terlalu syok.
Sementara itu Alam berbalik menatap datar ke anak kelas sebelah. Mengambil bola yang tadi menghantam punggungnya. "Lain kali kalo main hati-hati." kemudian Alam melempar bola itu ke salah satu cowok dan langsung di tangkap oleh orang itu.