Jenny segera mengeluarkan surat kontrak yang dipersiapkannya jauh-jauh hari dan memasukkan semua tuntutannya di sana, ia akan membuat Altair menandatanganinya, setelah itu ia akan membawa dokumen itu untuk diproses oleh pengacaranya untuk mendapatkan keuntungan yang besar saat perceraian mereka nanti. Jenny tak ‘kan membiarkan pria itu terbebas begitu saja dan berbahagia setelah menghancurkan semua hal yang dimilikinya.
“Tandatangani perjanjian ini,” ucap Jenny seraya meletakkan dokumen tersebut ke atas meja, pria di hadapannya menatap Jenny penuh tanya.
“Perjanjian apa? Semua kompensasi akan kumasukkan ke dalam surat cerai kita.”
Jenny tersenyum miring. “Aku nggak membutuhkan janji yang nggak bisa kupegang, jadi kamu harus menandatangani perjanjian ini. Semua yang kuminta tadi, sudah kutuliskan di sini. Anggap aja ini sebagai jaminan sebelum kita benar-benar bercerai.”
Pria itu mengambil dokumen tersebut, lalu membacanya sekilas. “Kau memang gila, Jen!” pria itu melemparkan dokumen tersebut ke meja dan menatap Jenny tajam, “Kamu bahkan sudah menuliskan untuk villa yang nggak kamu sebutkan tadi ke dalam perjanjian itu!”
Jenny tampak terkejut, lalu tawa kecilnya terdengar. “Ah, maaf, Mas. Sangking semangatnya aku sampai lupa memintanya di awal tadi, tapi aku sudah menambahkannya, bukan? Jadi, kamu nggak perlu semarah itu. Anggap saja, sebagai hadiah tambahan. Tandatangani itu dan aku akan segera pergi dari sini.”
“Kamu benar-benar mau melakukan ini? Kamu mau kita bercerai?”
Jenny mengangguk antusias. “Tentu saja, apa yang harus kupertahankan dari lelaki yang nggak setia? Untuk apa aku mati-matian mengemis cinta yang sudah mati?” Jenny menatap wajah Altair dingin. Perih menyelimuti hatinya, menyesakkan d**a, namun ia tak ‘kan membiarkan rasa sakit itu mengalahkannya. Pria itu tak berhak menghancurkan apa yang tersisa dalam dirinya, martabatnya sebagai seorang wanita. Ia tak mau lagi menjadi Si bodoh yang menanti dengan setia, sementara suaminya bermain perempuan di luar sana.
“Semua ini hanya salah paham, Jen. Nggak seperti yang kamu pikirkan,” Altair menatap Jenny memohon dan membawa tangan wanita itu ke dalam genggamannya, “Hanya kamu yang kucintai. Semuanya hanya salah paham. Aku khilaf, Jen. Kamu satu-satunya. Mari kita berdamai dan jangan melakukan kegilaan seperti ini.”
Jenny menatap pria di hadapannya dengan tatapan meneliti. Pria itu memang paling pintar bersandiwara. Menjadi seorang politikus membuatnya semakin pintar berakting, mengalahkan Jenny yang pernah memerankan sebuah film layar lebar di masa kejayaannya dulu.
Jenny tersenyum lebar, lalu bersedekap. “Sudah kubilang di awal kalau aku nggak sebodoh yang kamu pikirkan, Mas. Aku memang pernah menjadi Si i***t yang memakan janji manismu bulat-bulat, namun Jenny itu telah mati. Sandiwara yang kamu tunjukkan nggak lagi menarik untuk dinikmati dan aku nggak mau lagi menantimu dalam kegelapan. Memikirkan di mana kamu menginap malam ini dan siapa yang berada di ranjangmu membuatku menggila.”
“Jenny, semua ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku nggak pernah berselingkuh sebanyak yang kami kira. Ini adalah kali pertamanya, aku akan mengakhiri semuanya, Jen. Kamu yang terpenting untuk hidupku.”
Jenny terpaku, lalu tertawa sumbang. “Tapi, masalahnya adalah kamu yang sudah nggak menjadi bagian terpenting dariku lagi,” tatapan mata dingin Jenny membuat Altair terpaku sesaat, “Tandatangani perjanjian itu karena aku sudah sangat muak melihat wajahmu.”
“Kamu akan menyesali ini, Jen! Kamu memang wanita berbahaya dan sayangnya, aku baru mengetahuinya sekarang. Kamu benar-benar licik, Jenny.” Altair menggertakkan rahang.
Jenny tertawa untuk yang kesekian kalinya. “Hal yang paling kusesali adalah menitipkan hatiku padamu, meninggalkan karir, dan menikah denganmu. Kamu adalah kesalahan besar dalam hidupku yang nggak ingin kuperbaiki sama sekali.” Jenny menatap ke dalam manik mata Altair, “Lagipula, aku tahu benar akal busukmu. Kamu bukan ingin menahanku, tapi citramu akan jelek jika kita bercerai. Semua orang akan berpikir, bagaimana bisa potret pasangan harmonis yang selalu membuat banyak orang iri itu hancur. Padahal, kamu sudah membangunnya bersusah payah, hingga media mengatakan jika kamu adalah suami idaman banyak wanita. Lelaki yang selalu menatap pada satu wanita saja.”
“Nyatanya, semua hanyalah kebohongan semata. Hanya bagian dari sandiwara yang memang harus dikonsumsi publik untuk mendongkrak namamu. Kini pun aku bertanya-tanya. Apa kamu menikahi model sepertiku hanya untuk ikut menaikkan namamu dan dikenal orang? Aku bahkan dengan bodohnya mempromosikanmu pada orang-orang untuk memilihmu sebagai anggota DPR. Aku memainkan peranku dengan baik, namun ini balasanmu?”
“Aku sudah mengatakan semua kebenarannya, tapi kamu nggak mau mempercayainya.”
Jenny tersenyum miring. “Di dunia ini, hanya diriku sendiri yang kupercayai.” Jenny menyodorkan dokumen itu kembali, “Tandatangani dan anggap saja sebagai uang muka untuk semua kompensasi yang akan kudapatkan. Orang setia termasuk orang yang nggak jujur, oleh karena itu aku butuh jaminan agar foto-fotomu nggak kusebar ke media sosial.”
Dengan bersungut-sungut Altair membuka dokumen itu, membacanya kembali, lalu memberikan tandatangannya di sana. “Puas?” tanya Altair seraya melempar kembali dokumen tersebut ke meja, Jenny tersenyum bahagia.
Jenny mengambil dokumen tersenyum dan tersenyum puas saat melihat tandatangan Altair. “Puas banget. Makasih, Mas. Semoga perceraian kita berjalan lancar,” Jenny mengulurkan tangannya, namun Altari hanya terdiam dan menatap nanar uluran tangan Jenny. Wanita itu tersenyum dan segera menarik tangannya.
“Baiklah, nggak perlu berjabat tangan juga,” ucap wanita itu datar, “Kamu bisa mengemaskan barang-barangmu mulai dari hari ini karena aku nggak mau lagi melihatmu.”
Jenny segera pergi berjalan keluar kamar hotel, sedang Altair tak mampu membuang pandangannya ke arah lain. Ia menatap nanar punggung Jenny yang lama-kelamaan menghilang dari pandangannya. Hatinya berkecamuk, rasa ngeri dan heran tak bisa ia hapuskan dari hatinya. Bagaimana bisa Jenny yang manis dan penurut, berubah dratis dan terlihat begitu dingin? Apa memang inilah sifat asli wanita itu atau memang semua karena salahnya?
Di sisi lain, Jenny mengeluarkan ponsel saat melihat nama orang suruhannya yang tertera di sana. Ia menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan sebelum menjawab panggilan itu.
“Ada apa lagi?”
“Saat mau meninggalkan hotel, saya nggak sengaja berpapasan dengan peremuan yang keluar dari kamar suami Nyonya. Wajahnya tampak ketakutan dan beruntung saya mengikutinya. Dia hampir saja menghubungi polisi, tapi Nyonya nggak usah takut karena saya membiusnya dan menahannya di dalam mobil saya.”
Jenny menggeram kesal. “Sial, dasar wanita bodoh!” rutuknya, “Aku akan segera menemuimu dan pindahkan dia ke mobilku. Dia pantas diberikan pelajaran. Dikasih kebebasan, malah mau cari mati sendiri.”
“Baik, Nyonya. Saya akan menunggu Nyonya di parkiran.”
Panggilan segera terputus. Jenny mempercepat langkahnya untuk menemui selingkuhan suaminya. Inilah yang paling dibenci Jenny dari perempuan. Mereka selalu menggunakan perasaan dalam segala hal. Padahal, Jenny sudah berbaik hati dan membebaskannya sebelum dirinya meledak, namun wanita itu malah hendak melakukan hal yang akan mencelakainya.
Memang wajar, jika ada rasa takut, akan tetapi baiknya wanita itu memikirkan dirinya sendiri dan tak perlu memperumit keadaan. Tak perlu mendramatisir keadaan dan menjadikan hidup penuh drama bak sinetron yang digemari banya orang. Jenny harus memberikan sebuah terapi kecil agar wanita itu tak lagi bersikap gegabah. Jenny akan mengajarkan cara bagaimana menjadi wanita sejati pada w************n yang rela menjual tubuh demi uang dan merusak rumah tangga orang lain hanya untuk harta yang tak seberapa.