#15 Perjalanan Dinas Pertama

923 Words
Sudah beberapa hari Tasya tidak masuk kerja. Semua pekerjaannya di serahkan kepada sekretaris dari divisi lain, Cindy. "Pak Andreas, di depan ada pria yang ingin bertemu dengan Tasya. Dia maksa Pak, padahal sudah dikasih tahu kalau Tasya tidak masuk beberapa hari ini." info Cindy "Panggil sequrity gedung saja, usir!" sahut Andreas, dia tahu dan yakin siapa pria itu. Malam itu Andreas pulang cukup larut, dilirik jam di pergelangan tangannya "Uff...jam delapan." lalu dipanjangan lehernya mencari Indra yang seharusnya sudah standby di lobby. "Malam" suara pria menegurnya. Andreas menoleh dan sedikit terkejut "Tedy." "Malam, anda siapa ya?" tanya Andreas pura pura tidak mengenali Tedy "Saya Tedy, kekasih Tasya. Kita pernah bertemu di pesta pernikahan hari Minggu kemarin" "Ohh..ya...saya ingat. Ada perlu apa mencari saya?" "Apakah anda tahu keberadaan Tasya?" tanya Tedy "Maaf, saya tidak tahu. Hari Senin pagi Tasya tiba tiba memberi kabar kalau dia sakit dan sampai hari ini belum masuk kantor." bohong Andraeas. "Sungguh Anda tidak tahu?" selidik Tedy "Maaf, Saya akan kasih tahu Tasya jika dia menghubungi kantor, kalau anda mencarinya. Mobil saya sudah datang, permisi." pamit Andreas lalu membuka pintu mobilnya dan meminta Indra untuk segera jalan. "Indra, kita mampir dulu ke restoran di depan." Sengaja Andrean tidak langsung pulang karena takut Tedy mengikutinya. Di dalam restoran Andreas menelepon Tasya untuk memberitahu kalau dia pulang terlambat. Kemudian Andreas menikmati makan malamnya dengan santai. Sekitar satu jam kemudian dia baru pulang. Ternyata dugaannya benar, malam itu Tedy mabuk dan tidak ingat kalau mereka pernah berkelahi. Pesawat membawa mereka ke Surabaya baru kemudian dengan mobil Pak Santoso menuju Malang. Setelah cek in, mereka dibawa ke rumah Pak Santoso untuk menikmati makan siang bersama keluarganya. "An..enggak enak kali kita ganggu Pak Santoso dan keluarga?" protes Tasya. "Lukaku gimana? masih ketara sekali gak?" "Enggak, pipi kamu sudah mulus. Semulus p****t bayi!" kekeh Andreas. "Gak lucu tau!" Tasya tersinggung, masa wajahnya disamakan dengan p****t bayi? Jarak hotel dan rumah Pak Santoso tidak terlalu jauh, lagian Malang adalah kota kecil dan tidak terlalu sibuk sehingga tidak ada kemacetan yang bearti seperti di Jakarta. Mereka disambut oleh Pak Santoso dan istri. "Selamat datang Pak Andreas...dan...istri?" tanya Pak Santoso ragu. "Terima kasih Pak Santoso, Tasya sekretaris saya Pak, pernah ketemu kok waktu meeting di Jakarta." senyum Andreas dengan sopan. "Ohh...kok saya ndak kenalin yah?" "Ihh..si Bapak, bikin malu saja. Maafkan suami saya ya Bu Tasya. Maklum sudah tua...agak sedikit pikun." sahut Bu Santoso. "Mari mari....pasti sudah lapar ya." mereka berjalan melewati sebuah taman kecil yang sangat asri. "Rumahnya nyaman dan rindang ya Bu." puji Tasya yang berjalan berdampingan dengan Bu Santoso "Rumah di desa yah beginilah...sederhana. Tidak seperti rumah mewah di Jakarta." sahutnya. "Enak seperti ini Bu, kalau di Jakarta harus mengandalkan pendingin ruangan agar sejuk, tapi disini tinggal buka jendela saja." "Yuk, silahkan duduk Pak Andreas, Tasya. Semua ini masakan istri saya, di jamin ketagihan nanti." "Ah..Bapak ini, biasa saja toh." sahut Bu Santoso malu malu. Setelah menyantap makan siang yang sederhana namun nikmat, Pak Santoso mengajak Andreas untuk ke ruang kerjanya membahas perkembangan projek mereka. Seharusnya Tasya ikut meeeting tersebut, tapi Bu Santoso bersikeras untuk mengajak Tasya ke kebun mereka yang sedang panen ubi. "Tasya, itu ubi sekarung mau dibawa ke Jakarta semua?" tanya Andreas dalam perjalanan pulang ke hotel. "Yahh...maunya sih gitu, bagi bagi anak anak kantor. Ubinya manis sekali loh. Tapi gimana yah bawanya An?" tanya Tasya dengan mimik wajah sedih. "Masukin aja di koper, terus baju kamu gabung di koperku. Muat gak?" "Ihh..pinter si bos. Aku muat muatin saja...he he he" sahut Tasya kesenangan karena akhirnya dapat membawa pulang ubi pemberian Bu Santoso. "Besok kita mulai survey di pabrik Pak Santoso. Kamu sebaiknya pakai sepatu yang nyaman yah..kalau engga aku gak tanggung jawab kalau kaki kamu lecet lecet." "Ya, aku sudah siapkan sepatu kets buat besok kok." Keesokan harinya setelah sarapan di hotel, mereka dijemput oleh supir Pak Santoso menuju ke pabrik. Andreas disana sudah ditunggu oleh team yang ditugaskan untuk melakukan instalasi komputer di pabrik Gula Pak Santoso. Benar saja perkiraan Andreas, pabrik sangat besar. Mereka berjalan dengan dengan didampingi kepala proyek yang menjelaskan semua pekerjaan yang telah mereka selesaikan. Andreas sangat berterima kasih pada team proyek karena telah melakukan pekerjaan mereka dan menyelesaikannya sebelum tenggat waktu yang ditentukan. Dia berjanji akan memberikan bonus kepada mereka semua. Sekitar pukul empat sore mereka sudah kembali ke hotel. "Sya, aku mau mandi dulu ya, rasnya lengket banget. Nanti jam enam kamu aku jemput, kita makan malam bareng." Tasya pun setuju, dia ingin beristirahat dan memanjakan dirinya di bath up hotel. "Tok Tok " Andreas mengetuk pintu kamar Tasya. "Sebentar...." terdengar teriakan Tasya dari dalam Ketika pintu terbuka, tercium aroma parfum Tasya yang sering digunakannya. Andreas sudah menghafalnya. "Masuk dulu An, aku belum siap nih....sepuluh menit ya..." Lalu Tasya membiarkan Andreas yang menutup pintu sementara dirinya kembali masuk ke dalam kamar mandi. Tebakan Andreas sih Tasya belum selesai make up karena terlihat alis matanya belum sama antara kanan dan kiri. Andreas duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. "Ok, aku siap," teriak Tasya masih dalam kamar mandi.Ketika Tasya keluar, mata Andreas dimanjakan dengan kecantikan wanita itu. Malam itu Tasya mengenakan celana khaki dengan kemeja lengan pendek yang ringan. Sederhana, namun sangat menonjolkan kecantikan alaminya. "Oi....kok bengong? Jadi gak? Aku sudah lapar berat nih." Andreas tersenyum mendengar komentarnya. "Ok...aku tahu kalau kamu lapar, makanya tadi aku sudah order dan sampai sana nanti tinggal langsung makan deh.. Yuk!" "Si bos emang paling the best dah!" Andreas geleng geleng kepala mendengar ucapan Tasya. Namun hatinya tidak dapat diingkari senang ketika Tasya melingkarkan lengannya di tangan Andreas. Rasanya gimanaaa gitu....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD