Matahari sudah terik ketika sinarnya masuk melalui celah celah tirai kamar Andreas, namun mereka masih terlelap akibat kelelahan semalam.
Suara erangan Tasya membangunkan Andreas. Masih dalam posisi tiduran di samping Tasya, Andreas memiringkan tubuhnya sehingga mereka berdua saling berhadapan.
"Sya...are you ok?" tanyanya
"An...hmm...sekujur tubuhku sakit semua, sstt....." desisnya dan meraba wajahnya yang lebam akibat terjatuh dan tamparan Tedy semalam.
Andreas lantas bangun dari tempat tidur dan duduk disamping Tasya lalu membantunya duduk menyandar pada headboard ranjang. Beberapa bantal diselipkan pada punggung Tasya sehingga dia merasa nyaman.
"Minum dulu, bibir kamu kering Sya" disodorkan segelas air putih yang sudah ada di nakas dari semalam.
"Perih An.." bisik Tasya sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya. Diangkat lengan kanan dan kiri lalu disibak gaunnya untuk memeriksa luka di kakinya. Beberapa luka memar yang membiru menghiasi kaki dan lengannya yang putih mulus.
Hatinya sangat hancur mengingat perbuatan b***t Tedy semalam, apakah salah jika dia menolak hasrat Tedy? Tasya bukan seorang wanita kolot yang menjunjung tinggi keperawanan, dia hanya belum siap. Hatinya meragu akan cintanya pada Tedy. Tasya akan memberikan mahkotanya pada pria yang tepat. Dan saat ini pria itu bukan Tedy.
Dihapus air mata yang mulai membasahi pipinya, "Tidak, Aku tidak boleh lemah." batinnya. Lalu dia tersenyum pada Andreas yang sedang memandangnya khawatir.
"It's ok, Terima kasih. Kamu telah menjadi malaikat penolongku. Jika tidak ada kamu, entah bagaimana nasibku sekarang." Tasya meraih tangan Andreas dan menggenggamnya. Sungguh dia bersyukur telah dipertemukan dengan Andreas.
"Setiap orang yang masih mempunyai hati nurani pasti akan membantu Sya. Bukan karena kamu atau Aku, pria b***t itu harusnya masuk penjara biar jera." geram Andreas.
"An, berjanjilah untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun? Dan...Pak Indra dia semalam...." Andreas menggelengkan kepalanya. "Aman, aku sudah perintahkan dia untuk diam. Indra orang yang dapat dipercaya." Tasya pun bernapas lega.
Pelahan Tasya beringsut turun dari ranjang sambil mendekap gaun yang sudah hampir terlepas dari tubuh bagian atasnya. Punggungnya yang mulus tak lagi tertutup sehelai benangpun, Andreas menelan salivanya. Biar bagaimanapun dia adalah lelaki tulen yang normal, namun otaknya masih waras.
"Sya, apakah kemarin Tedy ...." Andreas ragu untuk menyelesaikan kalimatnya.
"Berhasil menodaiku maksud kamu An?" kemudian dia terdiam, sesaat kejadian semalam berputar di pikirannya. Tasya menatap mata Andreas lekat lekat, "Tuhan masih melindungiku, ." Andreas bernapas lega mendengar pengakuan Tasya.
"Kupikir aku datang terlambat, jika memang demikian aku tidak akan dapat memaafkan diriku selamanya Sya..."
"Bukan salahmu, ini salahku. Sudah beberapa kali dia mengajaku tapi kutolak. Aku...aku tidak bisa An..bukan karena aku tidak mencintainya tapi entah...hati ini ragu untuk menyerahkan diriku padanya."
"Sudah lah...kamu aman sekarang. Tinggalah beberapa hari disini jika kamu khawatir Tedy mencarimu. Yuk, aku papah kamu ke kamar mandi. Tapi...aku hanya punya kaos yang pasti kebesaran untuk kamu, yah..dari pada gak ada. Benar enggak?" gurau Andreas. Tasya menahan senyumnya "Enggak lucu."
"Kaosnya nanti kuletakan di atas ranjang, Aku ke dapur dulu lihat ada apa saja yang bisa kita makan. Perutku lapar sekali." Tasya mengangguk tanda setuju, karena kondisi perutnya sama dengan Andreas.
Di dalam kamar mandi, Tasya mematut dirinya didepan cermin. Biru lebam di berbagai tempat seperti lengan, lutut, dan terakhir dia baru menyadari kalau daerah intimnya juga sepertinya terluka. "Ahh...kenapa nasibku seperti ini Tuhan, Pria yang harusnya menjagaku dan melindungiku kini menjadi seseorang yang mencelakaiku."
Setelah selesai membersihkan diri dan mengenakan kaos Andreas yang kebesaran, Tasya meraih ponselnya dan menelepon Ibu Kos.
"Siang Bu Ratna, Tasya mendadak ada kerjaan dan harus keluar kota beberapa hari. Mohon ijin, nanti ada teman Tasya yang akan mengambil beberapa barang yang Tasya butuhkan. Namanya Indra Bu, dan boleh minta Ibu bukakan kamar Tasya karena kuncinya tertinggal di kantor. Baiklah Bu, terima kasih .." Setelah itu Tasya menghubungi Indra dan memberikan alamat rumah kos serta pesan untuk bertemu dengan Bu Ratna.
"Gruukkk..grukkk..." perut Tasya sudah tidak berkompromi lagi rupanya. Dengan tertatih tatih dia membuka pintu kamar Andreas dan menghirup harum masakan.
"Hei..sudah selesai? Ternyata hanya ada mie instan saja...he..he..he...nanti kita order saja. Sekarang kita nikmati dulu saja apa yang ada. Ok?"
"Aku tidak milih milih An, yang penting enak...dan kelihatannya mie instan buatan kamu sedap sekali.." Tasya menarik kursi meja makan dan siap menyantap. " Kamu gak ikutan?"
"Mau dong...porsi aku 2 bungkus nih. Lihat mangkok ku lebih besar dari kamu " jawab Andreas sambil menunjukkan mangkoknya.
"Rakus atau lapar nih? Beda tipis!" ledek Tasya.
"Keduanya." lalu hening, yang terdengar hanya suara dentingan sendok garpu saja.
Setelah kenyang, mereka duduk di ruang tamu. Walaupun terlihat Tasya sedang menonton TV tapi Andreas tahu kalau Tasya tidak sedang menonton. Tatapan matanya kosong, dan sesekali dia menghapus air matanya.
Andreas pindah duduk ke sampingnya, "Aku pinjamkan pundakku untuk beberapa hari ini, kamu bisa pakai sepuasnya. Tapi kuharap setelah itu kamu kembali menjadi Tasya yang ceria." Diarahkan kepala Tasya dan menyenderkannya di pundak, terdengar isak tangis Tasya. Entah keberanian dari mana yang didapatnya, Andreas memberanikan diri untuk mengusap kepala Tasya dengan lembut dan mencium puncak kepalanya. "You gonna be fine..."
Getar getar aneh mulai merasuki relung hati Andreas. Tidak dapat dipungkiri kalau Tasya adalah sosok wanita yang menarik, bukan hanya penampilan tapi kepribadian nya pun membuat Andreas tidak bisa berhenti memikirkannya. Awalnya Andreas merasa perasaan itu hanya karena kasihan saja dan berusaha menepisnya. Biar bagaimana pun Tasya adalah bawahannya. Dan dia sudah berjanji untuk tidak memanfaatkan posisinya untuk mendapatkan hati seorang wanita.
Ting Tong...Bel pintu apartment Andreas berbunyi, sejenak mereka berdua saling berpandangan saling bertanya siapa yang datang berkunjung. Lalu Andreas menjentikan jemarinya "Indra!" dan berjalan untuk membukakan pintu.
"Sore Pak, saya membawa barang barang Bu Tasya. Saya letakan dimana ya?"
"Banyak?"
"Gak banyak Pak, Pakaian, alat make up, sepatu semua ada di dalam koper ini." ditunjukkan sebuah koper biru berukuran medium. "Yang lain saya tidak bawakan Pak."
"Hai Pak Indra...maaf merepotkan, dan ...terima kasih." ucap Tasya. Indra hanya tersenyum dan segera memohon diri.
"Sya, sini kopernya. Kamu tidur di kamar yang diseberang kamarku." Lalu berjalan dengan menggeret koper Tasya.
"An, beneran nih aku tidak ganggu privasi kamu? Nanti kalau ada pacar kamu yang beneran datang gimana?" tanya Tasya merasa sungkan.
"Pacarku bukannya kamu?" gurau Andreas, mengingatkan kalau mereka sudah berjanji untuk berpura pura pacaran. Tasya mendelik, sempat sempatnya Andreas bergurau. Melihat raut wajah Tasya yang menandakan kurang suka, Andreas buru buru menambahkan "Sorry...aku belum punya pacar. Jadi kamu aman, tenang saja...."
"Masa sih, gimana dengan Bu Rina?" selidik Tasya
"Dia? sudah kuanggap adik. Aku tidak tertarik dengan wanita ambisius seperti dia, menggunakan segala cara demi kepuasan hatinya."
"Kamu istirahat saja di dalam sambil beres beres pakaianmu. Besok kamu tidak usah ke kantor, kondisi fisik kamu dan aku seperti ini bisa menimbulkan gosip nanti." Tasya setuju dan kemudian menutup pintu kamarnya perlahan. Sebelum menutup sempurna Tasya menahan sedikit lalu menatap punggung Andreas, "Alangkah bahagianya jika Tedy memiliki kelembutan dan perhatian setengah saja dari Andreas.." batinnya.