Hari berganti tak terasa hari ini adalah hari terkhir Mia bekerja, dan sebagai tanda perpisahan Tasya dan beberapa teman dari divisi lain telah mempersiapkan pesta kecil kecilan untuknya.
Sore itu setelah selesai menyerahkan semua berkas dan memastikan bahwa Tasya sudah mengerti dengan semua pekerjaannya. "Mia, ditunggu teman teman di ruang meeting utama..yuk kita kesana" ajak Tasya sambil setengah mendorong tubuhnya.
Sesampainya di ruang meeting utama, hampir semua karyawan berkumpul disana. Tak terkecuali si bos, Pak Andreas.
"Hm....perhatian semua, harap tenang. Pak Andreas mau pidato!" teriak Tasya layaknya Tarzan kota, namun ampuh membuat semua orang di ruangan tersebut terdiam.
"Pak Andreas, silahkan " sambung Tasya.
"Baiklah, untuk Mia yang telah bekerja di perusahaan hampir lima tahun lamanya. Semoga sukses berkarir menjadi istri dan ibu bagi anak anak kamu nantinya. Terima kasih atas loyalitasnya selama ini.Sukses!" Lalu diikuti oleh setiap orang di dalam ruangan "SUKSES MIA!!" sambil mengangkat gelas minum mereka masing masing.
Tak dapat dibendung air mata mulai mengalir dari sudut mata Mia, terharu tentunya. Satu persatu Mia menghampiri teman temannya dan mengucapkan terima kasih.
Sementara itu Tasya memperhatikan Mia dari kejauhan, sengaja dia menjauh dari keramaian. Dalam hatinya Tasya bertanya tanya, apakah nanti kalau dia mengundurkan diri banyak teman kantor yang merindukan dia.
"Tasya!" panggilan si bos membuyarkan lamunan Tasya.
"Ehh..si bos..bikin kaget saja." sahut Tasya sambil mengelus elus dadanya. "Untung nih jantung bukan pinjeman, kalau copot repot."
"Kamu ini bisa saja nyahutnya. Kamu umur berapa sih? sudah mau kepala tiga kan? Kelakuan kok seperti baru lulus SMA."
"Wah...Pak Andreas nyindir aku yah? Memang kalau kepala tiga gak boleh becanda ya ? Bapak umur berapa? Saya tebak sih gak beda jauh dari saya. Ya kan?"
"Saya sudah bilang, kalau berduaan saja kamu panggil saya An saja. Tebakan kamu gak salah, saya hanya lebih tua dari kamu 3 tahun. Tepat hari ini umur saya bertambah satu menjadi 31 tahun."
"Ehh..ngode nih? Anyway...Happy Birthday ya..!" tak disangka Tasya begitu semangatnya mencium pipi Andreas secepat kilat sampai yang empunya terkejut tak bisa berkata kata.
"Sorry...terbawa suasana. Kebiasaan soalnya aku dengan semua teman ku begitu sih..."Pipi Tasya bersemu merah.
"It's okay, thanks! Tapi jangan bilang bilang ke yang lain yah...aku enggak suka heboh heboh."
"Aaasiappp!!" bisik Tasya dengan gaya khasnya. Mau tak mau Andreas tersenyum melihat kelakuan sekretaris barunya itu. Dan dia mulai berpikir kalau mulai besok hidupnya akan lebih berwarna karena Tasya.
Selesai pesta, semua karyawan satu persatu beranjak pulang. Ada yang dijemput, ada yang pulang sendiri dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi. Sementara itu Tasya sedang menunggu jemputan di lobby. Sudah hampir satu jam lamanya Tasya menunggu dijemput oleh pacarnya, Tedy.
"Eh..Tasya kamu masih disini? belum dijemput?" tegur Andreas. Tasya hanya menggelengkan kepalanya lesu. Letih karena sudah seharian kerja dan ingin segera rebahan di ranjangnya yang empuk.
"Sudah telepon? masih lama?"
"Teleponnya mailbox, gak bisa dihubungi. Terakhir aku sudah bilang untuk dijemput jam enam an." Tasya melirik jam tangan di pergelangan tangannya, sudah jam tujuh lewat.
"Mau sekalian gak? Aku antar pulang?"
"Gak deh, nanti dia jemput lagi. Kasihan kan..." Tasya memutuskan untuk tetap menunggu.
"Ok deh, aku jalan balik dulu." diikuti dengan anggukan Tasya, lalu Andreas melanjutkan langkahnya menuju basement parkiran mobil.
Menit demi menit berlalu, Tasya semakin gelisah menunggu Tedy yang tak kunjung datang. Gedung perkantoran sudah hendak ditutup,
"Bu, kalau masih mau nunggu bisa di pos satpam depan. Gedung perkantoran ini sudah mau kita tutup." tegur sequrity yang berjaga.
Sekali lagi Tasya melirik jam tangannya, "Gila! Kemana si Tedy? Sudah jam sembilan malam gue masih belum dijemput juga. Bodo ah, gue pulang sekarang..." Tasya memutuskan untuk tidak lagi menunggu Tedy dan memanggil taxi yang sedang mangkal di dekat gerbang.
Setelah bersih bersih, akhirnya Tasya dapat merasakan empuk dan hangatnya ranjang di kamarnya. Tasya hidup di Jakarta seorang diri dan menyewa sebuah kamar kos khusus wanita. Jarak kos tidak terlalu jauh dari kantor sehingga membantunya untuk berhemat.
Kedua orang tuanya sudah meninggal ketika Tasya masih duduk di kecil. Kecelakaan mobil yang tragis merengut kebahagian keluarganya. Semenjak itu Tasya tinggal bersama bibinya. Bermodal gelar Sarjana Komunikasi, Tasya belajar hidup mandiri hingga hari ini.
Ketika kantuk mulai merambat, tiba tiba dering handpone Tasya mengagetkannya.
"Hmm..siapa nih" sahutnya tanpa melihat layar ponselnya.
"Keluar sekarang!"
Mendadak Tasya bangun dari tidurnya, lenyap sudah kantuknya. Dadanya bergemuruh, jantungnya berdegub kencang. Tanpa pikir dua kali, Tasya bergegas keluar kamar kos menuju ruang tamu karena kos kosan yang ia tempati tidak memperbolehkan tamu masuk ke dalam kamar tanpa ijin dari ibu semang.
Dia tahu siapa yang datang dan apa yang akan dihadapinya. Tasya hanya berharap semoga tidak seburuk yang dibayangkannya.