Jenny berjalan dengan anggun ke arah pria yang kini membelakanginya dan memarahi beberapa asisten rumah tangga mereka yang memindahkan kotak berisikan semua pakaiannya ke ruangan bawah tanah rumah mereka, tempat di mana semua barang tak terpakai disimpan. Tempat yang sangat pas untuk mengubur semua hal yang tak lagi diinginkan, bukan? Aneh, mengapa pria itu harus marah pada hal yang sudah benar.
Jenny segera mencegah tangan pria itu yang terangkat ke udara untuk memukul salah satu asisten rumah tangga mereka. Pria itu pasti sudah sangat bingung menghadapi Jenny, hingga dirinya melampiaskan semua kemarahannya pada orang lain. Sungguh, Altair bukanlah pria yang seperti selama ini Jenny pikirkan.
“Jangan melampiaskan amarahmu pada orang lain, Mas!” Jenny menatap tajam pria itu, sedang Altair menepis kasar tangan Jenny. Wanita itu dapat melihat amarah Altair yang memuncak karena sikapnya. Mengapa malah pria itu yang marah? Bukankah, harusnya Jenny yang marah dan sedih dengan apa yang pria itu lakukan padanya?
“Haruskah aku melampiaskan semuanya padamu, Jen?”
Jenny mengangguk dengan polosnya. “Tentu saja, aku yang memerintahkan mereka untuk menyimpan semua barangmu di ruang bawah tanah, tempat yang sangat sesuai untuk semua barang-barang yang nggak lagi terpakai dan ingin segera dibuang. Kenapa kamu harus marah dengan kenyataan ini?” Jenny menatap Altair dengan tatapan meneliti.
“Lagipula, apa kamu nggak takut jika salah satu dari mereka bisa mengadukan sikap kasarmu ini dan membuat namamu muncul di berita besok pagi? Kamu bisa kehilangan semua predikat suami idaman dan juga anggota DPR yang dicintai banyak ibu-ibu,” Jenny berdecak, lalu menggeleng-geleng. Altair menatap Jenny tak percaya.
“Apa ini rencanamu? Kamu ingin semakin menjatuhkanku dengan skandal yang kamu siapkan ini? Kamu ingin menjebakku dalam skandal yang mengahncurkanku?” Kini amarah Altair tak lagi bisa ditahannya. Ia menangkup dagu Jenny dan menatapnya tajam.
Sedang Jenny yang ditatap seperti itu tak merasa takut ataupun terintimidasi sama sekali. Semua kartu AS pria itu ada di tangannya dan pria itu tak mungkin berani melukainya. Jenny tahu benar, apa yang pria itu impikan akan hancur bila ia berani membuat Jenny terluka. Menyadari tak ada ketakutan di manik mata Jenny, membuat Altair yang merasa takut. Pria itu mengempaskan dagu Jenny dengan kasar, membuat wajah wanita itu mengarah ke samping.
Jenny terbahak. “Kenapa? Kamu nggak berani menyakitiku? Bukankah bagus, jika kamu membunuhku dan mengubur semua kebusukanmu bersamaan dengan kematianku?”
Altair menatap Jenny tak percaya. “Kamu memang gila, Jen. Semua orang akan tahu apa yang sebenarnya terjadi dan kamu akan menyesali tindakanmu ini. Kamu akan menggali kuburanmu sendiri dengan sikapmu ini,” pria itu mengarahkan telunjuknya pada Jenny, “Kamu tahu, pada akhirnya, kamu hanyalah mantan model yang hanya tahu menjual tubuh dan juga kecantikannya untuk mendapatkan banyak uang. Aku memang bodoh karena terjebak oleh permainanmu. Sejak awal, memang uang yang kamu inginkan dariku. Kamu hanya menginginkan harta dan menggunakan cara licik seperti ini untuk mendapatkannya. Kamu memang pintar dan aku salut padamu,” Altair meneliti sepasang netra wanita itu.
Bukan merasa terhina, Jenny malah menikmati semua penghinaan pria itu. Mungkin Altair benar, dirinya sudah sangat gila. Jenny tertawa renyah. “Terima kasih atas pujianmu, Mas. Setidaknya, masih ada bagian tubuhku yang bisa menghasilkan uang. Apalagi otakku yang pintar ini bisa kugunakan untuk menjebak orang sepertimu. Nggak pa-pa, Mas. Panggung ini adalah milikmu dan kamu bisa menguasainya. Kamu bisa mengambil peran baik dan berikan peran antagonisnya padaku asalkan kamu memberikan semua yang kuminta,” Jenny tersenyum penuh arti, sedang Altair menatap wanita itu tak percaya.
“Apa sejak awal kamu menggodaku hanya untuk mendapatkan hartaku?”
Jenny tersenyum. “Terserah apa yang kamu pikirkan tentangku karena semua itu tak lagi berarti. Kamu bebas berpikir jika semua itu adalah rencanaku sejak awal. Setidaknya, kamu harus tahu kalau kamu nggak bisa menghancurkanku semudah itu, Mas. Lagipula, apa yang kuminta adalah hal wajar setelah kamu membuatku kehilangan banyak hal. Waktu, perasaan, dan juga perhatian. Hal itu sangat mahal, Mas. Anggap saja semua itu bayaran atas jasaku.”
Altair tertawa tak percaya. “Kamu memang nggak bisa ditebak. Aku telah salah menilaimu selama ini. Aku pikir, kamu bisa menjadi seorang istri. Namun sayang, selamanya kamu tetaplah model yang tahunya mengumbarkan uang dan hidup dalam kemewahan. Kamu akan melakukan berbagai cara untuk menjebak orang sepertiku.”
Jenny tersenyum, lalu dengan sedikit berjinjit, ia mempertipis jarak di antara wajah mereka. “Sayang sekali, aku memberikan keperawananku padamu. Harusnya, aku bisa mendapatkan uang lebih banyak dan nggak mungkin terluka karenamu,” Jenny segera memberikan jarak di antara tubuh mereka.
“Jangan memperlambat prosesku untuk menikmati harta berlimpah darimu. Banyak hal yang ingin kulakukan dengan semua uang yang kuterima nanti. Aku harus merenovasi total rumah ini, jadi kamu harus mengerti kalau aku sangat membutuhkan uang,” Jenny menatap pria itu polos, sedang Si pria menatap Jenny jengah.
“Kamu benar-benar ingin merampokku,” pria itu tertawa sumbang, “Kamu benar-benar akan menyesali semua ini, Jen. Semua orang akan membencimu dan hidupnya nggak akan pernah tenang. Orang-orang akan tahu benar orang seperti apa dirimu.”
Jenny tersenyum tenang. “Kamu yang akan menyesali apa yang telah kamu perbuat padaku, Mas. Suatu hari nanti, kamu akan membayarnya,” Jenny segera berjalan mendekati ketiga asisten rumah tangganya dan tersenyum pada mereka semua.
“Jangan masukkan semua perkataannya kepada kalian. Sejak hari ini, dia bukanlah siapapun di rumah ini dan kalian nggak perlu mengikuti semua keinginannya,” Jenny melirik pada Altair yang menatapnya marah, “tanyakan pada pria itu mau dikirim ke mana semua barang-barangnya agar ruang bawah tanah nggak begitu sesak.”
Lalu Jenny membalik tubuhnya ke arah Altair. “Aku mohon kamu mau bekerjasama agar kita berdua bisa sama-sama tenang, Mas. Berikan alamatmu dan semua ini akan segera berakhir. Kamu nggak lagi bisa menggoyahkan keputusanku. Kamu bisa membenciku sesuka hati, menghasutku di hadapan media, ataupun para selirmu, tetapi kamu harus tahu kalau aku nggak akan tinggal diam jika kamu nggak memberikan semua keinginanku.”
Jenny tersenyum manis. “Besok, pengacaraku harus sudah menerima surat cerai yang sudah kamu tandatangani atau aku yang akan mengambil alih panggung sandiwara ini. Ingat, Mas. Aku jauh lebih mahir berakting dibanding dirimu. Kamu bisa bayangkan model yang selalu terkena skandal dan taubat atau seorang suami idaman yang terlihat sempurna yang bisa memenangkan opini publik.”
Jenny menghentikan langkahnya saat teringat sesuatu. “Cicin nikah ini akan jadi milikku,” ucap Jenny seraya melepas cincin nikah dari jemari Altair, “Aku tahu kalau kamu nggak memerlukannya lagi, tapi aku memerlukannya. Seperti yang kamu bilang. Bukankah aku wanita yang tergila-gila pada hartamu?” Jenny tersenyum manis dan melanjutkan langkahnnya.
“Jenny!” teriakan Altair tak mampu membuatnya menghentikan langkah. Dengan langkah anggun, ia terus berjalan menjauh meninggalkan pria itu dan menuju lantai dua rumah mewah yang akan segera menjadi miliknya.
Sesampainya di kamar, Jenny mengunci pintunya agar Altair tak lagi menganggu dirinya. Hati dan otaknya sudah cukup lelah, hingga yang dibutuhkannya adalah waktu istirahat yang berkualitas agar bisa kembali berdebat dengan orang seperti Altair. Jenny duduk di tepi tempat tidur dan menatap kosong cincin pernikahan milik Altair yang berada di telapak tangannya. Ada perih yang menyelinap masuk dan menguasai setiap relung hatinya.
Ia tahu, jika tak seharusnya ia merasa terpukul, namun dirinya adalah manusia biasa. Ia boleh berlagak tegar dan tak peduli, namun ia tak bisa mencegah kehancuran yang menkonsumsinya dari dalam. Tak ada seorang wanitapun yang akan baik-baik saja saat cintanya dikhinati. Tak ada hati yang tetap utuh saat cintanya diduakan. Semua akan segera berakhir, namun Jenny tak yakin jika rasa sakit di hatinya ikut berakhir.
“Aneh ya … sebenarnya yang mengikat kita hanyalah sepasang cincin dan juga dokumen saat semua ini kurampas darimu, harusnya semua di antara kita benar-benar telah berakhir, tetapi kenapa rasa sakit di hatiku tak kunjung menghilang?” Jenny tertawa kecil, namun air mata jatuh dan membasahi pipinya karena rasa sakit yang menyelimuti sanubarinya. Jenny menghapus air mata itu, namun anehnya ia tak bisa menghentikan tangisnya. Ia pikir, dirinya cukup kuat untuk mengambil peran antagonis dalam kisah mereka, namun ternyata dia hanyalah manusia biasa.
“Ini adalah terakhir kalinya aku menangisimu lagi, Mas. Mulai besok atau ke depannya, aku harap, nggak akan ada lagi air mata yang bisa tumpah saat mengingatmu. Aku akan menghapus semua jejakmu di dalam kehidupanku. Aku akan hidup dengan bahagia dan penuh tawa agar kau tahu, jika kamu tak berarti apa pun bagiku,” Jenny terisak.
Jenny menaikkan kakinya ke tempat tidur, menekukknya, dan memeluknya erat. Hanya di saat seperti inilah ia bisa puas menunjukkan kelemahannya. Hanya dalam kegelapan dan kesendirian ia bisa menumpahkan semua kesedihannya. Ia tak ‘kan menunjukkan sisi rapuhnya itu pada siapapun. Tak ada yang boleh mengetahui lukanya.
Digenggamnya erat-erat cincin pernikahan milik Altair, berharap benda kecil itu bisa menyerap seluruh sesak yang menghantam dadanya.