Ketakutan Memang Menyenangkan

1185 Words
Setelah membersihkan diri, Jenny langsung menuruni anak tangga untuk pergi ke lantai bawah rumah. Ia sudah terlalu penat menghadapi banyak drama hari ini. Pernikahannya terasa jauh melelahkan daripada banyaknya skandal yang pernah menjeratnya. Di masa muda dulu, kecantikan dan juga kepiawaiannya berakting telah membuat banyak gosip murahan maupun prestasi yang didapatkannya. Ternyata, pernikahannya pun bisa seperti drama yang mengharuskannya banyak berakting dan membunuh sisi nyata dirinya demi menjalani peran. Menjadi seorang istri dari Altair tak pernah terasa mudah. Dulu, entah mengapa ia bisa dibutakan cinta dan menikah dengan Altair bagaikan impian yang menjadi nyata. Lihatlah dirinya kini. Si bodoh yang hanya bisa meratapi nasib malangnya. Sungguh mengenaskan. Cinta hanya sekadar omong kosong yang digunakan pria untuk menidurimu, itulah apa yang otaknya katakan pada dirinya yang bodoh. Pria menggunakan kata manis hanya untuk menidurimu, merampas milikmu, dan juga menjadikanmu boneka yang disebutnya istri. “Saya sudah menyiapkan makanan yang Nyonya sukai,” ucap Jaka begitu Jenny duduk di kursi yang berada di balik meja makan persegi panjang. Jenny menatap meja yang sudah tertara rapi beberapa makanan kesukaannya. Ayam goreng, sayur asem, dan juga sambal terasi. “Terima kasih, Ka. Kamu memasaknya atau beli?” Jaka tersenyum dan berkata pelan. “Saya yang memasaknya.” Jenny tersenyum seraya mencicipi sayur asem yang berada di sisi kanan piringnya yang telah terisi nasi. Dulu sekali, Jenny sempat belajar memasak demi Altair. Yang ada di benaknya adalah bagaimana cara menjadi istri yang baik bagi suaminya. Istri berbakti yang membuat suaminya senang. Semua itu sulit baginya yang selalu masih muda dan tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, bukan karena manja, namun dirinya sibuk mencari uang untuk keluarga dengan menjadi model di usia dini. Ia memanfaatkan tubuh dan juga wajah cantiknya dengan baik. Ia pun menolak keras opini orang yang mengatakan jika kodrat wanita adalah di dapur. Ah … siapa sangka, setelah menikah ia lebih memilih untuk menyibukkan diri di dapur, hingga melupakan fakta jika banyak pria yang tak bisa menjaga kesetiaan mereka walau sudah terikat pernikahan. “Kamu memang yang terbaik. Tampaknya, hanya kamu yang nggak pernah berubah. Kamu masih sama seperti saat kita bertemu dulu. Seorang pemuda yang begitu tulus melakukan pekerjaannya. Hingga sekarang, aku selalu bisa mengandalkanmu. Terima kasih, Jaka.” Pria itu tersenyum dan mengangguk pelan. Dirinya tak berubah, sementara pemilik tempat yang ia jaga itu sudah banyak berubah. Tak seperti saat pertama kali ia bertemu mereka dulu. Keduanya sangat jarang datang berdua, tak ada lagi tawa, dan lebih suka dengan kesendirian jika mengunjungi tempat itu berdua. Sungguh aneh cara orang kaya menjalani pernikahan. Terasa begitu dingin. Padahal, Jaka kerap melihat keduanya tampil mesra di televisi. Mungkin benar, semua keluarga memiliki rahasia mereka masing-masing. Begitupun tentang kedinginan yang kerap disembunyikan dari lensa kamera. Wanita yang hari ini datang dengan wajah menyeramkan pun jauh banyak berubah dari sebelumnya. Tak ada wajah hangat dan senyum lembut yang terlihat. Beberapa bulan ke belakang hanya ada wajah datar yang akan ditemukan orang terdekat pada wajah wanita itu. Tampaknya, tak selamanya waktu akan memberikan yang terbaik untuk orang. Terkadang sangkala malah menghancurkan apa yang semulanya terasa indah. “Aku akan kembali ke Jakarta. Tolong jaga dengan baik wanita di dalam kamar sana. Berikan semua kebutuhannya, tapi jangan pernah membebaskannya sampai sidang perceraianku selesai. Aku nggak mau dia mengacaukan semua rencanaku,” Jenny menoleh pada Jaka yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh tanya, “Bisa kamu lakukan itu untukku?” Jaka mengangguk. “Apa saya harus terus mengikat tangannya seperti sekarang?” Sebenarnya Jaka takut dengan rencana Nyonya besarnya itu, “Tapi, Nyonya. Bukankah ini termasuk tindakan peculikan? Apa nantinya kita akan terkena masalah?” Jenny tersenyum menenangkan dan menggeleng. “Nggak usah memikirkan hal itu karena aku akan mengatur semuanya. Aku nggak akan membiarkan hal buruk terjadik padamu dan itu adalah janjiku untuk bantuanmu,” Jenny kembali menyesap kuah sayur asem dengan wajah datar seakan wanita itu tak lagi memiliki ketakutan dalam hidupnya. Ia tampak begitu tenang, terlihat benar jika wanita itu memiliki rencana matang untuk mensukseskan aksinya. Wanita itu terlalu tenang untuk orang yang hendak melakukan kejahatan yang membahayakan seperti ini. “Tapi, apa Tuan besar nggak akan datang ke sini? Bagaimana jika dia datang dan mengetahui hal ini, Nya. Bisa-bisa, kita terkena masalah besar.” Jenny tertawa sumbang. “Kamu nggak perlu mengkhawatirkan itu semua karena aku bisa memastikan Mas Al nggak akan pernah menginjakkan kakinya ke sini. Kamu bisa buka ikatan di tangan wanita itu. Menyiapkan pakaian bersih dan juga makanan untuknya, tapi jendela dan pintu harus kamu pastikan aman. Jangan pernah terbuai dengan semua yang keluar dari mulutnya. Apa aku bisa mempercayakan hal ini padamu?” Jenny menatap pemuda di hadapannya dengan tatapan meneliti. Ia harus memastikan Jaka tak luluh pada w************n yang telah menghancurkan pernikahannya. Salah, semua ini bukan hanya kesalahan wanita itu sepihak, namun juga lelaki yang ia sebut suami. Kau tak pernah bisa menyalahkan sebelah pihak saja dalam perselingkuhan. Keduanya menanggung kesalahan yang sama. Jika Si lelaki tak membuka peluang, maka Si wanita tak ‘kan masuk. Jika pihak wanita tak menggoda dan bermain api, maka Si lelaki pun tak terpancing. Perselingkuhan terjadi karena kedua belah pihak menginginkan hal yang sama. “Maaf, bukan bermaksud tidak sopan dan kepo, tapi tadi Nyonya bilang sampai sidang perceraian Nyonya selesai. Apakah itu berarti Nyonya dan Tuan akan segera bercerai?” Jaka kini bisa mengerti apa yang menyebabkan tak ada lagi senyum di wajah Jenny. Hubungan pernikahan yang tak lagi bisa diselamatkan adalah penyebab utamanya. Jenny mengangguk santai. Terlihat tak begitu terpengaruh dengan perkataan bercerai, seakan wanita itu tak lagi memilki hati. Seperti semua rasa dan kebahagiaan yang pernah mereka bagi bersama tak begitu berarti. Semua terlihat sudah tak berpengaruh apa pun bagi dirinya. Entah karena Jenny adalah wanita yang kuat atau memang dirinya terlalu pintar bersandiwara menutupi semua luka yang mengkonsumsi hatinya secara perlahan. “Ya, kami akan segera bercerai. Nggak ada lagi gunanya mempertahankan apa yang ingin pergi, memperbaiki apa yang telah rusak, dan menyambung semua yang telah patah. Terkadang, hidup semudah ini. Jangan pernah memaksakan seseorang yang nggak mau berada di sisimu,” Jenny tersenyum begitu manis, namun Jaka dapat melihat rasa dingin pada kedua netra wanita itu. Jenny tak seperti dulu, wanita itu kini nampak mengerikan. Mungkin karena hati yang patah. “Kenapa kamu nggak ikut bergabung makan bersamaku?” Jaka segera menggeleng. “Saya sudah makan, Nya. Lebih baik, saya tinggalkan Nyonya sekarang agar bisa makan lebih tenang,” Jaka mengangguk sekilas, lalu pergi meninggalkan Jenny sendirian di ruang makan. Jenny menatap sendu kesunyian di sekitarnya. Ketakutan jauh lebih menyenangkan dari rasa sepi itu. Ia akan menggunakan rasa takut demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Bukan pria itu saja yang pintar mengancam karena Jenny pun tahu benar cara melakukannya. Hidup di dunia hiburan tak semudah apa yang terlihat di kamera. Kau harus bisa bersinar untuk tetap berada di sana, mempersembahkan senyum terbaik, dan tak ada yang nyata di sekitarmu. Mungkin Jenny telah terbiasa dengan semua rasa itu, hingga hatinya benar-benar menjadi mati. “Kamu harus mendapatkan balasan atas sakit yang kau toreh, Mas. Bagaimana kau bisa membalas cinta dengan tuba?” Jenny menggenggam erat gagang sendok dan menatap marah ke hadapannya. Ia akan kembali ke Jakarta dan membawa kejutan untuk melancarkan semua gugatannya. Ia akan membunuh cinta, hingga rasa belas kasih bisa turut mati. Ia bisa menjadi kejam, jika memang itu yang Altair inginkan darinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD