Aku Memang Gila

1214 Words
Wanita itu terbangun dengan segala nyeri yang menyerang tubuhnya. Ia menatap sekitarnya dengan khawatir, rasa takut mulai menjalar dan menguasai sanubarinya saat tak mengenali tempat di ia berada saat ini. Ketakutannya semakin menjadi-jadi begitu mendengar suara pintu yang terbuka dan wanita yang baru beberapa saat tadi dilihatnya, kini hadir kembali di hadapannya. Wanita itu meronta dan hendak berlari dari tempat itu. Namun sayang, tangan yang terikat di kepala ranjang membuatnya sadar jika ia tak bisa melepaskan diri. Wanita yang berjalan ke arahnya itu tersenyum dingin, lalu dengan santainya duduk di tepi tempat tidur. Wanita itu pastilah gila seperti apa yang kekasihnya bilang. Wanita itu sering mendengar kabar buruk tentangnya. Tentang seorang model yang depresi karena sinarnya yang telah redup, hingga kerap mengabaikan suaminya yang sempurna, Jenny Laudriana. Wanita yang benar-benar gila seperti apa yang lelaki itu katakan tentangnya, Jenny bahkan rela membawa pisau dan mengancam mereka seakan hal itu adalah hal yang biasa ia lakukan. “Jadi … kenapa wanitamu mau bermain api dengan suami orang, bahkan mengorbankan nyawamu sendiri untuk menyelamatkannya?” tanya Jenny dengan senyum manis yang membuat bulu kuduk wanita itu berdiri. Kengerian tak lagi bisa wanita itu cegah. “Ka … ka … mu … apa yang kamu inginkan?” tanya wanita itu dengan terbata dan tak mampu menyembunyikan ketakutannya dari Jenny, sedang Jenny yang dapat merasakan ketakutan wanita itu merasa senang. Mengapa wanita itu tak berpikir takut sebelum menjalin hubungan dengan seorang pria yang sudah beristri? Apakah nafsu birahi telah menutupi mata hati mereka yang berselingkuh? Mengabaikan fakta jika akan ada hati yang tersakiti karenanya. “Aku ingin mengajarimu untuk menjadi wanita yang jangan sekali-sekalinya berani bermain dengan api atau kau akan terbakar karenanya.” “Kamu memang segila yang Mas Altair sampaikan,” suara wanita itu terdengar bergetar, “Kamu bahkan mau membunuh kami di hotel tadi. Kamu butuh obat agar nggak lagi menyakiti orang lain. Harusnya kamu lepaskan saja suamimu daripada menyiksanya dengan terus mengikatnya. Bagaimana bisa kamu menyia-nyiakan pria sebaik Mas Altair yang sempurna?” Jenny terpaku sesaat. Dirinya gila? Begitukah pria itu menganggapnya? Ah … Jenny pasti memang telah kehilangan akal sehatnya karena cinta. Bukankah selama ini pria itu yang telah mensia-siakan dirinya? Lalu, mengapa Altair yang bersikap seakan dirinya adalah korban. Benar-benar lelucon yang sangat menghibur. Jenny tertawa keras, membuat wanita itu menatapnya heran. Apa yang dilakukan Jenny malah membuat wanita itu semakin ketakutan. “Apa yang kamu lakukan pada Mas Altair? Apa kamu benar-benar membunuhnya?” tanya wanita itu lagi dengan tatapan ngeri, sedang Jenny tersenyum datar dan bersedekap. “Menurutmu, apa pria sepertinya pantas dibunuh? Apa pria yang telah menghancurkan kehidupan seseorang wajib diberikan hukuman?” Jenny menatap wanita itu tajam, “Tapi, rasanya tak adil jika hanya dia yang menanggung akibatnya. Padahal, kalian melakukan dosa yang sama,” lanjut Jenny seraya mempertipis jarak di antara wajah mereka, wanita itu menggerak-gerakkan kakinya, berusaha menjauhkan jarak di antara wajah mereka. Jenny membuatnya begitu ketakutkan. Ia tak pernah berpikir, jika perselingkuhannya bersama Altair bisa diketahui Jenny dan berakibat seperti ini. Harusnya Jenny memang segera mendapatkan pengobatan. “Aku belum paham, apa yang membuatmu lebih dariku, hingga dia memutuskan berpaling?” dengan kuku lancipnya, Jenny menjelajahi pipi mulus wanita itu, “Kamu bahkan nggak lebih cantik dariku. Bahkan dadamu sangat kecil dan nggak menggiurkan,” Jenny tersenyum mengejek dan menatap ke dalam kedua netra wanita di hadapannya. “Tampak yang membuat pria berselingkuh nggak selalu tentang lebih cantik atau yang bisa lebih memuaskan. Mereka hanya butuh persinggahan untuk menyalurkan hasrat yang nggak bisa dibendung. Seks seperti buang air kecil untuk mereka dan kamu hanya tempat pembuangan,” senyum yang Jenny tunjukkan penuh dengan intimidasi. “Dia mencintaiku. Mas Altair bilang kalau kami akan segera menikah setelah kalian bercerai. Kamu yang nggak pernah mau melepaskannya walau kalian nggak saling mencintai.” Jenny tersenyum lebar. “Ah, akhirnya aku paham kenapa dia menikmati kebersamaannya denganmu. Kamu memang cukup bodoh untuk mempercayai semua ucapan politikus yang selalu mengumbar janji palsu hanya untuk dipilih. Dia memang suka orang bodoh sepertimu.” “Ka … kamu nggak mengerti suamimu sendiri. Jangan salahkan jika ada wanita yang lebih memahaminya dan membuatnya berpaling darimu. Seharusnya, kamu bisa menjaganya dengan baik agar dia nggak pernah berselingkuh di belakangmu.” Jenny terbahak. Menjaga dengan baik? Ah … sungguh pemikiran yang bodoh. Jika saling mencintai, maka kau akan saling percaya, hingga tak memerlukan perasaan tak aman seperti itu. kurang mengerti apa Jenny pada Altair yang selalu menggunakan alasan sibuk untuk mengabaikannya? Kurang mendukung apa dirinya yang selama ini selalu menampilkan senyum terbaik saat menyambutnya yang pulang setelah puas bermain dengan wanita di luar sana? Jenny yang bodoh dan polos itu telah mati. Kini, ia tak lagi mempunyai hati untuk dibodohi. “Lelaki mampu mengatakan cinta dengan mudah, meski hati mereka nggak merasa seperti itu, sedang kamu adalah Si bodoh yang malang. Perempuan murahan yang termakan bujuk rayunya. Aku nggak akan tinggal diam, aku akan merusak semua yang dia bangun dengan susah payah. Anggap saja, semua itu sebagai harga karena telah menyakiti hatiku.” “Kamu emmang gila! Lepaskan aku,” wanita itu mulai berteriak. “Agar kamu bisa melaporkanku ke polisi?” Jenny tersenyum manis, “Kamu tahu, Manis. Nggak semua hal bisa kamu lakukan dengan mudah. Seperti melaporkan seseorang tanpa bukti. Apa yang kamu perbuat setelah kuberikan kebebasan sangat melukai harga diriku. Harusnya kamu pergi tanpa berpaling ke belakang,” Jenny menunjukkan wajah sedih. “Aku nggak bisa membiarkanmu membunuh Mas Altair.” “Pahlawan kesiangan,” Jenny tergelak pelan, “Apa kematiannya bisa begitu menyakitimu? Pasti kamu sangat mempercayainya. Bagaimana bisa kamu menaruh percaya pada pria yang jelas-jelas telah membohongi istrinya sendiri dan menganggap semua perkataannya adalah sesuatu yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan olehnya. Miris sekali, wajahmu nggak dibekali dengan otak yang cerdas. Padahal, aku mau mengajarimu menjadi wanita pintar.” “Lepaskan aku jika memang dari awal kamu nggak ada niat membunuh,” wanita itu meronta-ronta, berusaha melepaskan ikatan tangannya. Ia harus segera bebas dari sana. “Kamu salah lagi, Manis,” Jenny tersenyum dingin begitupun dengan tatapannya, “Bagaimana aku nggak memiliki niat membunuh setelah hati yang dibunuh dengan keji? Aku membayangkan membunuh kalian berulang kali, dengan cara paling kejam sekaligus. Namun sayang, kematian terdengar begitu mudah untuk orang sepertinya. Bukankah, dia bilang aku gila? Maka, aku akan menunjukkan padanya apa kegilaan yang sebenarnya.” Jenny menjauhkan wajahnya dari wanita itu, berdiri dengan anggung, dan mengangkat sedikti dagunya dengan anggun. Ia tak ‘kan terlihat kalah. Dirinya akan bangkit dan membuat pria itu menyesal karena telah menyia-nyiakan cinta yang ia miliki. Pria itu pasti sangat menantikan kegilaan yang selama ini ia sembunyikan. Tak mengapa, Jenny bisa menunjukkannya pada pria itu apa arti gila yang sebenarnya. “Kamu mau ke mana? Lepasin aku! Lepas ….” Teriakan wanita itu diabaikan Jenny. Ia menulikan telinganya dan berjalan keluar dari kamar itu. Ia akan menanamkan rasa ngeri pada hati Altair agar pria itu tahu jika ia telah berurusan dengan perempuan yang salah. Perempuan memang lembut dan lemah, namun jangan pernah menyalahartikan kebaikan hatinya karena pada saat disakiti, wanita bisa berubah menjadi sosok yang tak lagi kau kenali. Menjadi sosok mengerikan yang tak mau kau temui. Mungkin Altair benar, Jenny pasti sudah gila karena mencoba membalas pengkhianatan suaminya. Jenny pasti telah kehilangan akal sehatnya karena membuang sosok suami idaman dan menolak untuk terus tersakiti karena cinta yang dibagi. Jika semua itu bisa dikatakan gila, maka hampir semua wanita yang merasa sakit karena dikhianati adalah sekumpulan orang gila, sama sepertinya. Semua istri yang diselingkuhi pastilah orang gila jika merasa sakit karenanya. Jenny lebih baik menjadi orang gila itu, daripada menyiksa bathinnya secara terus-menerus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD