Sepeninggalan Altair, Jenny kembali menikmati waktu santainya sembari menikmati teh yang mampu membuatnya sedikit tenang. Ia tahu, pria itu tak ‘kan langsung pergi dan mungkin saat ini pria itu sedang mencari cara untuk menyerangnya. Altair bukanlah seorang yang akan menerima kekalahan dengan mudah. Mereka sama-sama keras kepala dan entah siapa nanti yang akan hancur karena sikap mereka itu. Jenny tak ada apa pun yang ia takutkan. Toh hati dan dunianya telah dihancurkan oleh Altair, tak ada lagi yang tersisa.
Padahal hubungan ranjang mereka tak bermasalah. Permainan mereka masih terasa panas, namun selalu ada saja alasan untuk berselingkuh. Jenny masih mengingat benar, bagaimana setiap sentuhan pria itu yang selalu mampu membuat tubuhnya terasa terbakar. Tak peduli seberapa malam pria itu kembali, ia tak pernah menyia-nyiakan kesempatan bagi mereka untuk bercinta dan menyalurkan kerinduan yang menggebu-gebu.
Sudah seminggu lamanya, Altair bertugas di luar kota, membuat Jenny merasa kesepian. Walau pria itu akan menghubunginya melalu panggilan video setiap saat, namun ada rindu yang tak bisa berkurang hanya dengan saling memandang jarak jauh. Jenny begitu merindukan dekapan yang kerap membuatnya tidur lelap dan juga kenyamanan yang lelaki itu bagi untuknya.
Tubuh Jenny bergeliat resah saat merasakan kegelian yang begitu nikmat pada puncak gunung kembarnya, tanpa sadar ia mendesah nikmat. Jenny dapat merasakan lidah seseorang bermain di sana, sedang sebuah tangan menangkup bagian sebelah gunung kembarnya, memberikan sensasi kenikmatan yang membuat hasratnya bergejolak. Semuanya seperti mimpi, namun terasa begitu nyata, hingga perlahan Jenny membuka matanya dan menemukan pria itu tengah memainkan kedua gunung kembarnya.
“Mas nakal … kapan pulang, Sayang?”
Pria itu tersenyum dan menghentikan serangannya. Ia menatap wajah istrinya lekat-lekat sembari mengusap lembut wajah cantik yang begitu ia rindukan. “Baru pulang dan aku merindukanmu,” pria itu langsung melahap bibir mungil istrinya, cumbuan penuh kerinduan yang tak lagi bisa ia bendung, sementara sebelah tangannya memainkan puncak dadanya.
Ciuman itu berlanjut ke leher wanita itu. Pria itu memainkan lidahnya pada telinga Si wanita dan perlakuannya semakin membakar hasrat yang tak lagi bisa ditahan. Tangan pria itu mulai nakal dan memainkan milik Si perempuan yang masih terbungkus oleh celana dalam yang wanita itu kenakan. Pinggul Si wanita menggeliat resah saat tangan pria itu semakin tak sabar dan masuk ke balik kain yang membungkus miliknya.
Desahan wanita itu semakin intens saat ciuman pria itu semakin turun, menjelejahi bagian dadanya, perut, lalu bermuara pada intinya. Pria itu memainkan lidahnya di sana, sementara jarinya keluar-masuk untuk memberikan kenikmatan yang lebih lagi pada wanitanya. Pemasanan dan juga desahan yang terdengar merdu turut memancing hasrat birahi Si pria.
Wanita itu sudah tak tahan lagi dengan perlakuan suaminya dan segera menangkup wajah Si pria dengan kedua tangannya, menghentikan kenikmatan yang tengah diberikan pria itu padanya. Si wanita akan mengambil alih permainan. Dengan senyum nakal, wanita itu mengubah posisi tidurnya menjadi duduk, lalu melumat rakus bibir pria itu dengan tangan yang tak sabar menelanjangi pria di hadapannya. Pria itu pun ikut membuka lingerie yang dikenakan wanitanya. Kini keduanya sudah sama-sama polos. Si wanita mendorong d**a Si pria dan membuat pria itu kini berbaring di hadapannya.
Si wanita segera mengambil tempat di atas pria yang menatapnya penuh hasrat dan penuh kerinduan. Kini, giliran Si wanita yang mendominasi permainan mereka. Kedua tangan wanita itu bertumpu pada d**a prianya, sedangkan pinggulnya ia goyangkan. Kenikmatan itu semakin terasa dengan posisi yang saat ini wanita itu lakukan, terlebih saat g-spot wanita itu bergesekan dengan milik Si pria. Pinggulnya bergerak semakin tak terkendali, desahannya sudah berubah menjadi erangan panjang, menadakan wanita itu telah mencapai puncaknya.
Si pria tersenyum dan menangkup wajah Si wanita, melumat rakus bibir wanita itu dan kembali mengambil alih permainan. Kini, Si wanita membelakangi pria itu. Pria itu mendekatkan bibirnya tepat di telinga wanita itu. “Kamu telah menjadi canduku, Jenny, Istriku sayang.”
Pria itu kembali melakukan penyatuan dengan kedua tangan yang meremas-remas kedua gunung kembar wanita itu. Permainan semakin cepat dan menuntut, hingga tubuh Si pria menegang dan semakin menghujam wanita itu dalam-dalam. Leguhannya terdengar.
Si pria segera memeluk wanitanya setelah permainan panas dan panjang mereka, Si wanita merebahkan kepalanya pada d**a nyaman prianya. Sebelah tangannya bermain pada d**a pria itu. Jenny begitu menyukai momen ini. Saat di mana ia diperbolehkan mendengarkan deguban jantung yang terdengar begitu merdu dan menikmati kehangatan tubuh pria itu.
“Jika besok dunia berakhir, apa yang ingin kamu lakukan, Mas?”
Pria itu tersenyum dan mengeratkan pelukannya. “Nggak ada. Aku hanya mau seperti ini denganmu. Berpelukan di tempat tidur dan berbagi kehangatan,” pria itu mengecup kening Jenny penuh kasih, “Bagaimana denganmu, Sayang? Apa yang mau kamu lakukan?”
Jenny tersenyum mendengarkan pertanyaan suaminya itu. “Sama denganmu. Nggak ada yang ingin kulakukan. Hanya ingin menjalani hari seperti biasa bersamamu.”
Pria itu mengambil tangan Jenny yang berada di dadanya, menautkan jemarinya di sela jemari wanita itu. Keduanya merasa begitu lengkap dengan cinta yang mereka miliki. Saat kau tak ingin melakukan hal lain selain hal biasa yang kau lakukan dengan orang tercinta, maka saat itulah kau tahu jika kau telah memilih orang yang tepat untuk menghabiskan sisa hidupmu.
Setidaknya, itulah yang dulu Jenny pikirkan. Namun sayang, semua pikirannya salah. Pria itu tak mampu lagi mendengarkan kata hatinya, tak mampu melihat deritanya. Ia tenggelam dalam keputusasaan dan pria itu tak datang menyelamatkannya, malah membuatnya semakin tenggelam dalam luka. Sungguh, cinta adalah perasaan yang mengerikan.
“Jenny …” suara yang familiar itu membawa Jenny kembali ke alam nyata, membuyarkan segala lamunan tentang masa lalu yang terasa sebagai ilusi yang telah berakhir. Wanita paruh baya itu berjalan ke arah Jenny yang masih terlihat santai menyesap tehnya.
“Suamimu mulai berteriak pada pekerja yang lain karena kamu sudah memindahkan jam tangannya. Dia menanyakan di mana sisa jam tangannya yang lain,” ucap wanita paruh baya yang tak lain adalah Bi Ira itu setelah berdiri di samping Jenny.
Jenny menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan. Dengan santai ia berkata, “Dia memang suka begitu. Melampiaskan amarahnya pada orang yang salah.”
“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya wanita itu lagi. Ia sudah tak tahan melihat tuannya yang tampak tak terkendali dan hanya Jenny yang bisa membuatnya bungkam. Ia sangat berharap Jenny mau turun tangan dan menenangkan pria yang masih berstatus suaminya itu.
“Kenapa tidak panggil satpam atau polisi untuk mengusirnya?” Jenny kini menoleh ke samping, menatap datar wanita paruh baya itu, sedang Si wanita tak mampu menyembunyikan keterkejutannya karena perkataan Jenny barusan.
“Bagaimana bisa kita mengusir pemilik rumah ini.”
Jenny tertawa sumbang. “Tenanglah, Bi Ira. Kita nggak akan terkena masalah karena ini adalah rumahku dan aku bebas mengusir siapapun yang mengganggu kenyamananku di sini,” Jenny segera berdiri dan tatapan dingin wanita itu membuat Bi Ira tersenyum lirih.
“Aku nggak akan seperti wanita lain yang diselingkuhi dan memaafkan. Yang disakiti dan ditindas. Dia nggak akan bisa menghancurkanku, Bi,” ucap Jenny dengan dingin seraya pergi meninggalkan taman yang disukainya untuk menghabiskan waktu itu.