7. Cerita Bulan (6)

1245 Words
Mungkin ada satu bulan mereka pacaran. Dan selama itu, Bulan berusaha untuk membuka hatinya. Tidak dipungkiri, Bulan juga terlihat nyaman dengan sikap manis cowok itu. Bulan merasa diperhatikan lagi, setelah ketiga laki-laki yang dianggap sebagai pahlawan sudah berubah karena memiliki keluarga masing-masing. "Mau mampir dulu?" tanya Bulan ketika gadis itu diantarkan pulang oleh Alam. Alam menaikkan satu alisnya. "Emangnya orang rumah nggak marah?" Alam balik bertanya. Bulan menggeleng pelan. "Nggak ada yang marah, cuman ada gue sama Bibi di rumah. Dan Mamih kayaknya lagi istirahat di jam segini," balas Bulan. Satu lagi, gadis itu menyembunyikan sebuah fakta ke Alam bahwa Ibunya memiliki kelainan mental. "Oke, deh. Gue mampir dulu, bosen juga di rumah," ujar Alam. Keduanya masuk beriringan, Bulan mempersiapkan cowok itu duduk di ruang tengah. "Lo tunggu sini, ntar gue suruh Bibi anterin minum buat lo. Gue mau ganti baju dulu." Setelah mengatakan itu Bulan berlalu dari sana. Gadis itu sempat ke dapur sebentar dan berpesan kepada Bibi membuat minuman buat tamu mereka. Sementara dia berganti seragam dulu. "Silahkan di minim, Den." Si Bibi datang membawa satu gelas minuman dingin. Alam mengusap tangannya di atas pahanya. "Makasih, ya, Bi." Si Bibi mengangguk dan berpamitan ke dapur lagi. Alam tersenyum tipis dan mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah. Begitu banyak foto yang tertempel di atas dinding. Terutama foto keluarga. Dan kesimpulan Alam, kalau Bulan itu terlahir dari keluarga yang harmonis. "Hei," sapa Bulan. Gadis itu duduk menghampiri Alam. "Lo cantik," ujar Alam ketika melihat Bulan sudah mengenakan baju santainya. Kaos kebesaran dengan celana jeans pendek selutut. "Mamih gue cantik. Makanya gue harus cantik juga," jawab Bulan sedikit sombong. Alam tertawa pelan. "Ini yang gue suka dari lo. Lo nggak pernah merendah dan selalu meninggi juga nggak suka ditindas sama orang," ujar Alam. Mencubit pipi Bulan dengan gemas. "Apaan, sih!" Bulan mencoba melepaskan cubitan tangan Alam dari pipinya, cowok itu malah semakin menjadi. "Sakit, ih!" sentak Bulan. Bukan merasa bersalah, Alam malah tertawa. Membuat Bulan mendengkus melihat cowok itu. "Dasar cowok psikopat!" umpat Bulan. "Kalo ada cewek itu diromantisin, bukan malah di cubitin," gerutunya. Sudut bibir Alam terangkat. "Oh, jadi lo mau diromantisin, gitu?" tanyanya. Bulan jadi gelagapan sendiri. Apalagi Alam menariknya agar mendekat ke cowok itu. "Sini, gue romantisin," ujar cowok itu lagi. Menarik Bulan ke dalam pelukannya, hal itu semakin membuat Bulan membeku. Tidak pernah di perlakukan begini sebelumnya. "Gimana, udah cocok gue romantis begini?" bisik Alam. Belum sempat Bulan menjawab, cowok itu dengan cepat menggelitik perut Bulan. Menjadikan gadis itu tertawa sampai-sampai minta ampun agar Alam berhenti. "Udah, Lam! Perut gue sakit!" ujar Bulan. Kembali tertawa karena Alam semakin melanjutkan gelitikannya. "Udah ...." rengek Bulan pada akhirnya. Mendengar suara Bulan begitu Alam jadi tak tega. Dengan posisi menindih tubuh Bulan. Yang entah sejak kapan mereka berada diposisi begini. Alam menatap lamat-lamat wajah gadis itu. Dari alis yang terukir rapi. Bulu mata yang lentik dan bola mata yang kecokelatan. Hidung yang dibilang mancung tidak dan dibilang pesek enggak. Porsi yang sesuai pokoknya. Hingga mata Alam jatuh ke bibir tipis gadis itu. Dengan instingnya sebagai cowok Alam memiringkan kepalanya, sedangkan Bulan langsung memejamkan matanya perlahan. Siap menerimanya serangan Alam selanjutnya. Gadis itu menahan napas ketika Alam melabuhkan kecupan di bibir mungilnya. Yang awalnya hanya menempel, Alam perlahan melumatnya. Demi apa, Alam tak pernah tertarik untuk mencium gadis lain, selain Dara. Akan tetapi, godaan untuk mencium Bulan tak dapat dia tahan. Sudah sebulan dia menahan diri untuk tidak mencicipi bibir mungil milik pacarnya ini. Alam menjauhkan wajahnya dari Bulan ketika dadanya di pukul gadis itu, menandakan Bulan kehabisan napas. Alam tertawa pelan dan mengusap bibir Bulan yang sedikit membengkak. Setelah itu, Alam kembali melumat bibir Bulan. Kali ini Bulan bahkan membalas ciumannya, tidak seperti awal tadi. Keduanya larut, ruang tengah itu lengang hanya terdengar suara decapan dari bibir keduanya. Sebelum suara benda berjatuhan mengagetkan keduanya. Bulan bahkan langsung mendorong Alam untuk menjauh dam berlari tergesa-gesa menuju kamar mamihnya. Hari itu juga, Alam tahu kalau Mamih Bulan punya kelainan yang sulit untumk dia percaya. *** "Abang dari mana?" Pertanyaan itu menghentikan langkah Alam. Cowok itu menghela napas melihat adiknya kini bersedekap d**a dengan tampang datar. "Dari apelin pacar," jawab Alam santai. Dara mengepalkan tangannya. "Ingatnya, Bang! Aku masih nggak terima Abang pacaran sama gadis itu. Aku bakal rusak hubungan kalian," ancam Dara. Alam menghela napas. "Dan aku nggak akan biarin rencana busuk kamu itu berhasil." Dara langsung tersenyum sinis. "Kita lihat aja nanti," ujarnya. Kemudian berlalu dari sana dan memasuki kamarnya. Rencana awalnya akan di mulai sebentar lagi. Begitu di dalam kamarnya. Dara membuka ponsel dan langsung mengirimkan satu fotonya bersama Alam yang sedang berciuman, ke nomor milik Bulan. Jangan tanya dari mana dia dapat nomor itu, yang pastinya Angel dan Laran yang memberikannya. "Sebelum jadi pacar lo, dia bahkan udah milik gue seutuhnya. Lo itu cuman pelampiasan dan nggak lebih. Jadi, jangan berharap lebih sama Abang gue." Sementara di sisi lain. Bulan menatap foto itu dengan tatapan sulit dijabarkan. Sangat sulit dipercaya, Bulan hendak percaya dengan foto itu apalagi dengan sederet pesan setelahnya. Namun, Bulan harus menanyakan hal ini ke Alam terlebih dulu. Bulan takut kalau foto ini hanya editan semata. Akan tetapi, sepanjang malam Bulan tidak tenang. Dia takut kalau foto itu benar-benar nyata, dan Bulan harus rela sakit hati. Karena sebenarnya, Bulan kalah telak dan sudah jatuh ke pesona seorang Alam. Maka malam itu Bulan memilih mengirimkan foto itu ke Alam untuk menuntut penjelasan. Tak berapa lama setelahnya, panggilan dari nomor Alam masuk. Tanpa pikit panjang Bulan mengangkat telepon ini. "Halo," sapa Bulan. Hening di seberang sana. Bulan mengernyit heran. "Lam? Lo di sana kan? Kalo enggak gue matiin ini," ujar Bulan mengancam. "Jangan!" larang Alam. "Gue mau jelasin foto itu." Alam memejamkan matanya sesaat. Dadanya bergemuruh hebat ketika menerima pesan dari Bulan tadi. Dia tidak menyangka ancaman Dara itu ada benarnya. "Jelasin semua, ya," pinta Bulan dengan mencoba tenang. "Foto itu benar," ungkap Alam. Menjadikan Bulan menahan napas. Sangat sulit, menerima kenyataannya. "Dan serentetan pesan itu juga benar." Sudah, Bulan tak bisa mendengarkan kelanjutan kata-kata dari Alam. Itu terlalu sakit, dan Bulan tidak bisa menerima kenyataan yang nyatanya dia hanya jadi pelampiasan. "Tapi itu dulu, Lan. Sekarang gue udah nyaman sama lo. Dan rasa cinta ke adek gue juga udah berkurang. Karena lo selalu ada di sisi gue. Dan gue berhasil keluar dari hubungan tak sehat itu," jelas Alam. Bulan tertawa sarkas. "Berarti, lo juga berhasil buat gue jadi pelampiasan," ujar Bulan. "Nggak gitu, Lan," sergah Alam. "Udah larut malam, Lam. Gue mau tidur, gue nggak mau dengerin apa pun lagi, yang bisa bikin gue sakit hati." Bulan langsung mematikan sambungan telepon sepihak. Membuat Alam mengumpat di seberang sana. "Dara!" desisnya. Tak bisa membendung amarahnya lagi. Alam mendatangi kamar samg adik. Yang sialnya, Alam dijebak malam itu. "Dara!" bentak Alam ketika mendapati gadis itu sedang mengenakan gaun tidur satin tipis. "Kenapa, Bang? Bukannya Abang suka liat aku pake ini?" tanya Dara menantang. Gadis belasan tahun itu bahkan bergaya di atas tempat tidurnya. Sudah sangat siap menggoda sang Abang. Malam ini sudah Dara rencanakan bertepatan kedua orang tua mereka pergi keluar kota karena ada urusan mendadak. Jadi, Dara bebas menggoda Alam sepuasnya. "Nggak waras lo!" umpat Alam. Memilih pergi dari sana bersamaan tawa Dara yang menggema karena berhasil membuat Alam tergoda, buktinya cowok itu pergi dari kamarnya karena takut suatu kejadian yang tak enak, bakal terjadi nantinya. "Alam bakal jadi milik gue seutuhnya. Nggak peduli pertentangan dari orang tua atau masyarakat karena kita sedarah. Yang pentingnya, gue dan Alam bakal bersatu." Tawa Dara kembali meledak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD