25. Terlarang

1416 Words

"Mau jalan-jalan nggak?" tawar Alam pada malam itu setelah Bulan berhenti menangis. Keduanya duduk di sofa sambil memeluk satu sama lain. "Lo udah nggak sibuk lagi?" tanya Bulan dengan alis terangkat satu. Alam menggeleng, satu tangannya naik merapikan anak poni Bulan. Ah, wanita ini dari dulu saka berponi. "Kalo buat lo, gue nggak sibuk lagi." Mendengar itu Bulan mendengkus geli. "Lo gombal kelihatan aneh, Lam. Serius," ujar Bulan membuat Alam mendecak saja. "Gue mau romantis padahal, Lan. Lo suka banget merusak suasana," ketus laki-laki. Melepaskan pelukannya dari Bulan, dan acara ngambek pun di mulai. "Lo udah tua, Lan. Jangan ngambek mulu," sindir Bulan. Wanita iti bersedekap menatap Alam yang kini tak mau menatap ke arahnya. "Lo ngeselin," ujar Alam. Bulan tersenyum geli. "Bia

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD