"Jelasin!"
Alam merotasikan bola matanya. Menatap malas ke arah dua temannya itu. Alam acuh dan tetap memainkan game di ponselnya. Akan tetapi, kedua teman Alam itu memang selalu kepo seperti ini.
Cakra dengan gampangnya mengambil ponsel Alam, dia sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari cowok itu.
"Ck!" Alam berdecak keras. Bell masuk belum berbunyi dan anak kelas sudah ada sebagian di dalam ruang kelas.
"Jelasin, kenapa pagi ini ada berita hot, tentang lo sama Bulan?" Pandu menyorot Alam dengan tatapan tak percaya. "Dan gila, ya! Kita dengar lo udah jadian sama tuh, cewek. Serius, Lam?" tanya Pandu.
Alam mengangguk malas. "Gue udah jadian sama dia, puas lo." Alam kembali mengambil ponselnya dari tangan Cakra.
Sedangkan Cakra menggeleng heran. "Lo jadian sama dia bukan buat jadi pelampiasan doang, kan?" tanya Cakra. Alam langsung terdiam dan menatap temannya itu seksama. "Secarakan lo cinta mati sama adek, lo. Nggak mungkin lah, lo pacaran sama gadis lain," sambung Cakra lagi.
Pandu menaikkan satu alisnya melihat keterdiaman Alam. Cowok itu mengusap dagunya. "Berarti bisa dong, Lam. Gue pdkt sama adek, lo. Lo udah nggak cinta, kan? Sama Dara, secara lo udah jadian sama Bulan." Pandu mengambil kesimpulan sendiri.
Entah kenapa mendengar itu, Alam jadi marah. Dia menatap tak suka ke arah Pandu.
"Langkahin dulu gue, baru lo pdkt sama si Dara," ancam Alam.
Pandu langsung tertawa. "Utututuuu, posesifnya," ledek cowok itu.
Alam menatap tajam kedua teman laknatnya itu. "Dara tetap adek gue dan sampai kapanpun, gue nggak setuju kalo dia pdkt sama dua buaya kayak lo dua. Dan untuk Bulan, dia pacar gue sekarang." Alam mengangkat tangannya dan menunjuk Cakra serta Pandu secara bergantian. "Kalo lo berdua ganggu dia, urusan kalian sama gue. Terutama ingetin si Angel gebetan lo, Cak. Jangan ganggu pacar gue satu itu," ujar Alam bersamaan bell masuk berbunyi.
Sementara di kelas lain. Tepatnya di kelas Bulan, gadis itu sudah dipusingkan dengan cerocosan Berlian yang menanyakan tentang statusnya bersama Alam sekarang.
"Ber," panggil Bulan pelan. Menutup mulut Berlian yang tak ada hentinya berbicara terus. Bell masuk padahal sudah berbunyi, dalam hati Bulan berharap kalau guru cepat-cepat datang, biar Bulan terbebas dari pertanyaan dari Berlian.
"Apa?" tanya Berlian setelah melepaskan tangan Bulan dari mulutnya. "Jawab napa, ih, Lan! Lo pacaran sama Alam, kan?" sambung Berlian lagi.
Bulan menghela napas, ini semua gara-gara Alam. Akan tetapi, mengingat kebaikan Alam yang pernah menolongnya, Bulan tak kuasa untuk menyalahkan Alam saja. Harusnya, Bulan tadi juga menyangkal pernyataan Alam bukan malah diam. Dan sekarang berita tentang mereka yang pacaran pasti sudah menyebar.
"Iya, gue pacaran sama Alam," ujar Bulan pada akhirnya, biar Berlian puas.
Berlian bahkan menjerit setelah pengakuan dari Bulan. Akan tetapi, untung saja jeritan gadis itu tertahan karena guru seni mereka sudah masuk ke dalam.
"Anak-anak kita ke ruang lukisan sekarang!"
***
Bakat Bulan tidak banyak. Hanya saja kemampuan melukisnya tidak pernah buruk, buktinya dia selalu mendapat nilai A+.
"Wow," kagum Berlian. Gadis itu duduk tepat di sebelah Bulan. Bukan lanjut melukis, gadis itu malah sibuk mengagumi hasil lukisan Bulan sekarang.
"Perfect," ucap Berlian, matanya mengerjap menatap Bulan yang sekarang bersedekap dengan wajah pongah.
"Siapa dulu, dong." Bangga Bulan, gadis itu sengaja mengibaskan rambutnya ke belakang membuat Berlian mencibir pelan.
"Udah sana! Lo lanjut lukis lagi," suruh Bulan.
Bahu Berlian melemas, menatap tak minat ke arah lukisannya yang belum jadi apa-apa.
"Tolongin, dong, Lan," rengek gadis itu.
Dengan tegas Bulan menggeleng. "Ini tugas individu! Jadi lo harus kerjain sendiri," ucap Bulan. Sudah biasa melihat wajah memelas Berlian seperti ini. Ketika disuruh melukis, gadis itu bisa dibilang tidak berbakat dibidang ini.
Bibir Berlian mengerucut, kembali memfokuskan tatapannya ke lukisannya. Sementara Bulan tersenyum tipis melihat hasil karyanya sendiri.
Lukisan itu selalu jadi andalan Bulan ketika selalu rindu pada keluarganya dulu. Di mana dalam lukisan itu terdapat satu keluarga yang sangat bahagia.
Sepasang suami istri sedang mencium pipi anak kecil yang tersenyum bahagia. Sementara di samping kiri dan kanan terdapat dua laki-laki berbeda usia yang juga tak kalah tersenyum lebar.
Bulan jadi merindukan situasi yang begini.
"Cantik, Bulan. Ibu selalu suka dengan lukisan kamu." Bulan merasakan ada yang mengusap rambutnya. Gadis itu menoleh ke samping mendapati guru seninya yang berdiri di sana.
"Makasih, Bu," ujar Bulan dengan senyuman.
"Kamu boleh istirahat karena udah selesai melukis," ujar guru tadi membuat senyum Bulan semakin lebar. "Tapi ingat, jangan buat keributan di depan kelas lain," peringat wanita itu
Bulan mengangguk cepat. Keluar dari ruang melukis dengan beberapa teman kelasnya yang menatap iri kepadanya. Terutama Janur dan Uteh, yang notabenenya adalah sahabat dari gadis itu.
Berbeda dengan Berlian, gadis itu sudah menunduk frustasi karena tak tahu melanjutkan lukisannya lagi. Otak Berlian terlalu buntu.
Begitu keluar dari ruang melukis, Bulan pertama-tama ke toilet dulu hendak mencuci tangannya yang kotor karena tak sengaja terkena cat lukis tadinya.
Saat kakinya melangkah masuk ke dalam toilet, dia sempat berpapasan dengan gadis yang dia ketahui adalah adik Alam. Gadis itu keluar dari toilet dengan mata sembab.
Tidak tahu gadis itu habis menangis atau sebagainya. Bulan mencuci tangannya sebelum ketenangan gadis itu terusik karena kedatangan dua musuhnya.
Bulan menatap jengah dua gadis itu dari pantulan cermin toilet.
Angel bersedekap. "Jadi, lo udah pacaran sama Alam, nih?" tanyanya.
Bulan tidak menjawab tetap fokus mencuci tangannya dan setelahnya mengilap tangannya tadi dengan tisu. Bulan berbalik dan menatap dua musuhnya otu dengan santai.
"Lo kasih apa sama Alam, sampe dia mau kadi pacar lo?" tanya Laras seperti meremehkan Bulan.
Bulan menarik sudut bibirnya sedikit. "Kenapa? Kalian nggak seneng kalo gue berhasil pacaran sama cowok terganteng di sekolah ini," sarkas Bulan.
Karena Bulan tidak akan pernah lemah di depan para musuhnya. Bulan berbeda dengan gadis lainnya.
"Cih!" Angel maju selangkah. "Gue pastiin hubungan lo sama Alam nggak bakal lama. Karena cowok seganteng Alam nggak pantes sama anak orang gila kayak lo."
Tatapan Bulan berubah tajam, dia tak suka kalau fakta seperti di bawa-bawa saat masalah mereka seperti ini.
"Jangan bawa nama Mamih gue," ujar Bulan mencoba santai saja.
Laras tertawa sarkas. "Kenapa? Lo nggak suka? Oh, atau lo nggak terima kalau dibilang anak orang gila, gitu?" ujar Laras.
"Mamih gue nggak gila," sergah Bulan. Mengepalkan tangannya, sudah tidak tahan untuk menarik rambut dua gadis di depannya ini.
"Ya, ya, Ibu lo nggak gila. Cuman kurang waras aja," sahut Angel.
Maka tak bisa menahan amarahnya lagi. Bulan menendang tong sampah yang kebetulan didekat kakinya.
"Kalian boleh nggak suka sama gue. Tapi jangan pernah bawa-bawa Mamih gue di setiap pertengkaran kita," ujar Bulan dingin sebelum berlalu dari sana.
Bulan berjalan keluar dari kamar mandi, berupaya menahan emosi yang akan meledak. Bahkan dia tidak sadar kalau Dara, adiknya Alam mendengar pertengkarannya dengan Angel dan Laras.
Gadis itu memilih masuk ke dalam toilet lagi untuk menemui dua gadis di dalam sana. Matanya masih sembab karena menangis, tidak terima Abang tercintanya memiliki pacar.
"Gue Dara, murid baru di sekolah ini." Laras dan Angel sontak saling pandang.
"Lo siapa? Nggak ada sopan santun banget sama kakak kelas, lo baru kelas sepuluh kan?" todong Laras menatap remeh pada Dara.
Dara mengangguk santai. "Iya, gue baru kelas sepuluh," sahutnya. "Kalo kalian pengen tahu, gue ini adiknya Alam."
Mendengar itu Angel maupun Laras terbelalak. Tidak menyangka kalau Alam punya adik.
Dara menghela napas pelan. "Gue nggak suka Abang gue pacaran sama si Bulan itu," ujarnya. Laras dan Angel langsung terdiam sambil menunggu Dara melanjutkan perkataannya.
"Gue mau masuk ke geng kalian dan mutusin buat jadi musuh Bulan. Karena dia udah berani rebut Abang gue," sambung Dara.
Membuat Laras dan Angel tersenyum jahat. Laras menyodorkan tangannya ke depan Dara.
"Lo diterima, karena orang yang nggak suka sama Bulan. Cocok sekali masuk ke geng kita," ujarnya.
Tanpa ragu, Dara menyambut tangan Laras kemudian tersenyum miring. Rencananya ingin membuat Bulan menderita akan berjalan dengan mulus.