Teriakan pria itu menggelegar, membuat beberapa orang yang berdiri di depan kamar mulai bergidik ngeri. Apalagi saat pria itu membalikkan tubuh dan menatap tajam ketiga orang asisten rumah tangga yang berbaris di sana. Pria itu tak percaya jika istrinya mampu melakukan semua ini padanya. Wanita iu benar-benar melakukan apa yang ia ucapkan.
Beberapa menit sebelum pria itu tiba di rumah. Ia menerima sebuah pesan singkat dari nomer kontak yang diberinya nama ‘istriku’ yang sebentar lagi akan ia ubah menjadi ‘mantan istriku’. Pesan yang mengatakan pada pria itu agar ia jangan pernah lagi kembali ke rumah dan wanita itu meminta alamat barunya agar semua barang-barang pria itu bisa langsung dikirimkan. Bagaimana bisa wanita itu mengusirnya dari rumahnya sendiri? Sungguh tak bisa dipercaya!
“Di mana Jenny?” tanya pria itu dengan setengah berteriak. Jenny telah memancing amarahnya semenjak kejadian di hotel beberapa hari lalu. Pria itu sengaja memberikan waktu agar Jenny bisa meredakan amarahnya dan tak kembali menuntut cerai.
Ia pikir, Jenny masih sama seperti dulu. Dibiarkan amarahnya pudar dengan memberi jarak di antara mereka, lalu pria itu akan merayunya dengan membelikan barang mahal dan juga berlibur, maka wanita itu akan kembali memaafkannya. Ia pikir, apa yang dilakukan wanita itu hanyalah amarah sesaat. Siapa sangka, perbuatan wanita itu malah semakin parah.
Pria itu tak mampu menyembunyikan keterkejutannya pada saat masuk ke dalam walk in closet dan tak menemukan sepotong pun pakaiannya di sana. Barang-barang berharga seperti jam bermerknya memang masih ada di sana, namun tidak dengan pakaian. Bukan hanya kamar mereka yang tampak sangat berubah, namun pria itu tak mampu menemukan satupun fotonya tergantung di rumah. Wanita itu seakan ingin menghapus semua tentangnya.
Suara kaki yang melangkah mendekat membuat pria itu mengarahkan pandangan ke sumber suara. Seorang wanita paruh baya tersenyum lembut padanya, membuat pandangan Si pria ikut melembut. Wanita itu berdiri di hadapan pria yang kini tampak tak berkutik. Meski wanita itu adalah asisten rumah tangga yang bekerja dengannya, namun pria itu menghormatinya. Sama seperti istrinya yang begitu menghormati wanita itu.
“Tuan nggak perlu berteriak dengan mereka semua. Jenny ada di taman belakang rumah. Dia memanggil Anda untuk bergabung dan menikmati teh bersamanya.”
Dengan segera Altair berlari pelan menuju tempat yang dimaksudkan oleh Bi Ira. Di sana, ia melihat Jenny tengah berjongok di hadapan tanaman yang setahun belakangan ini ditanamnya untuk menghabiskan waktu di rumah. Altair berjalan pelan ke arah Jenny, nafas pria itu terengah-engah, dan otaknya memikirkan banyak cara untuk membujuk Jenny. Merayu seperti biasa atau berpura-pura bodoh agar Jenny luluh.
“Kamu tahu, Mas. Bunga ini namanya adalah Lily of the Valley. Bunga ini hanya dapat dipanen dalam kurun waktu satu tahun sekali, biasanya mekar di bulan Mei seperti sekarang,” Jenny berkata tanpa menoleh pada pria yang kini berdiri di sampingnya.
“Jenny … aku nggak berminat mengetahui tentang bunga yang kamu tanam.”
Jenny tersenyum tipis. “Kamu memang nggak pernah mempedulikan segala sesuatu tentangku. Kamu pikir memberiku uang, liburan, dan barang mahal bisa mencukupi bathinku, namun kamu salah. Kamu memang nggak pernah mengenalku.” Jenny tersenyum pada bunga berbentuk lonceng berwarna putih itu. Aroma khas bunga itu begitu memikat.
Perkataan Jenny membuat Altair terpaku sesaat. Ia pikir, Jenny senang menghamburkan uangnya dan wanita itu yang hidup sebagai model terkenal menikmati gaya hidup seperti itu. Bagaimana bisa ia tak tahu jika Jenny tak menyukai semua pemberiannya? Jenny selalu tersenyum bahagia dan bergelayut manja saat ia memberi wanita itu sesuatu.
“Kamu tahu, Mas. Jika kita mengonsumsi senyawa racun dalam bunga ini yang disebut dengan glikosida jantung, maka kita harus segera dilarikan ke rumah sakit. Kita tidak ditangani, keracunan karena buna ini bahkan bisa menyebabkan kematian,” Jenny menoleh pada Altair dan tersenyum pada pria yang masih terpaku mendengarkan ucapannya barusan.
“Selain bunga Lily of the Valley, bunga Hygrangea ini jauh lebih mengerikan. Bunga ini mengandung racun sianida yang sangat berbahaya. Manusia hanya perlu menelannya sedikit dan efeknya fatal. Ternyata, menanam banyak tanaman beracun sangat menyenangkan dan berguna.”
Jenny segera berdiri dan berhadapan dengan pria itu. “Hebat bukan, bagaimana bunga-bunga yang tampak ringkih dan indah ini bisa beracun?” senyum yang Jenny pamerkan membuat jantung Altair berdebar kencang karena ketakutan yang mulai menjalar ke penjuru hatinya.
Tatapan mata dingin Jenny saat bercerita tentang hal yang beracun seakan ingin memberitahunya, jika pria itu macam-macam, maka Jenny bisa meracuninya. Wanita itu pun seakan ingin memberitahukan Altair, jika apa yang tampak indah tak selamanya baik, bisa saja menjadi racun. Sungguh, Altair merasa begitu tak mengenali Jenny lagi.
“Awalnya, aku pikir, aku harus tahu wanita seperti apa yang membuatmu bisa berpaling dariku. Apa yang dimilikinya dan tidak ku miliki. Apa yang membuatnya bisa lebih membuatnya nyaman, daripada aku. Akan tetapi, sejak aku mengetahui perempuan seperti apa yang kamu kencani. Aku mengerti, masalahnya bukanlah di diriku. Bukan kekuranganku, kamu hanya nggak bisa setia, Mas. Bagimu pernikahan hanyalah permainan semata.”
“Jenny … Sayang … dengarkan aku dulu. Kamu hanya dibutakan amarah. Kamu harus mendengarkan penjelasanku karena semua ini nggak seperti yang kamu pikirkan,” Altair mencengkram kedua lengan Jenny dan menatap ke dalam manik mata wanita itu.
“Hal paling menyedihkan dari kisah ini adalah aku yang seakan nggak mengenalimu lagi. Aku pikir, cintaku spesial dan kita adalah dongeng yang akan berakhir bahagia untuk selamanya. Sayangnya, kamu telah meretakkan janji di antara kita. Janji suci yang kita ucapkan dihadapan Tuhan,” Jenny tersenyum miring. Ia tak pernah menyangka hari ini akan tiba.
Jenny pikir, cintanya mampu memenuhi setiap keretakkan yang ada di antara mereka, hingga cinta mereka akan selalu utuh dan membahagiakan. Siapa sangka, lelaki itu tak merasa utuh saat bersamanya. Ia malah mencari wanita di luar sana. Apa pun alasan pria itu, Jenny tak bisa menerima perselingkuhan. Sekali, dua kali, ia mencoba menutup mata, namun pria itu terus terbuai dengan permainannya di luar sana. Jenny tak lagi mau ditindas oleh cintanya sendiri.
“Aku pun seakan nggak mengenalimu lagi, Jen. Kamu berbeda dari Jenny yang kukenal dua tahun lalu. Ternyata, banyak hal yang nggak kuketahui padahal kamu adalah istriku. Bagaimana bisa kamu nggak mempercayaiku? Kamu bahkan nggak mau mendengarkanku.”
Jenny tersenyum datar. Dulu, kata-kata ‘kamu tidak mempercayaiku’ selalu membuat Jenny takut karena ia mempercayai pria itu sepenuhnya. Dulu, mendengar kalimat itu keluar dari mulut Altair akan membuat Jenny segera memeluk Altair dan menunjukkan ketakutannya akan kehilangan pria itu, namun kini keadaannya tak lagi sama.
“Jika aku nggak mempercayaimu, aku nggak akan tidur sekamar, bahkan seranjang denganmu, Mas. Jika aku nggak mempercayaimu, aku nggak akan mau meninggalkan semuanya dan menikah denganmu. Jika rasa percayaku nggak besar, kamu nggak mungkin menyalah gunakannya, Mas,” Jenny tersenyum dingin.
“Duduklah. Bagaimana jika kita menikmati teh, pemandangan kebun bungaku sembari membicarakan bisnis,” lanjut Jenny seraya duduk di kursi yang berada di taman itu. Altair membeku, tak menyangka Jennynya yang manja bisa berubah sebegitu dingin padanya.
Altair masih ingat bagaimana Jenny begitu bergantung padanya. Ia bahkan tak tahu cara mengerjakan tugas sebagai istri yang melanyani suaminya dengan baik. Selama ini, Jenny di matanya adalah seorang model yang selalu dikelilingi kemewahan dan juga pamor. Wanita itu menyukai drama karena begitulah para orang di dunia hiburan, bukan? Terlihat bagaiman cara Jenny yang selalu merengek pada hal kecil dan menjadikannya besar. Seperti saat Altair pulang terlalu malam dan memakan masakan pertama Jenny.
“Kenapa masih berdiri di situ? Duduklah, Mas. Tehnya suah mulai dingin,” Jenny tersenyum manis, namun senyum itu tak lagi terasa tulus seperti biasanya. Kini ada jarak tak kasat mata di antar mereka, jarak yang diciptakan Jenny untuk menjauhinya.
Apakah ini akibat dari kepercayaan yang ia hancurkan?