Akan Kuhapus Jejakmu

1407 Words
Cahaya mentari mengintip melalui celah gorden, mengusik tidur nyenyak wanita itu. Bukannya ingin bangkit berdiri dan menjalani aktifitasnya, wanita itu tak memiliki keinginan untuk beranjak dari tempat tidur. Semalaman ia tak bisa tertidur nyenyak. Ia menangis dan menangis, berharap seluruh air mata yang ia miliki akan terkuras habis, hingga tak ada lagi air mata yang bisa jatuh dan membasahi pipinya. Pada akhirnya, ia menangis hingga tertidur dan pagi ini ia tak memiliki tenaga untuk kembali mengenakan topeng yang akan menutupi semua kepiluan yang menguasai sanubarinya. Ketukan pada pintu kamar membuat Jenny kembali menenggelamkan diri dalam selimut hangatnya. Ia butuh mengistirahatkan hati dan juga pikirannya. Menikmati masa-masa patah hatinya dengan damai tanpa harus berpura-pura dan semua itu hanya bisa dilakukannya di kamar ini, tempat persembunyian yang begitu disukainya. “Jenny … ini Bi Ira. Kamu udah bangun?” ketukan kembali terdengar dan kini dibarengi dengan suara Bi Ira yang terdengar begitu khawatir. Jenny ingin menjawab dan mengatakan jika dirinya baik-baik saja, namun semua itu tak mungkin ia lakukan karena dirinya nampak begitu kacau saat ini. Orang bodoh pun pasti bisa menebak jika dirinya begitu hancur. Jenny memutuskan untuk diam bagai mayat agar tak perlu memainkan drama sepagi ini. “Tuan Altair udah pergi. Kemarin malam dia menginap di kamar tamu yang ada di lantai bawah. Dia juga makan di meja makan dan menunggumu turun, tapi kamu nggak turun-turun. Dia sempat mampir ke kamar dan melihat lampunya sudah padam. Dia cukup lama berdiri di depan kamarmu, Jen. Bibi nggak membelanya, tapi Bibi nggak suka melihatmu hancur,” suara wanita itu terdengar begitu khawatir, membuat Jenny sedih mendengarnya. Oh … ingin rasanya Jenny berlari ke dalam dekapan wanita itu, mengadu padanya, dan menerima belaiannya yang menenangkan, namun Jenny tak bisa melakukan semua itu. Ia pun tak bisa mengadu pada kedua orang tuanya, tak ada seorangpun yang bisa ia ajak berbagi luka. Sahabatnya, Almira pun tengah dalam keadaan rumit dan Jenny tak ingin menyusahkannya. Pada akhirnya, Jenny hanya bisa menyimpan rasanya seorang diri. Ia tak ingin menjadi beban bagi siapapun dan harus kembali mandiri seperti dulu lagi, ia tak menyukai dirinya yang sekarang. “Katanya, dia akan mulai membawa satu per satu barangnya hari ini, tapi dia minitipkan pesan agar kamu mengembalikan cincin pernikahannya,” suara Bi Ira bergetar. Ia tahu, jika Jenny amat terluka. Wanita itu tak bisa menyembunyikan apa pun dari Bi Ira. Walau Jenny berusaha terlihat kuat, wanita itu tak bisa menipunya. Jenny yang sarkastis dan dingin tak bisa memperdaya hati Bi Ira yang begitu mengenal Jenny. “Bibi tahu jika kamu berpikir untuk apa mempertahankan status bila nggak ada lagi cinta. Kamu nggak mau berakhir seperti mamamu yang mati-matian menjaga status walau tahu jika cinta sudah lama mati, tapi kamu juga nggak boleh menyiksa diri, Jen,” suara wanita itu semakin lirih seakan mampu menyayat hati Jenny, “Bersedihlah sepuasmu, tunjukkan rasa sakitmu, dan menangis sepuasnya. Dengan begitu, kamu akan bisa kembali bangkit, Jen.” Jenny mencengkram kuat-kuat selimutnya. Ia mengigit bibir bawahnya kuat-kuat, ia tak ingin menangis lagi. Ia telah kehabisan semua air mata. Ia telah melakukan semua itu kemarin, yang artinya, hari ini ia harus kembali bangkit. Namun, perkataan Bi Ira kembali membangkitkan luka di dalam hatinya. Ya, ia tak memerlukan status bila sudah tak ada lagi cinta di antara mereka. Ia tak mau menjadi seperti ibunya yang mempertahankan status dengan menjual dirinya sebagai alasan untuk membenarkan sikap bodohnya. Padahal, Jenny akan jauh lebih bahagia hidup tanpa ayah, daripada harus tumbuh besar dalam keluarga tanpa cinta. Kehadiran Altair seakan oase di padang pasir. Ia seakan menemukan apa yang selama ini ia idam-idamkan, cinta. Tanpa berpikir panjang, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan semu itu. Ia bahkan menghina otaknya dan mengatakan jika kali ini, ia telah menemukan cinta sejati bak negeri dongeng yang tak ‘kan berakhir. Siapa sangka, cinta yang gila itu membuatnya terlalu sombong dan mungkin ini adalah cara Tuhan menyadarkannya. Jika tak ada cinta sejati di dunia ini. Perasaan itu hanyalah untaian kata penuh omong kosong. Ilusi semata. Tak ada yang nyata dan semuanya mulai terasa begitu mengerikan. “Jenny … Bibi memasak makanan kesukaanmu. Turun dan temani Bibi makan jika kamu sudah siap. Bibi tahu, kalau kamu adalah wanita kuat meski kamu menangis Jen. Menangis bukan artinya kamu lemah, namun kamu adalah manusia biasa dengan segala keterbatasannya,” tak lama setelah mengucapkan kalimat itu, Jenny dapat mendengar langkah kaki yang menjauh. Jenny tersenyum. Ya, tak seharusnya ia terus-terusan terbuai dalam kesedihan yang melanda hatinya. Dirinya telah melewati semua tahap patah hati. Ia tahu benar, jika tak ada gunanya memaksakan hubungan tanpa cinta. Tak perlu lagi memperjuangkan seseorang yang telah menyerah akan dirimu. Semuanya sudah berakhir dan inilah saatnya menghapus semua jejak pria itu seperti apa yang ia berusaha lakukan. Jenny segera bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Ia membersihkan dirinya dan membiarkan dirinya agak lama berada di shower kamar mandi, berharap setelah keluar dari sana. Otaknya bisa lebih dingin dan ia bisa kembali menjadi Jenny yang dulu. Jenny yang mandiri, kuat, tak bisa ditaklukkan, dan wanita yang tak memiliki cinta. Selepas membersihkan diri. Jenny masuk ke dalam walk in closetnya dan memilih pakaian yang akan membuatnya kembali menjadi seperti dirinya yang dulu. Ia tak perlu lagi gaun sopan dengan lengan atau corak bunga-bunga yang terkesan terlalu simple dan menyembunyikan kesan glamour yang orang-orang kerap lihat dari dirinya. Jenny memainkan jemarinya pada koleksi pakaiannya dan tersenyum tipis. Tampaknya ia harus membuang banyak pakaian yang menghiasi lemarinya itu. Jenny membuang ke lantai beberapa pakaian yang dipilihkan Altair untuknya, kebanyakan adalah gaun terusan bergaya sederhana dengan motif bunga-bunga atau warna-warna cerah, pakaian yang akan membuatnya cocok menyandang peran sebagai istri pejabat yang harus terlihat sopan dan juga gemulai. Ia tak lagi memerlukan semua itu. Ia tak perlu mengubah caranya berpenampilan demi menyenangkan hati seseorang atau sekadar pelengkap sandiwara. Kini, ia adalah burung yang bebas. Ia bisa kembali melakukan apa pun yang ia inginkan. Ia tak lagi perlu menjadi orang lain dan mulai kehilangan jati dirinya sendiri. Jenny beralih pada bagian lemari yang sudah lama tak disentuhnya dan tersenyum saat menemukan pakaian yang cocok. Ia bisa kembali menjalankan hobinya dalam memadupadankan pakaian untuk mengenyahkan kesan yang begitu biasa dalam penampilannya. Ia tak lagi peduli pandangan orang-orang. Kini, kenyamanannya lah yang paling utama. Jenny mengambil hotpants, kemeja putih yang ia lapisi dengan blazer abu-abu, lalu melengkapi penampilannya dengan syal sebagai pemanis. Ia lalu mengenakan sneaker putih kesayangannya. Kini Jenny tak lagi berpenampilan seperti ibu-ibu pejabat. Ia akan kembali berpakaian seperti orang seusianya, dua puluh tiga tahun. Mungkin ia pun bisa kembali melanjutkan kuliahnya untuk mengisi waktu luang. Ah … begitu banyak rencana yang mulai memenuhi benaknya dan membuatnya sangat bersemangat. Jenny memainkan kuas di wajahnya, merias dirinya secantik mungkin dan tak membiarkan seorangpun tahu apa yang dilaluinya semalam. Jenny mengamati penampilannya pada cermin di hadapannya dan tersenyum puas. “Ya, harusnya inilah Jenny yang sebenarnya. Kamu nggak perlu lagi memikirkan bagaimana opini publik tentang caramu berpakaian, kamu nggak perlu memikirkan segala sesuatu demi menjaga nama baik suamimu, kini saatnya mendapatkan dirimu yang telah hilang, Jen,” Jenny berkata pada pantulan dirinya di cermin. Jenny menyandang tas besar berwarna coklat yang senada dengan syalnya dan pergi meninggalkan walk in closet. Ia memasukkan semua barang pribadinya ke dalam tas dan berjalan menuju lantai bawah. Masih yang harus ia lakukan. Semua mata menatap Jenny heran begitu wanita itu duduk di kursi yang berada di balik meja persegi panjang. Bahkan Bi Ira terpaku melihat penampilan Jenny yang jauh dari kata anggun seperti kesan yang selalu wanita itu berikan pada setiap orang. “Mari, kita semua sarapan! Mulai hari ini, kalian duduklah bersamaku dan makan di sini,” ucap Jenny seraya memperhatikan satu per satu wajah asisten rumah tangganya, “Aku akan mengubah sistem pekerjaan di rumah ini agar aku nggak perlu memecat kalian semua. Walau bagaimanapun, aku akan segera menjadi janda, jadi aku harus benar-benar memikirkan pemasukan dan juga pengeluaranku. Mari kita makan bersama,” lanjut Jenny tersenyum manis. Semua orang yang berada di sana duduk dengan ragu karena selama ini, mereka diberikan kode etik yang membatasi hubungan di antara Si kaya dan Si miskin. Mereka tak tahu rencana Jenny, namun semua orang di rumah itu jika Jenny bukan mantan model tanpa otak yang hanya bisa menggunakan tubuh untuk mendapatkan uang. Wanita itu sangat pintar walau harus tak melanjutkan kuliah untuk membiayai keluarganya. Pendidikan seseorang tak bisa dijadikan tolak ukur untuk mengukur kepintaran orang itu. Oleh karena itu, ketiga asisten rumah tangga itu tak membantah dan menyerahkan nasib mereka di tanganJenny yang tampak sangat bahagia itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD