3. Cerita Bulan (2)

1152 Words
Bulan berlari menuju gerbang yang sudah di tutup rapat. Kemudian ia melihat sekelilingnya, ada beberapa siswa sepertinya yang terlambat datang. Lalu gerbang di buka menampakkan wajah guru BK yang menatap sebagian murid sudah langganan terlambat seperti pagi biasanya. Kening guru laki-laki berlipat karena melihat satu murid yang ada di antara barisan sana. "Lho, Bulan tumben kamu terlambat?" Seru guru itu heran. Bukan tersenyum tak enak. "Kesiangan pak, hehe." Gadis itu cengengesan. Guru tadi menggeleng. "Lari keliling lapangan sepuluh kali. Habis itu baru boleh masuk kelas." Titahnya. Mendengar itu semua murid lantas berlari kecil menuju lapangan. Begitu juga dengan Bulan. Napasnya sudah berderu kencang karena sudah dua kali keliling lapangan. Ah, andai saja dia tidak kesiangan mungkin dirinya tidak berakhir di sini. Bulan memekik kecil karena merasakan tas yang ada di bahunya di tarik seseorang. Gadis itu langsung menoleh melihat wajah si pelaku. "Biar nggak berat," ujar cowok itu membuat Bulan melengos saja. Dan kembali memacu larinya sedikit kencang. Membiarkan Alam membawakan tas miliknya. Sudah sepuluh kali keliling. Bulan mengatur napasnya dengan kedua tangan bertumpu di lututnya. Di samping gadis itu Alam pun turut melakukan hal yang sama. "Thanks," ucap Bulan mengambil tasnya kemudian. Alam mengangguk mengikuti Bulan yang sudah berjalan pelan di depan sana. "Tumben datangnya telat?" tanya Alam setelah mensejajarkan langkah kaki mereka. Meski ogah-ogahan Bulan tetap menjawab. "Kesiangan." "Oh," Alam manggut-manggut. "Btw, seragam gue kapan lo balikin?" tanyanya dengan alis terangkat satu. Sudah tiga hari pasca meminjamkan seragamnya tapi gadis di depan ini belum memulangkan nya sama sekali. "Besok gue balikin. Tadi belum di setrika sama bibi," balas Bulan berhenti melangkah karena sudah sampai di depan kelasnya yang kini pintu itu tertutup. "Lo ngapain di sini?" tanya Bulan. Alama hanya tersenyum sebelum mengetuk pintu kelas beberapa kali. "Maaf bu, sebelumnya." Alam membungkuk sopan. "Sudah menganggu acara mengajar ibu. Tapi saya ke sini cuman anterin Bulan. Maaf karena menunggu saya dia jadi terlambat, jadi jangan hukum dia nya, bu," jelas Alam dengan tampang tak berdosa padahal dia sudah berbohong dengan guru itu. Bulan jadi menggeleng pelan melihatnya. "Bener?" tanya guru perempuan itu dengan mata terpicing tajam memandang Alam yang kini berdiri kikuk. "Bener kok, bu. Kalau nggak percaya, tanya aja sama Bulan," balas Alam menyenggol lengan Bulan niat hati gadis itu bisa di ajak kompromi. "Sudah kalau begitu." Guru tadi menghela napas. "Bulan boleh masuk, tapi untuk kamu Alam." tunjuknya ke cowok itu. "Jangan sekali lagi bikin Bulan terlambat karena menunggu kamu." Lanjutnya menegur. Alam mengangguk kencang. "Baik, bu. Saya permisi dulu." pamitnya karena Bulan sudah masuk ke dalam kelas. Di tengah jalan menuju kelasnya senyum Alam tidak pudar. Selama ini dia jarang mendekati cewek. Dan entah kenapa setelah mengamati Bulan setahun belakangan ini. Dia jadi tertarik. Karena menurutnya, di dalam diri Bulan ada daya tarik tersendiri. Alam menunduk memeriksa ponselnya yang berbunyi tanda pesan masuk. Bulan: thanks sekali lagi Bulan: ntar istirahat tunggu di kantin gue mau traktir lo sebagai ucapan terimakasih Senyum cowok itu semakin mengembang dan rasanya rahang Alam seperti sudah mau copot karena saking seringnya tersenyum di pagi ini. Satu kali yang harus Alam syukuri atas keterlambatannya hari ini. *** "Teh, lo duduk di samping Janur aja," usul Bulan melarang cowok itu duduk di sampingnya. Uteh yang tidak tahu apa-apa hanya mengangguk saja. Dan duduk di samping Janur sedang main game. "Join kuy?" tanya Uteh ke temannya itu. Tapi Janur malah menggeleng. "Nggak mau, lo mainnya childish banget. Sering kalah sama gue," sahut Janur tanpa menatap Uteh sama sekali. "Songong banget jadi orang," sinis Uteh kemudian beralih menatap Bulan yang seperti menunggu seseorang. "Ini udah pesen semuanya?" tanya Berlian karena sibuk menanyai Daniel mau makan apa. Biasalah mereka orang bucin. "Tadi udah gue pesenin, ntar lagi pasti datang," sahut Bulan acuh matanya terus melihat ke arah pintu kantin. Tersenyum manis kala melihat seseorang yang ia tunggu. Lantas Bulan melambaikan tangannya. "Sini!" panggil gadis itu. Alam terlihat berbicara dengan dua temannya kemudian berjalan menghampiri Alam. "Niat bangetnya mau ngtraktir gue." Alam tersenyum miring ketika duduk di samping Bulan dan melihat beberapa mangkuk bakso sudah datang. Kantin sekolah mereka terkenal dengan keenakan bakso yang di buat bu kantin. Rasanya jangan di tanya, beuh mantap. Dan kantin ini di nobatkan kantin terlaris di sepanjang tahun pelajaran setiap tahunnya. Bulan terkekeh pelan. "Nggak niat sih, tapi lihat lo baik sama gue, ya gitu." Bulan mengedikkan bahunya. Janur yang tadi fokus dalam main game. Pun meletakkan ponselnya dan mulai menyantap baksinya. Mata tajam cowok itu terus mengawasi Bulan dan Alam yang bercengkrama. Keduanya terlihat sudah dekat. Padahal Janur tahu mereka baru dekat tiga hari belakangan ini. "Pulang sekolah nanti ada acara?" tanya Alam mengusap bibirnya dengan tisu. Bulan menggeleng mendengar itu. "Nggak ada acara sih." balasnya. "Mau gua ajak ke suatu tempat?" tanya Alam. Bulan mengulum bibirnya sedikit menimbang ajakan dari cowok itu. Ia kemudian tersentak karena Berlian menyenggol tangan nya seraya berbisik. "Terima aja! Anggap itu keberuntungan lo." "Boleh." Pada akhirnya Bulan menerima ajakan itu. Bulan hanya mengikuti instingnya. Karena selama beberapa tahun ini dia sudah menutup hatinya hanya sedikit takut ke cowok yang sering bermain api di belakang pasangan mereka. Contohnya, Papih Bulan. *** Pandu melipat kedua tangannya di depan d**a. "Cepet bangetnya Alam." celutuknya. Cakra yang ada di samping cowok itu tersenyum miring. "Kita lihat sampai mana merrka bertahan." ujarnya mengusap dagu. Keduanya duduk di kursi tidak jauh dari Alam yang berbicara dengan Bulan. "Kalo si Dara tahu Alam deket sama cewek lain. Gimana nya reaksi cewek itu?" tanya Cakra menggeleng pelan. "Kita ikutin aja alurnya dulu, Cak. Gue mau lihat Alam berjuang dulu." kata Pandu sembari menjauhkan ponsel Cakra agar tidak memotret kebersamaan Alam dan Bulan itu. "Belum waktunya." jelas cowok itu melarang. Akhirnya Cakra hanya bisa mendesah pelan. Padahal dirinya tidak sabar melihat drama percintaan sahabat mereka itu. Aneh memang. *** Pulang sekolah, sesuai janji Alam. Cowok itu membawa Bulan ke suatu tempat. Yang ternyata rumah pohon dekat danau. Bulan tidak tahu, ternyata ada tempat seperti ini. Gadis itu merentangkan kedua tangannya, menghirup udara segar. "Lo suka tempat, ya?" tanya Alam. Bulan menoleh ke arah cowok itu kemudian mengangguk cepat. "Lo udah sering ke sini?" Bulan bertanya balik. "Dulu sering, sih sekarang nggak terlalu," balas Alam. Bulan mengangguk seadanya. Mengernyit heran dengan tatapan kosong Alam yang menyorot ke arah danau. "Gue dulu sering ke sini sama adik gue. Tapi, karena ada sesuatu gue jadi jaga jarak sama dia beberapa bulan ini," aku Alam. Bulan menggigit bibirnya. "Pasti adek lo, sedih karena lo jauhin. Soalnya nggak enak dijauhin sama saudara sendiri, Lam. Gue udah rasain, ya." Bulan tersenyum miris. Kembali menoleh ke arah Alam yang juga melihatnya. "Jadi, seberat apa pun masalah lo, sama adek lo. Jangan jauhin dia," sambung Bulan. Alam menatap lekat gadis di depannya. Sebelum mengangguk saja, karena untuk menjelaskan masalahnya ke Bulan itu tidak mungkin. Mereka juga tidak terlalu dekat kalau Alam gak berusaha mendekati gadis ini. Juga, Bulan pasti tak menyangka sebagaimana masalah yang dia hadapi sekarang. Karena semua terlalu sulit untuk dijelaskan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD